Oleh Ray Umam S. (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu) Indonesia adalah ladang yang subur, yang ketika seseorang melemparkan benih pad...

Indonesia Ladang yang Subur

Oleh Ray Umam S.


(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)


Indonesia adalah ladang yang subur, yang ketika seseorang melemparkan benih padanya, benih itu akan dapat tumbuh dengan baik. Seseorang yang memiliki ladang itu tentu dapat menjadi sejahtera hidupnya. Di mana ada ladang, di situ ada kemakmuran. Akan tetapi, di mana ada ladang yang subur, siapa yang tidak mencoba merebutnya?

Inilah Indonesia. Siapa pun yang menginjak tanah air ini akan terpaku dan sulit berpaling ke tanah air lain. Siapa pun yang menghirup aroma yang harum dari tanah air ini akan dimabuk dalam sekejap saja. Lalu siapa pun yang telah menginjak dan mencium aroma tanah air ini, pasti ingin mencoba meraba dan mengusiknya. Orang-orang itu adalah orang yang pintar, cerdik, tapi juga licik. Orang-orang itu sudah termakan kesempatan yang mereka pikir “entah kapan lagi akan terjadi”, sehingga mereka pun mengambil kesempatan itu. Orang-orang itu adalah para tikus berdasi, para koruptor, si kancil hitam.

Si kancil hitam yang selalu dapat mengendus dan meraba ladang mana yang subur. Lantas ladang tersebut akan ditetapkannya sebagai target buruan untuk memakmurkan dirinya. Kemakmuran dan kesuburan yang harusnya dimiliki oleh ladang itu sendiri dan semua yang hidup di sekitarnya malah seolah-olah menjadi milik pribadi.

Barangkali Pramoedya Ananta Toer akan setuju dengan analogi di atas. Tapi kalaupun tidak setuju, tetap saja Pram akan setuju untuk membela kemanusiaan, membela orang yang karena kerakusan orang lain yang tidak manusiawi mau tak mau harus berdampingan dengannya. Begitu fenomena itu muncul sebagai sosok yang menghantui tanah air dan Pram menyadari itu, ia kemudian melahirkan karya sastra yang berjudul Korupsi.

Seperti namanya, Korupsi, yang disadur oleh Afnaldi Syaiful pada tahun 2013, buku ini mengisahkan perkembangan watak Bakir, pegawai negeri yang terkenal jujur, sebagai orang yang mencoba korupsi. Hal itu bermula dari renungan batinnya yang mengatakan bahwa bekerja sebagai pegawai negeri bukan lagi sebuah hal yang membanggakan. Hasil bekerja sebagai pegawai negeri tidak terlalu mampu untuk menghidupi keluarganya secara mapan. Akan tetapi, dirinya melihat hal lain di sekitarnya, bahwa kehidupan teman-teman sekantornya bergelimang harta hanya dengan bekerja di kantor yang sama. Berawal dari pikiran yang terus menyerang, pertanyaan yang membuat hatinya membenarkan pikiran-pikiran buruk mengenai korupsi, sebuah niat untuk melakukan hal itu pun akhirnya menyeruak dalam diri Bakir.

Dalam suatu waktu, saat dirinya mantap untuk menunaikan niat, kesempatan itu pun datang, kesempatan itu tentunya tidak disia-siakan Bakir. Sama halnya dengan pernyataan dalam Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi (Puspito [ed], 2011: 74), bahwa tindakan korupsi pada dasarnya terjadi karena adanya faktor internal, yang berupa niat, dan faktor eksternal, yang berupa kesempatan.

Meskipun berupa karya saduran, novel ini memiliki amanat yang tegas dan kuat mengenai tindak korupsi. Cerita yang kuat dalam pembentukan karakter seorang koruptor telah membuka pengetahuan, atau menyadarkan bahwa dalam diri koruptor diliputi ketidakpedulian. Para koruptor tidak lagi peduli pada kemanusiaan dan apa itu arti dari menjadi manusia tanpa kemanusiaan. Bagi koruptor semua harus jadi miliknya, adalah ungkapan yang tertanam dalam benak mereka.

Dari novel ini kita dapat tahu bahwa alasan klise dari seorang koruptor adalah sebuah kepentingan yang diperuntukkan keluarga agar menjadi mapan, sejahtera, dan makmur. Para koruptor tetap akan lebih mengedepankan mimpinya untuk hidup tanpa sengsara daripada menolaknya. Akan tetapi, dalam perkembangannya kemudian akan muncul rasa dahaga akan harta yang tidak dapat dipuaskan hanya dengan satu atau dua kali korupsi saja. Para koruptor itu akan mencari cara lagi untuk datang ke ladang yang sama, atau  yang lain, yang dalam sistemnya membuat mereka mempunyai kesempatan mencuri.

Dengan segala kelebihannya, tanah air ini tidak lebih subur daripada tikus-tikus kantor. Tanah air ini sudah tidak lagi memakmurkan seluruh kelas masyarakat, tetapi memakmurkan si kancil hitam. Tanah air ini sudah tidak lebih menyejahterakan mereka yang bekerja secara jujur dan keras, tetapi lebih sejahtera dipakai oleh orang-orang yang lebih suka disejajarkan dengan hewan dan sejenisnya yang tidak berperikemanusiaan.
“Bapak menyesal karena tertangkap?” tanya Sirad berhati-hati.
“Tidak,” jawabku. “Aku menyesal karena terlambat menyadari semua ini, dan
terlalu mahal harga yang harus kutebus untuk mengetahui semua ini tak benar.
Generasi kalian tak seharusnya mengulangi kesalahanku.” (Syaiful, 2013:131)

0 komentar: