Oleh Luke Andaresta (Ilustrasi Oleh Kelana Wisnu) Membaca novel Kelir Slindet seperti melihat kemelut hidup yang terjadi di dae...

Dangdut Pantura dan Cinta yang Tak Sampai

Oleh Luke Andaresta

(Ilustrasi Oleh Kelana Wisnu)


Membaca novel Kelir Slindet seperti melihat kemelut hidup yang terjadi di daerah pantura, tepatnya Indramayu, daerah yang sering disebut sebagai daerah penyimpan gadis-gadis penghibur, yang juga akrab disebut dengan Jalur Pantura (jalur pantai utara). Di sepanjang jalur, di antara kelokan jalan yang menembus belantara, ada beberapa tempat singgah remang-remang yang sering dijadikan tempat istirahat supir truk. Kelir Slindet mengajak untuk melihat realitas itu  dengan kemampuan personalitas tutur pengarang yang lincah.

Safitri adalah anak Saritem, seorang telembuk (pelacur—red) dan Sukirman, petani kecil yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mabuk, nelembuk, dan menyawer biduan dangdut di panggung hiburan. Sejak umur sembilan tahun Safitri bercita-cita menjadi penyanyi dangdut terkenal. Banyak lagu dangdut tarlingan yang ia hafal. Kadang ia juga meniru gaya biduan yang sedang beraksi dengan lincahnya di atas panggung dengan goyangan-goyangan yang ia lakukan.

Ketika Safitri berumur 13 tahun ia malah menjadi seorang penyanyi kasidah pimpinan Musthafa di kampungnya karena Safitri adalah salah satu orang yang mengikuti pengajian di mushola Haji Nasir yang merupakan bapak dari Musthafa, pun grup kasidah tersebut baru didirikan sehingga teman-temannya merekomendasikannya untuk menjadi vokalis dalam grup kasidah tersebut. Sejak itu Saritem sudah berhenti menjadi telembuk.  Ia sering datang ke mushola Haji Nasir dengan harapan mendapatkan pujian dari keluarga itu dan supaya dianggap bertobat. Saritem bahkan berharap bahwa anaknya bisa dijadikan menantu oleh Haji Nasir sehingga itu bisa memperbaiki keadaan keluarganya yang sering dipandang rendah oleh orang-orang di kampungnya. Mengingat keluarga Haji Nasir merupakan keluarga terpandang di kampung Cikedung. Tetapi tidak sedikit juga yang sering mengatakan bahwa Haji Nasir merupakan kaji nyupang, haji yang kelakuannya tidak selayaknya orang yang sudah menyempurnakan rukun Islamnya.

Salah satu anak Haji Nasir yang lain, Mukimin, menaruh hati pada Safitri sejak awal pertemuannya di mushola tempat mereka mengaji. Ia menyukai Safitri karena parasnya yang cantik dan suaranya yang merdu. Tetapi ia takut dengan ayahnya, bagaimana mungkin ayahnya merestui hubungannya dengan seorang anak telembuk? Habislah kebesaran nama keluarganya di mata masyarakat. Tetapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa cintanya yang begitu besar untuk Safitri. Selain itu, masalah yang dihadapi Mukimin adalah kakaknya yang belakangan juga menaruh hati pada Safitri, yaitu Musthafa. Bahkan dengan dalih menghindari zina, Musthafa berniat untuk menikahi langsung Safitri yang masih berusia 14 tahun itu. Mukimin dan Musthafa mempunyai kepribadian yang jauh berbeda. Mukimin terkenal dengan teman-teman sebayanya merupakan pemuda yang begajulan. Sering nongkrong di warung untuk mabuk-mabukan dengan teman-temannya, adu ayam, sampai menggoda gadis-gadis di kampung Cikedung. Sedangkan Musthafa adalah seorang guru ngaji yang merupakan lulusan sarjana agama dari sebuah kampus di Yogyakarta. Dikenal sebagai pemuda alim di kampungnya.

Suatu hari Musthafa yang dikenal alim itu kedapatan menyembunyikan sebuah majalah dewasa di kamarnya oleh ayahnya, Haji Nasir. Sontak membuat ayahnya marah dan segera menyimpulkan bahwa anak sulungnya itu memang sudah waktunya menikah. Sebenarnya itu juga yang dipikirkan oleh Musthafa. Ia langsung teringat akan Safitri dan dengan kemantapan hati ia memutuskan untuk datang ke rumah Safitri untuk segera melamarnya. Tetapi niat baiknya itu perlahan diketahui oleh Mukimin, adiknya. Mukimin mulai gelisah dan merasa takut kalau-kalau Safitri lebih memilih kakaknya dibandingkan dirinya. Musthafa disambut sangat baik oleh Saritem, Ibu Safitri, ketika suatu hari berkunjung ke rumah Safitri. Musthafa langsung menyampaikan niat baiknya untuk melamar Safitri. Saritem senang bukan main, karena ia memang bermimpi bisa menikahkan anaknya dengan salah satu anak dari Haji Nasir. Tetapi Safitri tidak semudah itu menerima ajakan Musthafa untuk menikah bahkan ia langsung menolaknya. Safitri sudah terlanjur cinta dengan Mukimin.

Saritem marah dengan kelakukan Safitri yang dengan mudah menolak lamaran Musthafa. Ia berpikir bahwa ini merupakan jalan keluar dari permasalahan yang menimpa kehidupan keluarganya. Safitri dijadikan menantu seorang keluarga terpandang, kaya, dan kemudian hidup enak. Sebuah pola pikir yang masih banyak menjangkit masyarakat kita. Pikiran Safitri benar-benar buntu, kacau, dan tak menemukan ujung pangkalnya. Ia juga sudah mulai jarang mengaji di mushola Haji Nasir, lebih sering mengurung diri di kamar sambil mendengarkan lagu tarling.

Suatu hari Haji Nasir tahu mengenai kedekatan Mukimin dengan Safitri. Ia tahu dari omongan para tetangga yang sering melihat Mukimin dan Safitri jalan berdua. Ketakutan Mukimin pun terjadi. Haji Nasir marah besar dan segera melarang anaknya untuk bertemu dengan Safitri lagi. Di satu sisi, Saritem mengetahui bahwa Haji Nasir melarang hubungan anaknya dengan Safitri karena keluarga Saritem yang tidak beres. Haji Nasir menjelek-jelekkan keluarga Saritem dan terdengar oleh tetangga-tetangga dan akhirnya sampai ke telinga Saritem. Saritem naik pitam dan dia memaki-maki Haji Nasir di depan para tetangga. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu. Walaupun ia seorang mantan telembuk, ia masih punya harga diri. Dalam cerita dikisahkan juga bahwa Haji Nasir pernah menjalin hubungan dengan Saritem, 17 tahun yang lalu. Tetapi Haji Nasir meninggalkan Saritem begitu saja tanpa alasan yang jelas. Saritem merasa sedih. Ia hanya memiliki harapan untuk bisa memperbaiki keadaan keluarganya, terutama masa depan anaknya, Safitri. Tetapi tidak semudah yang dibayangkan, malahan tetangga-tetangganya makin mencibirnya bahwa hanya mimpi yang tinggi kalau Safitri bisa menikah dengan anak Haji Nasir. Belum lagi suaminya yang tidak peduli dengan apa yang sedang dialami anak dan istrinya. Saritem berpikir apakah hidup akan terus blangsak seperti ini.

Lama kelamaan Mukimin tidak bisa menyembunyikan perasaannya ingin memiliki Safitri seutuhnya dengan cara menikahinya. Ia mencoba datang ke rumah Safitri dengan niat untuk melamar gadis pujaan hatinya. Tetapi karena gayanya yang selalu cengengesan, ia selalu gagal dalam hal itu. Sementara itu, kondisi Safitri makin tidak karuan. Sudah tiga bulan ia tidak berangkat sekolah dan mengaji. Malahan di suatu malam, di sebuah pentas dangdut, Safitri terlihat menjadi salah satu biduannya dengan baju ala penyanyi dangdut yang terbuka dan terlihat seksi di badannya. Sukirman yang ada dan hendak menyawer biduan pun kaget melihat anaknya di atas panggung. Safitri mengaku ingin berhenti sekolah dan menjadi penyanyi dangdut saja kepada ibunya. Saritem makin bingung dengan kondisi keluarganya yang menjadi kacau seperti ini. Para tetangga pun makin gencar membicarakan keluarganya dan tak jarang Saritem langsung memaki-maki siapa saja yang berani mencibir keluarganya. Orang-orang dikampungnya sampai menganggap bahwa Saritem sudah setengah gila.

Setelah Musthafa dan Mukimin, ada yang hendak melamar Safitri lagi. Safrudin, seorang anak kaji yang merupakan teman satu pesantren dengan Musthafa. Tetapi lamarannya langsung ditolak begitu saja oleh Safitri. Satu-satunya laki-laki yang ada dipikiran Safitri hanya Mukimin. Saritem pun seperti biasa akan memaki-maki anaknya. Ketika ia bertanya kepada Safitri sebenarnya apa yang ia inginkan, Safitri hanya menjawab ia hanya ingin menjadi penyanyi dangdut dan bisa mencari uang sendiri. Menjelang akhir cerita, Safitri diketahui hamil dan orang yang pertama kali tahu adalah ayahnya, Sukirman. Orang tua sampai para tetangganya tahu dan mencari bahan perbincangan hangat di kampungnya. Tidak ada yang tahu siapa yang menghamili Safitri. Ia pun kekeuh tidak memberitahukan siapa yang telah menghamilinya. Akhirnya Safitri menjadi lebih sering bermurung diri di dalam kamar. Hidup dengan mimpi-mimpi yang hancur berantakan. Gagal menjadi penyanyi terkenal juga gagal untuk memiliki pasangan hidup yang diinginkannya. Semua orang asing bagi Safitri. Tidak ada yang bisa mengerti perasaannya.

Safitri mungkin hanya potret kecil dari berapa banyak anak gadis yang mengalami hal yang serupa. Karena kondisi keluarga dan sosial masyarakatnya yang tidak mendukung, mereka seolah sulit untuk mengepakkan sayap-sayap mimpinya untuk bisa terbang lebih tinggi seperti teman-teman sebayanya. Bukan putus asa dengan keadaan, tetapi dukungan moril yang berasal dari luar diri mereka pun sangat penting untuk setiap langkah mereka. Akhirnya yang terjadi seperti yang dialami Safitri. Hidup bersama mimpi dan cinta yang tak sampai.




0 komentar: