Oleh Marco (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu) “ Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-uyun pula...

Oleh Marco


(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)


Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-uyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang.. dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawanya entah ke mana”
-Pramoedya Ananta Toer

Cerita pada novel ini dimulai ketika tokoh Aku mendapat surat dari pamannya yang menginformasikan bahwa sang ayah yang tinggal di Blora kini sedang mengalami sakit TBC. Mendengar kabar tersebut, tokoh Aku merasa bersalah karena sebelumnya telah mengirim surat kepada ayahnya dengan lancang. Tokoh Aku pun langsung mencari hutang ke teman-temannya untuk keperluan keberangkatan. Tokoh Aku tinggal di Jakarta bersama sang istri, setelah mendapat hutangan mereka pergi menuju Blora menaiki kereta api.

Tokoh Aku adalah seorang tentara. Sepanjang perjalanan, tokoh aku tak henti-hentinya mengenang tiap-tiap tempat yang dia lewati. Kebanyakan kenangan tersebut adalah kenangan yang buruk. Kenangan tentang pertempuran melawan Belanda yang penuh dengan tumpah darah manusia mendominasi pikirannya. Kadang ingatan tentang ayahnya sesekali muncul. Lalu percakapan bersama istrinya melengkapi suasana perjalanan.

Akhirnya tokoh aku dan istrinya sampai di Blora. Mereka sampai di rumah yang telah bertahun-tahun ditinggal oleh tokoh Aku. Kedatangan mereka disambut oleh adik-adiknya, kecuali adiknya yang ketiga, karena dia sedang sakit. Surat yang lancang tersebut ternyata berisi tentang kecaman tokoh Aku kepada ayahnya karena membiarkan adiknya sakit. Sedangkan sang ayah hanya menjawab surat itu  dengan nada berpasrah sebab menurutnya hal tersebut di luar kuasa dia sebagai manusia yang memiliki kehendak terbatas.

Keesokan harinya tokoh Aku bersama istri dan adiknya pergi menuju rumah sakit. Ayahnya terbaring di kamar nomor tiga belas. Melihat kedatangan tokoh Aku, ayahnya langsung mengelurakan air mata, ia menangis. Percakapan antara ayah dan anak yang sudah lama tak bertemu akhirnya terjalin. Ketika hari sudah mulai sore, ayah mengisyaratkan tokoh Aku, adiknya dan istrinya untuk kembali. Tokoh Aku, istri, dan adiknya pun pamit untuk pulang, namun adik ketujuh atau adik paling terakhir milik Tokoh Aku tidak berpamitan, tokoh Aku pun segera menyuruhnya untuk berpamitan kepada ayah dan setelah itu dia menangis sejak keluar dari kamar nomor tiga belas sampai rumah.

Sejak kedatangannya di rumah, tokoh Aku bertemu dengan orang-orang yang kenal dengan bapaknya seperti pamannya dan seorang tetangga yang memilii profesi sebagai tukang potong kambing.  Pamannya datang bersama bibi ke rumah, mereka bercakap-cakap dan mengusulkan untuk meminta petolongan pada dukun, tokoh aku menyetujui, baginya yang paling penting adalah ayah harus sembuh. Tetangga yang berprofesi sebagai tukang potong kambing ia temui di kebun, dekat pagar rumahnya, mereka bercakap-cakap. Tetangga tersebut mengusulkan agar tokoh Aku memperbaiki rumah yang sudah tua itu. Usul tersebut diterima dengan berat oleh tokoh Aku mengingat keuangannya yang masih belum aman, namun setelah usul tersebut disampaikan ke ayahnya dengan respon yang positif, tokoh Aku menjadi tidak ragu untuk memperbaiki rumahnya.

Tokoh Aku dan pamannya sesuai dengan kesepakatan beberapa hari yang lalu akhirnya pergi ke tempat dukun. Di luar dugaan ternyata dukun tersebut adalah seorang guru yang merasa berhutang budi dengan ayahnya, berkat ayah tokoh Aku pula sang dukun terinspirasi untuk menjadi guru. Dukun itu memberikan sebuah dupa  yang harus dicelupkan di air minum ayahnya, namun dukun itu tidak bisa menjanjikan kesembuhan bagi ayah tokoh Aku.

Tokoh Aku, istri, dan adiknya kembali menjenguk ayah. Sang istri mengingatkan pada tokoh Aku agar mereka cepat kembali ke Jakarta mempertimbangkan masalah keuangan. Tokoh Aku menyetujui dan meminta izin kepada Ayahnya untuk pergi namun sang Ayah menolak, ia meminta tokoh Akuuntuk tinggal di Blora seminggu lagi. Tokoh Aku merasa bersalah telah mengatakan hal tersebut. Keesokan harinya sang ayah meminta permohonan yang aneh-aneh namuntokoh Aku, istri, dan adiknya tak bisa melakukan apa-apa dan memilih untuk menuruti Ayahnya termasuk permintaan untuk membelikannya Es.

Ketika sampai di rumah, adik keempatnya menceritakan tentang perjuangan ayahnya yang dipenjarakan ke sana-sini dan juga ditahan oleh pasukan Belanda. Perginya ayah membuat adik-adiknya  berjualan untuk mencukupi keuangan keluarga, namun  kegiatan tersebut terpaksa harus berhenti karena mmasyarakat sulit untuk mendapat uang.

Beberapa hari kemudian, istrinya kembali ke Jakarta karena pertimbangan keuangan, tokoh Aku tetap di sana untuk mengurusi kepulangan Ayahnya karena tidak betah berada di rumah sakit yang perlakuannya tak ramah dan hanya memikirkan uang. Tak lama setelah berada di rumah, sang Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.

Seketika kabar itu menyebar, seketika itu pula orang-orang ramai berdatangan, mereka menceritakan bahwa Ayah tokoh Aku adalah orang yang hebat, sekiranya dulu dia mau untuk menjadi pejabat di kota pasti dirinya sudah menjadi orang besar yang memiliki fasilitas mewah. Tetapi, sang Ayah memang tidak ingin menjadi seperti itu, sang ayah hanya ingin menjadi nasionalis, walaupun dia anak seorang ulama, dia hanya ingin menjadi seorang nasionalis yang berjiwa patriot. Dia tidak ingin menjadi pejabat atau perwakilan rakyat yang baginya hanyalah sekumpulan panggung sandiwara yang dipenuhi oleh para badut.

Setelah prosesi pemakaman, rumah kembali seperti semula. Tokoh Aku teringat percakapan orang tionghoa yang menghendaki dunia seperti pasarmalam, hidup bersama-sama mati bersama-sama namun, dunia tidak seperti itu, Lalu seorang pejuang yang pernah bekerja sama dengan Ayahnya datang ke rumahnya untuk memberikan pesan, sering-seringlah menyekar ke makam ayahnya.  

***

Ada masalah utama yang saya sorot ketika membaca novel ini: realitas sosial. Sebelum berlanjut, mari kita satukan pandangan kita tentang apa itu realitas sosial. Realitas sosial  yang saya maksud di sini adalah kenyataan tentang keadaan sosial masa itu. Mengambil sudut pandang orang pertama, pengungkapan kedua masalah ini muncul melalui tiga cara yakni: kritik langsung dari tokoh utama, narasi (suara batin tokoh utama), dan percakapan antar tokoh (tokoh utama dengan tokoh pendukung).

Hampir setiap babak menunjukan realitas sosial pada masa itu. Di babak pertama, Pram menunjukan sebuah realitas sosial pada masa itu lewat sebuah kritik. Pram memprotesnya kehidupan presiden dan para menteri yang menurutnya serba praktis (memiliki fasilitas yang menunjang kehidupan), tidak seperti tokoh Aku yang hanya rakyat biasa, hanya untuk pergi ke luar kota saja harus mencari hutang keliling Jakarta.

“Presiden memang orang praktis – tidak seperti yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri, dan engkau ingin tambahan listrik tiga puluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tiga ratus rupiah” (hlm. 9).

               
Membaca teks tersebut kita sebagai pembaca bisa mengetahui bahwa budaya “suap-menyuap” dikalangan birokrat negara ini telah berlangsung sejak lama. Ironisnya, budaya yang sangat merugikan masyarakat kini masih terjadi sampai sekarang, walaupun berbagai cara penanggulangannya dibuat untuk menguranginya. Keinginan para birokrat untuk hidup kaya padahal gaji pas-pasan  membuat mereka sering mengambil jalan pintas untuk mendapat tambahan dengan cara melakukan pungli (pungutan liar) atau menerima sogokan.

Penggambaran realitas sosial lewat narasi salah satunya tecermin ketika tokoh Aku sedang melewati Lemah Abang. Tokoh Aku yang berposisi seorang tentara mengenang kejadian yang pernah dialaminya di sana. Dia mengingat perjuangannya saat Belanda menghujani pertahanan rakyat Indonesia dengan howitser (sejenis meriam). Banyak korban berjatuhan, dan banyak darah yang tumpah.
           
“Dan di kala aku bertiarap di bawah pohon besr itu kulihat sebuah – dua buah, tiga, empat, lima – peluru meriam jatuh meledak di sekitar bondongan  manusia yang melarikan diri. Darah. Kurban. Bangkai. Dan ingatanku melalui darah, kurban, bangkai, ke surat, ke paman, dan kepada ayah” (hlm. 15).

Penggambaran realitas sosial juga tercermin pada percakapan antar tokoh. Saat tokoh Aku dengan adiknya. Sang Adik bercerita bahwa Ayahnya pernah ditawari menjadi anggota perwakilan daerah, namun dia menolak. Padahal menurut tokoh Aku, apabila sang ayah menerima pekerjaan tersebut, sang ayah bisa memperbaiki kehidupan masyarakat namun karena sang ayah menolak karena menurutnya ‘perwakilan rakyat hanyalah panggung sandiwara’.

“Ya mas, ayah sendiri pernah mendapat tawaran jadi anggota perwakilan daerah. Dan ayah menolak angkatan itu’, ‘menolak? Bukankah itu suatu kesempatan baik untuk memperbaiki keadaan masyarakat?’ aku bertanya. ‘Aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang begini, perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut – sekalipun badut besar  (hlm. 65).

Percakapan di atas sekali lagi menunjukkan kritik Pram untuk penguasa yang hanya memikirkan dirinya sendiri atau kepentingan golongan. Percakapan ini juga menunjukkan jati diri Pram sebagai seorang nasionalis yang tidak kenal kompromi dengan segala hal yang menyengsarakan rakyat. Kembali membicarakan ironi, sampai saat ini belum ada perubahan yang signifikan terkit dengan perwakilan rakyat. Kata ‘badut’ yang merepresentasikan pejabat semakin menguat saat ini. Keadaan perpolitikkan sekarang seperti panggung komedi, orangnya pun lucu-lucu. Setidaknya, masyarakat yang sengsara bisa sedikit terhibur oleh kebodohan pejabatnya(?)
***
Waktu terus berlalu, segala yang telah terlewat adalah hiasan pada wajah kehidupan. Sebagaimana rupa yang pernah terluka, pengalaman seharusnya bisa menjadi palang agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membaca karya sastra memberikan kesempatan mengambil duri yang tertancap di masa lalu, untuk mengubahnya menjadi sebuah berlian yang indah di masa depan. Menjadi anak manusia memang dilematis, manusia berpasrah pada nasib karena kuasanya yang terbatas. Manusia juga dituntut memiliki keyakinan untuk mengubah apa yang bisa dia lakukan. Manusia memang rumit, tapi rasa kemanusiaan mudah untuk dipahami.

Oleh Ray Umam S. (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu) Indonesia adalah ladang yang subur, yang ketika seseorang melemparkan benih pad...

Oleh Ray Umam S.


(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)


Indonesia adalah ladang yang subur, yang ketika seseorang melemparkan benih padanya, benih itu akan dapat tumbuh dengan baik. Seseorang yang memiliki ladang itu tentu dapat menjadi sejahtera hidupnya. Di mana ada ladang, di situ ada kemakmuran. Akan tetapi, di mana ada ladang yang subur, siapa yang tidak mencoba merebutnya?

Inilah Indonesia. Siapa pun yang menginjak tanah air ini akan terpaku dan sulit berpaling ke tanah air lain. Siapa pun yang menghirup aroma yang harum dari tanah air ini akan dimabuk dalam sekejap saja. Lalu siapa pun yang telah menginjak dan mencium aroma tanah air ini, pasti ingin mencoba meraba dan mengusiknya. Orang-orang itu adalah orang yang pintar, cerdik, tapi juga licik. Orang-orang itu sudah termakan kesempatan yang mereka pikir “entah kapan lagi akan terjadi”, sehingga mereka pun mengambil kesempatan itu. Orang-orang itu adalah para tikus berdasi, para koruptor, si kancil hitam.

Si kancil hitam yang selalu dapat mengendus dan meraba ladang mana yang subur. Lantas ladang tersebut akan ditetapkannya sebagai target buruan untuk memakmurkan dirinya. Kemakmuran dan kesuburan yang harusnya dimiliki oleh ladang itu sendiri dan semua yang hidup di sekitarnya malah seolah-olah menjadi milik pribadi.

Barangkali Pramoedya Ananta Toer akan setuju dengan analogi di atas. Tapi kalaupun tidak setuju, tetap saja Pram akan setuju untuk membela kemanusiaan, membela orang yang karena kerakusan orang lain yang tidak manusiawi mau tak mau harus berdampingan dengannya. Begitu fenomena itu muncul sebagai sosok yang menghantui tanah air dan Pram menyadari itu, ia kemudian melahirkan karya sastra yang berjudul Korupsi.

Seperti namanya, Korupsi, yang disadur oleh Afnaldi Syaiful pada tahun 2013, buku ini mengisahkan perkembangan watak Bakir, pegawai negeri yang terkenal jujur, sebagai orang yang mencoba korupsi. Hal itu bermula dari renungan batinnya yang mengatakan bahwa bekerja sebagai pegawai negeri bukan lagi sebuah hal yang membanggakan. Hasil bekerja sebagai pegawai negeri tidak terlalu mampu untuk menghidupi keluarganya secara mapan. Akan tetapi, dirinya melihat hal lain di sekitarnya, bahwa kehidupan teman-teman sekantornya bergelimang harta hanya dengan bekerja di kantor yang sama. Berawal dari pikiran yang terus menyerang, pertanyaan yang membuat hatinya membenarkan pikiran-pikiran buruk mengenai korupsi, sebuah niat untuk melakukan hal itu pun akhirnya menyeruak dalam diri Bakir.

Dalam suatu waktu, saat dirinya mantap untuk menunaikan niat, kesempatan itu pun datang, kesempatan itu tentunya tidak disia-siakan Bakir. Sama halnya dengan pernyataan dalam Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi (Puspito [ed], 2011: 74), bahwa tindakan korupsi pada dasarnya terjadi karena adanya faktor internal, yang berupa niat, dan faktor eksternal, yang berupa kesempatan.

Meskipun berupa karya saduran, novel ini memiliki amanat yang tegas dan kuat mengenai tindak korupsi. Cerita yang kuat dalam pembentukan karakter seorang koruptor telah membuka pengetahuan, atau menyadarkan bahwa dalam diri koruptor diliputi ketidakpedulian. Para koruptor tidak lagi peduli pada kemanusiaan dan apa itu arti dari menjadi manusia tanpa kemanusiaan. Bagi koruptor semua harus jadi miliknya, adalah ungkapan yang tertanam dalam benak mereka.

Dari novel ini kita dapat tahu bahwa alasan klise dari seorang koruptor adalah sebuah kepentingan yang diperuntukkan keluarga agar menjadi mapan, sejahtera, dan makmur. Para koruptor tetap akan lebih mengedepankan mimpinya untuk hidup tanpa sengsara daripada menolaknya. Akan tetapi, dalam perkembangannya kemudian akan muncul rasa dahaga akan harta yang tidak dapat dipuaskan hanya dengan satu atau dua kali korupsi saja. Para koruptor itu akan mencari cara lagi untuk datang ke ladang yang sama, atau  yang lain, yang dalam sistemnya membuat mereka mempunyai kesempatan mencuri.

Dengan segala kelebihannya, tanah air ini tidak lebih subur daripada tikus-tikus kantor. Tanah air ini sudah tidak lagi memakmurkan seluruh kelas masyarakat, tetapi memakmurkan si kancil hitam. Tanah air ini sudah tidak lebih menyejahterakan mereka yang bekerja secara jujur dan keras, tetapi lebih sejahtera dipakai oleh orang-orang yang lebih suka disejajarkan dengan hewan dan sejenisnya yang tidak berperikemanusiaan.
“Bapak menyesal karena tertangkap?” tanya Sirad berhati-hati.
“Tidak,” jawabku. “Aku menyesal karena terlambat menyadari semua ini, dan
terlalu mahal harga yang harus kutebus untuk mengetahui semua ini tak benar.
Generasi kalian tak seharusnya mengulangi kesalahanku.” (Syaiful, 2013:131)

Oleh Robby Bouceu G. (Ilustrasi Oleh M. Lagam Alfaruqi) Hal apa sih yang pertama kali Bung dan Nona lamunkan ketika berjumpa den...

Oleh Robby Bouceu G.

(Ilustrasi Oleh M. Lagam Alfaruqi)


Hal apa sih yang pertama kali Bung dan Nona lamunkan ketika berjumpa dengan kata pengadilan? Deretan kursikah, ketok palukah, atau serangkaian peristiwa tanya-jawab yang berlangsung dalam tensi penuh tegangan? Apa pun lamunan Bung dan Nona yang berkaitan tentang pengadilan, yang jelas, dalam perjalanan Sastra Indonesia kata itu pernah bersanding dengan kata puisi, menjadi Pengadilan Puisi.

Pengadilan Puisi merupakan nama sebuah acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Arena pada tanggal 8 Maret 1974, di Aula Universitas Parahyangan, Bandung. Acara ini diikuti oleh sejumlah pegiat Sastra Indonesia. Pada acara tersebut, Slamet Kirnanto–yang bertindak sebagai Jaksa –membacakan tuntutannya yang bertajuk Saya Mendakwa Kehidupan Puisi Indonesia Akhir-Akhir Ini Tidak Sehat, Tidak Jelas dan Brengsek!.
H.B. Jassin dalam Beberapa Catatan Bertalian dengan Pengadilan Puisi Indonesia Mutakhir menyatakan bahwa susunan personil dari Pengadilan Puisi adalah sebagai berikut:

- Hakim Ketua : Sanento Yuliman.
- Hakim Anggota : Darmanto Jt.
- Jaksa Penuntut Umum : Slamet Kirnanto.

- Tim Pembela : Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono (absen), Handrawan Nadesul.
- Terdakwa : Puisi Indonesia Mutakhir.

- Para Saksi:
- Saksi yang meringankan: Saini K.M. (Bandung), Adri Darmadji (Jakarta), Wing Kardjo (Bandung), Abdul Hadi W.M. (Bandung), Umbu Landu Paranggi (Yogya, absen), Yudhistira Ardi Noegraha (Jakarta)
- Saksi yang memberatkan: Sutardji Calzoum Bachri (Bandung), Sides Sudyarto DS (Jakarta)”.

Dalam Pamusuk Erneste (1986), dalam tuntutannya itu, Slamet Kirnanto menyatakan "menimbang perlunya menghembuskan lagi udara segar dalam kehidupan sastra puisi kita, dan menuntut yang adil dan wajar dari kondisi sastra kita, membersihkan semak dan belukar yang menghambat langkah dari kecenderungan yang sedang tumbuh sekarang; berdasarkan KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Puisi), seperti terjelma dalam pasal demi pasalnya yang merupakan pencerminan dari aturan permainan sehat; dengan ini kami sangat bertindak selaku Jaksa Penuntut Umum dalam ‘Peradilan Puisi Kontemporer’, mengajukan tuntutan sebagai berikut:
1. Para kritikus yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir, khususnya H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung harus ‘dipensiunkan’ dari peranan yang pernah mereka miliki.
2. Para editor majalah sastra, khususnya Horison (Sapardi Djoko Damono) dicutibesarkan.
3. Para penyair established (mapan): Subagio, Rendra, Goenawan, dan sebangsanya (dan lain-lain) dilarang menulis puisi dan epigon-epigonnya harus dikenakan hukum pembuangan. Dan bagi inkarnasinya dibuang ke pulau yang paling terpencil.
4. Horison dan Budaya Jaya harus dicabut "SIT"-nya dan yang terbit selama ini dinyatakan tidak berlaku. Dan dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum sebab akan mengisruhkan perkembangan sastra puisi yang kita harapkan sehat dan wajar”.

Tuntutan yang diajukan oleh Slamet Kirnanto sebagaimana dituturkan di atas, dapatlah disimpulkan sebagai wujud ketidakpuasan terhadap kehidupan puisi Indonesia kala itu, terkait (1) sistem penilaian terhadap puisi Indonesia, (2) kritikus sastra Indonesia, (3) media yang memuat karya sastra Indonesia, dan (4) beberapa penyair Indonesia yang dianggap mapan. Kemudian hal inilah yang membuat mereka, yang banyak disebut-sebut dalam "Pengadilan Puisi" di Bandung (karena dianggap "bertanggung jawab" terhadap kehidupan Puisi Indonesia) sengaja diundang untuk berbicara dalam acara "Jawaban Atas Pengadilan Puisi" yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, di Teater Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta, 21 September 1974; sebuah acara yang barangkali bisa dikatakan sebagai ronde kedua Pengadilan Puisi di Bandung. Dalam acara ini, H.B. Jassin, M.S. Hutagalung, Goenawan Mohamad, dan Sapardi Djoko Damono "menjawab" tuduhan-tuduhan yang dilontarkan Slamet pada mereka.



Oleh Shanin (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)   Belum lama ini, seorang jurnalis Tempo yang sekarang merangkap menjadi seoran...

Oleh Shanin

(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)




 Belum lama ini, seorang jurnalis Tempo yang sekarang merangkap menjadi seorang penulis, mengadakan sebuah acara bedah buku yang berjudul “Laut Bercerita”. Leila S. Chudori namanya. Pada hari Selasa, 27 Februari 2018 bertempat di PSBJ (Pusat Studi Bahasa Jepang), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, bedah buku tersebut dilaksanakan. Bedah buku ini dihadiri oleh beragam kalangan, beberapa di antaranya ialah Dosen, Mahasiswa, Alumni, dan pendiri perpustakaan di Jatinangor.


Laut Bercerita, menceritakan seorang tokoh bernama Laut yang merupakan aktivis mahasiswa yang hilang pada saat kerusuhan Mei tahun 1998. Leila mengatakan bahwa Biru Laut, adalah tokoh yang ia ciptakan bersama dengan jiwa yang ia tanamkan pada sang tokoh fiksi tersebut. Leila S. Chudori mengatakan bahwa, tokoh berasal dari tokoh itu sendiri dan sejarah dalam Laut Bercerita tidak diceritakan sesungguhnya, hanya fiksi dan penciptaan karakter belaka.
           
Mengapa terpikirkan untuk membuat karya berlandaskan history atau sejarah?

Terlihat dari rekam jejaknya, Leila adalah seorang wartawan, dan kebetulan ia dipercaya untuk bertanggung jawab atas edisi khusus Soeharto di majalah Tempo. Hal tersebut bisa jadi menggugah hati penulis untuk membuat karya ini, dengan dibekali oleh relasinya yang banyak. Memanfaatkan relasi tersebut, penulis pun mengumpulkan file-file atau arsip-arsip public figure, beserta kolom-kolom dari para pakar, disertai fakta-fakta yang didapatkan dari kesaksian orang yang mengalami keadaan tersebut, bahkan penulis pun merasakan bahwa kejadian tersebut melekat dalam sejarah hidupnya. Sehingga, ketika melakukan penulisan, bahannya sudah tertuju dengan baik. Walaupun buku ini bisa dikatakan berdasarkan historis, namun penulis menegaskan bahwa yang ia tulis tetap Novel fiksi, karena berdasarkan penggabungan informasi yang akhirnya justru menimbulkan asumsi baru pada tokoh yang tercipta. Hal tersebut tidak dapat dikatakan fakta.

Berdasarkan salah satu sumber, ia awalnya merasakan kegelisahan terhadap Indonesia, salah satunya permasalahan kemiskinan, seperti mirisnya masa tahun ajaran baru. Banyak orang tua yang menjual barang-barang apapun untuk membiayai sekolah anaknya, karena pada masa tersebut biaya sekolah sangat tinggi. Bahkan, menurut Aquarini Priyatna, Ph.D., salah satu dosen di Fakultas Ilmu Budaya, pada tahun 1998, banyak ibu rumah tangga yang kesulitan, terutama yang memiliki anak bayi atau balita. Harga susu menjulang sangat tinggi, sehingga yang menjadi sorotan ibu rumah tangga pada masa itu ialah kebutuhan pangan yang serba naik.

Selain hal-hal tersebut, Leila S. Chudori pun menemui para korban ataupun aktivis yang dulu terlibat dan masih hidup sampai saat ini, menemui keluarga mereka yang ditinggalkan tanpa kepastian atau yang memang terdapat makamnya. Pengumpulan data pada bagian ini yang paling disoroti oleh penulis, karena ia lebih memfokuskan diri pada keluarga, karena emosi yang ditinggalkan sangat berbekas. Kemudian, riset-riset tersebut digabungkan oleh penulis untuk menciptakan keseluruhan dalam karyanya.

Dalam keseluruhan pernyataan ini, Leila S. Chudori menuturkan secara langsung bahwa dalam Laut Bercerita, ia mengangkat isu-isu kecil dari sejarah. Ia tidak membahas masalah 1998 secara keseluruhan, tapi lebih menitikberatkan pada keadaan masyarakat dari sisi tertentu. Dibandingkan menguak sisi besar politik dari peristiwa tersebut, ia lebih memilih menguaknya dalam ranah yang lebih sempit. Seperti rasa kehilangan misalnya, yang dirasakan oleh keluarga Laut ketika salah satu anggota keluarganya–yaitu Laut sendiri–menjadi korban dalam kejadian besar sejarah tersebut.

Oleh Luke Andaresta (Ilustrasi Oleh Kelana Wisnu) Membaca novel Kelir Slindet seperti melihat kemelut hidup yang terjadi di dae...

Oleh Luke Andaresta

(Ilustrasi Oleh Kelana Wisnu)


Membaca novel Kelir Slindet seperti melihat kemelut hidup yang terjadi di daerah pantura, tepatnya Indramayu, daerah yang sering disebut sebagai daerah penyimpan gadis-gadis penghibur, yang juga akrab disebut dengan Jalur Pantura (jalur pantai utara). Di sepanjang jalur, di antara kelokan jalan yang menembus belantara, ada beberapa tempat singgah remang-remang yang sering dijadikan tempat istirahat supir truk. Kelir Slindet mengajak untuk melihat realitas itu  dengan kemampuan personalitas tutur pengarang yang lincah.

Safitri adalah anak Saritem, seorang telembuk (pelacur—red) dan Sukirman, petani kecil yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mabuk, nelembuk, dan menyawer biduan dangdut di panggung hiburan. Sejak umur sembilan tahun Safitri bercita-cita menjadi penyanyi dangdut terkenal. Banyak lagu dangdut tarlingan yang ia hafal. Kadang ia juga meniru gaya biduan yang sedang beraksi dengan lincahnya di atas panggung dengan goyangan-goyangan yang ia lakukan.

Ketika Safitri berumur 13 tahun ia malah menjadi seorang penyanyi kasidah pimpinan Musthafa di kampungnya karena Safitri adalah salah satu orang yang mengikuti pengajian di mushola Haji Nasir yang merupakan bapak dari Musthafa, pun grup kasidah tersebut baru didirikan sehingga teman-temannya merekomendasikannya untuk menjadi vokalis dalam grup kasidah tersebut. Sejak itu Saritem sudah berhenti menjadi telembuk.  Ia sering datang ke mushola Haji Nasir dengan harapan mendapatkan pujian dari keluarga itu dan supaya dianggap bertobat. Saritem bahkan berharap bahwa anaknya bisa dijadikan menantu oleh Haji Nasir sehingga itu bisa memperbaiki keadaan keluarganya yang sering dipandang rendah oleh orang-orang di kampungnya. Mengingat keluarga Haji Nasir merupakan keluarga terpandang di kampung Cikedung. Tetapi tidak sedikit juga yang sering mengatakan bahwa Haji Nasir merupakan kaji nyupang, haji yang kelakuannya tidak selayaknya orang yang sudah menyempurnakan rukun Islamnya.

Salah satu anak Haji Nasir yang lain, Mukimin, menaruh hati pada Safitri sejak awal pertemuannya di mushola tempat mereka mengaji. Ia menyukai Safitri karena parasnya yang cantik dan suaranya yang merdu. Tetapi ia takut dengan ayahnya, bagaimana mungkin ayahnya merestui hubungannya dengan seorang anak telembuk? Habislah kebesaran nama keluarganya di mata masyarakat. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya yang begitu besar untuk Safitri. Selain itu, masalah yang dihadapi Mukimin adalah kakaknya yang belakangan juga menaruh hati pada Safitri, yaitu Musthafa. Bahkan dengan dalih menghindari zina, Musthafa berniat untuk menikahi langsung Safitri yang masih berusia 14 tahun itu. Mukimin dan Musthafa mempunyai kepribadian yang jauh berbeda. Mukimin terkenal dengan teman-teman sebayanya merupakan pemuda yang begajulan. Sering nongkrong di warung untuk mabuk-mabukan dengan teman-temannya, adu ayam, sampai menggoda gadis-gadis di kampung Cikedung. Sedangkan Musthafa adalah seorang guru ngaji yang merupakan lulusan sarjana agama dari sebuah kampus di Yogyakarta. Dikenal sebagai pemuda alim di kampungnya.

Suatu hari Musthafa yang dikenal alim itu kedapatan menyembunyikan sebuah majalah dewasa di kamarnya oleh ayahnya, Haji Nasir. Sontak membuat ayahnya marah dan segera menyimpulkan bahwa anak sulungnya itu memang sudah waktunya menikah. Sebenarnya itu juga yang dipikirkan oleh Musthafa. Ia langsung teringat akan Safitri dan dengan kemantapan hati ia memutuskan untuk datang ke rumah Safitri untuk segera melamarnya. Tetapi niat baiknya itu perlahan diketahui oleh Mukimin, adiknya. Mukimin mulai gelisah dan merasa takut kalau-kalau Safitri lebih memilih kakaknya dibandingkan dirinya. Musthafa disambut sangat baik oleh Saritem, Ibu Safitri, ketika suatu hari berkunjung ke rumah Safitri. Musthafa langsung menyampaikan niat baiknya untuk melamar Safitri. Saritem senang bukan main, karena ia memang bermimpi bisa menikahkan anaknya dengan salah satu anak dari Haji Nasir. Tetapi Safitri tidak semudah itu menerima ajakan Musthafa untuk menikah bahkan ia langsung menolaknya. Safitri sudah terlanjur cinta dengan Mukimin.

Saritem marah dengan kelakukan Safitri yang dengan mudah menolak lamaran Musthafa. Ia berpikir bahwa ini merupakan jalan keluar dari permasalahan yang menimpa kehidupan keluarganya. Safitri dijadikan menantu seorang keluarga terpandang, kaya, dan kemudian hidup enak. Sebuah pola pikir yang masih banyak menjangkit masyarakat kita. Pikiran Safitri benar-benar buntu, kacau, dan tak menemukan ujung pangkalnya. Ia juga sudah mulai jarang mengaji di mushola Haji Nasir, lebih sering mengurung diri di kamar sambil mendengarkan lagu tarling.

Suatu hari Haji Nasir tahu mengenai kedekatan Mukimin dengan Safitri. Ia tahu dari omongan para tetangga yang sering melihat Mukimin dan Safitri jalan berdua. Ketakutan Mukimin pun terjadi. Haji Nasir marah besar dan segera melarang anaknya untuk bertemu dengan Safitri lagi. Di satu sisi, Saritem mengetahui bahwa Haji Nasir melarang hubungan anaknya dengan Safitri karena keluarga Saritem yang tidak beres. Haji Nasir menjelek-jelekkan keluarga Saritem dan terdengar oleh tetangga-tetangga dan akhirnya sampai ke telinga Saritem. Saritem naik pitam dan dia memaki-maki Haji Nasir di depan para tetangga. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Walaupun ia seorang mantan telembuk, ia masih punya harga diri. Dalam cerita dikisahkan juga bahwa Haji Nasir pernah menjalin hubungan dengan Saritem, 17 tahun yang lalu. Tetapi Haji Nasir meninggalkan Saritem begitu saja tanpa alasan yang jelas. Saritem merasa sedih. Ia hanya memiliki harapan untuk bisa memperbaiki keadaan keluarganya, terutama masa depan anaknya, Safitri. Tetapi tidak semudah yang dibayangkan, malahan tetangga-tetangganya makin mencibirnya bahwa hanya mimpi yang tinggi kalau Safitri bisa menikah dengan anak Haji Nasir. Belum lagi suaminya yang tidak peduli dengan apa yang sedang dialami anak dan istrinya. Saritem berpikir apakah hidup akan terus blangsak seperti ini.

Lama kelamaan Mukimin tidak bisa menyembunyikan perasaannya ingin memiliki Safitri seutuhnya dengan cara menikahinya. Ia mencoba datang ke rumah Safitri dengan niat untuk melamar gadis pujaan hatinya. Tetapi karena gayanya yang selalu cengengesan, ia selalu gagal dalam hal itu. Sementara itu, kondisi Safitri makin tidak karuan. Sudah tiga bulan ia tidak berangkat sekolah dan mengaji. Malahan di suatu malam, di sebuah pentas dangdut, Safitri terlihat menjadi salah satu biduannya dengan baju ala penyanyi dangdut yang terbuka dan terlihat seksi di badannya. Sukirman yang ada dan hendak menyawer biduan pun kaget melihat anaknya di atas panggung. Safitri mengaku ingin berhenti sekolah dan menjadi penyanyi dangdut saja kepada ibunya. Saritem makin bingung dengan kondisi keluarganya yang menjadi kacau seperti ini. Para tetangga pun makin gencar membicarakan keluarganya dan tak jarang Saritem langsung memaki-maki siapa saja yang berani mencibir keluarganya. Orang-orang dikampungnya sampai menganggap bahwa Saritem sudah setengah gila.

Setelah Musthafa dan Mukimin, ada yang hendak melamar Safitri lagi. Safrudin, seorang anak kaji yang merupakan teman satu pesantren dengan Musthafa. Tetapi lamarannya langsung ditolak begitu saja oleh Safitri. Satu-satunya laki-laki yang ada dipikiran Safitri hanya Mukimin. Saritem pun seperti biasa akan memaki-maki anaknya. Ketika ia bertanya kepada Safitri sebenarnya apa yang ia inginkan, Safitri hanya menjawab ia hanya ingin menjadi penyanyi dangdut dan bisa mencari uang sendiri. Menjelang akhir cerita, Safitri diketahui hamil dan orang yang pertama kali tahu adalah ayahnya, Sukirman. Orang tua sampai para tetangganya tahu dan mencari bahan perbincangan hangat di kampungnya. Tidak ada yang tahu siapa yang menghamili Safitri. Ia pun kekeuh tidak memberitahukan siapa yang telah menghamilinya. Akhirnya Safitri menjadi lebih sering bermurung diri di dalam kamar. Hidup dengan mimpi-mimpi yang hancur berantakan. Gagal menjadi penyanyi terkenal juga gagal untuk memiliki pasangan hidup yang diinginkannya. Semua orang asing bagi Safitri. Tidak ada yang bisa mengerti perasaannya.

Safitri mungkin hanya potret kecil dari berapa banyak anak gadis yang mengalami hal yang serupa. Karena kondisi keluarga dan sosial masyarakatnya yang tidak mendukung, mereka seolah sulit untuk mengepakkan sayap-sayap mimpinya untuk bisa terbang lebih tinggi seperti teman-teman sebayanya. Bukan putus asa dengan keadaan, tetapi dukungan moril yang berasal dari luar diri mereka pun sangat penting untuk setiap langkah mereka. Akhirnya yang terjadi seperti yang dialami Safitri. Hidup bersama mimpi dan cinta yang tak sampai.




Arini Salma Hanifah             (Ilustrsi oleh Kelana Wisnu) Dalam esainya yang berjudul Krisis Kepenyairan Kita , Ribut Wijoto...



Arini Salma Hanifah
           
(Ilustrsi oleh Kelana Wisnu)


Dalam esainya yang berjudul Krisis Kepenyairan Kita, Ribut Wijoto menyatakan bahwa sastra Indonesia sedang dalam masa sekarat kepenyairan. Simpulannya terhadap kazanah kepenyairan di tanah air itu didapatkan melalui sedikitnya perkembangan bentuk puisi yang sebelumnya pernah menjamur dan seolah menyejarah di Indonesia. Padahal, bila terus ditumbuhkembangkan, bentuk-bentuk puisi tersebut sudah dapat menempuh puncak kejayaan dan kematangan berarti bagi kepenyairan Nusantara.

Tersumbatnya tumbuh kembang bentuk puisi di Indonesia menurut Wijoto disebabkan oleh dua alasan utama. Pertama, hilangnya personalitas penyair tanah air yang menyebabkan penyair terpengaruh kode bahasa estetik yang dominan. Kedua, penyair di nusantara terkesan malas belajar pada sejarah puisi, sehingga penyair tidak mengetahui bentuk-bentuk puisi yang sudah menjadi ciri khas di Indonesia. Bentuk puisi yang menurut Wijoto menjadi puisi khas Indonesia dan sedang mengalami krisis antara lain: (1) balada yang dipelopori W. S. Rendra; (2) mantra dipelopori Sutardji Calzoum Bachri; (3) lugas dan filosofis dipelopori Subagio Sastrowardoyo; (4) kosmopolitan dipelopori Afrizal Malna; (5) sufistik dipelopori oleh Abdul Hadi; (6) protes sosial diprakarsai Wiji Thukul; (7) mBeling oleh Remy Sylado dan Joko Pinurbo.

Penulis sebagai pembaca yang juga memiliki otoritas dalam menilai sebuah karya, seperti yang dikatakan Derrida bahwa kata-kata setelah dipublikasikan bukan lagi menjadi milik pembaca. Penulis melihat bahwa Wijoto sepertinya memberikan sudut pandangnya dengan gamblang dan terang-terangan tanpa berlindung kepada suatu teori pasti. Hal ini sah-sah saja dilakukan, namun subjektivitas Ribut Wijoto dalam Krisis Kepenyairan Kita menjadi kurang sreg ketika dibarengi dengan kurangnya pemahaman memaknai bentuk puisi yang sedang krisis  itu. Sejauh mana Wijoto memaknai bentuk puisi di Indonesia yang sedang krisis sudah terjawab dalam esainya, namun, Wijoto sepertinya harus terlebih dahulu memberikan transparansi pemikirannya mengenai dasar-dasar bentuk puisi di Indonesia. Bagaimana sebuah karakter kepenyairan seseorang kemudian dapat dikatakan sebagai perkembangan suatu kondisi kepenyairan sebuah negara yang wajib menyejarah? Bagaimana jika ternyata ketujuh bentuk puisi kritis itu tak lebih dari adopsi para penyair dari kematangannya mempelajari karya sastra yang sudah berkembang pesat di Eropa?  

Terlepas dari semua pertanyaan penulis kepada Wijoto, bentuk puisi yang hadir setelah masa kritis diyakini menjadi lebih variatif dari sebelumnya dan berhasil memadukan bentuk puisi a la Indonesia versi Ribut Wijoto sehingga bentuk puisi modern muncul tanpa dipesan.

Sebut saja M. Aan Mansyur. Seorang penyair yang namanya kian melejit ke seluruh lapisan masyarakat (selain para pegiat sastra) ini sukses menempatkan namanya dirak-rak buku para penggemar film Ada Apa Dengan Cinta? 2 setelah menulis buku dengan judul yang sama untuk produksi film tersebut. Aan adalah seorang pustakawan di Katakerja yang menerbitkan bukunya yang pertama pada tahun 2005 berjudul Hujan Rintih-rintih. Seterusnya, karya-karyanya bisa ditemui di berbagai media dan buku antologi puisi. Dalam beberapa karyanya, penulis melihat kecenderungan gaya kepenyairan M. Aan Mansyur yang terpengaruh oleh Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Afrizal Malna. Adapun buku antologi puisi M. Aan Mansyur yang penulis jadikan sumber rujukan ialah Melihat Api Bekerja (2015) dan Tidak Ada New York Hari Ini (2016)

Afrizal Malna, seorang penyair dan penulis naskah ini memang digadang-gadang sebagai penyair penganut pascamodernisme yang sukses memasukkan kata-kata yang disinyalir haram di dalam kepenyairan di Indonesia yang kemudian membuat Afrizal dijuluki sebagai penyair kosmopolitan. Seringkali Afrizal mengimpor kata-kata asing yang memang sebelum masa kepenyairan dirinya tidak pernah digunakan. Seperti penggunaan kata princess, kulkas, supermarket, billboard, AC, cleaning services, dan office boy yang terkandung dalam antologi puisi Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing.

Jika penjulukan penyair kosmopolitan hanya berdasar kepada penggunaan kata dalam gaya kepenyairan Afrizal Malna, maka M. Aan Mansyur pun banyak mengimpor kata-kata yang jarang digunakan para penyair lainnya. Seperti dalam satu diantara judul puisi Aan pada antologi Melihat Api Bekerja yakni Mendengar Radiohead. Kemudian pada larik pertama puisi Menunggu Perayaan “…sol sepatumu bicara apa kepada jalan yang menjauh?...” penggunaan kata sol sepatu sangat jarang ditemukan dalam puisi-puisi yang kita kenali selama ini. Selain pada larik pertama yang menyebutkan sol sepatu, Aan pun menabrak kode estetiknya dengan menaruh nomina video klip pada larik keenam “…video klip Tommy J Pisa, Nia Daniati, dan Betharia Sonata…” belum puas sampai disitu, saya kembali menemukan ke-kosmopolit-an Aan Mansyur dalam larik selanjutnya: “…Kau mengangguk dan waktu mengalir secepat barang-barang impor; walkman; pager; DVD player; komputer; dan telepon pintar…”. Selain pada puisi Mendengar Radiohead dan Menunggu Perayaan, pada puisi Memimpikan Hari Libur, Aan pun menunjukkan sisi puisi yang Afrizal banget pada larik “…Kemacetan, supermarket, pelabuhan udara, atau pantai…”. Kemudian pada puisi
Hantu Penyanyi terdapat larik “…Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik kata piano lagi dan lagi…”

Selain kemiripan dalam pengimporan kata-kata antara Afrizal dan Aan, ke-chaos-an khas Afrizal pun ditemukan dalam puisi-puisi Aan. Seringkali Afrizal sengaja menyingkirkan kata dan makna pada deret puisinya. Kata antarkata sengaja diloncati maknanya oleh Afrizal seperti pada Enam Paragraf dari Ibu; “…Air terus menetes dari jemuran basah: apakah kita, apakah bangsa, apakah ember, apakah got, apakah partai, apakah parlemen, apakah rongga mulut, seluruh lubang yang menganga menunggu tetes air bekas cucian ibumu…” dapat dilihat bahwa tidak ada makna yang sejajar antara bangsa, ember, got, partai, parlemen, dan rongga mulut. Namun dengan sengaja, Afrizal menyusun nomina tersebut dengan sembarang dan meloncat-loncat. Begitupun dengan Aan yang Telanjang di Depan Cermin “…rambutku hujan, atau komet di langit malam…”; pada Aan yang Menenangkan Rindu “…Bulan sendiri, pandai, dan kekanak-kanakan. Dia bisa jadi pisang ambon, mangkuk pecah ibumu, atau martabak utuh jika kau lapar…”

Akhirnya, aku lirik dari setiap puisi yang ditulis Aan seolah memiliki kedekatan personal dengan setiap aku lirik milik Afrizal. Kekosmopolitan dan ke-chaos-an Afrizal seolah ditelan dan dimuntahkan kembali oleh Aan dalam bentuk yang sama dan melahirkan sepasang bayi kembar dari dua ayah yang berbeda.

Nampaknya memang sudah takdirnya bahwa setiap yang mengenal dekat akan memiliki pengaruh-pengaruh dari sesuatu yang dekat tersebut. Begitu pula Sapardi dan Aan. Kedekatan keduanya diakui Aan dari sebuah wawancara di Jaya 55: Maestro Sastra Indonesia yang tayang di youtube. Kedekatan Aan dan Sapardi sudah terjalin lama melalui syair-syair Sapardi yang dibaca Aan, Aan langsung mengenali dan terus mendekati Sapardi lewat syairnya. Aan mengakui bahwa gaya kepenyairannya sedikit banyak terpengaruh oleh Sapardi. Ketika membaca seluruh puisi Aan pun, terlihat melanko-feminis yang menunjukkan ke-aku-an, kesengsaraan, dan ketabahan aku lirik dalam bercinta khas Sapardi Djoko Damono.


Kecenderungan gaya kepenyairan Joko Pinurbo pada diri Aan nampaknya tidak akan saya jelaskan seperti pada Sapardi Djoko Damono. Sebab semuanya memiliki kemiripan secara intrinsik, secara makna, berbeda seperti kemiripan antara Aan dan Afrizal. Pada gaya kepenyairan Jokpin yang padat, jelas, dan nyeleneh pun ditemukan dalam diri Aan. Terutama pada puisi-puisinya dalam antologi Tidak Ada New York Hari Ini dan beberapa puisi dalam Melihat Api Bekerja. Lucunya, terkadang Aan membuat judul yang jauh lebih panjang ketimbang isi puisinya, seperti pada Ada Anak Kecil Kesepian di Tubuh Ayahmu dan Sajak untuk Orang Yang Tidak Pernah Punya Waktu Membaca Sajak dalam Melihat Api Bekerja. Jokpin selalu sukses dengan puisi-puisi singkatnya. Sukses membuat pembaca selesai dengan cepat sambil kebingungan mencari makna puisi singkat itu. Seperti pada puisi Suwung dan Pisau. Keduanya memang memiliki kemiripan. Sama-sama singkat, dan sama-sama membuat buyar penafsiran pembaca melalui keringkasan puisinya tersebut.

Selain keringkasannya, banyaknya puisi Aan yang menginput kosakata kopi pun merupakan suatu kemiripan yang tidak dapat diabaikan. Sebagai seorang barista yang bekerja di kedai kopi, tentu saja Aan memiliki kedekatan personal dengan kopi yang ia temui setiap hari. Sehingga tidak hanya menuangkan kopi pada sebuah cangkir di kedai kopi tempatnya bekerja, Aan pun kerap kali menuangkan kopi di setiap puisi-puisinya. Terlihat pada puisi Pukul 4 Pagi dan Akhirnya Kau Hilang dalam Tidak Ada New York Hari Ini. Sedangkan Jokpin memang penggila kopi yang juga menulis antologi puisi Surat Kopi dan banyak diantara puisinya yang menandai kecintaannya kepada kopi. Kebetulan atau tidak, kedua penyair ini memang memiliki hubungan yang tidak biasa dengan kopi dan mengekspos skandalnya dengan kopi melalui puisi-puisinya.

Pada akhirnya, garis waktu dalam kepenyairan Indonesia melahirkan penyair-penyair yang mewakili gaya kepenyairan pada masa dan angkatannya masing-masing. Krisis kepenyairan seperti yang dikatakan Ribut pada akhirnya memang sebuah fase yang harus dilewati dunia kepenyairan Indonesia sebelum ia terlahir kembali dan mereinkarnasikan diri dengan bentuk yang baru. Seperti itu pulalah kecenderungan puisi Aan Mansyur yang merupakan reinkarnasi diri dari bentuk-bentuk puisi Afrizal Malna, Sapardi Djoko Damono, dan Joko Pinurbo. Ketidakajegan peleburan bentuk puisi antara Afrizal, Sapardi, dan Jokpin dalam gaya kepenyairan Aan, menjadikan sebuah ciri khas yang melekat pada kepenyairan Aan.

Awalnya, saya meyakini bahwa Aan merupakan campuran Afrizal, Sapardi, dan Jokpin. Namun, bagaimana bisa kita mengetahui bahwa Aan merupakan cuplikan dari Afrizal, Sapardi, dan Jokpin hanya karena Aan lebih muda ketimbang ketiganya? Bagaimana kita menghakimi bahwa Aan meleburkan semua sumber-sumber wacana kepenyairannya dalam gaya kepenyairannya sendiri hanya karena ketiganya hidup dan menerbitkan buku jauh sebelum Aan? Maka, saya meyakini bahwa bukan Aan yang mengambil personalitas Afrizal, Sapardi, dan Jokpin melainkan Afrizal, Sapardi, dan Jokpin yang merupakan pecahan-pecahan personal Aan yang terpisah dan lahir jauh sebelum Aan.












Oleh Riswanto (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu) Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925. Dia bisa dikat...

Oleh Riswanto

(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)


Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora pada tanggal 6 Februari 1925. Dia bisa dikatakan berasal dari golongan keluarga intelek Jawa karena ayahnya,  seorang anak guru agama,yang mengajar di sekolah swasta nasionalis Boedi Oetomo di Blora. Sementara itu, ibunya merupakan anak seorang petinggi keagamaan dari Rembang.

Meskipun lahir dari golongan intelek, masa muda Pram tidaklah mudah. Sebelum dikenal sebagai seorang penulis berpengaruh di Indonesia dari akhir abad 20, siapa sangka Pram pernah bercokol dengan seperangkat komponen radio dan botol kecap. Tidak sampai di situ, Pram juga mengakui bahwa dirinya memiliki kendala dalam hal menyerap pelajaran-pelajaran di sekolah (peran ayahnya sebagai seorang pengajar mengambil andil cukup besar dalam hal ini kemudian hari).

“Dia harus mengulang dua kali selama tiga tahun pertama pendidikan dasarnya. Selama periode ini ayahnya mendedikasikan waktu di sore hari setelah sekolah, khusus untuk membinanya. Sang ayah mengajarinya tentang alam, nasionalisme, cerita-cerita rakyat, tentang penindasan, penderitaan manusia dan keserakahan Belanda” (Scherer, 2012:11).

Ayah Pram merupakan seorang nasionalis. Ini dibuktikan dengan keputusan ekstrem yang diambilnya yaitu, dengan meninggalkan pekerjaan sebagai guru pemerintah (Belanda) di HIS dan menjadi guru di Boedi Oetomo (sekolah swasta milik pribumi). Pada saat itu gaji di HIS sebelas kali lipat lebih besar dari gaji guru di Boedi Oetomo yaitu sekitar 200 gulden. Haluan ayahnya ini barangkali salah satu alasan yang membentuk Pram menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Konon masa kecil Pramoedya di Blora terekam dalam kumpulan cerita pendek Tjerita dari Blora yang terbit pada tahun 1952.

Kehidupan masa muda Pramoedya mengalami degradasi ketika terjadi perselisihan di tubuh keluarga. Savitri Scherer dalam bukunya menyebutkan bahwa kekacauan keluarga Pram digambarkan lewat perang dingin antara Nyai Ontosoroh dengan Tuan Mellema dalam Bumi Manusia. Selanjutnya, konflik ini menyebabkan kesulitan ekonomi yang menyebabkan Pram mau tidak mau harus menopang perekonomian menggantikan ayahnya yang kerap bermain judi.

Pada usia sebelas tahun, Pram hijrah ke Surabaya untuk belajar mekanika radio. Selama di surabaya rasa tanggung jawabnya untuk terus menghidupi adik dan ibunya direalisasikan dengan berkeliling menjajakan kecap botol dan kemeja. Sikap ini masih dia pertahankan sekembalinya dari Surabaya. “Ia menjajakan tembakau dan harus bersepeda menuju Cepu tiap hari, melewati hutan yang saat itu penuh dengan kerusuhan akibat pertarungan untuk menguasai pipa-pipa minyak” (Scherer, 2012:12).

Kurang dari satu tahun Pram menetap kembali di Blora, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Jakarta. Keputusan ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh kematian ibunya pada Mei 1942. Di Jakarta, Pram masuk sekolah Taman Siswa dengan jenjang Taman Dewasa. Pada masa-masa ini, tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga masih dipikulnya dengan cara mengirim satu per tiga gaji sebagai juru ketik kantor berita milik Jepang, Domei, pada adik perempuannya di Blora.

Periode hidup Pramoedya mengalami progres yang signifikan sejak Taman Dewasa ditutup. Sejak saat itu, keterlibatan Pram dengan Badan Keamanan Rakyat di kemudian hari berhasil menyumbangkan ide-ide kreatif bagi karya-karyanya seperti Pertjikan Revolusi, karya yang dinobatkan A. Teeuw sebagai karya terbaik Pramoedya. Perjalanan hidup Pram pada periode ini pula yang menuntunnya melangkah semakin dekat untuk mengukuhkan namanya sebagai tokoh sastra Indonesia seperti yang kita kenal saat ini...