Penulis: Bintang Ilustrasi: Nurul Ramdhiany Kereta Hidup Kembali Jalur hidup terpisah dua arah, Kerikil besi bersautan m...



Penulis: Bintang
Ilustrasi: Nurul Ramdhiany




Kereta Hidup Kembali

Jalur hidup terpisah dua arah,
Kerikil besi bersautan merekah.
Panas udara hitam, menusuk hidung warga;
Menyebrang nasib jadi susah!

Tangan mengepal-ngepal mengudara,
Menengok celaka, berjalan terlunta.
Merogoh celana, tak sepeser terlaksana.

Hidup semakin sejahtera, setidaknya; di atas rel,
aku masih bisa melihat kereta—melaju—menabrak tubuh’ku;
yang semakin miskin, didera derita.








                                                                                    Sajak untuk isu reaktivasi rel kereta api Rancaekek – Tanjungsari,
Jatinangor.
November, 2019.







Penulia: Billie Wijaya U Ilustrator: Ninda Annisa Redaktur: Faris A & Azaina  Kalimat pertama dalam tulisan ini adalah kalimat t...

Penulia: Billie Wijaya U
Ilustrator: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A & Azaina 

Kalimat pertama dalam tulisan ini adalah kalimat terakhir yang harus kalian baca.
Dua hari. Selasa dan Rabu. Sembilan belas dan dua puluh November, Teater Djati rampung menyelesaikan kewajiban rutinnya untuk merayakan ulang tahun. Setiap tahunnya Ia lebih memilih merayakan dengan memberi hadiah berupa tontonan yang sialnya selalu saja menarik dan cukup unik. Sudah sembilan belas tahun kini umurnya, dan ia memberi kita tontonan ciamik dengan mementaskan lakon “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet.
Naskah yang dibawakan kali ini sebenarnya tidak terlalu menarik secara kedalaman, untukku. Naskah yang mungkin menyadur dari novel Perempuan di Titik Nol (jika tidak ingin dikatakan menjiplak) ini masih banyak memiliki dosa di sana-sini. Pada halaman awal naskah saja terdapat penjelasan dimensi psikologis tokoh berlembar-lembar. Hal ini menurutku sakral untuk dinarasikan, karena seperti umumnya orang memandang drama, aku masih meyakini bahwa hakikat utamanya adalah dialog dan kegiatan semacam itu adalah hal sia-sia dari penulis yang malah menunjukkan keburukkan karyanya.
Pementasan Teater Djati, terutama untuk merayakan ulang tahun selalu menyuguhkan konsep yang unik dari segi tata panggung. Ketika awal masuk kuliah dan menonton pementasan berjudul “Ke” misalnya, batas panggung dibuat pecah, penonton dilibatkan sebagai penumpang kereta api yang menjadi latar tragedi pementasan dari lakon tersebut. Kemudian “Bulan dan Kerupuk” yang menyajikan dua panggung tambahan di luar panggung utama, dan kali ini “Pelacur dan Sang Presiden” memanjakan kita dengan konsep tiga panggungnya.

Dengan sejarah tersebut tidak heran jika penonton yang hadir membuat diri mereka sesak dan kegerahan sendiri ketika masuk ruangan, karena saking antusiasnya. Bahkan pada hari kedua pementasan pun animo penonton malah bertambah dengan bukti antrean yang jauh lebih panjang dibanding hari pertama. Antrean dikejutkan dengan pembawaan keranda yang abnormal, kerumunan terheran-heran dengan seseorang yang tiba-tiba salat di tengah-tengah mereka, dengan adegan-adegan yang dikonsepkan begitu, pementasan sebenarnya telah dimulai dari sejak antrean, kemudian yasin dilantunkan dengan khidmat, dan pementasan benar-benar dimulai.
                        Di antara semua elemen penopang pementasan semalam, dua aspek yang patut disorot dan dihujani pujian yang begitu mewah adalah artistik dan tentu saja musik. Dengan tata panggung yang cukup rumit, artistik memberikan dimensi yang bukan hanya mendukung pementasan secara fungsional, tapi ia memberikan efek heran yang mengagumkan. Sama seperti halnya artistik, kali ini musik berhasil membuat panggungnya sendiri tanpa mengingkari kewajibannya sebagai pengiring maupun penguat suasana. Keduanya jelas membuat penonton sadar akan kehadirannya dan seharusnya berpikir jika keduanya amat penting.

                        Sementara itu, komponen lain seperti tata rias dan cahaya kurang unjuk gigi. Terutama bagian tata cahaya yang selalu membuatku agak jengkel karena terus mengulangi kesalahan-kesalahan kecil  dari tahun ke tahun karena kurang fokus atau apapun alasannya jelas sedikit-banyak mengganggu jalannya pementasan. Pergeseran nyala-mati lampu yang kurang halus, kesalahan menyalakan atau mematikan lampu dan hal-hal kecil lain mestinya bisa diminimalisasi.
                        Hal lain yang menggangguku sebagai penonton adalah hancur leburnya irama pementasan. Pementasan yang tidak menghadirkan komedi memang sama menyebalkannya dengan cerita berhalaman-halaman tanpa narasi percintaan. Tapi, terkadang balutan komedi dalam pementasan itu sering salah kaprah. Misal dalam pementasan Djati kemarin, komedi-komedi slapstick yang dihadirkan ke dalam pentas malah membuat irama yang dibangun dari awal kacau. Cupliklah misalnya adegan-adegan yang selalu di panggung berlatar pohon warna-warni dan segala hal ajaib yang bergelantungan di atasnya, ada adegan para petugas yang konyol dan katakanlah agak bego. Sebagai catatan, adegan sebelum ini mengesankan suasana yang haru -ritme telah dibangun. Kemudian masih di dalam panggung yang sama, dengan tokoh-tokoh yang sama, mereka menyeret para pelacur dan simsalabim suasana langsung kelam, para petugas langsung galak, dan seolah-olah mereka merasa kebijaksanaannya dilacuri ketika Jamila mengatakan kebobrokan mereka. Apakah ini adalah efek dari mood swing para milenial? Hem. Begini.
Ritme adalah irama pementasan atau jika didefinisikan barangkali adalah irama yang akan mengantarkan para penonton menuju klimaks adegan. Bedanya dengan alur adalah alur bisa bergerak secara bebas –dalam hal ini luwes untuk berbelok dari alur maju kemudian menukik langsung ke kilas balik tanpa transisi, irama tidak seperti itu. Ia mesti runut disusun setitik demi setitik dengan melibatkan segala aspek terutama yang dapat mendukung suasana. Jika memang memiliki tujuan, sebenarnya boleh-boleh saja melakukan perubahan secara mendadak dalam hal ritme seperti memasukkan unsur komedi atau apapun, namun kebanyakan yang terjadi adalah mereka tidak menyadari bahwa irama pentas yang telah mereka susun runtuh, mereka menyusun lagi dan meruntuhkannya lagi secara tidak sadar, begitupun yang dilakukan oleh Teater Djati dalam pementasan “Pelacur dan Sang Presiden”, padahal unsur ini dapat menjadi sarana yang penting untuk mencapai berahi penonton.

Bayangkan seorang pemuda yang sedang menyusun balok-balok lego. Irama adalah undakan-undakan bangunan yang akan dibentuk oleh mainan persegi dengan bulatan-bulatan yang menempel di atasnya itu. Untuk mencapai klimaks pemuda itu harus menyusun beberapa undakan, namun ketika undakan urung selesai sepenuhnya tiba-tiba tiba seorang anak kecil datang menghancurkannya dan terpaksa pemuda itu harus menyusun lagi irama dari dasar. Tapi, dalam hal ini tidak ada anak kecil yang iseng, yang ada hanyalah sifat kekanak-kanakan pemuda tadi yang karena ia menyukai warna biru dan melihat undakan yang disusunnya rampung setengah tanpa melibatkan satu pun warna biru, maka dengan semangat kekanak-kanakannya ia memaksa balok biru itu masuk, dan yang terjadi kemudian adalah undakan yang telah ia susun hancur, lalu ia harus memulai lagi dari awal. Jika diilustrasikan memakai gunung, irama yang dihasilkan pementasan “Pelacur dan Sang Presiden” oleh Djati hanyalah beberapa gunung-gunung kecil, bukan sebuah gunung megah dan gagah. Parahnya lagi hanya satu yang memiliki puncak, sisanya adalah gunung-gunung kecil yang cacat.
Dengan begitu selesailah perayaan ulang tahun Djati kesembilan belas, teruslah berbenah sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus kalian selesaikan.
Dan terlepas dari semua cacat dan kemewahan yang Djati suguhkan dalam dua malam, kita masih bisa memilih untuk hidup sesuai kehendak kita masing-masing seperti apa yang diyakini Jamila di awal pentas. Dan tanpa menganggap penyesalan Jamila terhadap dunia yang carut-marut ini sebagai sebuah kekalahan, kita masih bisa tersenyum dan membaca sebuah ulasan pentas yang buruk, ulasan yang layak dibakar dan dijejalkan ke dalam lubang pantat seperti cerpen-cerpen peer, seolah-olah kalimat pertama dalam tulisan itu adalah kalimat terakhir yang harus kalian baca.




Penulis: Faris Al-Furqon Editor: Wanti Ayu Aprilian Pukul 11 malam, Blue Stage masih ramai,   bahkan semakin ramai. Teriakan para p...

Penulis: Faris Al-Furqon
Editor: Wanti Ayu Aprilian


Pukul 11 malam, Blue Stage masih ramai,  bahkan semakin ramai. Teriakan para pemain Teater Djati pun makin keras. Semua orang yang ada di sana, terlebih sutradara dan asistennya semakin khusyuk menyaksikan lakon yang ditampilkan di panggung. Di tangan mereka, tertulis banyak catatan tentang penampilan para pemain kali ini. Malam itu, (11/11), Teater Djati tengah berlatih untuk pagelaran anyar mereka, “Pelacur dan Presiden” yang akan ditampilkan pada 19 dan 20 November mendatang.

Suasana latihan Teater Djati

Pagelaran ini juga sekaligus menjadi penanda ulang tahun Teater Djati yang kesembilan belas. Naskah “Pelacur dan Presiden” karya Ratna Sarumpaet yang--sedikitnya--memiliki kemiripan dengan novel “Perempuan di Titik Nol” akan dipentaskan. Pementasan tersebut melibatkan hampir seluruh anggota Teater Djati. Empat angkatan aktif dari 2019 sampai 2016 tengah mempersiapkan pagelaran tersebut.
Berbagai kejutan baru juga tengah dipesiapkan oleh Teater Djati. Mereka akan menawarkan konsep dan berbagai hal yang berbeda dari pagelaran terakhir mereka, “Bila Malam Bertambah Malam”. Sutradara pagelaran kali ini, Abimala, menawarkan konsep multi panggung yang merepresentasikan lintasan waktu dan karakter yang berbeda-beda. Hal tersebut akan menjadi hal baru yang dicoba Teater Djati untuk pementasannya kali ini. “Untuk memperlihatkan latar waktu dan karakter yang berbeda-beda, akan sangat membosankan bila menggunakan satu panggung utama dan mengandalkan tata pencahayaan untuk memperlihatkan alur waktu yang berbeda,” ujar Abimala saat ditemui pada sesi latihan. “Kami bakal membuat tiga panggung yang memiliki peran berbeda dan secara bergantian membawakan jalan cerita,” tambahnya.
Kejutan lainnya pun dibocorkan oleh Gina, sebagai pemimpin prodksi. Ia menuturkan bahwa pada kali ini, Teater Djati akan membawa suasana latihan ke pementasan. “Hal ini akan jadi kejutan, dan sifatnya lebih ke improvisasi saja sih,” kata Gina. Namun, Gina urung mengungkapkan suasana latihan seperti apa yang akan ditampilkan pada pementasan mendatang.
Persiapan-persiapan lain juga dipaparkan oleh asisten sutradara kali ini, Sogen. “Aktor sudah siap 80 persen, tinggal menambahkan beberapa detail saja. Artistik juga begitu,” kata Sogen. Ia juga mengatakan beberapa adegan yang realis akan dimodifikasi menjadi lebih komedi dan absurd. Sogen pun mengatakan bahwa pementasan kali ini dilangsungkan selama dua hari, serupa dengan pementasan “Petang di Taman” yang digelar pada tahun 2017.
Penata musik pada pementasan kali ini, Ilham, juga menuturkan persiapan-persiapannya. Lagu-lagu bernuansa stoner metal yang kental dengan distorsi gitar yang tebal akan mengiringi jalannya pentas. “Isu-isu marjinal seperti ini akan kami iringi dengan musik yang marjinal juga,” ujar Ilham yang telah mempersiapkan 4 lagu untuk pementasan kali ini. Ilham pun mengatakan bahwa keempat lagu yang disiapkannya akan menggambarkan kondisi psikologis pemeran-pemeran yang bermain di atas panggung.
Dari segi artistik dan tata panggung, Rizky menuturkan bagaimana persiapannya. Mulai dari jeruji penjara, wc, pohon, dan beberapa properti lain sudah rampung. “Ini semuanya sudah 70 persen, dan semua bangunan yang kami buat sudah menemukan bentuknya. Mungkin tinggal detailing sedikit yang harus ditambahkan,” kata Rizky sambil menggergaji kayu saat diwawancara. Rizky juga mengungkapkan bahwa ketiga panggung yang menggambarkan karakter yang berbeda akan menyuguhkan tata panggung yang berbeda. “Panggung kanan yang absurd, kiri yang surealis, dan tengah yang realis, akan membutuhkan banyak properti dan persiapan yang rumit,” ujarnya.
Waktu pementasan yang semakin dekat juga memperlihatkan animo masyarakat FIB yang tinggi atas pementasan ini. Gina menuturkan bahwa dari tahun ke tahun animo ini semakin meningkat. “Bahkan tadi saat menghubungi orang sound, dia bilang anak Fikom juga banyak yang menanyakan tentang pementasan kami,” ujar Gina denga antusias.
Tiket pementasan pementasan kali ini bisa dipesan mulai dari sekarang dengan harga 20 ribu Rupiah. Tiket juga bisa dibeli pada saat hari H seharga 25 ribu Rupiah. Setelah melihat kejutan-kejutan dan berbagai persiapan yang telah dipersiapkan Teater Djati untuk pementasan kali ini, kini giliran Anda menyiapkan diri untuk menonton pementasan tersebut, sebab “Pelacur dan Presiden” akan menyuguhkan banyak hal yang mungkin tidak pernah Anda saksikan sebelumnya.




Penulis: N. Intan Desain: Ninda Annisa Redaktur: Faris A & Azaina Sabtu (26/10), tepatnya malam Minggu, Fakultas Ilmu Budaya U...

Penulis: N. Intan
Desain: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A & Azaina



Sabtu (26/10), tepatnya malam Minggu, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran mendadak menjadi ramai. Banyak tenda-tenda berjejer, bendera kecil menggantung sepanjang jalan, dan suara ramai bersautan di antara tenda-tenda dan area Blue Stage.
            Karnaval Sastra, satu dari sekian rangkaian acara dari Himpunan Gelanggang Sastra Indonesia yang berhasil diadakan setelah minggu lalu diadakan talkshow #YukMulai. Karnaval Sastra adalah acara dua tahunan dari Gelanggang untuk memperingati bulan bahasa. Tahun ini, Karnaval Sastra mengusung tema memori. Di samping itu, Karnaval Sastra juga telah mengadakan berbagai rangkaian acara sebelumnya, seperti lomba-lomba sastra dan Malam Sastra yang tempo lalu diadakan di Backspace Cafe Jatinangor.
            Malam puncak Karnaval Sastra ini diawali dengan adanya pembukaan gerbang menuju tenda-tenda makanan-minuman, pernak-pernik, juga panggung bebas pada sore hari pukul 15.00. Dilihat dari dekorasinya, malam puncak Karnaval Sastra ini mengusung suasana sirkus. Panggung bebas diisi oleh sejumlah mahasiswa yang ingin menampilkan nyanyian atau membaca puisi. Selain itu, di samping deretan tenda terdapat permainan can toss dan bottle toss juga tempat berfoto. Benar-benar dirancang mirip dengan sirkus yang kita tahu, bukan?
            Sore bergulir menjadi malam, gerbang menuju area Blue Stage bagi pengunjung telah dibuka. Acara di Blue Stage ini dibuka dengan meriah oleh flashmob dari Gelanggang yang berkolaborasi dengan Les Cantores, paduan suara dari FIB. Yang membuat merinding adalah lagu yang dipakai berasal dari soundtrack film The Greatest Showman yang juga berlatar belakang kehidupan sirkus.
            Setelah pembukaan oleh flashmob dan Les Cantores, sambutan-sambutan diberikan oleh ketua pelaksana Karnaval Sastra, Zahra Nadhirah (2016), kemudian ketua himpunan Gelanggang, Angga Sekarsany (2016). Selanjutnya, acara dimeriahkan oleh penampilan Svetovid, Djati, sulap oleh Triumvirat, Fibrator, dan band. Sayangnya, acara sempat dikacaukan oleh hujan yang cukup deras membuat para penonton bubar mencari tempat berteduh. Sebagian penonton tetap menonton dengan menggunakan payung dan merapat ke bagian depan panggung. Beruntung, hujan tidak berlama-lama turun, para penonton kembali ke tribun ditemani tanah yang basah dan hawa dingin sisa hujan.
            Acara ditutup oleh penampilan bintang tamu utama, yaitu Elkarmoya. Beberapa penonton yang antusias merapat ke depan panggung dan menari sebebasnya. Karnaval Sastra telah usai. Semua penonton pulang dengan wajah gembira, seperti yang dikatakan Zahra pada sambutannya.
           

Penulis: Billie Wijaya Redaktur: Nigina Auliarachmah Ilustrator: Al Aniyah Setiap Oktober, dunia merayakan Pekan Buku Terlarang, se...

Penulis: Billie Wijaya
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Ilustrator: Al Aniyah


Setiap Oktober, dunia merayakan Pekan Buku Terlarang, sebuah acara penting untuk merayakan dan menjaga kebebasan membaca. Setiap Oktober pula, masyarakat Indonesia merayakan Bulan Bahasa yang pada mulanya berakar pada sebuah peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, yakni sumpah pemuda.
 Seperti para konspirator ulung di semenanjung mana pun, setidaknya teknik mengait-ngaitkan seperti di atas perlu dilakukan untuk membuat tulisan ini seolah-olah berhubungan. Karena itulah, kemeriahan Bulan Bahasa patutnya disambut dengan kesalihan-kesalihan di antara para pembaca buku. Tere Liye, yang bukunya pernah disangka sebagai tulisan seorang waria oleh pembacanya sendiri, pernah mengatakan bahwa jika kalian mengeluhkan harga bukunya yang terlalu mahal, kalian tidak usah membeli, cukup meminjamnya.
Kegiatan pinjam-meminjam buku ini kemudian lumrah dilakukan. Aku tidak tahu lebih dulu mana muncul, kegiatan ini atau lahirnya perpustakaan, Tapi lahirnya perpustakaan membawa dampak yang bagus. Sebagaimana bergandengannya lampu merah dan klakson, telunjuk di bibir dan kebisingan, kegiatan pinjam-meminjam buku ini dibarengi pula dengan kasus-kasus bengis yang tentunya menjadikan peminjam sebagai orang  zalim yang tidak dikenali lagi raut muka memelasnya ketika meminjam buku dan pemilik buku sebagai korban. Dari banyak kasus yang terjadi kira-kira beginilah beberapa daftar yang aku kumpulkan.

1.    Meminjam Tanpa Bilang-bilang
Ada perbedaan antara mencuri dan meminjam, bukan? Perbedaan ini akan sukar sekali dijejalkan pada para pembaca yang sering ‘meminjam’ buku tanpa bilang-bilang. Bukan karena sulitnya memberikan pemahaman ini karena mereka akan menampakkan kebodohan seperti saat seekor coro diberi materi dasar fisika kuantum namun justru karena sebaliknya, mereka pintar dan memiliki banyak alasan untuk berdalih.           
Alasan utama yang selalu dijadikan tumbal adalah bahwa ‘mubazir’ sebab tidak akan ada yang membacanya. Untuk urusan ini aku sedikit setuju karena beberapa perpustakaan sekolah sering kali bertingkah konyol dengan memasukkan buku-buku yang ’jarang dibaca’ itu ke dalam sebuah rak khusus dan menguncinya; memperlakukannya seperti barang mewah yang tak boleh tersentuh.
Namun, kebanyakan pembaca yang berkata ‘meminjam’ itu tidak pernah mengembalikan bukunya ke rak semula, inilah yang menjadi akar dosa. Kasus lain misalnya, ketika seorang kawan berkunjung ke kamar indekos dan ‘tidak sengaja’ memindahkan buku dari rak ke dalam tasnya, lalu tidak mengembalikannya lagi sebab malu dikira sebagai pencuri. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah mengembalikan buku dan mengakui kesalahannya ditambah menyiagakan kuda-kuda sebagai upaya sigap menerima tindakan kekerasan jenis apa pun.

2.        Me-meuyeum Buku Lalu Merasa Memilikinya
James Phillips ‘meminjam’ buku Sejarah Perang Salib dari Universitas Doyton Ohio dan baru mengembalikannya setelah di-peuyeum setengah abad. Apa yang dilakukan Phillips adalah sesuatu yang mungkin sulit dilakukan oleh para peminjam buku, karena alih-alih mengembalikannya setelah puluhan tahun bersama buku itu, biasanya orang-orang seperti ini tanpa pengaruh beranggapan bahwa buku itu telah berpindah hak milik.
Kezaliman kedua adalah hal yang sering dilakukan oleh para peminjam bukuyang kebanyakan atas nama temanadalah mereka anteng-anteng saja meminjam buku satu bulan, satu tahun, dst. Sampai buku berjamur, barangkali. Kezaliman ini harus segera dihapuskan agar tidak lagi timbul akal memasukkan zat berbahaya ketika kita sedang asyik ngopi-ngopi dengan kawan.

3.        Mengoper Buku
Pemuda E meminjam buku dari tokoh D kemudian Pemuda E meminjamkannya pada C lalu C membacanya sambil menunggu rapat dengan A dan A tertarik meminjamnya. Pada suatu hari tokoh C membutuhkannya dan bertanya sudahkah Pemuda E selesai membaca, lalu dengan enteng Pemuda E menjawab ‘AmbIL aJA di Bpk SbY’.               
Jika seorang meterialis sukar sekali membaca arah pikiran Murakami ketika memutuskan menjadi novelis di tengah kesuksesannya sebagai pemilik bar, maka lebih sulit lagi menebak pikiran peminjam buku seperti ini dari sudut pandang pemilik buku. Kezaliman ini akan membuat si empunya buku gondok setengah mati.
Andai kalian berniat melakukan improvisasi menjengkelkan seperti ini, bertanggungjawablah dengan memastikannya tetap aman dan nyaman sehingga ketika sang pemilik menagih bukunya, kalian sudah siap dengan sebuah buku di tanganatau minimal bukunya sudah ada di kamar.

4.    Merasa tidak Berdosa Ketika tidak Kunjung Menyelesaikan
Seminggu setelah mendapat jawaban belum dibaca, ia bertanya lagi namun jawaban yang didapatkan perihal bukunya yang telah pinjam itu masih sama, bahkan setelah sebulan berlalu, dan tahun-tahun penuh kemunafikan terlewati, jawaban temannya tetap sama.
Kalau kalian memang nggak niat membacanya, gak perlu pinjam buku , dan kalau kalian berniat meminjamnya ya BACALAH.