Arini Salma Hanifah             (Ilustrsi oleh Kelana Wisnu) Dalam esainya yang berjudul Krisis Kepenyairan Kita , Ribut Wijoto...

Melihat Aan Mansyur Bekerja



Arini Salma Hanifah
           
(Ilustrsi oleh Kelana Wisnu)


Dalam esainya yang berjudul Krisis Kepenyairan Kita, Ribut Wijoto menyatakan bahwa sastra Indonesia sedang dalam masa sekarat kepenyairan. Simpulannya terhadap kazanah kepenyairan di tanah air itu didapatkan melalui sedikitnya perkembangan bentuk puisi yang sebelumnya pernah menjamur dan seolah menyejarah di Indonesia. Padahal, bila terus ditumbuhkembangkan, bentuk-bentuk puisi tersebut sudah dapat menempuh puncak kejayaan dan kematangan berarti bagi kepenyairan Nusantara.

Tersumbatnya tumbuh kembang bentuk puisi di Indonesia menurut Wijoto disebabkan oleh dua alasan utama. Pertama, hilangnya personalitas penyair tanah air yang menyebabkan penyair terpengaruh kode bahasa estetik yang dominan. Kedua, penyair di nusantara terkesan malas belajar pada sejarah puisi, sehingga penyair tidak mengetahui bentuk-bentuk puisi yang sudah menjadi ciri khas di Indonesia. Bentuk puisi yang menurut Wijoto menjadi puisi khas Indonesia dan sedang mengalami krisis antara lain: (1) balada yang dipelopori W. S. Rendra; (2) mantra dipelopori Sutardji Calzoum Bachri; (3) lugas dan filosofis dipelopori Subagio Sastrowardoyo; (4) kosmopolitan dipelopori Afrizal Malna; (5) sufistik dipelopori oleh Abdul Hadi; (6) protes sosial diprakarsai Wiji Thukul; (7) mBeling oleh Remy Sylado dan Joko Pinurbo.

Penulis sebagai pembaca yang juga memiliki otoritas dalam menilai sebuah karya, seperti yang dikatakan Derrida bahwa kata-kata setelah dipublikasikan bukan lagi menjadi milik pembaca. Penulis melihat bahwa Wijoto sepertinya memberikan sudut pandangnya dengan gamblang dan terang-terangan tanpa berlindung kepada suatu teori pasti. Hal ini sah-sah saja dilakukan, namun subjektivitas Ribut Wijoto dalam Krisis Kepenyairan Kita menjadi kurang sreg ketika dibarengi dengan kurangnya pemahaman memaknai bentuk puisi yang sedang krisis  itu. Sejauh mana Wijoto memaknai bentuk puisi di Indonesia yang sedang krisis sudah terjawab dalam esainya, namun, Wijoto sepertinya harus terlebih dahulu memberikan transparansi pemikirannya mengenai dasar-dasar bentuk puisi di Indonesia. Bagaimana sebuah karakter kepenyairan seseorang kemudian dapat dikatakan sebagai perkembangan suatu kondisi kepenyairan sebuah negara yang wajib menyejarah? Bagaimana jika ternyata ketujuh bentuk puisi kritis itu tak lebih dari adopsi para penyair dari kematangannya mempelajari karya sastra yang sudah berkembang pesat di Eropa?  

Terlepas dari semua pertanyaan penulis kepada Wijoto, bentuk puisi yang hadir setelah masa kritis diyakini menjadi lebih variatif dari sebelumnya dan berhasil memadukan bentuk puisi a la Indonesia versi Ribut Wijoto sehingga bentuk puisi modern muncul tanpa dipesan.

Sebut saja M. Aan Mansyur. Seorang penyair yang namanya kian melejit ke seluruh lapisan masyarakat (selain para pegiat sastra) ini sukses menempatkan namanya dirak-rak buku para penggemar film Ada Apa Dengan Cinta? 2 setelah menulis buku dengan judul yang sama untuk produksi film tersebut. Aan adalah seorang pustakawan di Katakerja yang menerbitkan bukunya yang pertama pada tahun 2005 berjudul Hujan Rintih-rintih. Seterusnya, karya-karyanya bisa ditemui di berbagai media dan buku antologi puisi. Dalam beberapa karyanya, penulis melihat kecenderungan gaya kepenyairan M. Aan Mansyur yang terpengaruh oleh Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, dan Afrizal Malna. Adapun buku antologi puisi M. Aan Mansyur yang penulis jadikan sumber rujukan ialah Melihat Api Bekerja (2015) dan Tidak Ada New York Hari Ini (2016)

Afrizal Malna, seorang penyair dan penulis naskah ini memang digadang-gadang sebagai penyair penganut pascamodernisme yang sukses memasukkan kata-kata yang disinyalir haram di dalam kepenyairan di Indonesia yang kemudian membuat Afrizal dijuluki sebagai penyair kosmopolitan. Seringkali Afrizal mengimpor kata-kata asing yang memang sebelum masa kepenyairan dirinya tidak pernah digunakan. Seperti penggunaan kata princess, kulkas, supermarket, billboard, AC, cleaning services, dan office boy yang terkandung dalam antologi puisi Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing.

Jika penjulukan penyair kosmopolitan hanya berdasar kepada penggunaan kata dalam gaya kepenyairan Afrizal Malna, maka M. Aan Mansyur pun banyak mengimpor kata-kata yang jarang digunakan para penyair lainnya. Seperti dalam satu diantara judul puisi Aan pada antologi Melihat Api Bekerja yakni Mendengar Radiohead. Kemudian pada larik pertama puisi Menunggu Perayaan “…sol sepatumu bicara apa kepada jalan yang menjauh?...” penggunaan kata sol sepatu sangat jarang ditemukan dalam puisi-puisi yang kita kenali selama ini. Selain pada larik pertama yang menyebutkan sol sepatu, Aan pun menabrak kode estetiknya dengan menaruh nomina video klip pada larik keenam “…video klip Tommy J Pisa, Nia Daniati, dan Betharia Sonata…” belum puas sampai disitu, saya kembali menemukan ke-kosmopolit-an Aan Mansyur dalam larik selanjutnya: “…Kau mengangguk dan waktu mengalir secepat barang-barang impor; walkman; pager; DVD player; komputer; dan telepon pintar…”. Selain pada puisi Mendengar Radiohead dan Menunggu Perayaan, pada puisi Memimpikan Hari Libur, Aan pun menunjukkan sisi puisi yang Afrizal banget pada larik “…Kemacetan, supermarket, pelabuhan udara, atau pantai…”. Kemudian pada puisi
Hantu Penyanyi terdapat larik “…Ia menekan-nekan tuts keyboard mengetik kata piano lagi dan lagi…”

Selain kemiripan dalam pengimporan kata-kata antara Afrizal dan Aan, ke-chaos-an khas Afrizal pun ditemukan dalam puisi-puisi Aan. Seringkali Afrizal sengaja menyingkirkan kata dan makna pada deret puisinya. Kata antarkata sengaja diloncati maknanya oleh Afrizal seperti pada Enam Paragraf dari Ibu; “…Air terus menetes dari jemuran basah: apakah kita, apakah bangsa, apakah ember, apakah got, apakah partai, apakah parlemen, apakah rongga mulut, seluruh lubang yang menganga menunggu tetes air bekas cucian ibumu…” dapat dilihat bahwa tidak ada makna yang sejajar antara bangsa, ember, got, partai, parlemen, dan rongga mulut. Namun dengan sengaja, Afrizal menyusun nomina tersebut dengan sembarang dan meloncat-loncat. Begitupun dengan Aan yang Telanjang di Depan Cermin “…rambutku hujan, atau komet di langit malam…”; pada Aan yang Menenangkan Rindu “…Bulan sendiri, pandai, dan kekanak-kanakan. Dia bisa jadi pisang ambon, mangkuk pecah ibumu, atau martabak utuh jika kau lapar…”

Akhirnya, aku lirik dari setiap puisi yang ditulis Aan seolah memiliki kedekatan personal dengan setiap aku lirik milik Afrizal. Kekosmopolitan dan ke-chaos-an Afrizal seolah ditelan dan dimuntahkan kembali oleh Aan dalam bentuk yang sama dan melahirkan sepasang bayi kembar dari dua ayah yang berbeda.

Nampaknya memang sudah takdirnya bahwa setiap yang mengenal dekat akan memiliki pengaruh-pengaruh dari sesuatu yang dekat tersebut. Begitu pula Sapardi dan Aan. Kedekatan keduanya diakui Aan dari sebuah wawancara di Jaya 55: Maestro Sastra Indonesia yang tayang di youtube. Kedekatan Aan dan Sapardi sudah terjalin lama melalui syair-syair Sapardi yang dibaca Aan, Aan langsung mengenali dan terus mendekati Sapardi lewat syairnya. Aan mengakui bahwa gaya kepenyairannya sedikit banyak terpengaruh oleh Sapardi. Ketika membaca seluruh puisi Aan pun, terlihat melanko-feminis yang menunjukkan ke-aku-an, kesengsaraan, dan ketabahan aku lirik dalam bercinta khas Sapardi Djoko Damono.


Kecenderungan gaya kepenyairan Joko Pinurbo pada diri Aan nampaknya tidak akan saya jelaskan seperti pada Sapardi Djoko Damono. Sebab semuanya memiliki kemiripan secara intrinsik, secara makna, berbeda seperti kemiripan antara Aan dan Afrizal. Pada gaya kepenyairan Jokpin yang padat, jelas, dan nyeleneh pun ditemukan dalam diri Aan. Terutama pada puisi-puisinya dalam antologi Tidak Ada New York Hari Ini dan beberapa puisi dalam Melihat Api Bekerja. Lucunya, terkadang Aan membuat judul yang jauh lebih panjang ketimbang isi puisinya, seperti pada Ada Anak Kecil Kesepian di Tubuh Ayahmu dan Sajak untuk Orang Yang Tidak Pernah Punya Waktu Membaca Sajak dalam Melihat Api Bekerja. Jokpin selalu sukses dengan puisi-puisi singkatnya. Sukses membuat pembaca selesai dengan cepat sambil kebingungan mencari makna puisi singkat itu. Seperti pada puisi Suwung dan Pisau. Keduanya memang memiliki kemiripan. Sama-sama singkat, dan sama-sama membuat buyar penafsiran pembaca melalui keringkasan puisinya tersebut.

Selain keringkasannya, banyaknya puisi Aan yang menginput kosakata kopi pun merupakan suatu kemiripan yang tidak dapat diabaikan. Sebagai seorang barista yang bekerja di kedai kopi, tentu saja Aan memiliki kedekatan personal dengan kopi yang ia temui setiap hari. Sehingga tidak hanya menuangkan kopi pada sebuah cangkir di kedai kopi tempatnya bekerja, Aan pun kerap kali menuangkan kopi di setiap puisi-puisinya. Terlihat pada puisi Pukul 4 Pagi dan Akhirnya Kau Hilang dalam Tidak Ada New York Hari Ini. Sedangkan Jokpin memang penggila kopi yang juga menulis antologi puisi Surat Kopi dan banyak diantara puisinya yang menandai kecintaannya kepada kopi. Kebetulan atau tidak, kedua penyair ini memang memiliki hubungan yang tidak biasa dengan kopi dan mengekspos skandalnya dengan kopi melalui puisi-puisinya.

Pada akhirnya, garis waktu dalam kepenyairan Indonesia melahirkan penyair-penyair yang mewakili gaya kepenyairan pada masa dan angkatannya masing-masing. Krisis kepenyairan seperti yang dikatakan Ribut pada akhirnya memang sebuah fase yang harus dilewati dunia kepenyairan Indonesia sebelum ia terlahir kembali dan mereinkarnasikan diri dengan bentuk yang baru. Seperti itu pulalah kecenderungan puisi Aan Mansyur yang merupakan reinkarnasi diri dari bentuk-bentuk puisi Afrizal Malna, Sapardi Djoko Damono, dan Joko Pinurbo. Ketidakajegan peleburan bentuk puisi antara Afrizal, Sapardi, dan Jokpin dalam gaya kepenyairan Aan, menjadikan sebuah ciri khas yang melekat pada kepenyairan Aan.

Awalnya, saya meyakini bahwa Aan merupakan campuran Afrizal, Sapardi, dan Jokpin. Namun, bagaimana bisa kita mengetahui bahwa Aan merupakan cuplikan dari Afrizal, Sapardi, dan Jokpin hanya karena Aan lebih muda ketimbang ketiganya? Bagaimana kita menghakimi bahwa Aan meleburkan semua sumber-sumber wacana kepenyairannya dalam gaya kepenyairannya sendiri hanya karena ketiganya hidup dan menerbitkan buku jauh sebelum Aan? Maka, saya meyakini bahwa bukan Aan yang mengambil personalitas Afrizal, Sapardi, dan Jokpin melainkan Afrizal, Sapardi, dan Jokpin yang merupakan pecahan-pecahan personal Aan yang terpisah dan lahir jauh sebelum Aan.












0 komentar: