Oleh Marco (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu) “ Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-uyun pul...

Realitas Sosial pada Novel Bukan Pasarmalam

Oleh Marco



(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)


Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-uyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasarmalam. Seorang-seorang mereka datang.. dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas menunggu saat nyawanya entah ke mana”
-Pramoedya Ananta Toer

Cerita pada novel ini dimulai ketika tokoh Aku mendapat surat dari pamannya yang menginformasikan bahwa sang ayah yang tinggal di Blora kini sedang mengalami sakit TBC. Mendengar kabar tersebut, tokoh Aku merasa bersalah karena sebelumnya telah mengirim surat kepada ayahnya dengan lancang. Tokoh Aku pun langsung mencari hutang ke teman-temannya untuk keperluan keberangkatan. Tokoh Aku tinggal di Jakarta bersama sang istri, setelah mendapat hutangan mereka pergi menuju Blora menaiki kereta api.

Tokoh Aku adalah seorang tentara. Sepanjang perjalanan, tokoh aku tak henti-hentinya mengenang tiap-tiap tempat yang dia lewati. Kebanyakan kenangan tersebut adalah kenangan yang buruk. Kenangan tentang pertempuran melawan Belanda yang penuh dengan tumpah darah manusia mendominasi pikirannya. Kadang ingatan tentang ayahnya sesekali muncul. Lalu percakapan bersama istrinya melengkapi suasana perjalanan.

Akhirnya tokoh aku dan istrinya sampai di Blora. Mereka sampai di rumah yang telah bertahun-tahun ditinggal oleh tokoh Aku. Kedatangan mereka disambut oleh adik-adiknya, kecuali adiknya yang ketiga, karena dia sedang sakit. Surat yang lancang tersebut ternyata berisi tentang kecaman tokoh Aku kepada ayahnya karena membiarkan adiknya sakit. Sedangkan sang ayah hanya menjawab surat itu  dengan nada berpasrah sebab menurutnya hal tersebut di luar kuasa dia sebagai manusia yang memiliki kehendak terbatas.

Keesokan harinya tokoh Aku bersama istri dan adiknya pergi menuju rumah sakit. Ayahnya terbaring di kamar nomor tiga belas. Melihat kedatangan tokoh Aku, ayahnya langsung mengelurakan air mata, ia menangis. Percakapan antara ayah dan anak yang sudah lama tak bertemu akhirnya terjalin. Ketika hari sudah mulai sore, ayah mengisyaratkan tokoh Aku, adiknya dan istrinya untuk kembali. Tokoh Aku, istri, dan adiknya pun pamit untuk pulang, namun adik ketujuh atau adik paling terakhir milik Tokoh Aku tidak berpamitan, tokoh Aku pun segera menyuruhnya untuk berpamitan kepada ayah dan setelah itu dia menangis sejak keluar dari kamar nomor tiga belas sampai rumah.

Sejak kedatangannya di rumah, tokoh Aku bertemu dengan orang-orang yang kenal dengan bapaknya seperti pamannya dan seorang tetangga yang memilii profesi sebagai tukang potong kambing.  Pamannya datang bersama bibi ke rumah, mereka bercakap-cakap dan mengusulkan untuk meminta petolongan pada dukun, tokoh aku menyetujui, baginya yang paling penting adalah ayah harus sembuh. Tetangga yang berprofesi sebagai tukang potong kambing ia temui di kebun, dekat pagar rumahnya, mereka bercakap-cakap. Tetangga tersebut mengusulkan agar tokoh Aku memperbaiki rumah yang sudah tua itu. Usul tersebut diterima dengan berat oleh tokoh Aku mengingat keuangannya yang masih belum aman, namun setelah usul tersebut disampaikan ke ayahnya dengan respon yang positif, tokoh Aku menjadi tidak ragu untuk memperbaiki rumahnya.

Tokoh Aku dan pamannya sesuai dengan kesepakatan beberapa hari yang lalu akhirnya pergi ke tempat dukun. Di luar dugaan ternyata dukun tersebut adalah seorang guru yang merasa berhutang budi dengan ayahnya, berkat ayah tokoh Aku pula sang dukun terinspirasi untuk menjadi guru. Dukun itu memberikan sebuah dupa  yang harus dicelupkan di air minum ayahnya, namun dukun itu tidak bisa menjanjikan kesembuhan bagi ayah tokoh Aku.

Tokoh Aku, istri, dan adiknya kembali menjenguk ayah. Sang istri mengingatkan pada tokoh Aku agar mereka cepat kembali ke Jakarta mempertimbangkan masalah keuangan. Tokoh Aku menyetujui dan meminta izin kepada Ayahnya untuk pergi namun sang Ayah menolak, ia meminta tokoh Akuuntuk tinggal di Blora seminggu lagi. Tokoh Aku merasa bersalah telah mengatakan hal tersebut. Keesokan harinya sang ayah meminta permohonan yang aneh-aneh namuntokoh Aku, istri, dan adiknya tak bisa melakukan apa-apa dan memilih untuk menuruti Ayahnya termasuk permintaan untuk membelikannya Es.

Ketika sampai di rumah, adik keempatnya menceritakan tentang perjuangan ayahnya yang dipenjarakan ke sana-sini dan juga ditahan oleh pasukan Belanda. Perginya ayah membuat adik-adiknya  berjualan untuk mencukupi keuangan keluarga, namun  kegiatan tersebut terpaksa harus berhenti karena mmasyarakat sulit untuk mendapat uang.

Beberapa hari kemudian, istrinya kembali ke Jakarta karena pertimbangan keuangan, tokoh Aku tetap di sana untuk mengurusi kepulangan Ayahnya karena tidak betah berada di rumah sakit yang perlakuannya tak ramah dan hanya memikirkan uang. Tak lama setelah berada di rumah, sang Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.

Seketika kabar itu menyebar, seketika itu pula orang-orang ramai berdatangan, mereka menceritakan bahwa Ayah tokoh Aku adalah orang yang hebat, sekiranya dulu dia mau untuk menjadi pejabat di kota pasti dirinya sudah menjadi orang besar yang memiliki fasilitas mewah. Tetapi, sang Ayah memang tidak ingin menjadi seperti itu, sang ayah hanya ingin menjadi nasionalis, walaupun dia anak seorang ulama, dia hanya ingin menjadi seorang nasionalis yang berjiwa patriot. Dia tidak ingin menjadi pejabat atau perwakilan rakyat yang baginya hanyalah sekumpulan panggung sandiwara yang dipenuhi oleh para badut.

Setelah prosesi pemakaman, rumah kembali seperti semula. Tokoh Aku teringat percakapan orang tionghoa yang menghendaki dunia seperti pasarmalam, hidup bersama-sama mati bersama-sama namun, dunia tidak seperti itu, Lalu seorang pejuang yang pernah bekerja sama dengan Ayahnya datang ke rumahnya untuk memberikan pesan, sering-seringlah menyekar ke makam ayahnya.  

***

Ada masalah utama yang saya sorot ketika membaca novel ini: realitas sosial. Sebelum berlanjut, mari kita satukan pandangan kita tentang apa itu realitas sosial. Realitas sosial  yang saya maksud di sini adalah kenyataan tentang keadaan sosial masa itu. Mengambil sudut pandang orang pertama, pengungkapan kedua masalah ini muncul melalui tiga cara yakni: kritik langsung dari tokoh utama, narasi (suara batin tokoh utama), dan percakapan antar tokoh (tokoh utama dengan tokoh pendukung).

Hampir setiap babak menunjukan realitas sosial pada masa itu. Di babak pertama, Pram menunjukan sebuah realitas sosial pada masa itu lewat sebuah kritik. Pram memprotesnya kehidupan presiden dan para menteri yang menurutnya serba praktis (memiliki fasilitas yang menunjang kehidupan), tidak seperti tokoh Aku yang hanya rakyat biasa, hanya untuk pergi ke luar kota saja harus mencari hutang keliling Jakarta.

“Presiden memang orang praktis – tidak seperti yang memperjuangkan hidupnya di pinggir jalan berhari-harian. Kalau engkau bukan presiden, dan juga bukan menteri, dan engkau ingin tambahan listrik tiga puluh watt, engkau harus berani menyogok dua atau tiga ratus rupiah” (hlm. 9).

               
Membaca teks tersebut kita sebagai pembaca bisa mengetahui bahwa budaya “suap-menyuap” dikalangan birokrat negara ini telah berlangsung sejak lama. Ironisnya, budaya yang sangat merugikan masyarakat kini masih terjadi sampai sekarang, walaupun berbagai cara penanggulangannya dibuat untuk menguranginya. Keinginan para birokrat untuk hidup kaya padahal gaji pas-pasan  membuat mereka sering mengambil jalan pintas untuk mendapat tambahan dengan cara melakukan pungli (pungutan liar) atau menerima sogokan.

Penggambaran realitas sosial lewat narasi salah satunya tecermin ketika tokoh Aku sedang melewati Lemah Abang. Tokoh Aku yang berposisi seorang tentara mengenang kejadian yang pernah dialaminya di sana. Dia mengingat perjuangannya saat Belanda menghujani pertahanan rakyat Indonesia dengan howitser (sejenis meriam). Banyak korban berjatuhan, dan banyak darah yang tumpah.
           
“Dan di kala aku bertiarap di bawah pohon besr itu kulihat sebuah – dua buah, tiga, empat, lima – peluru meriam jatuh meledak di sekitar bondongan  manusia yang melarikan diri. Darah. Kurban. Bangkai. Dan ingatanku melalui darah, kurban, bangkai, ke surat, ke paman, dan kepada ayah” (hlm. 15).

Penggambaran realitas sosial juga tercermin pada percakapan antar tokoh. Saat tokoh Aku dengan adiknya. Sang Adik bercerita bahwa Ayahnya pernah ditawari menjadi anggota perwakilan daerah, namun dia menolak. Padahal menurut tokoh Aku, apabila sang ayah menerima pekerjaan tersebut, sang ayah bisa memperbaiki kehidupan masyarakat namun karena sang ayah menolak karena menurutnya ‘perwakilan rakyat hanyalah panggung sandiwara’.

“Ya mas, ayah sendiri pernah mendapat tawaran jadi anggota perwakilan daerah. Dan ayah menolak angkatan itu’, ‘menolak? Bukankah itu suatu kesempatan baik untuk memperbaiki keadaan masyarakat?’ aku bertanya. ‘Aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang begini, perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut – sekalipun badut besar  (hlm. 65).

Percakapan di atas sekali lagi menunjukkan kritik Pram untuk penguasa yang hanya memikirkan dirinya sendiri atau kepentingan golongan. Percakapan ini juga menunjukkan jati diri Pram sebagai seorang nasionalis yang tidak kenal kompromi dengan segala hal yang menyengsarakan rakyat. Kembali membicarakan ironi, sampai saat ini belum ada perubahan yang signifikan terkit dengan perwakilan rakyat. Kata ‘badut’ yang merepresentasikan pejabat semakin menguat saat ini. Keadaan perpolitikkan sekarang seperti panggung komedi, orangnya pun lucu-lucu. Setidaknya, masyarakat yang sengsara bisa sedikit terhibur oleh kebodohan pejabatnya(?)
***
Waktu terus berlalu, segala yang telah terlewat adalah hiasan pada wajah kehidupan. Sebagaimana rupa yang pernah terluka, pengalaman seharusnya bisa menjadi palang agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama. Membaca karya sastra memberikan kesempatan mengambil duri yang tertancap di masa lalu, untuk mengubahnya menjadi sebuah berlian yang indah di masa depan. Menjadi anak manusia memang dilematis, manusia berpasrah pada nasib karena kuasanya yang terbatas. Manusia juga dituntut memiliki keyakinan untuk mengubah apa yang bisa dia lakukan. Manusia memang rumit, tapi rasa kemanusiaan mudah untuk dipahami.

0 komentar: