Oleh Shanin (Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)   Belum lama ini, seorang jurnalis Tempo yang sekarang merangkap menjadi seoran...

Diskusi Buku Laut Bercerita

Oleh Shanin

(Ilustrasi oleh Kelana Wisnu)




 Belum lama ini, seorang jurnalis Tempo yang sekarang merangkap menjadi seorang penulis, mengadakan sebuah acara bedah buku yang berjudul “Laut Bercerita”. Leila S. Chudori namanya. Pada hari Selasa, 27 Februari 2018 bertempat di PSBJ (Pusat Studi Bahasa Jepang), Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Jatinangor, bedah buku tersebut dilaksanakan. Bedah buku ini dihadiri oleh beragam kalangan, beberapa di antaranya ialah Dosen, Mahasiswa, Alumni, dan pendiri perpustakaan di Jatinangor.


Laut Bercerita, menceritakan seorang tokoh bernama Laut yang merupakan aktivis mahasiswa yang hilang pada saat kerusuhan Mei tahun 1998. Leila mengatakan bahwa Biru Laut, adalah tokoh yang ia ciptakan bersama dengan jiwa yang ia tanamkan pada sang tokoh fiksi tersebut. Leila S. Chudori mengatakan bahwa, tokoh berasal dari tokoh itu sendiri dan sejarah dalam Laut Bercerita tidak diceritakan sesungguhnya, hanya fiksi dan penciptaan karakter belaka.
           
Mengapa terpikirkan untuk membuat karya berlandaskan history atau sejarah?

Terlihat dari rekam jejaknya, Leila adalah seorang wartawan, dan kebetulan ia dipercaya untuk bertanggung jawab atas edisi khusus Soeharto di majalah Tempo. Hal tersebut bisa jadi menggugah hati penulis untuk membuat karya ini, dengan dibekali oleh relasinya yang banyak. Memanfaatkan relasi tersebut, penulis pun mengumpulkan file-file atau arsip-arsip public figure, beserta kolom-kolom dari para pakar, disertai fakta-fakta yang didapatkan dari kesaksian orang yang mengalami keadaan tersebut, bahkan penulis pun merasakan bahwa kejadian tersebut melekat dalam sejarah hidupnya. Sehingga, ketika melakukan penulisan, bahannya sudah tertuju dengan baik. Walaupun buku ini bisa dikatakan berdasarkan historis, namun penulis menegaskan bahwa yang ia tulis tetap Novel fiksi, karena berdasarkan penggabungan informasi yang akhirnya justru menimbulkan asumsi baru pada tokoh yang tercipta. Hal tersebut tidak dapat dikatakan fakta.

Berdasarkan salah satu sumber, ia awalnya merasakan kegelisahan terhadap Indonesia, salah satunya permasalahan kemiskinan, seperti mirisnya masa tahun ajaran baru. Banyak orang tua yang menjual barang-barang apapun untuk membiayai sekolah anaknya, karena pada masa tersebut biaya sekolah sangat tinggi. Bahkan, menurut Aquarini Priyatna, Ph.D., salah satu dosen di Fakultas Ilmu Budaya, pada tahun 1998, banyak ibu rumah tangga yang kesulitan, terutama yang memiliki anak bayi atau balita. Harga susu menjulang sangat tinggi, sehingga yang menjadi sorotan ibu rumah tangga pada masa itu ialah kebutuhan pangan yang serba naik.

Selain hal-hal tersebut, Leila S. Chudori pun menemui para korban ataupun aktivis yang dulu terlibat dan masih hidup sampai saat ini, menemui keluarga mereka yang ditinggalkan tanpa kepastian atau yang memang terdapat makamnya. Pengumpulan data pada bagian ini yang paling disoroti oleh penulis, karena ia lebih memfokuskan diri pada keluarga, karena emosi yang ditinggalkan sangat berbekas. Kemudian, riset-riset tersebut digabungkan oleh penulis untuk menciptakan keseluruhan dalam karyanya.

Dalam keseluruhan pernyataan ini, Leila S. Chudori menuturkan secara langsung bahwa dalam Laut Bercerita, ia mengangkat isu-isu kecil dari sejarah. Ia tidak membahas masalah 1998 secara keseluruhan, tapi lebih menitikberatkan pada keadaan masyarakat dari sisi tertentu. Dibandingkan menguak sisi besar politik dari peristiwa tersebut, ia lebih memilih menguaknya dalam ranah yang lebih sempit. Seperti rasa kehilangan misalnya, yang dirasakan oleh keluarga Laut ketika salah satu anggota keluarganya–yaitu Laut sendiri–menjadi korban dalam kejadian besar sejarah tersebut.

0 komentar: