Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Ada tiga hal yang terus mengitari kepala sa...

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa

Ada tiga hal yang terus mengitari kepala saya selama membaca Alkudusnya Asef Saeful Anwar. Pertama mengenai Tuhan, kedua mengenai agama, dan ketiga mengenai perempuan. Ketiga hal tersebut entah mengapa terasa bertalian dengan keinginan pengarang. Keinginan pengarang untuk menjelma Tuhan, menciptakan sebuah agama, dan mengkritisi tafsir kitab suci agama samawi yang seringkali memihak lelaki.

Asef menjadikan Tuhan agama Kaib sebagai narator atau juru kisah dalam Alkudus atau kitab suci khayali ini. Ketika mengabarkan firmannya dalam bentuk kisah, Tuhan agama Kaib memakai tiga kata ganti untuk merujuk dirinya, yakni Aku, Tuhan, dan Kami layaknya terjemahan kitab suci agama langit. Kisah-kisah yang difirmankan Tuhan termaktub dalam 24 bab yang ditulis serupa teknik penulisan surah dalam Alquran. Surah-surah tersebut kemudian dibagi kembali menjadi ayat-ayat yang dinomori hingga kisah tersebut selesai difirmankan. 

Kemudian, keinginan menjadi Tuhan ini pun membuat Asef merasa perlu memiliki wadah yang cocok untuk menampungnya, yakni agama. Asef menciptakan agama Kaibanagram dari agama baiksebagai media untuk mengomunikasikan keresahannya terhadap tafsir beragama yang dilakukan para pemeluk agama langit. Maka ia menyebut agama Kaib sebagai agama bumi yang menyampaikan petuah lewat kisah. Selain itu, dapat ditemukan anagram lain, seperti Dama dan Waha.

Sebagai agama khayali, Asef tidak tanggung-tanggung melengkapinya dengan sebuah kitab suci, yakni Alkudus. Alkudus sendiri terbangun atas kisah-kisah yang telah ada, kisah-kisah yang telah dikenal dalam agama samawi, atau kisah yang seringkali ditemui dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kisah-kisah yang dibuat pun memakai nabi-nabi agama Kaib terdahulu sebagai tokoh yang dapat dijadikan teladan, layaknya kitab suci.

Alkudus dan agama Kaib lahir sebagai refleksi atas kehidupan beragama yang sibuk berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai yang paling benar hingga terkadang kebenaran malah menghilangkan hal penting lainnya, yakni kebaikan. Agama Kaib sebagai anagram dari agama baik menjelma protes atas kehidupan beragama semacam itu.

Kemudian hal paling menyenangkan ketika membaca kitab suci khayali ini adalah tafsir ulang yang dilakukan terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan perempuan. Cara Tuhan mengisahkan penciptaan Waha dari tanah yang sama dengan Dama, bukan dari bagian tubuh Dama. Kemudian cerita Dama dan Waha diturunkan dari surga semata-mata karena ketetapan Tuhan, bukan karena Waha menggoda Dama agar memakan buah yang dilarang. Kemudian, yang paling menonjol ialah terpilihnya rasul perempuan bernama Erelah sebagai rasul terakhir agama Kaib yang menyusun wahyu-wahyu Tuhan agar dicatat para pengikutnya hingga lahirlah Alkudus sebagai pedoman para penganut agama Kaib.

Alkudus yang diterbitkan pertama kali pada April 2017 untungnya tidakatau belummenuai respons semacam penistaan dan sebagainya. Itu berarti, para pembaca menyikapi Alkudus dengan pikiran yang jernih atau mereka yang cepat tersulut emosi tak pernah membaca buku ini hehe.

Sebagai penutup, ingin sekali saya menukil ini: (18)kini sampailah pada masamu ketika orang-orang banyak bersengketa karena sebuah cerita. (19)Ketika sesuatu di masa depan dibicarakan dan dipertentangkan padahal belum berlangsung sementara masa lalu tiada pernah menjadi cermin.

Penulis: Faris Al-Furqan Redaktur: Nigina Aulia Ilustrator: Al Aniyah Pada awal April lalu, ratusan pegawai KPK mengungkapkan ham...

Penulis: Faris Al-Furqan
Redaktur: Nigina Aulia
Ilustrator: Al Aniyah


Pada awal April lalu, ratusan pegawai KPK mengungkapkan hambatan perihal pengusutan kasus korupsi akhir-akhir ini. Hambatan yang dimaksud adalah kebocoran operasi tangkap tangan (OTT), buntunya pengembangan kasus, terhalangnya penggeledahan, serta rumitnya birokrasi saat hendak melakukan penindakan. Keluhan 114 pegawai KPK ini disampaikan dalam petisi yang diserahkan ke petinggi KPK. Petisi inimasih ditanggapi secara pasif oleh petinggi KPK. Mereka mengatakan, bahwa mereka perlu mendalami petisi ini sebelum menindaklanjutinya.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Tempo, tindak pidana korupsi makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. OTT KPK mulai meningkat dari tahun 2015 hingga 2018, mulai dari 5 kasus pada 2015, 15 kasus pada 2016, 17 kasus pada 2017, dan meningkat drastis menjadi 30 kasus pada 2018. Perintangan-perintangan yang dialami para penyidik dan penyelidik KPK membuat kasus korupsi yang jumlahnya makin meningkat menjadi makin sulit diberantas.
Permasalahan ini diangkat oleh Tempo di beberapa edisinya, baik dalam koran maupun majalahnya. Korannya yang terbit secara harian mengangkat isu permasalahan di KPK  sebanyak 3 edisi berturut-turut, yaitu pada edisi 10, 11, dan 12 April 2019. Isu ini dimulai dari sorotan kepada pegawai KPK yang menyerahkkan petisi tersebut. Tempo juga mendetailkan hambatan-hambatan yang diterima oleh para penyidik dan penyelidik di KPK. Hal itu juga ditunjang oleh infografis yang berhubungan dengan pokok masalah. Mulai dari OTT yang bocor di Hotel Borobudur Jakarta, penetapan Dirut PLN Sofyan Basyir sebgai tersangka kasus korupsi PLTU yang terkesan diulur-ulur oleh salah satu petinggi KPK, perlakuan khusus kepada beberapa tersangka, hingga pelanggaran berat yang dilakukan oleh penyidik KPK yang berasal dari kepolisian ditampilkan dalam secara repetitif dalam edisi-edisi tersebut.
Dalam isu ini, Tempo menyasar satu nama yang diduga merupakan penyebab munculnya hambatan-hambatan tersebut, yaitu Deputi Penindakan KPK, Inspektur Jenderal Firli. Dugaan ini berasal dari keterangan para pegawai KPK yang menandatangani petisi. Inpektur Jenderal Firli juga terkesan menghindari kejaran Tempo sehingga belum berhasil diwawancarai. Sampai saat ini, belum ada konfirmasi dari pihak yang bersangkutan.
Dalam kajian media, wacana yang dipaparkan di atas bukanlah wacana yang dominan. Wacana dominan yang digulirkan media saat itu adalah Pemilu 2019. Bahkan sampai saat ini, wacana Pemilu 2019 masih terus digulirkan.  Wacana tentang surat petisi  terhadap perintangan penyidikan dan penyelidikan di KPK sama sekali tidak diangkat oleh media arus utama.
Media memang merupakan alat bagi kelompok dominan untuk menguasai kelompok yang tidak dominan. Kepentingan kelompok-kelompok yang tidak dominan sering kali tidak terakomodasi di pemberitaan media arus utama, semisal peristiwa surat petisi pegawai KPK ini. Dominasi kelompok dominan itu diraih dengan cara menghegemoni masyarakat dengan wacana yang digulirkan. Melalui wacana tersebut, media mengonstruksi sebuah realita sesuai dengan kehendaknya. Sehingga masyarakat diharapkan mengabaikan realitas-realitas lain di sekelilingnya yang memiliki urgensi lebih tinggi.
Dalam hal ini, Tempo mencoba mengakomodasi hal tersebut, bahwa di tengah-tengah wacana Pemilu 2019 ada wacana yang lebih penting, yaitu KPK yang saat ini sedang dilanda masalah. Tempo secara independen menentukan agendanya sendiri yang berlawanan dengan agenda-agenda media arus utama pada saat itu. Hal ini dilakukan agar masyarakat mampu melihat realitas lain yang terjadi, selain dari realitas hasil konstruksi media arus utama.
Fenomena ini pun bisa dikaji menggunakan paradigma kritis. Paradigma kritis mempunyai perhatian dan fokus khusus terhadap isu-isu kekuasaan dan diskriminasi. Teori-teori kritis berusaha untuk memahami kondisi masyarakat yang tertindas dan bagaimana cara mengatasi kekuatan yang menindas. Salah satu sifat dasar teori kritis adalah selalu curiga dan mempertanyakan kondsi masyarakat dewasa ini. Karena masyarakat yang kelihatannya produktif, dan bagus tersebut sesungguhnya terselubung struktur masyarakat yang kelihatannya menindas dan menipu kesadaran khalayak (Eriyanto 2009: 24).
Berangkat dari paradigma tersebut, maka teori analisis wacana kritis model Norman Fairclough merupakan teori yang paling tepat digunakan untuk melihat peristiwa ini. Norman Fairclough berpendapat bahwa analisis wacana melihat pemakaian bahasa tutur dan tulisan sebagai praktik sosial. Praktik sosial dalam analisis wacana dipandang menyebabkan hubungan yang saling berkaitan antara peristiwa yang bersifat melepaskan diri dari sebuah realitas, dan struktur sosial (Sobur, 2006)
Fairclough membagi analisis wacana kritisnya menjadi tiga dimensi besar, yang pertama adalah text analysis. Dalam dimensi pertama ini, teks dikaji secara ketatabahasaan atau secara keilmuan disebut linguistik.
Kemudian, dimensi kedua adalah discourse practice Dimensi ini melihat bagaimana teks ini diproduksi oleh pembuat teks dan bagaimana teks dikonsumsi oleh khalayak. Namun, karena keterbatasan jarak juga waktu maka penulis hanya akan melihat bagaimana teks ini dikonsumsi oleh khalayak dan apa responsnya.
Dimensi terakhir adalah sociocultural practice. Menurut Eriyanto (2009: 320), sociocultural practice didasarkan pada asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar memengaruhi bagaimana wacana yang muncul di media. Dimensi sociocultural practice ini merupakan konteks makro dalam analisis ini dan merupakan bagian akhir dari analisis.


Text Analysis
Analisis ini akan dibagi menjadi tiga aspek, yaitu representasi, relasional, dan identitas. Representasi merujuk pada bagaimana sebuah peristiwa dikonstruksi dalam sebuah berita. Relasional menggambarkan bagaimana hubungan antarsubjek dalam sebuah berita. Terakhir identitas, yaitu mengkaji bagaimana pembuat berita berpihak.
Pada aspek pertama yaitu representasi, ada beberapa poin penting yang bisa diperhatikan. Pertama adalah bagaimana Tempo mengonstruksi pemberitaan surat petisi pegawai KPK bukan sebagai sebuah peristiwa, melainkan tindakan. Dalam representasi tindakan, pembuat teks memaparkan para aktor yang melakukan tindakan dan akibatnya. Sedangkan dalam representasi peristiwa, sebuah teks hanya memasukkan satu partisan saja dan menghilangkan akibatnya.
Dalam wacana ini, surat petisi pegawai KPK menghadirkan beberapa aktor, yaitu pegawai KPK yang direpresentasikan oleh penyidik dan penyelidik, dan pimpinan KPK yang direpresentasikan oleh beberapa pejabat teras KPK, salah satu yang paling disorot adalah Inspektur Jenderal Firli, Ketua Deputi Pendindakan KPK. Petisi ini muncul karena Inspektur Jenderal Firli yang dianggap menghambat kinerja pegawai KPK. Berikut kutipannya dari berita Pimpinan KPK Pelajari Petisi Penyidik di Koran Tempo edisi 10 April 2019.




            Berdasarkan kutipan di atas, jelas sekali bahwa Inspektur Jendral Firli direpresentasikan sebagai penyebab masalah di KPK. Surat petisi para pegawai KPK direpresentasikan sebagai akibat dari sebuah tindakan yang diarahkan kepada para pegawai KPK.
Sekarang mari berlanjut ke aspek relasional. Aspek ini mencoba menganalisis bagaimana hubungan antara pihak-pihak yang terlibat di dalam sebuah teks. Hubungan-hubungan ini dikonstruksi oleh media sehingga menghasilkan sebuah pemahaman baru terhadap sebuah realitas.
Tempo memperlihatkan beberapa hubungan di dalam berita-berita yang terkait dengan surat petisi pegawai KPK ini. Beberapa di antaranya adalah hubungan antara KPK dengan kepolisian, hubungan pegawai KPK dengan para petinggi KPK, dan yang terakhir hubungan antara pejabat teras KPK yang diisi oleh lima komisioner dalam menyikapi permasalahan-permasalahan di KPK.
Hubungan KPK dengan pihak kepolisian dikonstruksikan secara khusus oleh Tempo. Tempo seakan mendikotomi KPK menjadi pihak internal KPK dan kepolisian. KPK tidak digambarkan sebagai entitas yang utuh. Pihak kepolisian dikonstruksikan sebagai pihak yang tidak menyadari bahwa ada permasalahan, atau bisa jadi sebagai sumber permasalahan itu sendiri.
Kepolisian di sini juga dikonstruksikan sebagai ancaman bagi KPK. Kepolisian, baik yang ada di KPK maupun yang ada di pihak kepolisian itu sendiri kerap menjadi batu penghalang KPK dalam berbagai penyidikan dan peyelidikan. Hal ini terlihat pada saat Tempo mengilas balik ancaman-acaman yang dialami KPK beberapa waktu lalu.
Edisi 10 April 2019:


 

Edisi 11 April 2019:



 


            Selain hubungan antara KPK dan pihak kepolisian, Tempo juga menggambarkan hubungan antara pegawai KPK dan petinggi KPK, dalam hal ini petinggi KPK direpresentasikan oleh para komisioner KPK. Para komisioner dikonstruksikan sebagai phak yang skeptis terhadap surat petisi yang dilayangkan oleh para pegawai KPK. Hal ini bisa dimaknai pembaca sebagai ketidakpercayaan dan ketidaktanggapan komisioner KPK terhadap ancaman yang terjadi di KPK. Hal ini terlihat di Koran Tempo di edisi 10 April 2019:



            Hubungan antarpetinggi KPK juga digambarkan oleh Tempo.  Hubungan ini digambarkan di Majalah Tempo edisi 27 April 2019. Pada berita yang berjudul “Delapan Bulan Menjerat Sofyan”ini, hubungan antarkomisioner KPK digambarkan tidak adanya kecocokan antara beberapa komisioner. Komisoner dari pihak kepolisian memiliki pandangan berbeda dengan komisioner dari internal KPK. Komisioner dari pihak kepolisian yang direpresentasikan oleh Ketua Deputi Penindakan, Inspektur Jenderal Firli, tidak menyetujui penetapan Sofyan Basyir sebagai tersangka dalam kasus korupsi PLTU Riau-1. Padahal bukti-bukti terkait sudah menguatkan indikasi bahwa Sofyan Basyir adalah tersangka. Penerbitan sprindik (surat perintah penyidikan) pun terhambat. Berikut kutipannya:
 
Text analysis berikutnya adalah aspek identitas. Aspek ini mencoba menganalisis bagaimana keberpihakan produsen teks. Keberpihakan ini terlihat pada bagaimana produsen teks, dalam hal ini Tempo, memosisikan dirinya di pemberitaannya. Dalam fenomena ini, Tempo bisa dikatakan memihak kepada pegawai KPK yang mengajukan surat petisinya. Pegawai KPK dilawankan oleh banyak pihak di sini, mulai dari kepolisian dan petinggi KPK. Pemberitaan ini pun pada akhirnya minimbulkan simpati kepada pegawai KPK yang diancam, didiskriminasi, dan dihalang-halangi dalam menjalankan tugas.

Sociocultural & Discourse Practice
Sociocultural practice didasarkan pada asumsi bahwa konteks sosial yang ada di luar memengaruhi bagaimana wacana yang muncul di media. Dalam menganalisis hal ini, memetakan kondisi sosial masyarakat pada saat berita ini diturunkan menjadi aspek yang fundamental. Setelah mengatahui kondisi sosial masyarakat di luar, maka bisa dihubungkan motivasi suatu media terhadap teks-teks yang diproduksinya.
Wacana ancaman terhadap KPK ini digulirkan pada 10, 11, dan 12 April 2019 lalu. Pada saat itu wacana dominan yang ada di masyarakat adalah Pemilu 2019. Hampir semua media arus utama menggulirkan wacana dominan ini. Semua serba-serbi Pemilu 2019 diberitakan secara masif dan intens. Hal ini menyebabkan masyarakat mengarahkan pandangan secara penuh kepada Pemilu 2019. Wacana-wacana lain yang urgensinya lebih tinggi menjadi tidak terperhatikan atau bias disebut sebagai marginalized issue
Tempo memilih untuk mengangkat wacana KPK yang menjadi isu yang terpinggirkan ketimbang wacana Pemilu yang superior. Hal ini bisa dikatakan sebagai upaya Tempo untuk menggulirkan counter wacana sebagai penyeimbang dan lawan wacana dominan di masyarakat. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa masyarakat tidak terlarut dalam hegemoni Pemilu 2019. Dengan diangkatnya isu ini diharapkan masyarakat mampu melihat bahwa di balik Pemilu yang hiruk pikuk, ada realitas lain yang tidak dikonstruksi media arus utama, para pegawai KPK (kelompok tidak dominan) yang mengalami ancaman dan intimidasi tidak terperhatikan dan harus mendapatkan sorotan juga dukungan masyarakat.
 Lalu bagaimana khalayak mengonsumsi wacana yang digulirkan Tempo? Teks-teks yang diproduksi oleh Tempo ternyata tidak dikonsumsi secara maksimal oleh masyarakat. Wacana utama tetap dominan di masyarakat, bahkan sampai pemungutan suara Pemilu 2019 telah usai, wacana ini tetap hangat. Wacana dominan sesekali berganti dengan wacana pemindahan ibukota. Setelah pemilu pun, Tempo beberapa kali sempat menyinggung wacana ini. Namun wacana terpinggirkan tetap terpinggirkan. Bahkan saat Inspektur Jendral Firli dikembalikan ke kepolisian dengan alasan yang tidak jelas, hal ini masih bukan menjadi isu utama. Padahal Tempo dengan tendensius mencurigai bahwa alasan Firli dikembalikan ke kepolisian adalah karena pelanggaran beratnya di KPK.
            Surat petisi yang diajukan para pegawai KPK merupakan sebuah cerminan tentang betapa berantakannya pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal ini semakin diperparah dengan ketidakhadiran media dalam membantu pemberantasan korupsi. Apa yang dilakukan Tempo layak diapresiasi. Di tengah pusaran Pemilu 2019 pada April lalu, Tempo dengan independen menentukan agendanya sendiri dan tidak terbawa arus hegemoni Pemilu 2019. Tempo juga dengan independen mengambil sikap tentang bagaimana mereka membingkai kasus ini. Dengan percaya diri mereka berpihak kepada kelompok yang didiskriminasi, yaitu para pegawai KPK. Hal ini perlu diperhatikan dan diterapkan oleh media-media lain. 

Penulis: Nigina Auliarachmah Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Barangkali cara terbaik untuk berdamai d...

Penulis: Nigina Auliarachmah
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa

Barangkali cara terbaik untuk berdamai dengan rasa benci dan dendam yang sudah tersimpan seumur hidup adalah dengan memaafkan segalanya. Barangkali rasa benci memang membuat hati dan mata tertutup dan tak bisa melihat kenyataan yang sebenarnya.

Sungu Lembu mungkin menyadari itu setelah melakukan perjalanan yang panjang bersama Raden Mandasia. Alih-alih dapat memenggal kepala Watugunung untuk membalas dendam, justru dia mendapat hal yang lebih berharga dari sekadar membalas dendam.

Ah iya, saya pikir buku ini akan banyak bercerita tentang Raden Mandasia--sesuai dengan judulnya. Ternyata kurasa ini adalah kisah pengalaman Sungu Lembu dalam perjalanan panjang menuju Gerbang Agung bersama Raden Mandasia. Baik Sungu Lembu maupun Raden Mandasia, keduanya memiliki tujuan yang jelas, meskipun tidak sama dan saya rasa keduanya tidak dapat mencapai tujuan mereka di akhir perjalanan.

Saya seperti diajak oleh Sungu Lembu dan Raden Mandasia melakukan perjalanan dari sebuah dongeng menuju dongeng yang lain. Kau akan menemukan banyak sekali kisah yang bersinggungan dengan perjalanan mereka berdua, seperti kisah pembawa wahyu yang meninggalkan kaumnya hingga akhirnya dimakan ikan paus, kisah lelaki tua yang kehilangan boneka kayunya, wabah kematian hitam, bahkan kisah Oedipus kompleks versi lokal yang dimiliki masyarakat Jawa. Mungkin masih ada kisah-kisah lain dalam perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia yang tidak saya sadari. Betapa cerdasnya penulis menyatukan banyak cerita dan membuatnya menjadi satu cerita baru yang keren.

Kita juga tidak perlu khawatir cerita ini akan membuat pusing. Justru sebaliknya, kita akan seperti mendengar curhatan Sungu Lembu atas pengalamannya bersama Raden Mandasia. Dia benar-benar seorang pengumpat yang pandai, haha. Sungu Lembu selalu mengatakan kalau dia sangat tidak menyukai Raden Mandasia dan kebiasaan anehnya--mencuri daging sapi, tapi saya dapat merasakan betapa Sungu Lembu menghormati Raden Mandasia dan betapa mereka saling melengkapi. Oh jangan lupakan Watugunung sang raja. Sungu Lembu yang menyimpan dendam kepada Watugunung tentu saja akan menceritakan penyebab dendamnya itu kepada kita. Saya sempat merasa tidak suka kepada Watugunung. Tapi kita--Sungu Lembu dan saya--sama-sama tidak menyangka dengan kehidupan Watugunung yang sebenarnya, terutama pada bagian akhir cerita ini.

Membaca ini rasanya seperti kembali ke zaman kerajaan. Apalagi banyak nama tokoh dan tempat yang benar-benar membuatmu merasa ini seperti menceritakan kerajaan-kerajaan zaman dulu. Oh iya, jangan lupakan diksi yang digunakan oleh penulis, kau akan menemukan banyak diksi yang saya rasa zaman sekarang sudah tidak lazim digunakan lagi, seperti "buli-buli", "kasim", "sida-sida", dan masih banyak lagi. Tetapi ini hanyalah cerita dongeng, bukan cerita sejarah.

Tentu saja bukan hanya itu yang saya dapatkan dari buku ini. Masih banyak sekali hal menarik dalam buku ini yang tak bisa saya jelaskan dengan panjang lebar. Ada Loki Tua dengan kemampuan memasaknya yang dapat membuatmu membayangkan makanan enak sampai makanan aneh. Ada penjelasan mengenai pelayaran yang membuatmu seakan-akan benar-benar berada dalam perjalanan laut. Ada gambaran perang yang begitu julas dan mengerikan. Pokoknya petualangan dalam buku ini benar-benar membuatmu lelah sekaligus ingin mengulanginya.

Seperti Sabda Armandio bilang, buku ini adalah kabar baik. Tidak heran jika pada 2016 lalu buku ini masuk ke dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa sebagai prosa terbaik.

Penulis: Alfa Fadila Redaktur: Faris A, Azaina Ilustrasi: Diana Dewi Darwin                 Canda dan tawa terdengar riuh dari aula g...

Penulis: Alfa Fadila
Redaktur: Faris A, Azaina
Ilustrasi: Diana Dewi Darwin

                Canda dan tawa terdengar riuh dari aula gedung B Fakultas Ilmu Budaya Unpad Minggu (19/05) lalu. Bagaimana tidak, rangkaian kegiatan “Gelanggang Berkunjung 2” yang diadakan oleh Departemen Sosial Kemasyarakatan Gelanggang tersebut berhasil menciptakan keseruan sehingga mengundang gelak tawa dari hadirin yang datang. Selain dihadiri oleh anak-anak yatim dari Panti Asuhan Al-Falah, Rancaekek, kegiatan ini juga dihadiri oleh para donatur yang telah membantu kelangsungan acara untuk turut memeriahkan salah satu program kerja dari Departemen Sosial Kemasyarakatan Gelanggang tersebut.
Sedikit berbeda dari sebelumnya, dalam kegiatan Gelanggang Berkunjung tahun ini, Departemen Sosial Kemasyarakatan bekerja sama dengan Vlogkamling. Vlogkamling sendiri merupakan komunitas dongeng Bandung yang aktif mengadakan pelatihan mendongeng. Selain itu, Vlogkamling juga sempat mengunjungi lokasi pengungsian bencana untuk menjadi relawan dan menghibur anak-anak di lokasi terdampak bencana.

Suasana Gelanggang Berkunjung 2

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari ketua pelaksana “Gelanggang Berkunjung 2”, Zalsabila Firstami (2018), dilanjut oleh Angga Sekarsani (2016) selaku ketua himpunan Gelanggang, dan perwakilan dari pengurus Panti Asuhan Al-Falah Rancaekek. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penampilan marawis dari anak-anak Panti Asuhan Al-Falah. Acara kian meriah tatkala suara alat-alat musik saling beradu membentuk harmoni. Hadirin pun terlihat menikmati.
Games ceria yang dipandu oleh Aldy Findro (2016) dan Ayu Yulianti (2018) semakin mencairkan suasana. Anak-anak dari Panti Asuhan Al-Falah dan mahasiswa yang hadir melebur saat permainan berlangsung. Gelak tawa tak jarang memenuhi ruangan akibat tingkah lucu anak-anak panti asuhan yang menjadi perwakilan untuk memainkan games. Tak selesai di situ, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Asep Supriyatna (2018) selaku perwakilan dari Gelanggang yang menyanyikan beberapa lagu. Suara Asep mengundang suara-suara lain untuk turut menyanyikan lagu bersama Asep.
Jam menunjukkan pukul 17.30 WIB tatkala MC memandu hadirin mempersiapkan diri untuk berbuka puasa. Hadirin diminta untuk duduk melingkar sembari menunggu adzan maghrib berkumandang. Tak berselang lama, adzan maghrib pun berkumandang, hadirin menyantap takjil yang telah disediakan oleh panitia. Setelah itu, hadirin dipersilakan untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan utama.
Usai menyantap hidangan utama, acara diramaikan oleh Vlogkamling yang menampilkan pertunjukan dongeng yang sangat menghibur dan tentu saja sarat akan pesan-pesan kebaikan, terlebih untuk anak-anak yang sedang belajar berpuasa. Penampil dari Vlogkamling sangat komunikatif sehingga respon hadirin pun sangat baik.

Suasana Gelanggang Berkunjung 2

Terakhir, acara ditutup dengan pemberian bingkisan, plakat, dan kenang-kenangan untuk anak-anak Panti Asuhan Al-Falah. Tak lupa pula, seluruh hadirin dari Gelanggang, Panti Asuhan Al-Falah, dan Vlogkamling mengabadikan momen kebersamaan pada hari itu agar bisa dikenang di esok hari.

  Penulis: Ninda Annisa Redaktur: Faris A, Azaina Ilustrasi: Diana Dewi Darwin Selasa (15/05), siang itu, saya tidak langsun...


 
Penulis: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A, Azaina
Ilustrasi: Diana Dewi Darwin
Selasa (15/05), siang itu, saya tidak langsung pulang selepas perkuliahan karena hendak menghadiri acara Kopi Darat yang dihelat di PSBJ Unpad. Kopi Darat merupakan seminar linguistik yang dilaksanakan oleh Departemen Hubungan Internal Gelanggang dalam bentuk kuliah umum untuk membahas fenomena kebahasaan. Fenomena kebahasaan yang dibahas kali ini adalah “Bahasa Gado-Gado, Tantangan atau Ancaman?”. Bahasan ini cukup menarik, karena dapat membuat saya dan mahasiswa Sastra Indonesia lainnya hadir dalam seminar tersebut.
Seminar dibuka oleh kedua MC acara, Fuji Ulya (2017) dan Aldy Findro (2016), lalu diambil alih oleh moderator, Gina Ainunnisa (2017). Dengan apik, Gina memberikan sedikit bocoran mengenai materi hari itu, kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dari Nani Darmayanti, dosen Sastra Indonesia Unpad, dengan judul materi “Bahasa Gado-Gado, Peluang atau Ancaman?”. Judul yang dipilih Nani Darmayanti memang berbeda dengan judul acara yang diberikan oleh teman-teman panitia, namun beliau tetap menyampaikan bahwa memang ada tantangan dalam menghadapi fenomena bahasa gado-gado ini. Walaupun fenomena bahasa gado-gado yang sering disorot adalah percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama Inggris, sebenarnya fenomena tersebut dapat terjadi karena percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Penggunaan bahasa asing dapat menjadi peluang apabila dipakai untuk menyampaikan konsep tertentu yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Nani Darmayanti menyampaikan bahwa beliau berada di pihak yang melihat bahwa hubungan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa asing merupakan peluang, karena sebenarnya sembilan dari sepuluh kata dalam bahasa Indonesia saja merupakan bahasa asing. Bahasa asing berperan sangat penting dalam menyumbang jumlah lema kata ke dalam bahasa Indonesia, karena jumlah lema tersebut ternyata menunjukkan peradaban suatu bangsa. Untung saja, pusat bahasa rajin membuat padanan bahasa Indonesia dan menambahkan kata-kata baru untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehingga Indonesia tidak dianggap tidak menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi serta pengetahuan.
Ancaman dari fenomena bahasa gado-gado tidaklah datang dari kosakata bahasa asing, melainkan penuturnya. Apalagi, jika penutur bahasa Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-seharinya. Maka, tantangan dari fenomena bahasa gado-gado ini memang pantas ditunjukkan kepada kita, sebagai penutur bahasa Indonesia; mampukah penutur menempatkan penggunaan bahasa gado-gado dengan benar?
Berbeda dengan pemaparan pemateri pertama yang membahas fenomena gado-gado secara umum, pemateri kedua, Prof. Dr. Drs. Cece Sobarna, M.Hum, lebih fokus berbicara tentang percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Cece Sobarna menyebutkan bahwa fenomena tersebut merupakan dinamika bahasa yang alami karena percampuran bahasa terjadi di dalam bahasa apa pun, bahkan bahasa Inggris sekali pun. Percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ini terjadi karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multibahasa. Banyak penuturnya yang selain menguasai bahasa Indonesia, juga menguasai bahasa ibu atau daerah masing-masing
Bahasa daerah yang dibahas di dalam materi kedua ini adalah bahasa Sunda. Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini terdapat fenomena bahasa gado-gado yang penggunaannya tidak tepat, yaitu penggunaan kata “cenah” saat bertutur bahasa Indonesia. Ternyata, selain penggunaan kata “cenah”, terdapat banyak kata-kata yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat yang sudah tercampur dengan bahasa Sunda, seperti imbuhan “me-” yang diganti dengan “nye-”, contohnya mencerocos menjadi nyerocos, mencoblos menjadi nyoblos, dan lain sebagainya.
Melalui seminar ini, semoga teman-teman penutur bahasa Indonesia dapat lebih mengerti dengan konsep bahasa gado-gado dan dapat menggunakannya dengan tepat. Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.