Foto: Felisitas Dhwani Wihangga Gosipin Tambang, Yuk! Who controls the present now controls the past Yulius Isyudianto dan orang-orang di ...

 

Foto: Felisitas Dhwani Wihangga
Gosipin Tambang, Yuk!
Who controls the present now controls the past
Yulius Isyudianto dan orang-orang di PT Yudhistira Bumi Bhakti mungkin akan mengingat Agus Suparmanto sebagai penipu ulung. Warga Kampung Buli di Halmahera, Maluku mungkin akan mengingat Agus Suparmanto sebagai lintah ganas. Dan kita mengenal Agus Suparmanto sebagai Menteri Perdagangan di kabinet sekarang. Melihat ingatan orang-orang terhadap Agus Suparmanto yang bermacam-macam itu, tentu ada petualangan seru di baliknya. Ayo mundur belasan tahun ke belakang untuk mengetahui bagaimana Agus bisa diingat sebagai penipu, lintah ganas, dan belakangan menteri itu.

Waktu itu awal 2000-an. PT Antam, BUMN di bidang pertambangan menemukan 220 juta ton cadangan nikel basah di pedalaman Maluku, tepatnya di kampung Buli, Halmahera. Cepat-cepat mereka gelar tender untuk menentukan perusahaan mana yang akan mengeluarkan isi perut bumi itu.

Pramono Anung-- sekarang jadi Sekretaris Kabinet-- dan Yulius mendengar kabar itu. Lewat PT Yudhistira milik mereka, peruntungan dijajal, namun modal mereka tidak cukup bila akhirnya nanti memenangi tender itu. Bak seorang santo, Agus yang dulu masih menjadi pengusaha, datang menyalakan kembali harapan PT Yudhistira. Kala itu ia memang tengah sukses di bidang percetakan. Olehnya perusahaan itu disuntik 58 miliar Rupiah. Ada satu nama lagi yang menjadi investor, Miming Leonardo, tidak perlu diingat, tidak begitu penting.

PT Yusdhistira memenangkan tender. Antam yang memenangkannya beralasan bahwa rencana PT Yudhistira paling ramah lingkungan dan mereka juga akan mengurus konservasi alam setelah proyek selesai, walaupun harga proyek jauh lebih mahal dari yang ditawarkan peserta tender lain. Proyek pun akan dimulai pada 2001 dan akan berakhir 2004. 

Proyek sudah gol, waktunya membuat rencana bagi hasil. sebagai investor, si calon menteri masa depan dan Miming Leonardo akan kebagian 70 persen keuntungan. Yulius sebagai komisaris PT Yudhistira dijanjikan 10 persen dan Pramono Anung sebagai pemilik dapat 5 persen. Beberapa operator di lapangan mendapat sisanya. Syaratnya saham Yulianus dan Pramono diserahkan ke Agus dan Miming. Otomatis Agus dan Miming memimpin perusahaan saat itu.

Masalah datang pada 2013-- proyek diperpanjang. Laba proyek kala itu mencapai 2,7 triliun. Yulius, jajaran komisaris lain, dan operator berhak mendapat 1 triliun. Namun Agus seperti bandar arisan yang kabur ke Jawa saat ditagih komisi oleh Yulius. Sempat dilaporkan ke polisi oleh Yulius, akhirnya Agus melunak. Dia mengontak Yulius, dan menawarkan uang 500 miliar asal laporan dicabut. Sebagai komitmen, 30 miliar sudah dikirim ke rekening Yulius. Kesepakatan ditandatangani namun tidak tertulis bahwa Agus akan membayar 500 miliar.  Kecerdikan strategi Agus sempat membuatku berpikir kalau ia adalah Sun Tzu atau Henry Kissinger di kehidupan sebelumnya. 

Kalau sudah begini, Yulius hanya bisa meratapi kecerobohannya. Laporan atas penipuan yang dibuatnya kembali pada Januari lalu dianggap kurang bukti oleh polisi. Agus lewat pengacaranya juga menolak semua tuduhan Yulius. "Apa buktinya Agus berjanji memberikan 500 miliar? Laporan itu fitnah yang bertujuan menjatuhkan reputasi klien saya," kata pengacara Agus saat diwawancarai  Tempo

Kejanggalan lain juga tidak kalah menarik untuk digosipkan. Nilai proyek ini kata Yulius dikerek setinggi-tingginya oleh PT Yudistira dan direstui dengan mudah saja oleh PT Antam sebagai penentu izin proyek. Nilai proyek pada tahun 2007-2009 mencapai 22,7 USD per WMT (wet metric ton), padahal nilai proyek serupa di wilayah Halmahera yang lain hanya 11 USD per WMT. Entah untuk alasan apa Antam mau mengeluarkan uang lebih banyak dari yang lainnya untuk dua proyek yang sebenarnya bernilai sama. Yulius sendiri tidak bisa apa-apa karena sudah tidak berurusan dengan manajemen kala itu.

Kejanggalan lain juga terjadi ketika PT Yudistira ditunjuk langsung oleh Antam untuk perpanjangan kontrak selama 13 tahun berturut-turut dari 2001-2014. Padahal kontrak berakhir tiap dua tahun sekali, dan menurut Keputusan Presiden nomor 80 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, setiap proyek yang digarap swasta harus melalui sistem lelang. Apa yang terjadi di balik Antam dan Yudisthira tentunya abu-abu. 

Bagian paling sedih ada di sini. Ingat mengapa PT Yudistira memenangkan tender? Ya karena proyek mereka dianggap ramah lingkungan dan mereka akan mengurus konservasi alam pascaproyek. Kenyataannya warga Kampung Buli, tempat proyek ini berlangsung sekarang menderita. Gunung ditebas dan dibiarkan begitu saja. Nelayan kehilangan ikan karena limbah pasir bekas cucian nikel. Air untuk mandi dan minum juga tercemar oleh sisa nikel yang belum terambil. ISPA membunuh sembilan orang di Kampung Buli. Air, tanah, udara mereka dirampas. Penderitaan warga Buli  nampaknya jauh lebih besar daripada saham yang dipegang Agus Supramanto di PT Yudistira.

Dan sekarang Agus Suparmanto menjadi Menteri Perdagangan. 

Tulisan ini disarikan dari lima laporan investigasi di Majalah Tempo edisi 29 Maret 2020
  • Faris Al-Furqon

Surat dan Perangko

Pos…pos…!
 
Ada surat berperangko datang setelah sekian lama manusia terbuai oleh WhatsappLine, dan macam-macam aplikasi chat yang canggih. Surat ini tanpa nama dan hanya tertulis, “Untuk kaum muda yang sedang resah-gundah-gulana menghadapi Long Distance Relationship di masa-masa Covid-19”. Surat ini kubuka dan isinya tidak terlalu panjang:

    “Hai, kaum muda. Akhir-akhir ini aku melihat dan mendengar banyak keluhan dari kaum kalian tentang hubungan yang jadi LDR karena Covid-19. Keluhan itu banyak muncul di TwitterInstagramFacebook, dan sosial media lainnya. Rasanya jadi ikut prihatin dengan kondisi yang tidak biasanya dialami oleh kaum non-LDR. Tapi, mengeluh dan memikirkannya terus-terusan juga tidak baik untuk iklim hubungan kalian. Bisa-bisa malah jadi sering berantem karena jarang bertemu. Mending lakukan hal menarik, seperti berkirim surat menggunakan perangko.

    “Di abad 21 hampir seluruh manusia meninggalkan dunia surat cetak. Kantor Pos dipenuhi paket barang-barang, perangko tidak selaris dulu, bahkan kotak pos—berwarna oranye yang dulu ketika kita SD selalu penuh—kosong. Sekarang manusia lebih memilih mengirim surat dengan paket yang bisa dilacak status pengirimannya. Rata-rata, tingkat kesabaran manusia jadi menurun, mau yang segalanya cepat dan pasti. Padahal, Kantor Pos masih menerima jasa pengiriman surat maupun postcard dengan menggunakan perangko, lho, seperti surat yang kukirim ini.

    “Mengirim surat dengan perangko itu gampang dan murah. Kalian hanya perlu menyiapkan kertas, amplop, perangko, lem kertas, dan pulpen untuk menulis tentu saja. Kertasnya bisa menggunakan kertas apapun, ditulis model bagaimanapun, sabeb! Amplop juga boleh yang polos maupun bermotif. Kalau perangko, kalian bisa membelinya di Kantor Pos, masih dijual kok. Tapi, kalau kalian pemalu atau pemalas, bisa juga beli di online shop, banyaaak yang menjualnya. Saranku sih tetap jangan males karena kalian juga akan tetap ke Kantor Pos nantinya untuk menyerahkan surat.

Kalau udah punya semua amunisi di atas, segera tulis perasaan-perasaan yang akan kalian bagikan. Boleh satu halaman atau satu kata saja. Kalau sudah, masukan ke dalam amplop. Di bagian depan amplop, tulis nama penerima, alamat, kode pos, dan nomor hp supaya jelas. Di bagian belakang amplop (yang ada perekatnya), tulis nama kalian sebagai pengirim. Lalu di mana sih letak perangko? Perangko ditempel di halaman depan amplop, pojok kanan atas—di atas nama penerima tadi. Sudah deh, tinggal bawa saja ke Kantor Pos dan tunggu sampai suratnya tiba di tangan penerima.

Tapiiii…, sabar, ya, remaja. Mengirim surat dengan perangko butuh waktu sekitar 5-7 hari di sekitar Pulau Jawa dan 7-10 hari di luar Pulau Jawa. Juga, surat ini tidak bisa dilacak status pengirimannya. Jadi jangan bawel dan gelisah terlalu sering. Sabar dan tunggu saja. Pasti reaksi penerima juga tidak sebiasa ketika menerima WA, Line, atau apapun yang sudah biasa kalian lakukan. Surat ini datang bersama dengan kasih sayang, ketulusan, dan kesabaran. Paket komplit dan dijamin bikin gemes!
Dimanapun,

Siapapun.”

Surat tadi kuterima 
  • Felisitas Dhwani

Memanfaatkan Kewarasan di saat Karantina

            Apa kamu sehat? Semoga kamu selalu sehat tubuhnya dan pikirannya. Sudah berapa hari self-quarantine? Semoga kamu tetap tahan dan menjalani hari-hari senormal mungkin. Di masa physical distancing ini aku tebak kamu banyak melakukan kegiatan-kegiatan time killer seperti mengobrol dengan kekasih via daring, bermain ­game, bermain dengan hewan peliharaan, dan lainnya. Tapi bagaimana bagi kamu yang tidak punya pacar? Atau kamu punya pacar yang sibuk bercumbu dengan orang lain dan tidak memedulikanmu sebagaimana ia tidak memedulikan Corona apocalypse ini? Atau bagaimana bagi kamu yang tidak ada kuota untuk ­men-donwload game, tidak punya hewan peliharaan, atau lainnya? Aku punya beberapa kegiatan time-killing alternatif untuk kamu yang demikian. Sebelumnya, aku menulis ini dalam keadaan waras haha. Tidak masalah bukan? sama halnya dengan psikolog yang mengobati pasien jiwanya. Oke, berikut adalah kegiatan alternatif dari aku untuk kamu di saat karantina.
  1. Mengobrol dengan Benda Sekitar
Bila kamu berpikiran aku akan menulis ‘mengobrol dengan teman’, maka kamu salah. Mengobrol dengan benda dirasa cukup aneh, tapi patut dicoba ketika kau pasrah dengan manusia. Tentu tidak terikat dengan mengobrol saja, kamu juga bisa membayangkan apa yang ada di benak suatu benda tersebut. Misalnya, kamu menatap pintu dan membayangkan “Cape ga ya jadi pintu?”
  1. Melamun
Melamun adalah upaya yang lebih ringan ketimbang mengangkat galon yang baru diisi ulang. Melamun juga dapat menembus ruang dan waktu, bahkan logika sekalipun. Tepat diterapkan bagi kamu yang raganya di rumah namun jiwanya di samudra. Berkaca dari keadaan sekarang, kamu bisa melamun perihal bagaimana kalau wabah ini diibaratkan seperti di film-film, yaitu ketika ada tokoh utama yang kotanya diserang wabah mematikan, kemudian ia mencari tempat paling aman. Dalam survival-nya ia dikejar-kejar zombie, dan akhirnya berhasil sampai di tempat paling aman di bumi yang ternyata sudah rata dengan tanah. Menurut kamu, sedang di bagian mana sekarang si tokoh utama ini?
  1. Bermain dengan Peliharaan
Bermain dengan peliharaan? Bukannya aku ini akan menuliskan kegiatan bagi kamu yang tidak punya hewan peliharaan? Jawabannya benar. Manusia sebagai entitas paling rumit di bumi memiliki daya untuk menjadi majikan atas entitas lain yang lebih lemah darinya. Kucing, anjing, kura-kura, llama bukan satu-satunya yang dapat dipakaikan kalung bernama. Kamu bisa menjadikan apapun menjadi peliharaan, selagi ia setia kepadamu. Aku sendiri memelihara dua dinosaurus plastik yang aku dapatkan di dalam kemasan penganan pilus. Barangkali kamu bisa memelihara tetikus laptopmu. Oh ya, urusan bisa diajak bermain atau tidak, itu bergantung pada imajinasimu (atau kewarasaanmu).
  • Ahmad Maula
Nona, bisa kah semalam kita menjelma udara ? Terhempas bebas dalam cemas, sebab

di belantara kita tersesat melayang layang pada simpul yang terikat. ingar-bingar suara mereriuh ricuh bergemuruh. aku larut, lebur, hancur sejadi jadi. Kau lepas segala dan kita berbagi semesta.
~x
Semesta dari Kaca

Dari batas jendela yang pudar
jalanan mengheningkan cipta.

Kita gelisah sebab duka
selalu menuntut tanpa aba
-tapi tidak, memang
tidak pernah muncul duga.

Kesepian hari ini
tidak mengenal dua empat per tujuh.
Kematian dan perpisahan tinggal
menunggu tempo jatuh.

Mendadak kita merasa tua
Uraturat hangout mulai kejang
Kafe menanti bibir kopi,
nasib minta diterjang
sedang tubuh kita yg bosan di ranjang
berteriak:

kami rindu tongkrongan.
 
~esokkuberitahu

Penulis: Muhammad Averyl Aziz Editor: Arsyad Dena Mukhtarom Desainer: Nur Afidati Shabira Bu Arsitek, bu Arsitek... Sudah makan hari...

Penulis: Muhammad Averyl Aziz
Editor: Arsyad Dena Mukhtarom
Desainer: Nur Afidati Shabira


Bu Arsitek, bu Arsitek... Sudah makan hari ini? Aku baik, bersama semua linu yang bebannya hanya ada di kepalaku. Sudah lebih baik? Pasti sudah lebih baik. Dahulu juga rasa-rasanya kamu selalu baik-baik. Baik, kenapa harus bertanya seperti itu sementara wajahmu yang makin hari makin cemerlang diguyur panas disinari hujan? Udara kota itu membuatmu lebih segar setiap kali aku mencoba mengingat paruh lancipmu.
Oh iya, apa kabar ibumu? Ayahmu? Kakek, nenek, atau mereka yang sudah meninggalkan kita semua? Kau begitu parau diingatanku sehingga inginnya bertemu. Apa daya rumah menjadi tempatku bersemedi untuk beberapa bulan ke depan. Benar, baikkah kamu? Syukurlah, kuyakin kamu baik saja. Terlihat dalam gawai yang layarnya sudah retak, kuotanya hampir habis. Wajah itu, lewat begitu saja minta ditekan kuat-kuat. Lagi pula, tak ada virus pun mustahil bagiku bersua denganmu, bu Arsitek.
Bu Arsitek, bu Arsitek... Hebat. Bangga. Itu saja yang bisa kuucapkan lewat kejujuran yang sedari dulu selalu berontak minta diutarakan. Perempuan sekecil dan semanja itu, kini dari potongan rambutnya saja sudah terlihat jauh lebih dewasa. Tapi, satu yang tak berubah: cantikmu. Atau sebenarnya aku saja yang selalu berdalih demikian. Aku tak pernah tes mata sejak dari rahim ibuku. Menyesal barangkali tak kusampaikan, atau tidak. Tak ada pesan yang ingin kusampaikan begitu penting. Hanya barangkali sekadar, “Apa kabar?”
Bagaimana tentang biru? Iya birumu, biru apalah itu. Sebuah warna yang awalnya aku sukai karena tokoh “Power Rangers” berubah menjadi mimpi buruk. Biru, birumu, biru apalah. Masih hidupkah dia? Masih adakah dia? Kenapa masih saja biru biru biru terus. Mengapa harus biru? Langit juga biru. Laut juga biru. Pilu juga membiru. Mengapa kamu meninggalkan kesan yang begitu kejamnya pada biru. Luka lebamku juga biru. Memarku juga biru. Warna seragam yang dulu kita kenakan juga biru.
Lalu, lalu... Bagaimana dengan jalan-jalanmu? Kamera analog kesayanganmu? Analog atau digital sih? Ah, terserah. Bagaimana dengan 22? 23? Halah, terlalu banyak bagaimana. Bagaimana mimpimu? Semua bakti sosial yang kamu jalankan? Bagaimana dengan tulisan-tulisanmu? Aku benar-benar tak tahu apa-apa lagi tentangmu, bu Arsitek.
Seolah mimpi menjadi nyata bila nanti rupa-rupanya kubisa menyaksikan rupamu. Kemegahan di balik senyum, keindahan di balik kedua retina matamu, kehancuran menyaksikan aku yang kembali bisu dibuatmu. Selalu dan selalu seperti itu. Ego mendesak supaya terlihat keren di depan matamu. Tapi, sesal yang segera membuntuti saat menatap nanar kepergianmu. Tidak, tentu tidak. Kamu tak pernah pergi, kita hanya lulus. Yang selalu bergairah mengetik dan dibalas, tercabik oleh ingatan bahwa aku selalu berujar tak penting. Temanmu penting, hidupmu tentu penting. Candamu juga penting. Kamu hidup dalam duniaku sedangkan aku hanya hidup dalam duniaku sendiri. Kamu punya dunia yang lebih ideal.
Udah jangan sedih-sedih melulu. Intinya, bu Arsitek. Mau seberapa kau buat tangan halusmu menjadi kasar, mau seberapa legam kau buat kulit putihmu itu. Terserah. Semua selalu terserah. Kamu bukan lagi anak kecil yang takut naik kereta sendiri­. Kawanku pernah melihatmu berkelana naik kereta seorang diri. Wow, betapa keren! Betapa dunia berubah begitu cepat. Dari rambutmu yang diikat dua sampai rambut setengah bahu dan usiamu makin mendekati kepala dua. Waktu bergerak begitu cepat padahal rasa-rasanya baru saja tanganmu membersihkan sisa makanan di rambutku oleh perilaku usil kawan.
Yaudah lah ya, tak ada yang bisa dikembalikan. Walau bisa biar saja tetap seperti ini. Seperti ada atau tiadanya dirimu tetap dan terlanjur mengisi hari-hari yang ingat atau yang lupa. Tak ada yang perlu ditarik sekalipun janjiku untuk menjadi aktor hijau. Gagal, hehe. Pasti sudah lupa juga, sudah terlalu usang. Mungkin pula tak sengaja kau ucap kala itu, mana tahu?
Biarlah di mana, entah di rumah hangatmu kini yang sudah kulupa jalannya (aku memang pelupa), di kosan nyamanmu di kota seberang, atau di kampus yang pasti sekarang sudah tutup. Jaga dirimu, jaga dirimu dari dirimu, jaga dirimu dari aku. Karena aku tak bisa menjaga diriku saat mencoba menjaga dirimu di dekatku. Biarlah ke mana yang penting jangan tanggalkan jalan pulang. Oh iya, hampir terlupa. Jangan salahkan aku bila biru menjadi warna yang kerap membuatku kesal. Entahlah.

Pesanku: sehat selalu, berhasillah, dan terbekatilah. Cemerlang. Bahagia.

Lazimnya surat itu berbalas. Tapi enggak juga sih. Surat yasin gak berbalas, balasannya pahala. Berarti surat ini sama, anggap saja pahala.


Jakarta, Maret 2020.
Kamar Isolasi.

  Foto: Felisitas Dhwani Wihangga Bagaimana kabar hari ini? Bukan, bukan. Tenang saja, ini bukan kutipan dari puisi yang terkenal di lingkar...

 

sdsdsd

Foto: Felisitas Dhwani Wihangga

Bagaimana kabar hari ini?


Bukan, bukan. Tenang saja, ini bukan kutipan dari puisi yang terkenal di lingkar tahun 2015-2016 itu, ketika kau mungkin saja masih mengenakan seragam putih abu (kalau salah, maafkan aku, ya?). Bukan, tenang saja. Bukan juga sekadar basa-basi seperti mantan kekasihmu yang bingung mau mulai obrolan dengan apa di media sosial akhir-akhir ini. Bukan, jangan khawatir. Ini bukan koreksi dari kesalahan penulisan apa kabar hari ini? begitu. Ini aku, yang ingin benar-benar tahu kabarmu bagaimana.

Aku baik, setidaknya, setelah tiga hari tidak keluar kamar kos. Setidaknya, setelah tiga hari tidak berani—atau lebih tepatnya malas—ke mana-mana, dan jadwal makan lebih seenaknya saja. Terpapar berita Covid-19 mungkin membuatmu mengalami gejala psikosomatis, sama sepertiku. Tetapi tidak mengapa, percayalah kau akan selalu sehat, seperti biasanya. Asal rajin cuci tangan pakai sabun dan semprot disinfektan pagi dan sore.

Covid mengubah kebiasaan kita, terpelanting seratus delapan puluh derajat, mungkin? Coba kau tengok ke luar sana, langit mungkin lebih bersih. Jalanan lengang, hanya sedikit kendaraan berlalu-lalang. Suasana menjadi lebih sunyi. Kau yang biasanya memaki jalanan karena macet, sekarang mengeluh karena sepi. Kau mungkin bosan, capek, dan jenuh menjalani aktivitas dari dalam bilikmu, seluas atau sesempit apapun itu. Namun mungkin juga ini cara Bumi menyembuhkan dirinya sendiri.

Belum selesai Corona, kau mungkin mendengar lagi Hanta. Jangan risau. Hanta sudah muncul dari 1950, tidak seperti Corona yang baru muncul beberapa bulan lalu. Hanta ditularkan dari tikus pada manusia, utamanya, sementara Corona ditularkan dari manusia ke manusia. Kau tidak perlu khawatir dan panik berlebihan. Nanti lama-lama jadi gangguan kecemasan. Tetap tenang, rawat dirimu, jaga kebersihan dan kesehatan. Atur napas, tetap waspada. Cari informasi dengan sebenar-benarnya dan sebarkan dengan setepat-tepatnya. Orang bodoh saja yang menyebarkan berita bohong. Kau jangan.
Ah, iya. Sibuk ngoceh ngalor-ngidul, aku jadi lupa kau belum menjawab pertanyaanku. Maaf, kadang manusia memang gagal menjadi pendengar yang baik. Apalagi generasi milenial yang individualis, sibuk mementingkan diri sendiri. Jadi, bagaimana kabarmu hari ini? Kuharap, kau sehat selalu, keluargamu juga. Kalau kurang sehat, jangan lupa rehat, meski kau dihantui setumpuk tugas, dan kau belum juga bergegas menyelesaikannya. Jagalah harapan dan doamu, supaya ini lekas berakhir.
  • Abstraksara

Gak bisa main dengan teman, main sendiri saja!

Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja, dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop, yang baru saja diservis karena konslet. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop yang baru saja diservis karena konslet, sebab terlalu sering dipaksakan untuk mengejarkan kerjaan yang berat. Banyak cara untuk menggadai stres selama #dirumahaja dan aku memilih untuk bersenang-senang dengan laptop yang baru saja diservis karena konslet, sebab terlalu sering dipaksakan untuk mengejarkan kerjaan yang berat: bermain game.

Khusus untukmu, aku bisikan game-game seru yang dapat menggadai stres dan memupus bosan ketika tidak ada lagi yang ingin kau lakukan.
 
1. Mafia II
Untuk game PC yang pertama, Mafia II. Sesuai dengan judulnya, tema yang diangkat dalam game ini adalah dunia mafia. Perang, pembunuhan, dan penghiatan tak terelakkan dalam game ini. Alur cerita Mafia II tergolong singkat, hanya perlu sekitar delapan hingga dua belas jam untuk menuntaskan game ini.
 
2. Assassin's Creed II
Jika ingin game open world dengan dunia yang lebih luas, Assassin's Creed II adalah jawabannya. Tentu saja, game ini tidak asing bagi kebanyakan orang. Selain game yang tergolong ringan, Assassin's Creed II merupakan salah satu seri terbaik dari serial Assassin's Creed.
 
3. Two Point Hospital
Di tengah penuhnya rumah sakit oleh pasien COVID-19, mungkin kamu terbayangkan untuk memiliki rumah sakit sendiri. Game ini cocok sekali jika kamu merasa demikian. Siap-siap saja kedatangan pasien dengan kepala lampu!
 
4. Neighbours from Hell
Judulnya saja sudah mencerminkan bagaimana game ini akan berlangsung. Tetangga bajingan yang kerjaannya menjahali pemilik rumah yang hanya ingin hidup tenang dan damai. Jangan mengira kamu akan bertugas untuk mengusir tetangga biadab itu. Sebab, kamulah sang tetangga biadab!
 
5. Journey
Sebuah perjalanan. Hanya itu.
 
6. Unravel
Yang ini aku belum pernah main sih, tapi kelihatannya seru. Kalo kamu sudah main, beritahu, ya!
 
Selain untuk PC, ada juga rekomendasi game-game yang dapat dimainkan di ponsel kamu,  selengkapnya cari saja di Play Store, jangan malas.

1. Slither.io (Lowtech Studios)
2. Hide online – Hunters vs Props (HitRock Games)
3. Tiny Room Stories: Town Mystery (Kiary games)
4. Jangan Sampai Dipecat! (QuickTurtle Co., Ltd.)
5. Kembara Tsuki (HyperBeard)
 

 
  • Arsyad Mukhtarom

Belajar dari Sampar

 
Akhir-akhir ini kita sedang diresahkan dengan merebaknya virus Corona atau Covid-19. Badan Kesehatan Dunia atau WHO bahkan telah menetapkan Covid-19 ini sebagai pandemi. Artinya, saat ini, Covid-19 tidak terbatas lagi oleh kondisi geografis, tetapi sudah menyebar dan menjangkau daerah yang sangat luas, dan lebih dari itu, telah menjadi masalah global.

Menurut Kompas, per tanggal 25 Maret 2020 ini, virus Corona telah menginfeksi 422.829 orang di 197 negara. Dari total tersebut, jumlah kematian mencapai 18.907 kasus, sedangkan 109.102 orang di antaranya dinayatakan sembuh. Sementara di Indonesia, per tanggal 24 Maret 2020, total telah ada 686 kasus, dengan 30 pasien sembuh dan 55 orang meninggal. [1]

Wabah seperti Corona tentu bukan kali ini saja menjangkit dunia ini. Pada masa lalu pernah ada juga wabah yang bahkan jauh lebih mengerikan.

Pada abad ke-14, Eropa pernah dilanda wabah Pes. Pes merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Yersinia Pestis. Sejauh ini, wabah Pes menjadi salah satu pandemi yang paling mematikan dalam sejarah umat manusia dengan perkiraan korban mencapai 75 juta sampai 200 juta jiwa. Wabah ini dikenal sebagai kematian hitam atau black death.

Beratus-ratus tahun setelah peristiwa luar biasa tersebut, Albert Camus, salah seorang penulis besar Prancis, lantas menulis novel berjudul La Peste. Novel tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh NH Dini sebagai Sampar.

Dalam tulisan pendek ini, kita akan diajak melihat peristiwa Pes abad 14, memetik (sedikit) pelajaran dari novel Sampar, dan merenungkan epidemi virus Corona yang terjadi sekarang ini.
  1. Isolasi Bukan Sebuah Jalan
Teknologi-teknologi canggih seperti pesawat terbang dan kapal pesiar baru berkembang pada abad ke-20. Berabad-abad sebelumnya, manusia hanya bisa mengendarai kuda atau unta atau perahu layar untuk bepergian jauh. Selain itu, hubungan antar negara saat itu pun tidak seterbuka sekarang ini. Meskipun demikian, wabah Pes ternyata bisa menyebar dari Asia Timur sampai ke Eropa Barat hanya dalam waktu yang relatif singkat.

Jadi, apa yang dapat kita petik dari fakta tersebut?
Intinya, kita tidak dapat menyalahkan pengaruh globalisasi sebagai faktor utama penyebaran virus Corona dan isolasi atau lockdown adalah satu-satunya jalan untuk menghentikan penyebarannya.
Karantina dalam jangka pendek memang sangat penting, tapi isolasi dalam jangka panjang akan menyebabkan kehancuran (kelaparan, dll) tanpa jaminan wabah Corona akan teratasi.
  1. Pertahaan Terbaik Manusia Adalah Informasi
Sejak zaman dulu, para ilmuwan terus berusaha menggali informasi bahgaimana epidemi bekerja dan bagaimana cara untuk melawannya.
Karena keterbatasan ilmu pengetahuan, orang-orang pada abad pertengahan lebih sering membiarkan wabah bekerja dan hanya menunggu wabah tersebut musnah. Inilah mengapa wabah seperti Pes pada zaman dulu bisa membunuh begitu banyak orang. Sedangkan hari ini, dalam waktu yang relatif singkat saja, para ilmuwan dapat segera mengidentifikasi berbagai informasi mengenai virus Corona ini. Baik itu cara pencegahan, gejala-gejala yang ditunjukan, bagaimana penularan terjadi, dan masih banyak lagi.

Tersedianya informasi yang lengkap dan kesadaran masyarakat seperti inilah sesungguhnya adalah pertahanan terbaik yang dimiliki manusia.
  1. Keganjilan Para Pemuka Agama
Dalam Sampar diceritakan bahwa ketika Pes melanda Eropa, otoritas Gereja menyebutnya sebagai kemurkaan Tuhan, kutukan, dan azab.
Saat pertama kali Wuhan diberitakan terjangkit virus Corona, orang-orang kita beramai-ramai mengatakan jika China sedang diazab Tuhan karena “kekomunisannya”, karena kepongahan pemerintahannya, atau karena pembantaian mereka terhadap minoritas Uighur.
Ketika virus Corona telah mewabah di Indonesia, anggapan-anggapan tersebut mendadak lenyap sama sekali.



Hari-hari ini, Pemerintah terus menggalakan kampanye social distancing untuk mencegah penyebaran virus Corona. Dan, karena tokoh-tokoh Agama memiliki publik tersendiri, mereka semestinya menjadi salah satu pioner dalam upaya pendidikan masyarakat ini. Namun kenyataannya, mereka justru kerap membuat kita geleng-geleng tak habis pikir.
Keganjilan-keganjilan itu misalnya ungkapan beberapa tokoh Agama yang menentang fatwa penggantian salat jumat dengan salat dzuhur di rumah. “Umat Islam Jangan takut dengan Corona, takutlah terhadap Allah,” teriak mereka.

Atau pernyataan sekelas mantan Pangab, Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo, yang justru menyerukan gerakan memakmurkan masjid dan salat berjamaah di tengah wabah virus Corona yang semakin mengganas.

“AYO MAKMURKAN MASJID & GALAKKAN GERAKAN SHOLAT BERJAMA’AH UNTUK MINTA PERTOLONGAN ALLAH..!! (Jadikan Sholat & Sabar Sebagai Penolongmu..!!) Virus Corona (covid-19) adalah ciptaan Allah dan yg kena pasti juga atas ketetapan Allah.” [2]

Hal senada juga diungkapkan oleh salah seorang pendeta dalam sebuah kebaktian. “Beberapa gereja besar di Jakarta meliburkan jemaah hanya karena virus Corona. Mereka menampakkan diri bahwa Tuhan kalah dengan virus … Hidup kita bukan di tangan virus. Virus punya mata. Sasaran dia hanyalah orang-orang yang jauh dari Tuhan.” [3]
 
Selain pesan penuh haru para dokter dan pegiat kesehatan yang terus mewanti-wanti soal social distancing—untuk menghindari keramaianmemang selalu ada saja orang-orang yang sebaliknya, yang dengan penuh bangga menunjukan kekopongan kepalanya. Huhu. Selamat “libur panjang!” Jangan lupa bersabar dan tetap menjaga kesehatan!
  • Aflaz Maosul

Penulis: Muhammad Rizaldy Yusuf Editor: Faris Al-Furqon Desainer: M Haekal Solihin Kurang lebih, siang ini menjadi hari keenam dar...

Penulis: Muhammad Rizaldy Yusuf
Editor: Faris Al-Furqon
Desainer: M Haekal Solihin



Kurang lebih, siang ini menjadi hari keenam dari pembatasan sosial (social distancing) bagi saya. Di rumah saja, seperti yang orang lain katakan. Hal tersebut tidak semata-mata saya lakukan demi menjaga kesehatan saya dan orang-orang sekitar, tetapi juga demi stabilitas kondisi ekonomi pribadi saya sendiri. Keluar rumah, selain berisiko menjadi korban dari pandemi yang terjadi, juga rasanya membuat saya miskin.

Atas hal itulah, kemudian saya memutuskan untuk memutar satu film di laptop saya: “World War Z” (2013). Setelahnya, saya menyadari ada satu adegan yang menyentil nalar saya, terkait dengan realitas sosial yang terjadi hari ini—tujuh tahun setelah film itu keluar. Tidak lupa, saya juga ditemani oleh lagu “Zombie” oleh The Cranberries saat sedang berusaha menuangkan gagasan saya ke dalam tulisan ini. Sengaja, biar mood saya lebih sesuai.

Kurang lebih 15 menit setelah film itu dimulai, diperlihatkanlah satu adegan ketika sang tokoh utama—yang diperankan Brad Pitt—memasuki sebuah supermarket untuk mencari obat asma untuk anaknya. Suasana supermarket itu kacau, berantakan, barang-barang seperti terlempar dari tempat yang seharusnya. Orang-orang tampak tergesa-gesa, lalu lalang ke sana kemari, bahkan sejak dari luar supermarket. Mereka memasukkan semua barang yang dapat mereka temukan ke dalam troli mereka. Kepanikan makin menjadi setelah ada beberapa orang yang terjangkit virus—yang sering kita sebut zombie—mulai menyerang dengan brutal.

Tetapi, bukan persoalan zombie yang bikin saya tersentak. Saya mengulangi dan mencermati adegan tadi beberapa kali. Lalu saya pikir, rasanya saya kenal fenomena ini, tapi tidak saya lihat di film, deh. Teringat di benak saya akan beberapa video yang akhir-akhir ini saya tengok di Twitter dan Facebook: orang-orang melakukan panic buying.

Ya, tentu pandemi yang sedang kita lewati bersama ini memang tidak separah di film-film seperti “World War Z”. Tidak ada orang yang kemudian menjadi agresif setelah terinfeksi dan kemudian menularkan penyakitnya lewat gigitan yang ganas (atau setidaknya belum?). Namun, virus COVID-19 yang sudah dinyatakan sebagai bahaya global ini rupanya sudah cukup untuk membuat beberapa di antara kita cemas akan kelangsungan hidupnya. Kemudian, insting bertahan hidup manusia yang sudah bersarang pada diri kita sejak awal peradaban ini mulai bereaksi. Hal tersebut memicu (sebagian dari) kita untuk memborong berbagai jenis perlengkapan yang dirasa perlu untuk membantu kita bertahan hidup, mulai dari masker, hand sanitizer, makanan, obat-obatan, bahkan sampai tisu toilet (tidak berlaku bagi yang masih menggunakan air).

Satu hal yang harus selalu kita ingat, bahwa sejatinya hak untuk hidup berlaku untuk semua orang dan bukan milik kelompok tertentu saja. Lagipula, yang sedang kita alami ini tidak seperti bencana alam atau perang. Seandainya kebersihan dan persediaan makanan kita terjamin pun, kita tetap memiliki risiko untuk tertular jika enggan memberikan orang lain hak untuk menjaga kebersihan dan asupan gizi yang baik demi meningkatnya imunitas. Pandemi adalah persoalan mengenai nyawa orang banyak. Jika kita membiarkan orang lain terjangkit—bahkan mungkin hingga meninggal—demi egoisme kita sendiri yang ingin bertahan, maka sesungguhnya bukan virus itu yang membunuh mereka. Mungkin, kita juga yang mencabut nyawa mereka.

Bila sudah begini, sebenarnya siapa zombie-nya? Mereka, orang-orang yang terinfeksi yang dianggap menyebarkan kematian, atau kita, yang bertindak tanpa berpikir bahwa masih banyak yang lebih membutuhkan? Tidak perlu terinfeksi untuk menjadi agresif. Sesungguhnya, dengan mempertahankan ego dan mengesampingkan sisi kemanusiaan juga sudah tidak lagi menjadikan kita manusia. Pada akhirnya, kita menjadi lebih zombie daripada zombie itu sendiri. Anda yang panic buying, tapi orang lain yang malah jadi panic with their lives!

Berbelanjalah dengan rasional. Yang ingin sehat bukan Anda saja. Percuma Anda sehat, tapi tetangga Anda kena Corona. Yuk, jadilah manusia yang manusiawi, jangan jadi virus apalagi jadi zombie.
Kalau Baskara Putra alias Hindia pernah berkicau di Twitternya: “Mungkin kita virusnya”, maka izinkan saya menutup ulasan tidak jelas ini dengan kata-kata: “Mungkin kita zombie-nya”.

  Ppalli Ppalli!!!!!! Yang bahaya bukan cuma corona, tapi organ ekstra Akhirnya kamu datang. Cepat ke sini! Dekatkan telingamu dan simak ini...

 

Ppalli Ppalli!!!!!!

Yang bahaya bukan cuma corona, tapi organ ekstra
Akhirnya kamu datang. Cepat ke sini! Dekatkan telingamu dan simak ini baik-baik. Setelah ini, aku harus cepat bergegas karena hitungan menit orang-orang itu akan memburuku. Mungkin aku harus eksil ke Swiss, mengganti identitas, dan kembali lagi ke sini 20 tahun lagi.

Begini ceritanya:

Jumat (20/3) lalu, Lembaga Pers Mahasiswa Progress dari Unindra di ibu kota sana menerbitkan tulisan opini berjudul "Sesat Berpikir Kanda HMI dalam Menyikapi Omnibus Law". Jujur aku salut. Dibutuhkan nyali sebesar planet Jupiter untuk menyenggol sikap raja-raja kecil itu yang memberikan dukungan penuh ke Omnibus Law. Bagi pihak luar, sikap mereka adalah mutlak. Meragukan dan mempertanyakannya sama saja dengan deklarasi perang. 

Tentu kamu sudah bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya, bukan? Ya, penulis opini tersebut dipukuli dan bahkan ditodong dengan parang oleh kanda-kanda HMI itu. Ah sudahlah aku tidak punya banyak waktu lagi. Temanku dari LPM Progress akan menjelaskan detailnya di sini

Pihak LPM Progress yang barusan kumintai konfrimasi mengatakan bahwa korban saat ini sudah dalam kondisi baik-baik saja. Mereka juga akan menginformasikan lebih lanjut apa tindakan mereka ke depan, apakah akan melapor pihak kampus atau polisi. Mereka nampaknya masih merundingkan hal itu. 

Masalahnya di sini tentu bukan sikap HMI Unindra yang mendukung Omnibus Law-- meskipun sikap itu patut dipertanyakan-- tetapi sikap tukang pukul yang pemerintah banget itu jelas menunjukkan seperti apa masa depan kita nanti jika kanda-kanda ini jadi pejabat teras di pemerintahan.

Katakanlah 10 atau 15 tahun mendatang kanda-kanda yang sudah jadi pejabat ini ingin membangun jalan tol bawah laut. Muncul banyak tentangan dari nelayan dan pegiat lingkungan hidup dan mereka berdemo di depan gedung DPR. Lalu para kanda yang taksenang dengan hal ini mengerahkan 1000 polisi bersenjatakan M16 dan memberondongkannya ke arah pendemo. Opini publik? Gampang, tinggal cari kambing hitam, bilang mereka anarkis. Mengerikan bukan?

Yang bikin tambah heran, apakah kanda-kanda itu tidak tahu kalau ada yang namanya hak jawab di media? Perseteruan di kolom opini itu hal yang wajar, loh. Kudengar mereka sering mengadakan kajian diskusi tentang berbagai hal termasuk tentang Omnibus Law ini mungkin, mengapa tidak dipakai saja hasil kajian itu untuk membalas opini yang mereka tidak setujui? Apa mungkin kajian mereka bukan diskusi, tapi kajian memainkan nunchaku dan mengayunkan parang mungkin. Kalau kajian mereka seperti itu, sikap mereka atas opini di LPM Progress itu akan terdengar lebih masuk akal.

Oh tidak! Waktuku sudah habis. Aku harus pergi sekarang. Anggap ini hanya kabar lalu, dan kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Oh iya, jika mereka datang mencariku, pura-pura tidak tahu saja ya.
  • Faris Al-Furqon

28 Days Later, Lalu Apa?


Saya adalah penganut paham bahwa semua dan segala bentuk karya seni adalah sebuah penggambaran –in someway or another- tentang perilaku manusia. Tak lepas jika itu sebuah novel Pramoedya Ananta Toer, atau sebuah lagu patah hati yang dinyanyikan oleh Nazriel Ilham, atau sebuah film horror thriller zombie yang disutradarai Danny Boyle pada tahun 2002, 28 Days Later

Film studio Fox Searchlight Pictures ini dibintangi Cillian Murphy sebagai karakter utama, Jim. Kita menemukan Jim dalam keadaan paling terbukanya, secara literal, telanjang dan terikat dengan kabel dan tabung infus di atas kasur rumah sakit. Setelah koma selama 28 hari, ia sama sekali tak sadar tentang apa saja yang terjadi di dunia, apakah dunia yang ia kenal telah berakhir atau tidak. Kita sebagai penonton sudah tahu betul mengapa Jim sendirian di rumah sakit tanpa ada yang membantunya. Film ini membangun tensinya dengan sangat ciamik.

    Film ini diambil dengan gambar yang bisa dibilang agak jadul untuk sebuah film 2002, malah hampir seperti menggunakan kamera genggam. Namun saya berani bertaruh bahwa grain buram dan pengambilan sudut gambar yang terkadang awkward ini adalah sebuah pilihan estetika sutradara dan Anthony Dod Mantle sebagai Sinematografer film. Memang untuk vibes film yang dibawakan, gaya pengambilan gambar seperti ini sangat mendukung ketegangan dan horor juga adegan emosionalnya saat muncul di layar. Sinematografi dan shot beberapa adegan film ini patut diacungi jempol.

    Banyak film zombie yang memilih untuk menjadi film laga dari awal atau malah mem-php kan penonton dengan melupakan unsur horornya di tengah film. Jim tidak serta merta menjadi pahlawan sakti yang anti peluru taktakut maut di akhir film, ia tetap orang biasa seperti kita semua (bedanya ia diperankan oleh Cillian Murphy).

Sebagai film horor, film ini berhasil dalam aspek seramnya. Zombie, atau infected, dalam film 28 Days Later adalah jenis yang cepat dan ganas, bahkan aktor/aktris yang memerankan mereka banyak yang memang bekerja sebagai atlet di dunia nyata. Kemudian virusnya, Rage Virus, ditularkan melalui darah dan mengubah korbannya menjadi infected hanya dalam hitungan 20 detik. Dalam opini saya –dan saya tak sembarangan dalam mengatakan ini- 28 Days Later tidak hanya mempunyai satu,  tetapi banyak adegan jumpscare efektif dalam sejarah menonton film saya.

    Antagonis dalam film ini, selain para infected, ialah para karakter tentara yang didatangi Jim bersama rekan penyintasnya setelah mendengar broadcast mereka di radio. Antagonis suatu cerita yang baik, membawa audiens ikut bersimpati atau setidaknya paham tentang motivasi sang tokoh. Menurut saya, kekurangan film ini datang dari tidak lengkapnya latar belakang sang antagonis. Kita hanya tahu “apa” tapi tidak “mengapa” tentang motivasi mereka. Karakter mereka juga digambarkan sangat brengsek, sehingga kita sebagai audiens sulit untuk ikut bersimpati dengannya.

Film ini membawa tema yang umum, good vs evil. Dengan tokoh utama Jim yang bertemu dengan kendala yang harus ia hadapi, para infected ataupun Mayor Henry West. Hal saya dapatkan dari menonton film ini agak klise, tapi benar adanya, “Di dunia yang penuh monster, keburukan paling rendah datangnya dari manusia juga”. Dan hal ini membuat saya berpikir, jika hal ini terjadi, benarkah kita hanya punya 28 hari sampai tiang-tiang kemanusiaan yang kita ketahui rubuh taktersisa?

Tapi tenang, wabah yang marak pemberitaaanya diakhir-akhir ini tidak akan seekstrem Rage Virus difilm ini. Asal kita menyikapinya dengan bijak, tidak panik, dan menjaga diri untuk tidak mengikuti pertemuan yang tidak mendesak, kita akan baik-baik saja. Jangan memborong barang di super market sampai ludes, jangan menyebarkan berita tanpa mengetahui faktanya terlebih dahulu, dan sesuai himbauan rektor univeristas tercinta kita, #TidakAbaiTapiJanganLebay.

Now playing “We’re All In This Together – Highschool Musical”
  • Dzaky A

Kabar Baik Adalah Kabar Baik


Di antara terbatasnya kata kerja yang dapat kita lakukan dan rentetan kabar buruk yang menghantam kita akhir-akhir ini, kata positif ternyata bisa bersilang makna jadi sebaliknya. Akan tetapi, kabar baik tetaplah kabar baik yang harus segera disebarkan pada kalian semua.
  1. Wisma Atlet jadi RS Korona
Sejak Sabtu kemarin 21/3 pemerintah telah menyulap wisma atlet kemayoran menjadi rumah sakit khusus korona. Sehari sebelumnya dokter-dokter muda (dokter berusia masih muda) TNI terlihat menyeret koper dan berjalan mendatangi wisma atlet untuk bertempur melawan pandemi hari ini.
Menkes Terawan menyebutkan bahwa RS Darurat ini hanya akan menampung pasien virus korona dengan gejala ringan, sehinggan RS rujukan bisa fokus menangani pasien dengan gejala berat. Tapi meski begitu tidak sembarang orang bisa diperiksa, pasien masih harus mendapat rujukan dari RS untuk bisa masuk ke rumah sakit darurat itu.
  1. Rapid test sudah diberlakukan
Dunia belum berakhir, Sobat. Di ujung sana masih ada harapan dan kita akan menjemputnya.
 
Tes cepat atau rapid test sudah mulai diuji coba di wilayah yang diberi tanda merah, Jakarta Selatan. Pada Jumat lalu 20/3 bersama dengan tim dari Kemenkes, Suku Dinas Kesehatan Jaksel dan puskesmas setempat turun ke lapangan untuk melakukan rapid test.
 
Hasilnya jelas telah menaikkan jumlah kasus pasien yang mengkhawatirkan, tapi kenaikan itu bukan kabar buruk untuk kita. Seperti ruangan yang memiliki banyak lampu, dilakukannya rapid test sama seperti menyalakan lampu-lampu mati di ruangan itu, segala hal yang tadinya gelap kini terlihat. Setelah ini, kita harus mempersiapkan diri untuk tidak khawatir seandainya media terus mengabarkan lonjakan terkait kasus korona, karena setelah ini kabar baik pasti datang, dan kabar baik yang akan datang hari itu adalah berita yang sudah kita tunggu dalam ketidakberdayaan.
 
  1. Tes masal Covid-19 di Jawa Barat
Lewat cuitannya di twitter, Ridwan Kamil mengabarkan jika Pemprov Jabar akan memulai kembali program tes proaktif yang telah digalakan sejak minggu lalu. Rapid Diagnostic Test menjadi metode yang dipilih untuk melakukan tes masal kali ini.

Rencana tes masal akan dilakukan dengan multi opsi yakni opsi door to door untuk orang yang diwaspadai (ODP/PDP) dan dhrive thru atau lantatur –layanan tanpa turun- untuk masyarakat umum di lapangan parkir yang sangat luas.

Selain mengacu pada pemerintah pusat metode ini telah teruji di Korea Selatan dengan hasil yang memuasakan. Meski seperti yang kita tahu bahwa antara kita dan Korsel banyak catatan yang mesti diperbaiki.

Semoga hari-hari ke depan situasi kian membaik.
Simpan dulu hati dengkimu untuk pemerintah, meski semua kabar baik adalah rencana dan masih harus melalui proses panjang. Memang masih banyak catatan yang harus pemerintah kita lengkapi terkait rencana mereka, namun kabar baik adalah penawar paling ampuh dari pikiran buruk dan kegelisahan kita terkait pandemi hari ini.

Kita masih perlu menjaga jarak agar korona yang menyebalkan tidak beranak pinak sesukanya dan alasan paling utama; negara yang santun ini belum menjamin kesehatanmu. Tetap tenang dan berdoalah; semoga hari ini pemerintah tidak sedang bercanda. Amin.

Mari. Kita masih harus bertahan, sehari, dan sehari lagi.
  • Dongenganjil