Penulis: TIm Redaksi Jalang Ilustrator: Nurul Fauziah Kabar baik bagi warga Gelanggang, ketua himpunan yang baru, Arsyad Dena Muk...


Penulis: TIm Redaksi Jalang
Ilustrator: Nurul Fauziah


Kabar baik bagi warga Gelanggang, ketua himpunan yang baru, Arsyad Dena Mukhtarom telah terpilih dan para kepala yang akan membantunya untuk satu tahun ke depan rampung pula diumumkan. Beberapa nama memang telah diprediksi berada dalam jajaran kabinet namun tidak sedikit nama yang berada di luar jangkauan hitung kami masuk ke lingkaran istana Gelanggang. Nama-nama yang kini terpampang dan akan tercatat sejarah tentunya dipilih menggunakan hak prerogatif Arsyad sebagai ketua. Namun demi kabar esok yang baik, hari ini kami akan bertanya dan akan terus mempertanyakan kompetensi para petinggi yang telah ditunjuk untuk menduduki kursi mewah tersebut.
Apakah mereka yang ditunjuk menjadi kepala departemen atau bahkan Arsyad sendiri benar-benar layak mengemban jabatan itu? Kami mencoba mengulik rekam jejak dan kompetensi mereka di sini, siapa yang benar-benar layak dan siapa yang sebenarnya hanya cocok untuk jadi rakyat biasa.

1.      Penunjukan Fuji Ulya Sebagai Kepala Bidang

Penunjukkan Fuji sebagai kepala bidang Eksternal menjadi nama yang tak tercatat dalam radar kami. Meski kapasitasnya dalam dunia organisasi tidak dapat dipandang remeh, pengalamannya dalam khazanah pergelanggangan masih perlu diuji, apalagi pada hari ini dia ditunjuk memegang jabatan yang cukup krusial sebagai kepala bidang. Sinergi antardepartemen yang kurang terjalin harmonis yang diakibatkan terutama tidak maksimalnya kinerja Kepala Bidang Eksternal pada periode sebelumnya mesti dibenahi. Jika Fuji mengabaikan kekeliruan yang diperbuat kabinet kemarin, tentunya pengakuan dosa yang bersangkutan akan sia-sia belaka.

2.      Keraguan Warga Gelanggang Terhadap Kadep Hubeks

Rancangan besar yang dicanangkan sang ketua jelas-jelas membutuhkan usaha yang bukan sekadar keras tapi tentu mesti berhitung. Sebuah program besar yang akan menjadi tanggung jawab departemen ini, yakni kunjungan ke perusahaan akan menjadi sia-sia andai tidak diramu dengan baik. Summa sebagai kepala departemen memang telah memiliki pengalaman setahun dalam departemen ini, namun reuni akbar yang dijadikan ajang untuk menggaet ikatan baik dengan alumni ketika ia menjadi staf jelas-jelas tidak bisa dibilang berhasil. Maka dari itu, beberapa orang meragukan Summa untuk bisa membenahi kinerja departemen yang bersangkutan, dan sejalan dengan hal tersebut tim kami memiliki nama ideal yang memiliki kapabilitas kuat dan tentunya lebih layak menjadi kepala departemen hubungan eksternal –dengan mengesampingkan jabatan yang sedang ia pegang.

3.      Departemen Kelisanan

Puisi. Puisi. Puisi. Departemennya kami ganti aja ya jadi Departemen Puisi. Ehe. Rutinitas yang dijalankan departemen ini pada periode kemarin hanya sekadar mewarisi program departemen yang mencetuskannya, kelebihannya barangkali hanya di bagian mimbar puisi yang sangat aktif digalakan, meski belum sempurna. Azmi Fawwaz yang tercatat sebagai staf departemen ideologi pada periode sebelumnya, kini memegang dapuk kepemimpinan. Departemen Ideologi pada hari ini bisa saja berjalan istimewa dengan program-program baru yang meski belum jelas –karena belum dicoba- menampakkan kesuksesan apapun, agaknya akan sedikit meningkatkan minat literasi. Akan tetapi, catatan kepala departemen yang tidak menunjukan hasil baik, membuat kami tidak berharap banyak padanya.
Kemungkinan di masa ini mereka akan kembali mengulang rutinitas yang sama. Meskipun kami setuju bahwa mimbar puisi berhasil menjaga eksistensi Gelanggang, tapi hanya itukah yang bisa mereka lakukan. Seandainya eksistensi dan identitas gelanggang adalah hal yang benar-benar ingin mereka jaga, adakah mungkin hanya mimbar puisi yang bahkan sering kali bentuknya hanya sekadar panggung bebas tanpa arah yang jelas bisa diandalkan. Jika benar seperti itu identitas macam apa yang sebenarnya sedang mereka jaga?
Kami pikir propaganda dan identitas Gelanggang tidak bisa dibentuk hanya dengan acara-acara macam itu, mereka harus berpikir dan menuliskan isi kepala mereka dalam sebuah tulisan seperti apa yang telah Chairil lakukan yang menghasilkan surat kepercayaan. Jika memang dia sering menulis yang berarti tercatat kalau tempurung kepalanya pernah dipakai, kami tidak mungkin meragukannya, tapi kolom pencarian google tidak menampilkan risalah apapun mengenai tulisannya. Kami belum melihat pemikiran sang kepala dalam bentuk aksara terlepas dari caption instagram, ya, bahkan hanya sekadar tulisan pendek berupa catatan kaki pun tidak ada. Jika memang dia sering menulis dan argumen kami mengenai dirinya adalah keliru, maka bolehlah kawannya bagi-bagi tulisan yang bersangkutan pada kami.

4.      Biro Anyar yang Terancam Ambyar

Berubahnya departemen PSDMO menjadi KPSDM mengharuskan Gelanggang membuat sebuah biro untuk menjaga stabilitas dan mood organisasi. Biro Pengembangan Internal Organisasi akhirnya dipilih untuk mensejahterakan kedalaman gelanggang. Kekurangan pada periode kemarin yang banyak dicatat dalam lembar pertanggungjawaban tiap departemen adalah tidak ada rasa saling bantu antardepartemen bahkan antara kadep dan anggotanya semakin mengesankan bahwa PSDMO kepengurusan kemarin kurang memberikan perhatian dan kasih sayang –karena terlalu banyak hajat- menjadi cikal-bakal lahirnya departemen ini. Natasha Nuzula yang ditunjuk sebagai kepala biro, kami ragukan tampil apik karena selain bentuk dari departemen yang belum jelas, ia tercatat banyak mengambil jatah di proker luar dalam waktu yang berbarengan. Meski riwayat organisasi terbilang mentereng, namun ini adalah kali pertama ia memegang pucuk jabatan. Bukan mengancam, akan tetapi jika nafsunya untuk mengambil jatah organisasi tidak dapat diredam dan organisasi kehilangan satu-satunya kasih sayang, bukan tidak mungkin para pengurus terancam ambyar.

5.      Kepala KPSDM yang Agak Membingungkan

Bergantinya status PSDMO setelah memutuskan hubungan dengan organisasi sehingga terbentuk KPSDM membawa warna baru dalam kabinet hari ini. Sira yang diprediksi bakal menduduki posisi ketua nyatanya hanya diletakan sebagai pendamping Fahira Salsabila. Seandainya Sira yang menjadi kepala, setidaknya Arsyad bisa memaksimalkan kinerja Fahira di departemen lain, karena potensinya memang tidak cukup hanya sebagai wakil. Sementara itu, Sira mungkin memiliki sedikit cacat saat menjadi penanggung jawab mabim kemarin, namun kredibilitasnya dalam hal ini tidak perlu ditanya lagi. Lagipula satu-satunya catatan apik yang dimiliki Fahira yang mungkin mengantarkannya menjadi kepala KPSDM tahun ini adalah ketika ia sukses menjalankan tugasnya sebagai ketua divisi acara mabim, dan seharusnya Arsyad tahu jika otak dari semua itu adalah Sira Kamila.

6.      Pemilihan Kadep Mikat yang Asal-asalan

Tidak ada angin, tidak hujan, Felisitas Dhwani tiba-tiba mendapat jabatan. Penunjukan dia sebagai Kepala Departemen Minat dan Bakat tidak jelas juntrungannya dan kami ingin bertanya, kamu dapat bisikan dari mana, Syad? Dhwani menjadi nama yang membuat kaget di bursa jabatan musim dingin ini. Andai nama lain seperti Adam, Najela (wakil), atau Aflaz yang tahu kondisi permikatan di gelanggang kami taruh dalam dua bulatan awal target kadep mikat, nama Dhwani justru tercatat lima kilometer jauh dari sasaran. Pasalnya, jelas-jelas tidak ada satu prasasti pun yang menuliskan bahwa dirinya pernah mengikuti organisasi dan terlebih dunia mikat seperti apa yang pernah dilakoninya. Situasi ini membuat kondisi permikatan yang pada awalnya saja susah, jadi semakin payah.

Beberapa Catatan untuk Dewan Pewakilan Angkatan (DPA)

Dalam konsep demokrasi, dewan perwakilan biasanya identik dengan istilah legislatif. Artinya, dewan perwakilan ialah lembaga yang bertugas untuk membentuk suatu kebijakan yang membawa aspirasi masyarakat. Begitu pula dengan Dewan Perwakilan Angkatan (DPA) Gelanggang, yang secara etimologis mengemban tugas untuk membawa aspirasi dari setiap angkatan yang ada--untuk kemudian sebisa mungkin dijalankan dalam bentuk kebijakan oleh Ketua Himpunan Galanggang.
DPA Gelanggang sebenarnya baru terbentuk sekitar satu tahun yang lalu, dengan Lagam Alfaruqi yang juga mantan Ketua Himpunan Gelanggang periode 2017-2018 sebagai ketuanya. Satu tahun tentu saja adalah usia yang sangat muda untuk sebuah lembaga yang mempunyai fungsi yang kompleks. Karenanya, dalam kemudaannya tersebut, DPA masih memiliki banyak persoalan.

1.      Landasan Hukum dan Konstitusi

Sebuah organisasi atau lembaga atau badan tidak ujug-ujug ada, tetapi mempunyai dasar filosofi dan tujuan mengapa ia mesti hadir. Landasan hukum bagi sebuah organisasi atau lembaga atau badan menjadi sangat penting adanya. Landasan hukum berperan sebagai penopang keajegan dan keabsahan organisasi. Adapun landasan konstitusi ialah petunjuk jalan/arah dan pegangan dalam menjalankan organisasi, yang biasanya berisi himpunan petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan).
Sampai sejauh ini, belum ada transparansi data atau berkas yang menjadi acuan atau dasar berdirinya DPA Gelanggang. Hal ini tentu saja menjadi sangat riskan untuk masa depan DPA sendiri, yang dikhawatirkan akan terjadinya berbagai penyimpangan, dan lebih jauh lagi, “impoten” dalam fungsi dan wewenang.

2.      Regulasi Pengangkatan Ketua DPA

M. Hanif Wahyu K. telah resmi terpilih sebagai ketua DPA Gelanggang untuk periode 2019-2020. Tidak ada yang memprediksi bahwa Hanif yang juga Ketua Angkatan Sastra Indonesia 2018 ini akan menduduki kursi ketua DPA--karena memang tidak terdengar pemberitaan bahwa Gelanggang akan melaksanakan pemilihan ketua DPA sebelumnya. Hal ini terasa sangat berbeda dengan pemberitaan Media dan Informasi Gelanggang (dan PPU Gelanggang selaku penyelenggara pemilihan) yang begitu menggembar-gemborkan pemilihan ketua himpunan periode 2019-2020.
Terpilihnya Hanif sebagai ketua DPA juga meninggalkan cerita yang kurang enak didengar. Menurut sumber yang menolak disebutkan namanya, terpilihnya Hanif sebagai ketua DPA terjadi dalam acara Sidang Awal Tahun (SAT) tanggal 07 Desember yang lalu. Pemilihan tersebut tidak dilaksanakan oleh lembaga resmi sebagaimana mestinya (misalnya PPU Gelanggang), melainkan oleh forum SAT itu sendiri. Karenanya, tentu saja kita akan dengan mudah bertanya, “Dalam kapasitas apa SAT melakukan pemilihan dan pengangkatan ketua DPA?”
Pada mulanya, forum mengajukan empat nama sebagai calon ketua DPA. Keempat nama tersebut yaitu Aldy Sipayung (Angkatan 2016), Luke Andaresta (Angkatan 2016), Ayu Almas (Angkatan 2017), dan M. Hanif Wahyu K. (Angkatan 2018).
Dari keempat nama yang dipilih forum secara serampangan tersebut ternyata tidak ada sama sekali yang bersedia menjadi ketua DPA, sehingga forum memutuskan untuk melakukan voting. Dari hasil voting yang tidak diketahui detail angkanya, nama M. Hanif Wahyu K. kemudian keluar sebagai pemenang.
Pemilihan ketua DPA yang terkesan memaksa dan manasuka tersebut tentu saja memberi energi yang kurang baik untuk semua orang, baik itu kepada M. Hanif Wahyu K. selaku ketua terpilih maupun kepada warga Gelanggang secara umum. Sebab, bagaimana mungkin proses yang buruk dapat memberikan hasil kerja yang baik?

3.      Staf DPA

DPA tentu saja tidak bisa dijalankan seorang diri. Namun sayangnya, sampai sejauh ini belum ada kabar bagaimana DPA akan membentuk dan mengisi pos-pos yang telah tersedia di dalamnya--komisi-komisi yang mengemban tugas-tugasnya tersendiri. Kemudian, apakah orang-orang yang nanti dipercayai mengisi pos-pos strategis tersebut akan benar-benar memiliki kapasitas untuk mengawasi kinerja Gelanggang untuk setahun ke depan? Semoga saja tidak mengecewakan (seperti susunan kabinet Gelanggang periode 2019-2020 yang telah diumumkan beberapa saat lalu itu).


Terlepas dari hilangnya semangat membangun Gelanggang pada hari ini, Jalang telah menghimpun nama-nama ideal yang dilihat secara objektif berdasar pada statusnya sebagai angkatan aktif dan kemampuannya di masing-masing bidang dengan pertimbangan seandainya mereka tidak menempati jabatan apapun serta mengesampingkan variabel-variabel lain, berikut adalah nama-namanya.
Fomasi Ideal Kabinet Hari Ini Versi Majalah Gelanggang
Desain Oleh: Irfan Ferdiansyah

Lesunya Gelanggang

Pemilihan kepala-kepala kabinet yang bahkan lebih asal dari pembuatan karya-karya fiksi di tugas KBIT Pak Tatang ini kami yakin bukan sepenuhnya salah Arsyad sebagai pemegang tampuk kepemimpinan di Gelanggang. Kami yakin, sebelum nama-nama yang kami ragukan ini muncul, Arsyad sudah memiliki susunan kabinet ideal seperti yang sudah kami susun di atas. Hanya saja, permasalahannya dimulai ketika nama-nama yang dianggap Arsyad ideal itu, tidak bersedia untuk bergabung ke lingkaran istana. Penasaran dengan alasan di balik penolakan itu, kami pun mendatangi beberapa orang tersebut, sesuai dengan tugas verifikasi kami sebagai wartawan-wartawanan.
Salah satu orang yang kami temui, sebut saja Zoo Tycoon –beliau menolak disebutkan namanya- mengatakan bahwa banyak nama potensial yang menolak bergabung menjadi kepala departemen. “Mereka kayaknya capek deh. Terutama dari yang sudah gabung sama kepengurusan Gelanggang kemarin,” jelas Zoo. Zoo sendiri menolak dijadikan salah satu ketua departemen. Dirinya kapok setelah tergabung dengan mega proyek Karnaval Sastra pada kepengurusan kemarin. Katanya proyek ambisius itu menguras tenaganya dan membuatnya emoh untuk tergabung dalam kepengurusan periode ini.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Kuriboh, yang juga menolak disebutkan namanya. Orang yang biasa disapa Boh ini juga menolak dengan tegas tawaran menjadi salah satu kepala departemen. Boh yang juga tergabung dalam Kabinet Gerilya kemarin mengibaratkan DPO Gelanggang seperti kerja kantoran. Semua dilakukan demi menunaikan kewajiban, bukan untuk berkarya atau mendapatkan ilmu baru. “Kondisi seperti itu mah tidak memungkinkan untuk berkembang,” jelasnya. Kondisi itu membuatnya jera bergabung kembali ke lingkar istana. 
Dari beberapa orang yang kami datangi, jelas bisa diambil satu asumsi besar: Banyak orang kapok dan enggan bergabung ke Gelanggang setelah berkaca dari periode kemarin. Pola kerja yang rigid, membosankan, bagi sebagian orang kerap membuat anggota-anggotanya tertekan. Dan kami juga dicurhati permasalahan yang sama oleh orang-orang yang kami datangi, yaitu Karsas.
Kondisi kelam ini seakan membuat Gelanggang jadi hidup segan mati tak mau. Dengan tertatih-tatih, Arsyad membangun kabinet ini. Semua prasyarat yang didesain Arsyad sebagai kriteria ketua departemen, raib seketika. Syarat yang tersisa hanya satu, yang penting mau. Kondisi itulah yang diwariskan Kabinet Gerilya ke Arsyad.
Kondisi ini kami namai dengan frase “lesunya Gelanggang”. Ketika hampir semua orang di angkatan 17 yang notabene memegang tanggung jawab lebih di Gelanggang periode ini telah kehilangan motivasi di Gelanggang, sesungguhnya itu adalah momen kiamat kecil untuk Gelanggang. Satu-satunya yang bisa dilakukan Arsyad dan jajarannya adalah memperbaiki Gelanggang dari dalam. Kabinet baru perlu menemukan kembali keriaan yang setahun ini hilang di Gelanggang. 
Menurut hemat kami, proker kabinet ini sebenarnya hanya satu, yaitu bagaimana mewariskan iklim berorganinasi yang nyaman dan menyenangkan kepada angkatan 18, karena seperti kata Zoo Tycoon, “Kabinet hari ini jangan hanya berjalan untuk hidup dan bertahan dalam satu periode. Mesti ada pemikiran bahwa apa yang kalian lakukan sekarang selalu berdampak pada kepengurusan selanjutnya. Gelanggang bukan hanya milik hari ini, tapi hari esok. Semua yang akan dilakukan mesti dipikirkan matang-matang”. Jadi, untuk Arsyad dan teman-teman, mampukah kalian menjawab tantangan besar ini? Kami tunggu kerja kalian.


Penulis: Tim Redaksi Jalang Ilustrator: Nurul Fauziah Pembaca yang budiman, setelah rampung mengadakan perekrutan anggota yang bahka...

Penulis: Tim Redaksi Jalang
Ilustrator: Nurul Fauziah


Pembaca yang budiman, setelah rampung mengadakan perekrutan anggota yang bahkan tidak mampu menjaring lebih banyak dari anggota Akatsuki, kini Jalang telah resmi diasuh oleh kepengurusan anyar. Dengan wajah-wajah baru yang membantu, kami akan banyak mencoba banyak hal baru ke depannya.

Permainan wartawan-wartawanan dengan pendekatan babarudakan ini siap kami mulai. Kami siap mengawal hari kalian dengan berbagai isu, dari yang bisa dibahas dengan teman saat dosen menjelaskan di depan kelas, hingga yang bahkan akan kalian bicarakan di forum-forum rapat. Kami akan kembali memulai liputan-liputan ringan maupun mendalam, memuat cerpen dan sajak, esai dan kritik sastra, foto esai, membuat kerajinan tangan, bahkan meluncurkan majalah. Yang terakhir ini doakan saja semoga bisa terwujud, karena sejujurnya kami juga tidak tahu bagaimana cara membuatnya.

Pada pertemuan pertama para punggawa anyar Jalang, kami saling berbagi gagasan dan keresahan masing-masing. Ada yang resah karena kehidupan kampus yang tidak bergairah, ada yang resah karena rendahnya tingkat literasi yang rendah di Gelanggang yang menyebabkannya tidak punya teman ngobrol, bahkan ada yang kesal karena pintu dekanat pernah ditutup gara-gara para dosen main tenis meja di lobi. Semua keresahan itu akhirnya bermuara pada satu kesepakatan bulat. Kami harus mencatat itu semua. Seperti kata Chairil Anwar pada puisinya "Catatan Tahun 1946" yang juga jadi motto kami, "Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat."

Ke depannya, kami akan memperkenalkan wajah Jalang yang benar-benar baru, wajah yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Wajah ini akan terus menggonggong keras ke siapa dan apa pun. Gonggongan ini akan mendatangkan polemik entah singkat atau berkepanjangan. Kami akan menyalakan api dan silakan kalian sirami dengan bensin sebanyak-banyaknya, karena kami yakin, api itulah yang terus menjaga kesadaran dan kepekaan kita terhadap sekitar. Waspadalah! Waspadalah!

Maka dari itu, besar harapan kami agar para pembaca sekalian sedianya bersedia membantu kami. Seperti kata-kata yang biasanya diucapkan para tokoh anime saat meminta bantuan, "pinjamkamlah kekuatan kalian". Kami harap kekuatan intelektualitas kalian, terutama dalam bidang penulisan, mampu membantu kami membangun wajah Jalang yang baru. Mari bersama-sama kita hidupkan nyala api literasi yang telah lama redup.  Kami mengundang kalian semua untuk menulis di Jalang. Kami terbuka pada gagasan dan bentuk penulisan apapun. Mari berkarya bersama.

Penulis: Bintang Ilustrasi: Nurul Ramdhiany Kereta Hidup Kembali Jalur hidup terpisah dua arah, Kerikil besi bersautan m...



Penulis: Bintang
Ilustrasi: Nurul Ramdhiany




Kereta Hidup Kembali

Jalur hidup terpisah dua arah,
Kerikil besi bersautan merekah.
Panas udara hitam, menusuk hidung warga;
Menyebrang nasib jadi susah!

Tangan mengepal-ngepal mengudara,
Menengok celaka, berjalan terlunta.
Merogoh celana, tak sepeser terlaksana.

Hidup semakin sejahtera, setidaknya; di atas rel,
aku masih bisa melihat kereta—melaju—menabrak tubuh’ku;
yang semakin miskin, didera derita.








                                                                                    Sajak untuk isu reaktivasi rel kereta api Rancaekek – Tanjungsari,
Jatinangor.
November, 2019.







Penulia: Billie Wijaya U Ilustrator: Ninda Annisa Redaktur: Faris A & Azaina  Kalimat pertama dalam tulisan ini adalah kalimat t...

Penulia: Billie Wijaya U
Ilustrator: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A & Azaina 

Kalimat pertama dalam tulisan ini adalah kalimat terakhir yang harus kalian baca.
Dua hari. Selasa dan Rabu. Sembilan belas dan dua puluh November, Teater Djati rampung menyelesaikan kewajiban rutinnya untuk merayakan ulang tahun. Setiap tahunnya Ia lebih memilih merayakan dengan memberi hadiah berupa tontonan yang sialnya selalu saja menarik dan cukup unik. Sudah sembilan belas tahun kini umurnya, dan ia memberi kita tontonan ciamik dengan mementaskan lakon “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet.
Naskah yang dibawakan kali ini sebenarnya tidak terlalu menarik secara kedalaman, untukku. Naskah yang mungkin menyadur dari novel Perempuan di Titik Nol (jika tidak ingin dikatakan menjiplak) ini masih banyak memiliki dosa di sana-sini. Pada halaman awal naskah saja terdapat penjelasan dimensi psikologis tokoh berlembar-lembar. Hal ini menurutku sakral untuk dinarasikan, karena seperti umumnya orang memandang drama, aku masih meyakini bahwa hakikat utamanya adalah dialog dan kegiatan semacam itu adalah hal sia-sia dari penulis yang malah menunjukkan keburukkan karyanya.
Pementasan Teater Djati, terutama untuk merayakan ulang tahun selalu menyuguhkan konsep yang unik dari segi tata panggung. Ketika awal masuk kuliah dan menonton pementasan berjudul “Ke” misalnya, batas panggung dibuat pecah, penonton dilibatkan sebagai penumpang kereta api yang menjadi latar tragedi pementasan dari lakon tersebut. Kemudian “Bulan dan Kerupuk” yang menyajikan dua panggung tambahan di luar panggung utama, dan kali ini “Pelacur dan Sang Presiden” memanjakan kita dengan konsep tiga panggungnya.

Dengan sejarah tersebut tidak heran jika penonton yang hadir membuat diri mereka sesak dan kegerahan sendiri ketika masuk ruangan, karena saking antusiasnya. Bahkan pada hari kedua pementasan pun animo penonton malah bertambah dengan bukti antrean yang jauh lebih panjang dibanding hari pertama. Antrean dikejutkan dengan pembawaan keranda yang abnormal, kerumunan terheran-heran dengan seseorang yang tiba-tiba salat di tengah-tengah mereka, dengan adegan-adegan yang dikonsepkan begitu, pementasan sebenarnya telah dimulai dari sejak antrean, kemudian yasin dilantunkan dengan khidmat, dan pementasan benar-benar dimulai.
                        Di antara semua elemen penopang pementasan semalam, dua aspek yang patut disorot dan dihujani pujian yang begitu mewah adalah artistik dan tentu saja musik. Dengan tata panggung yang cukup rumit, artistik memberikan dimensi yang bukan hanya mendukung pementasan secara fungsional, tapi ia memberikan efek heran yang mengagumkan. Sama seperti halnya artistik, kali ini musik berhasil membuat panggungnya sendiri tanpa mengingkari kewajibannya sebagai pengiring maupun penguat suasana. Keduanya jelas membuat penonton sadar akan kehadirannya dan seharusnya berpikir jika keduanya amat penting.

                        Sementara itu, komponen lain seperti tata rias dan cahaya kurang unjuk gigi. Terutama bagian tata cahaya yang selalu membuatku agak jengkel karena terus mengulangi kesalahan-kesalahan kecil  dari tahun ke tahun karena kurang fokus atau apapun alasannya jelas sedikit-banyak mengganggu jalannya pementasan. Pergeseran nyala-mati lampu yang kurang halus, kesalahan menyalakan atau mematikan lampu dan hal-hal kecil lain mestinya bisa diminimalisasi.
                        Hal lain yang menggangguku sebagai penonton adalah hancur leburnya irama pementasan. Pementasan yang tidak menghadirkan komedi memang sama menyebalkannya dengan cerita berhalaman-halaman tanpa narasi percintaan. Tapi, terkadang balutan komedi dalam pementasan itu sering salah kaprah. Misal dalam pementasan Djati kemarin, komedi-komedi slapstick yang dihadirkan ke dalam pentas malah membuat irama yang dibangun dari awal kacau. Cupliklah misalnya adegan-adegan yang selalu di panggung berlatar pohon warna-warni dan segala hal ajaib yang bergelantungan di atasnya, ada adegan para petugas yang konyol dan katakanlah agak bego. Sebagai catatan, adegan sebelum ini mengesankan suasana yang haru -ritme telah dibangun. Kemudian masih di dalam panggung yang sama, dengan tokoh-tokoh yang sama, mereka menyeret para pelacur dan simsalabim suasana langsung kelam, para petugas langsung galak, dan seolah-olah mereka merasa kebijaksanaannya dilacuri ketika Jamila mengatakan kebobrokan mereka. Apakah ini adalah efek dari mood swing para milenial? Hem. Begini.
Ritme adalah irama pementasan atau jika didefinisikan barangkali adalah irama yang akan mengantarkan para penonton menuju klimaks adegan. Bedanya dengan alur adalah alur bisa bergerak secara bebas –dalam hal ini luwes untuk berbelok dari alur maju kemudian menukik langsung ke kilas balik tanpa transisi, irama tidak seperti itu. Ia mesti runut disusun setitik demi setitik dengan melibatkan segala aspek terutama yang dapat mendukung suasana. Jika memang memiliki tujuan, sebenarnya boleh-boleh saja melakukan perubahan secara mendadak dalam hal ritme seperti memasukkan unsur komedi atau apapun, namun kebanyakan yang terjadi adalah mereka tidak menyadari bahwa irama pentas yang telah mereka susun runtuh, mereka menyusun lagi dan meruntuhkannya lagi secara tidak sadar, begitupun yang dilakukan oleh Teater Djati dalam pementasan “Pelacur dan Sang Presiden”, padahal unsur ini dapat menjadi sarana yang penting untuk mencapai berahi penonton.

Bayangkan seorang pemuda yang sedang menyusun balok-balok lego. Irama adalah undakan-undakan bangunan yang akan dibentuk oleh mainan persegi dengan bulatan-bulatan yang menempel di atasnya itu. Untuk mencapai klimaks pemuda itu harus menyusun beberapa undakan, namun ketika undakan urung selesai sepenuhnya tiba-tiba tiba seorang anak kecil datang menghancurkannya dan terpaksa pemuda itu harus menyusun lagi irama dari dasar. Tapi, dalam hal ini tidak ada anak kecil yang iseng, yang ada hanyalah sifat kekanak-kanakan pemuda tadi yang karena ia menyukai warna biru dan melihat undakan yang disusunnya rampung setengah tanpa melibatkan satu pun warna biru, maka dengan semangat kekanak-kanakannya ia memaksa balok biru itu masuk, dan yang terjadi kemudian adalah undakan yang telah ia susun hancur, lalu ia harus memulai lagi dari awal. Jika diilustrasikan memakai gunung, irama yang dihasilkan pementasan “Pelacur dan Sang Presiden” oleh Djati hanyalah beberapa gunung-gunung kecil, bukan sebuah gunung megah dan gagah. Parahnya lagi hanya satu yang memiliki puncak, sisanya adalah gunung-gunung kecil yang cacat.
Dengan begitu selesailah perayaan ulang tahun Djati kesembilan belas, teruslah berbenah sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus kalian selesaikan.
Dan terlepas dari semua cacat dan kemewahan yang Djati suguhkan dalam dua malam, kita masih bisa memilih untuk hidup sesuai kehendak kita masing-masing seperti apa yang diyakini Jamila di awal pentas. Dan tanpa menganggap penyesalan Jamila terhadap dunia yang carut-marut ini sebagai sebuah kekalahan, kita masih bisa tersenyum dan membaca sebuah ulasan pentas yang buruk, ulasan yang layak dibakar dan dijejalkan ke dalam lubang pantat seperti cerpen-cerpen peer, seolah-olah kalimat pertama dalam tulisan itu adalah kalimat terakhir yang harus kalian baca.




Penulis: Faris Al-Furqon Editor: Wanti Ayu Aprilian Pukul 11 malam, Blue Stage masih ramai,   bahkan semakin ramai. Teriakan para p...

Penulis: Faris Al-Furqon
Editor: Wanti Ayu Aprilian


Pukul 11 malam, Blue Stage masih ramai,  bahkan semakin ramai. Teriakan para pemain Teater Djati pun makin keras. Semua orang yang ada di sana, terlebih sutradara dan asistennya semakin khusyuk menyaksikan lakon yang ditampilkan di panggung. Di tangan mereka, tertulis banyak catatan tentang penampilan para pemain kali ini. Malam itu, (11/11), Teater Djati tengah berlatih untuk pagelaran anyar mereka, “Pelacur dan Presiden” yang akan ditampilkan pada 19 dan 20 November mendatang.

Suasana latihan Teater Djati

Pagelaran ini juga sekaligus menjadi penanda ulang tahun Teater Djati yang kesembilan belas. Naskah “Pelacur dan Presiden” karya Ratna Sarumpaet yang--sedikitnya--memiliki kemiripan dengan novel “Perempuan di Titik Nol” akan dipentaskan. Pementasan tersebut melibatkan hampir seluruh anggota Teater Djati. Empat angkatan aktif dari 2019 sampai 2016 tengah mempersiapkan pagelaran tersebut.
Berbagai kejutan baru juga tengah dipesiapkan oleh Teater Djati. Mereka akan menawarkan konsep dan berbagai hal yang berbeda dari pagelaran terakhir mereka, “Bila Malam Bertambah Malam”. Sutradara pagelaran kali ini, Abimala, menawarkan konsep multi panggung yang merepresentasikan lintasan waktu dan karakter yang berbeda-beda. Hal tersebut akan menjadi hal baru yang dicoba Teater Djati untuk pementasannya kali ini. “Untuk memperlihatkan latar waktu dan karakter yang berbeda-beda, akan sangat membosankan bila menggunakan satu panggung utama dan mengandalkan tata pencahayaan untuk memperlihatkan alur waktu yang berbeda,” ujar Abimala saat ditemui pada sesi latihan. “Kami bakal membuat tiga panggung yang memiliki peran berbeda dan secara bergantian membawakan jalan cerita,” tambahnya.
Kejutan lainnya pun dibocorkan oleh Gina, sebagai pemimpin prodksi. Ia menuturkan bahwa pada kali ini, Teater Djati akan membawa suasana latihan ke pementasan. “Hal ini akan jadi kejutan, dan sifatnya lebih ke improvisasi saja sih,” kata Gina. Namun, Gina urung mengungkapkan suasana latihan seperti apa yang akan ditampilkan pada pementasan mendatang.
Persiapan-persiapan lain juga dipaparkan oleh asisten sutradara kali ini, Sogen. “Aktor sudah siap 80 persen, tinggal menambahkan beberapa detail saja. Artistik juga begitu,” kata Sogen. Ia juga mengatakan beberapa adegan yang realis akan dimodifikasi menjadi lebih komedi dan absurd. Sogen pun mengatakan bahwa pementasan kali ini dilangsungkan selama dua hari, serupa dengan pementasan “Petang di Taman” yang digelar pada tahun 2017.
Penata musik pada pementasan kali ini, Ilham, juga menuturkan persiapan-persiapannya. Lagu-lagu bernuansa stoner metal yang kental dengan distorsi gitar yang tebal akan mengiringi jalannya pentas. “Isu-isu marjinal seperti ini akan kami iringi dengan musik yang marjinal juga,” ujar Ilham yang telah mempersiapkan 4 lagu untuk pementasan kali ini. Ilham pun mengatakan bahwa keempat lagu yang disiapkannya akan menggambarkan kondisi psikologis pemeran-pemeran yang bermain di atas panggung.
Dari segi artistik dan tata panggung, Rizky menuturkan bagaimana persiapannya. Mulai dari jeruji penjara, wc, pohon, dan beberapa properti lain sudah rampung. “Ini semuanya sudah 70 persen, dan semua bangunan yang kami buat sudah menemukan bentuknya. Mungkin tinggal detailing sedikit yang harus ditambahkan,” kata Rizky sambil menggergaji kayu saat diwawancara. Rizky juga mengungkapkan bahwa ketiga panggung yang menggambarkan karakter yang berbeda akan menyuguhkan tata panggung yang berbeda. “Panggung kanan yang absurd, kiri yang surealis, dan tengah yang realis, akan membutuhkan banyak properti dan persiapan yang rumit,” ujarnya.
Waktu pementasan yang semakin dekat juga memperlihatkan animo masyarakat FIB yang tinggi atas pementasan ini. Gina menuturkan bahwa dari tahun ke tahun animo ini semakin meningkat. “Bahkan tadi saat menghubungi orang sound, dia bilang anak Fikom juga banyak yang menanyakan tentang pementasan kami,” ujar Gina denga antusias.
Tiket pementasan pementasan kali ini bisa dipesan mulai dari sekarang dengan harga 20 ribu Rupiah. Tiket juga bisa dibeli pada saat hari H seharga 25 ribu Rupiah. Setelah melihat kejutan-kejutan dan berbagai persiapan yang telah dipersiapkan Teater Djati untuk pementasan kali ini, kini giliran Anda menyiapkan diri untuk menonton pementasan tersebut, sebab “Pelacur dan Presiden” akan menyuguhkan banyak hal yang mungkin tidak pernah Anda saksikan sebelumnya.