Penulis: Luke Andaresta Desain: Yohanes Junianto Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina  Sore yang gerimis, orang-orang berkerumun...

Bila Malam Bertambah Malam: Pembawaan Komedi yang “Dipesan” Sang Penulis

Penulis: Luke Andaresta
Desain: Yohanes Junianto
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina 


Sore yang gerimis, orang-orang berkerumun di depan Aula PSBJ Unpad menunggu pertunjukan dimulai pada Rabu, (27/03). Tampaknya hujan tidak mengurangi antusiasme penonton untuk menyaksikan pementasan perdana para Tunas Djati 16 (red: sebutan bagi anggota baru Teater Djati). Beberapa panitia mengenakan kain seolah mengingatkan kembali bahwa naskah yang akan dimainkan adalah salah satu sastrawan dari Bali, Putu Wijaya, yang berjudul “Bila Malam Bertambah Malam”. Suasana Bali mencoba dihadirkan oleh mereka.
Pertunjukan dibuka oleh para penari kecak, membuat suasana menjadi sakral seketika. Saya mulai berpikir bahwa pertunjukan akan dibawakan dengan sangat serius ketika melihat pembukaan seperti itu.
(Dari kiri) Tapirala, Riri A. Sudirman, Sri Wulandari tengah memanggungkan naskah "Bila Malam Bertambah Malam" karya Putu Wijaya di PSBJ Unpad pada Rabu, (27/03).

Diawali dengan munculnya Gusti Biang, wanita tua berumur sekitar 70 tahunan, memanggil-manggil Wayan di rumahnya. Wayan, yang umurnya tidak jauh seperti Gusti Biang, dari awal kemunculannya cukup mengundang tawa para penonton. Tokoh Wayan membuat anggapan saya bahwa drama ini akan dibawakan dengan suasana yang serius mulai pudar. Muncul seorang wanita cantik dengan karakter yang baik dan periang, ialah Nyoman. Dia datang membawakan obat dan makanan untuk Gusti Biang, tetapi kehadirannya ditolak dengan keras oleh Gusti Biang karena menganggap bahwa Nyoman akan meracuni dirinya. Sampai-sampai Nyoman diperlakukan kasar dan diusir oleh Gusti Biang. Di tengah pertengkaran mereka, datanglah sosok gadis bernama Sagung Rai. Perlahan diketahui bahwa Gusti Biang lebih menyukai Sagung Rai untuk dijodohkan dengan anaknya, Ngurah, dibandingkan dengan Nyoman karena  satu hal, perbedaan kasta. Nyoman hanya seorang sudra (kasta paling bawah dalam adat Bali dan agama Hindu) dan mereka bagian dari ksatria (kasta kedua).. Sampai konflik ini, saya geleng-geleng kepala sambil bergumam dalam hati, lagi-lagi persoalan kelas sosial. Tetapi Nyoman berkata pada Sagung Rai, bahwa sebelum Ngurah pergi ke Jawa, dia menitipkan ibunya pada Nyoman. Sontak membuat Sagung Rai cemburu mendengarnya. Ngurah, laki-laki yang ia cintai, lebih percaya pada Nyoman dibandingkan dirinya.
Aksi Gelanggang Kecak membuka lakon "Bila Malam Bertambah Malam" yang digelar di PSBJ Unpad pada Rabu, (27/03).

Satu hal yang membuat saya kadang mengernyitkan dahi ketika menonton adalah hadirnya guyonan di tengah dialog yang menurut saya cukup serius. Terkadang memang memasukkan komedi dalam sebuah dialog merupakan trik yang jitu agar menyegarkan perhatian penonton, tetapi jika perpindahannya terlalu kontras, agak aneh juga. Misalnya, ketika adegan Gusti Biang dan Wayan membacakan riwayat Nyoman selama tinggal di rumah tersebut dalam sebuah buku catatan. Padahal suasana yang dibangun dari awal adalah ketegangan pengusiran Nyoman oleh Gusti Biang dari rumah, tapi hal tersebut dijeda oleh guyonan Gusti Biang dan Wayan yang menurut saya tidak sebentar. Sampai-sampai saya melihat kekikukan Nyoman yang berdiri di sayap kiri panggung menunggu mereka berdua. Selipan komedi yang hadir di tengah dialog antarpemain juga terkadang terasa membosankan. Hal tersebut dikarenakan adanya pengulangan yang dilakukan oleh pemain. Misalnya, ketika Ngurah makan tiga buah pisang. Ketiga buah itu dia makan dengan pengantar komedi yang sama. Buah pertama membuat tawa penonton kencang, tapi kedua dan ketiga malah menjadi monoton.
Sebelumya, para Tunas Djati 16 sempat bertemu dan meminta restu langsung kepada Putu Wijaya untuk menggarap naskah tersebut. Alfin, sutradara pementasan ini, mengatakan bahwa pembawaan komedi dalam pertunjukan “Bila Malam Bertambah Malam” merupakan permintaan langsung dari sang penulis, Putu Wijaya. Menurut Alfin, permintaan Putu merupakan sebuah tantangan bagi dirinya selaku sutradara untuk mengemas sebuah naskah drama yang serius dengan pembawaan komedi.
Walau bagaimana pun, melalui lakon Bila Malam Bertambah Malam, saya tahu bagaimana angkuhnya sistem kasta yang ada pada masyarakat Bali. Sisa-sisa pemikiran feodalisme dapat saya jumpai pada tokoh Gusti Biang. Usaha-usaha untuk meruntuhkan nilai-nilai lama tersebut dilakukan oleh tokoh Ngurah dan Nyoman sebagai manusia yang menyadari kebebasannya. Seperti dalam penggalan dialog Ngurah, “Masalah derajat, kasta, dan kebangsawanan, semuanya omong kosong!”.

0 komentar:

Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nigina Auliarachmah & Ashilla Rifanny Ilustrator: Ayu Fitriyani Kalau kita berselancar di pe...

Jangan Bunuh Diri, Nanti Kamu Diberitakan Seperti Ini

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nigina Auliarachmah & Ashilla Rifanny
Ilustrator: Ayu Fitriyani

Kalau kita berselancar di peramban yang digadang-gadang sebagai tempat mencari informasi paling mudah di dunia dan akhirat yakni Google, kemudian mengetik frase “bunuh diri” di kolom pencarian, kita akan disuguhi berbagai hal, semisal: “apa itu bunuh diri”, “cara mengenali orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri”, dan yang paling banyak—tentu saja pemberitaan mengenai berbagai kasus bunuh diri. Nah, ini nih yang pengin saya bahas.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memberitakan kasus bunuh diri di media massa. Wajar-wajar saja jika media massa sebagai penyebar berita dan pesan kepada masyarakat luas—seperti definisinya dalam KBBI—memberitakan kasus bunuh diri yang tengah pun telah terjadi. Namun, pemberitaan yang dilakukan oleh berbagai media massa ini kerap kali membuat saya geram. Bagaimana tidak, media massa dengan entengnya melempar penghakiman mengenai alasan seseorang melakukan tindak bunuh diri seenteng melempar candaan di tongkrongan. Haduh!
Beberapa media massa memberitakan kasus bunuh diri dengan penyederhanaan yang tak masuk akal, yakni penyebab tunggal. Seakan-akan hanya karena satu masalah saja, seseorang dengan mudahnya memutuskan penyelesaian masalah tersebut dengan bunuh diri. Cara berpikir seseorang tak pernah sesederhana itu, ‘kan?
Biar mudah dan meyakinkan, mari kita lihat contoh pemberitaan kasus bunuh diri yang penuh penghakiman di beberapa media massa berikut ini:
1.   Pria Gunungkidul ini Tewas Gantung Diri, Diduga Karena Masalah Ekonomi (detik.com/14 Maret 2019)
2.    Hubungan Asmara Tak Direstui, Pria di Cilincing Gantung Diri (Tempo.co/13 Feberuari 2019)
3.  Mahasiswa Unpad Tewas Gantung Diri, Dipicu Cekcok dengan Pacarnya (Detik.com/10 Maret 2019)
4.    Diduga Stress Skripsi, Mahasiswa Unpad Gantung Diri di Indekos (Detik.com/24 Desember 2018)
Lihat, betapa menyebalkan pemberitaan yang dilakukan beberapa media massa mengenai penyebab seseorang melakukan tindak bunuh diri. padahal tidak ada seorang pun yang betul-betul mengetahui alasan seseorang bunuh diri—tentu, selain dirinya sendiri.
Pemberitaan kasus bunuh diri dengan penyebab tunggal ini diperparah oleh penyampaian cara atau metode bunuh diri yang dilakukan. Hal ini, tentu tidak pantas diberitakan karena pemberitaan secara mendetail memungkinkan orang lain melakukan tindakan serupa.
Selain itu, media massa kerap memberitakan suatu kasus bunuh diri berulang kali—dengan sudut pandang berbeda. Hal tersebut tentu bukan hal yang patut dibanggakan, mengingat kasus bunuh diri akan menyisakan trauma yang begitu mendalam—terlebih bagi orang-orang terkasih pun bagi orang-orang yang berusaha bertahan hidup sekuat tenaga. Itulah mengapa pemberitaan bunuh diri tak boleh dilakukan serampangan.
Pemberitaan bunuh diri yang bermasalah tentu akan menimbulkan masalah lainnya. Kemudian, bagaimana seharusnya kasus bunuh diri diberitakan telah dirangkum di situs http://reportingonsuicide.org/recommendations/#dodonts. Situs tersebut memuat hal-hal yang boleh dan  yang tidak boleh dilakukan dalam memberitakan suatu kasus bunuh diri.
Ah, ya. Terkadang kita terlalu fokus pada larangan atau hal yang mesti dihindari ketika kita hendak melakukan sesuatu. Sampai-sampai kita lupa hal yang tak kalah penting selain memberitahu larangan, yakni memberitahu sesuatu yang seharusnya ada. Dalam hal ini--pemberitaan bunuh diri--saya kira yang paling penting dan tentu saja harus ada ialah pemberian informasi semisal: bunuh diri merupakan tindakan yang merugi, juga pemberian informasi mengenai bantuan konseling yang dapat dihubungi bila tengah depresi.
Mari tetap hidup karena bunuh diri bukan pilihan. Ingat, kamu betul-betul berharga!

0 komentar:

Penulis: M. Dikdik R. Redaktur: Faris Al-Furqon Desain: Diana Dewi Darwin Dua aktor calon anggota Teater Djati sedang mencoba ...

Kilas Balik: Tunas-Tunas Djati yang Telah dan Akan Tumbuh Dua Hari Lagi

Penulis: M. Dikdik R.
Redaktur: Faris Al-Furqon
Desain: Diana Dewi Darwin

Dua aktor calon anggota Teater Djati sedang mencoba mematangkan sebuah adegan di aula PSBJ, Unpad (23/3).

Calon anggota Teater Djati gelombang 2018, akan mementaskan “Bila Malam Bertambah Malam” karya Putu Wijaya, pada Rabu (27/3/) di Gedung Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Unpad. Pementasan tersebut merupakan prosesi puncak dari rangkaian acara penerimaan calon anggota baru.

Sebelumnya, ada beberapa tahapan acara yang harus dijalani oleh calon anggota. Seperti pemberian materi keteateran, latihan rutin, terlibat dalam persiapan pementasan HUT Teater Djati ke-18 pada November tahun lalu, Teater Camp, bincang-bincang bersama beberapa alumnus, dan sekian tugas lainnya.

Masa penerimaan sendiri memakan waktu lebih dari 7 bulan. Dalam waktu itu proses seleksi bekerja. Calon anggota harus bersabar untuk resmi diterima sebagai anggota Djati. Ada yang akhirnya urung bergabung, tapi ada pula yang memilih bertahan.

Setelah pementasan di hari Rabu nanti selesai digelar, ketika malam benar-benar bertambah malam, saat itulah mereka sah menjadi Tunas-16, anggota baru keluarga besar Teater Djati.


Tangan-tangan yang digerakam sesuai arahan pengadeganan, menjadi suatu gerakan koreografis. PSBJ, Unpad (23/3).

Kilas Balik Bulan Maret: Menuju Sebuah Tradisi
Berdasarkan beberapa data dari arsip teater Djati yang berhasil dihimpun, kebiasaan untuk menggelar pementasan tunggal yang secara khusus dipersiapkan oleh calon anggota itu terhitung sejak Tunas-12, tepatnya pada masa penerimaan anggota baru gelombang 2014.

Kala itu, 2 Februari 2015, naskah “RT NOL RW NOL” karya Iwan Simatupang dipanggungkan. M. H. Dutama (18) bertindak sebagai sutradara. Menurut pemberitaan Tribun Jabar (4/3/15), pementasan itu sukses memukau hampir 600-an penonton. Para aktor memainkan perannya dengan apik.

Sutradara cerdik dalam melakukan perubahan nuansa dialog, serta penyusunan tangga dramatik. Naskah asli karya Iwan Simatupang berlatar tahun 1960-an, diubah menjadi tahun 1990-an. Gaya bahasa Iwan Simatupang yang terkesan kaku, dengan “kurang ajar” diobrak-abrik oleh Tama menjadi sangat cair. Keberanian yang dilakukan oleh sutradara tersebut menjadi kunci penting dalam keberhasilan pementasan waktu itu.

Sementara, bulan Maret yang kemudian seolah menjadi “musim tunas” bagi Djati, baru dimulai setahun berikutnya, pada tahun 2016. Setelah itu tiga tahun berturut-turut pementasan anggota baru diadakan di bulan ini.

Pada 2 Maret 2016, disutradarai oleh Bagus R. Setiadji, calon Tunas-13 mementaskan “Cinta Kembar” karya Manahan Hutauruk. Pementasan itu menyumbangkan karakter baru bagi perjalanan Teater Djati, karakter populer. Banyak adegan yang dibentuk dengan skema musikal yang baik. Bagus sangat memperhatikan pentingnya pertunjukan drama sebagai kerja kesenian yang rekreatif.

Majalah Pena Budaya (14/10/17) sempat menangkap gagasan Bagus tersebut, ketika mewawancarainya pada kesempatan lain. “Orang-orang tuh lagi butuh ketawa, capek serius terus. Teater itu juga adalah hiburan, bukan hanya soal pemikiran,” ujar Bagus.

Beberapa pemain sedang berlatiah. Mereka mencoba beradaptasi dengan ruang panggung PSBJ, Unpad (23/3)

Pada 17 Maret 2017, “Petang di Taman” karya Iwan Simatupang dipentaskan oleh calon Tunas-14. Gemawan Fitradi dipercaya menjadi sutradara. Mungkin, pementasan tersebut dapat dipandang sebagai keberhasilan Tunas-14 dalam mengawin-silangkan tekanan “utile” generasi Tama dan “dulce” generasi Bagus.

Gema dan  calon anggota Tunas-14 lainnya, kiranya cermat menangkap ketegangan dua tarikan itu, maka mereka pun tampil dengan pembawaan yang lebih berimbang. Misalnya, dalam pemilihan naskah. Meskipun naskah “Petang di Taman” memiliki ketebalan aspek absurditas seperti naskah “RT NOL RW NOL”, namun “Petang di Taman” tak lupa untuk lebih berguyon.

Bagi yang sempat menonton pementasan mereka, mungkin akan sulit melupakan sebuah adegan Maul yang berperan sebagai seorang tukang balon.  Dalam sebuah adegan, ia memegang balon yang beraneka warna dengan gestur khas ala Chaplin, kemudian ia sanggup memecahkan gelak ratusan penonton hanya dengan satu bisikan jenaka: “Ek-ngok!!!”.

Terakhir, 15 Maret 2018 lalu, calon Tunas-15 mementaskan “Laras” karya Dukut W. N. Sutradanya, Abimala Sagi alias Aton. Ia mampu menstimulus penggalian potensi-pontensi keaktoran dari banyak kawannya yang sama sekali belum pernah bermain teater.

Mari sedikit mengingat lagi bagaimana Gina Ainun yang memerankan Sumi. Gina orang Betawi asli yang harus berperan sebagai orang Jawa. Pementasan waktu itu adalah pengalaman pertama bagi dia. Tapi, tak sedikit yang memuji penampilannya.

Ia seperti tahu cara bagaimana menghidupan “ruh” sebuah adegan. Merancang dinamika emosi, intonasi dialog, permainan mimik, dan kecermatan penentuan motif perilaku dramatik. Potensi keaktoran itu mampu tergali dan diangkat di atas panggung, tanpa canggung.

Tentu ini bukan semata-mata hasil besutan tunggal dari sutradara. melainkan dari Gina sendiri. Ada kerja sama yang baik di antara mereka. Aton selaku sutradara kiranya cermat dalam penentuan karakter bagi aktor-aktornya. Di sisi lain, aktor dengan tanggap dan luwes segera menyesuaikan diri.
*

Beberapa calon anggota nampak menyaksikan para aktor yang sedang mencoba sebuah adegan. PSBJ, Unpad (23/3).

Tahun ini, pementasan calon anggota baru, Tunas-16, kembali digelar di bulan Maret. Jika terus seperti ini, nampaknya bukan tidak mungkin bulan Maret menjadi bagian tradisi penting bagi Teater Djati, seperti bulan November yang disepakati sebagai bulan diresmikannya Teater Djati. Bulan Maret akan menjadi bagian dari sejarah perkembangan Djati.

Tahun ini lebih istimewa lagi, karena Tunas-16 akan tumbuh bertepatan dengan Hari Teater Sedunia, 27 Maret. Hanya butuh dua jari lagi untuk menghitung hari pentas. Kira-kira, ada kejutan apa yang telah mereka persiapkan?

Mengintip Panggung PSBJ di Sabtu Malam

Seorang aktor memakai kostum yang akan digunakan saat pementasan. PSBJ, Unpad (23/3).

Sabtu malam (23/3), calon Tunas-16, mulai masuk PSBJ. Penyusunan artistik nampaknya langsung disegerakan. Pengadeganan terus coba dimatangkan. Yang juga menarik, sayup-sayup terdengar dari tim penata musik, sebuah lagu yang terus dilatih berulang-ulang, seolah sedang mengorek ingatan akan sejarah pembantaian di pasir Dewata.

Naskah “Bila Malam Bertambah Malam” memang berlatar Bali. Dari awal nuansa itu diperlihatkan lewat poster pementasan yang telah beredar. Topeng Barong, dipilih sebagai tampilan utama.

Mengintip sebuah adegan; ada yang berlangsung dengan pembawaannya yang tragis malam itu. Seorang perempuan, mencuri perhatian siapa saja yang berada di ruang PSBJ. Ia menangis, karena sebuah sebab. Ia menangis dengan begitu natural dan menyayat. Siapakah ia? Mengapa ia menangis dengan jeritan yang begitu pekak? Kesedihan dan kemarahan macam apa yang dirasakannya?

Beralih ke aktor lain. Seseorang berdialog dengan logat Bali. Tapi sayang, malam itu masih terdengar belum cukup stabil. Logat terdengar kuat pada adegan tertentu, tapi hilang dalam adegan yang lain. Mampukah ia menjaga konsentrasi, menjaga dialog yang stabil di hari pementasan nanti? Di depan ratusan mata dan telinga penonton? Pada ketegangan yang mungkin tak terduga?

Berhasilkah “ruh” budaya Bali “ditubuhkan” pada pementasan tersebut? Bagaimana mereka mengolahnya? Ada banyak yang tampak belum selesai. Ada masalah yang terus dievaluasi. Yang terpenting, mereka terus mencoba menyelesaikannya.
*

Malam itu mereka habiskan hingga pagi buta. Mereka terus berupaya. Ya, kiranya, setiap pementasan selalu menegangkan dan pasti ada masalah. Ada banyak yang dipertaruhkan. Menjadi beban yang harus ditanggung? Mungkin saja. Bagaimana pun, sisa dua hari lagi. Semua yang dimulai menuntut untuk diselesaikan.  Jika bertanya, untuk apa semua ini dilakukan? Demi sebuah nama “Teater Djati”? Atau demi memuaskan penonton? Atau hanya untuk syarat masuk Djati? Barangkali, benar. Tapi mungkin yang juga penting, adalah demi menunaikan dan menghargai apa yang sedang dan sudah diperjuangkan bersama, oleh diri sendiri, pun kawan-kawan yang lain.





0 komentar:

Penulis: Nova Femi Berliana Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Pertama kali membaca judul novel ini membu...

Kambing dan Hujan: Menelisik Konflik dari Hati ke Hati

Penulis: Nova Femi Berliana
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa
Pertama kali membaca judul novel ini membuat saya begitu penasaran. Meskipun sebenarnya novel ini pernah direkomendasikan sebagai bahan tugas semester lalu, tetapi saya memilih novel lain dan memutuskan untuk melahap Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan sebagai hidangan liburan semester.

Novel karya Mahfud Ikhwan ini lumayan tebal, jadi saya membacanya dalam jangka waktu yang lumayan lama karena sangat menikmati proses membacanya—enggak deng bercanda, hehe. Alasan tepatnya karena saya orangnya cepat bosan kalau baca buku terlalu lama, haha. Lambat laun novel ini berhasil saya selesaikan dan membuat saya ingin mengulas novel yang menarik ini. Meskipun banyak ketakutan dan keraguan akan hasilnya. Beruntungnya, seseorang berhasil meyakinkan saya untuk berani memulai dan percaya tidak ada yang mustahil di dunia ini. Oke saya mulai…

Novel ini diawali dengan pertemuan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara; yang satu merajuk dan yang satu berusaha membujuk. Di awal cerita, novel ini memang terlihat seperti sebuah kisah percintaan pada umumnya, namun di luar dugaan, novel ini menceritakan hal yang lebih besar dari sekadar soal cinta anak remaja.

Miftahul Abrar yang akrab dipanggil Mif, seorang pemuda yang berasal dari Centong Utara, bertemu dengan Nurul Fauzia atau sering disapa Fauzia, gadis yang berasal dari Centong Selatan di dalam sebuah bus kota menuju Surabaya. Mereka saling berbincang dan bertukar alamat surel. Hingga akhirnya mereka semakin dekat dan surel jadi cara mereka berkomunikasi sekaligus melipat jarak keduanya semakin dekat. Singkat cerita, di antara Mif dan Fauzia ada rasa yang tumbuh di hati masing-masing yang mengantar keduanya menjalin kasih. Beberapa surel dan pertemuan kemudian, hubungan mereka sampai pada titik keseriusan dan keduanya sama-sama berniat untuk menikah. Keinginan ini yang membuat Mif dan Fauzia harus melewati rintangan untuk bisa menyatukan perbedaan latar belakang keluarga mereka demi mendapatkan restu sebagai kunci utamanya.

Pak Kandar dan Pak Fauzan yang tak lain adalah ayah dari Mif dan Fauzia menjadi rintangan paling terjal untuk perjalanan cinta mereka. Bagaimana tidak, kedua keluarga ini memeluk agama yang sama namun perbedaan pemahamanlah yang menjadi masalahnya. Fauzia sebagai anak dari Pak Fauzan, tokoh penting orang selatan yang menjadi basis NU dan Mif anak dari Pak Kandar yang menjadi tokoh pembaharu wilayah Centong Utara sebagai pemimpin Muhammadiyah, menjadi tantangan besar untuk Mif dan Fauzia.

Lewat Mif dan Fauzia, Mahfud membeberkan bagaimana kehidupan Centong yang punya dua kubu berbeda antara Utara dan Selatan. Is dan Moek menjadi tokoh utama yang terlibat dalam persoalan Muhammadiyah dan NU lewat kehidupan sosio-kultur masyarakat desa di Centong. Is dan Moek adalah ayah dari Mif dan Fauzia panggilan mereka saat masa remaja, dua sahabat kecil ini hampir mengerjakan semua kegiatan sehari-harinya bersama; sekolah, mengaji dan mengembala kambing, juga banyak bercerita soal masa depan mereka berdua. Hingga saat beranjak dewasa, mereka berubah menjadi dua orang yang harus menghadapi konflik rumit yang memecah hubungan persahahabatan mereka sekaligus umat di Centong. 

Mahfud begitu dalam mengisahkan kehidupan Centong lewat dongeng seorang ayah terhadap anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. Dongeng hangat seorang ayah ini menjadi cerita bersambung pada anak gadisnya sampai pada penemuan Fauzia tentang teka-teki masa lalu ayahnya yang membuatnya bertekad: cintanya harus berakhir di pelaminan  bersama Mif. Persoalan religiusitas antara Muhammadiyah dan NU ini diceritakan begitu apik dan bergejolak juga ditulis dengan kehati-hatian penulis untuk tidak terkesan memihak salah satunya.

Singkatnya, novel Kambing dan Hujan adalah sebuah kisah yang memberi harapan besar bagi pembacanya. Persahabatan Is dan Moek yang menjadi daya tarik tersendiri membuat keduanya terlihat lebih romantis dari cinta Mif dan Fauzia. Terlebih konflik terakhir menuju ending membuat saya jantungan sekaligus kesal dan ingin ikut terlibat di dalamnya. Pada akhirnya kekesalan luruh karena semua kekusutan relasi antartokoh selesai oleh satu kata: cinta. 

Huh, Kambing dan Hujan memang benar-benar membuat saya kenyang.

0 komentar:

Penulis: Ahmad Maula Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa Pekan lalu, tepatnya pada tanggal 15-17 d...

Mengingat Gelanggang Berkeringat

Penulis: Ahmad Maula
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa

Pekan lalu, tepatnya pada tanggal 15-17 dan 21 Maret 2019, mahasiswa Sastra Indonesia dibanjiri keringat. Keringat yang melanda para mahasiswa tersebut bukanlah sembarang keringat, melainkan keringat sportifitas akibat acara “Gelanggang Berkeringat”. Gelanggang Berkeringat merupakan rangkaian pertandingan olahraga yang diadakan oleh Departemen Minat dan Bakat Gelanggang (Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad) di setiap tahunnya.
            Gelanggang Berkeringat tahun ini kembali menyediakan beberapa cabang olahraga, seperti futsal, basket, dan badminton. Dalam acara ini juga terdapat lomba memasak nasi goreng. Seperti halnya sebuah acara, Gelanggang Berkeringat juga dibuka dengan salam, kemudian dilanjut dengan sambutan dari Ketua Pelaksana Gelanggang Berkeringat, Jenny Nabila,  dan tentu saja dari Kepala Departemen Minat dan Bakat, Ridho Saputra. Gelanggang berkeringat kali ini dimeriahkan oleh mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2018 sampai angkatan 2015.

Naufan (2015) tengah berusaha melewati Fikri (2018) pada pertandingan final futsal putra yang berlangsung di Balai Santika pada Jumat, (15/03).
Hari pertama Gelanggang Berkeringat dilaksanakan pada Kamis tanggal 15 Maret 2019, yaitu pertandingan futsal yang diadakan di lapangan futsal Gedung Bale Santika. Pertandingan diawali dengan tim putra mahasiswa angkatan 2016 melawan angkatan 2018. Pertandingan pertama pun dimenangkan oleh angkatan 2018, yang kemudian berhasil melaju ke babak final melawan angkatan 2015 dan akhirnya menjadi juara di pertandingan futsal putra dengan perolehan skor 8-2. Sementara itu, pertandingan final futsal putri dimenangkan oleh angkatan 2016 dengan skor akhir 7-3. Sepanjang pertandingan, keringat perjuangan masam yang berbuah manis, pun keringat masam yang seterusnya tetap masam, bercampur aduk dengan sorak-sorai penonton yang berjuang di garis belakang pertempuran.
            Keesokan harinya, di Lapangan Sastra (Lapsas), yaitu tempat diadakannya pertandingan basket, tim putra angkatan 2018 lagi-lagi menduduki tahta sang juara pertandingan dengan mengalahkan angkatan 2015 di partai puncak. Tim putri angkatan 2016 pun demikian, berhasil menjadi ratu pertandingan setelah bertempur melawan angkatan 2017 dengan skor 12-4 pada pertandingan final. Sebelumnya, pertandingan basket sempat tertunda beberapa kali karena kondisi cuaca yang tidak mendukung, sebut saja hujan.
            Di hari ketiga, Minggu tanggal 17 Maret, berlangsung pertandingan Badminton di Gor Lippo, Caringin. Untuk kategori ganda putra berhasil dimenangkan oleh angkatan 2016 dengan perolehan skor 20-18 di babak ketiga melawan angkatan 2017. Kategori ganda putri juga dimenangkan oleh angkatan 2016. Sedangkan untuk kategori ganda campuran, angkatan 2017 berhasil mengalahkan angkatan 2016. Pertandingan badminton kali ini, angkatan 2015 tidak ikut andil dalam meramaikan pertandingan.
Para peserta memasak nasi goreng di hari terakhir Gelanggang Berkeringat di Blue Stage pada Kamis (21/3).
Hari terakhir Gelanggang Berkeringat 2019, yaitu pada Kamis tanggal 21 Maret, merupakan saat perlombaan nasi goreng berlangsung. Angkatan 2015 kembali tidak mengirimkan tim pejuang untuk berpartisipasi dalam lomba. Di perlombaan nasi goreng ini lebih banyak makanan juga minuman, agak sedikit mendekati party. Semua kenyang, semua bahagia. Hasil pertandingan menyatakan angkatan 2016 sebagai juara satu lomba nasi goreng, disusul oleh angkatan 2018 dan angkatan 2017. Di hari terakhir Gelanggang Berkeringat kali ini pun diumumkan juara umum dari keempat pertandingan yang telah diselenggarakan, dan angkatan 2016 lah yang menjadi juaranya. Selamat! uwuwuwuwu.
(Dari kiri) Ridho (2016), Elda (2016), Bastian (2016), Jenny (2017), dan Lagam (2015) memamerkan hadiah lomba yang diberikan pada hari terakhir Gelanggang Berkeringat di Blue Stage, Kamis (21/03).
Ketua Pelaksana Gelanggang Berkeringat 2019, Jenny, mengungkapkan bahwa tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk meningkatkan taraf kebahagiaan orang-orang, terutama mahasiswa se-Sastra Indonesia Unpad. Selain itu, juga guna melakukan upaya seleksi untuk pertandingan-pertandingan ke depannya. Ridho, selaku suhu Departemen Minat dan Bakat Gelanggang, dalam sambutannya di pembuka acara berharap kegiatan ini dapat menjalin solidaritas antar-angkatan Sastra Indonesia.
            Meskipun setiap alur rangkaian dalam Gelanggang Berkeringat ini tidak terlalu sesuai dengan Segitiga Freytag, dan tentu saja tidak perlu demikian karena ini bukanlah sebuah cerita film maupun drama, namun pengalaman dan memori yang terlahir di dalamnya menjadi sesuatu yang bisa diceritakan dalam obrolan santai kala nongkrong atau sejenisnya. Semoga Gelanggang Berkeringat ke depannya lebih ramai dan tidak lupa juga dengan keringatnya. Sampai jumpa tahun depan!

0 komentar:

Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa Aflaz Maosul Kamillah (2017) meng...

Aflaz, Sarang Lebah, dan Nyala Literasi di Bungbulang

Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa
Aflaz Maosul Kamillah (2017) mengajak saya dan beberapa teman pergi ke kantor pos pada Senin (18/4). Bukan untuk mengirimkan surat, atau barang jualan online shop. Aflaz meminta bantuan kami untuk mengirimkan satu kuintal buku ke salah satu taman baca di Desa Mekarjaya, Bungbulang, Garut. Taman Baca Masyarakat Sarang Lebah namanya. TBM Sarang Lebah ini didirikan beberapa pegiat literasi di Bungbulang, dan Aflaz merupakan salah satunya. Aflaz mengaku melakukan hal tersebut untuk membantu memajukan tanah kelahirannya, tanah yang menjadi tempatnya tumbuh dan berkembang hingga dapat berkuliah di Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran.



Akan sangat disayangkan jika kontribusi yang Aflaz lakukan ini terlewatkan oleh mahasiswa-mahasiswa, khususnya mahasiswa Unpad. Oleh karena itu, saya berusaha untuk mengupas latar belakang Aflaz melakukan hal ini.

Kemarin Aflaz mengirimkan hampir lebih dari delapan dus buku ke Bungbulang, itu dalam rangka apa?
Sebenarnya  dalam rangka membangun TBM. TBM itu Taman Baca Masyarakat yang ada di Cisela, Desa Mekarjaya, Bungbulang, Garut. Itu tempat kelahiran saya. TBM ini sudah ada dari lama, tapi agak kurang lengkap koleksi bukunya. Nah, tugas saya di sini untuk mencari buku, dan alhamdulillah, kemarin dari Unpad menyumbangkan buku. Kemarin lebih kurang kita mengirim 325 judul buku, eksemplarnya lebih kurang ada 400 eksemplar. 

Apakah di Bungbulang memang kekurangan sumber bacaan?
Jangankan istilahnya buat buku, untuk kehidupan sehari-hari pun, ya kitalah pas-pasan lah. Daerahnya juga agak-agak di pelosok.

Memang kondisi di Bungbulang saat ini bagaimana, Flaz?
Sebenarnya, ya hampir sama seperti kampung-kampung pada umumnya yang sedang masa transisi. Bungbulang itu sendiri letaknya ada di Garut Selatan. Nah, Garut Selatan ini ada kemungkinan mekar dan berkembang, karena yang saya lihat di daerah sana memang sudah banyak pembangunan dan banyak juga lahan-lahan yang dibeli oleh swasta. Saya dengan TBM Sarang Lebah ini bermaksud pelan-pelan menyiapkan masyarakat daerah saya untuk masa perkembangan itu, agar orang-orang di daerah saya setidaknya memiliki kesadaran tentang apa yang mereka hadapi ke depannya dan Bungbulang siap dengan menghadapi perubahan.

Tadi Aflaz bilang mengirimkan 325 judul buku, itu ada jenis buku apa saja?
Jenisnya beragam. Umumnya  berupa majalah, atau misalnya cerita anak, ataupun misalnya di buku-buku agama juga ada. Beberapa buku jurnal juga ada. Ada buku juga pengetahuan-pengetahuan umum lain, banyak lah.

Bagaimana Aflaz mendapatkan buku-buku itu? Bisa diceritakan kronologinya?
Saya kenal dengan beberapa pengurus di Cisral (Center of Information Scientific Resource and Library) Unpad, ada Bu Sri, Bu Mul, dan Bu Yulianti. Ini sebenarnya kan ada ini ada tugas buat membuat perpustakaan kecil di asrama. Saya lihat di sana ada banyak sekali buku yang memang sudah digudangkan. Saya pikir kalau hanya untuk membuat perpustakaan di asrama saja buku ini terlalu banyak. Mengapa tidak disumbangkan ke TBM Sarang Lebah saja?
Setelah meminta izin ke pengurus Cisral kalau buku-buku itu akan disumbangkan ke pihak luar, saya akhirnya diperbolehkan untuk membawa buku-buku itu. 

Jadi TBM Sarang Lebah ini memang sudah ada dari awal ya?
Sebenarnya sudah ada sejak 2018. 

Apakah Aflaz terlibat dalam pembangunan TBM itu atau tidak?
Kalau pembangunan secara langsung tidak, tapi dulu saya punya perpustakaan sendiri juga, Perpustakaan Lorong Baca namanya. Karena saya kuliah di sini, perpustakaan jadi itu terbengkalai. Sebagian buku-bukunya saya sumbangkan. Pendiri TBM Sarang Lebah yang kebetulan juga kenalan saya kemudian mengajak saya bergabung. Saya yang sekarang tinggal di sini kemudian ditugaskan untuk menyuplai buku ke sana. Sebelum mendapatkan buku dari Cisral, saya sering mengirimkan buku saya sendiri. Saya juga mengirimkan buku-buku yang saya beli di bazaar buku, dan kalau terus seperti itu cukup berat buat saya. Jadi bisa dibilang lumayan beruntunglah dapat sumbangan buku dari Cisral.

Apa tanggapan masyarakat terhadap berdirinya TBM tersebut?
Kalau tanggapan, awal-awal pasti ada kendala. Maksudnya “Buat apa sih?”, terutama di masyarakat-masyarakat yang memang tidak mengerti. Namun kondisinya sekarang sudah ada perkembangan. Koleksi buku dan pengunjungnya juga sudah banyak. Malah tiap hari ada kegiatan. Jadi tanggapan masyarakat ya perlahan-lahan membaik.

Melihat dari kondisi sosial budaya masyarakat Bungbulang ini, menurut Aflaz buku-buku yang didonasikan  dari Cisral itu kontekstual tidak dengan keadaan Bungbulang?
Kalau berbicara konteks sosial budaya, sebenarnya agak jauh sih dengan buku yang didapat dari Cisral. Untuk saat ini setidaknya kita mampu mengatasi keterbatasan buku, itu dulu. Kalau sampai ke buku-buku yang benar-benar sesuai dengan konteks sosial dan budaya itu juga lumayan susah menurut saya. Sekarang juga yang dikirim itu banyaknya majalah, novel, dan novel pop juga ada. Maksud saya untuk tahap sekarang  tujuan jangka pendek saya adalah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu mungkin bisa kita mencari buku yang sesuai dengan konteks sosial budaya di sana dan yang terpenting menyadarkan mereka terhadap situasi yang akan mereka hadapi ke depan.

Menurut Aflaz sendiri, buku bacaan apa yang cocok untuk lingkungan masyarakat di sana?
Kalau novel pasti ya. Buku bacaan anak-anak juga menurut saya masih cocok. Buku-buku keagamaan juga cocok untuk masyarakat di sana yang cenderung agamis. Yang paling penting buku-buku yang dibutuhkan untuk menunjang keseharian mereka, seperti pertanian misalnya.

Sekarang, bagaimana rencana Aflaz selanjutnya untuk pengembangan TBM ini?
Saya tidak punya rencana yang khusus. Ke depannya saya akan tetap konsisten mengirim buku. Dari pihak Cisral juga kerja sama kami sudah terjalin dengan baik. Jika ada buku-buku yang digudangkan lagi saya siap untuk menampung dan mengirimnya. Sebenarnya tujuan jangka panjang saya adalah untuk mengirim buku ke tempat lain juga di pelosok yang kesulitan akses buku. Selain itu saya juga punya rencana untuk berlangganan koran di TBM namun masih terkendala biaya.

Ada pesan kepada para pembaca Jalang, Flaz?
Kalau saya berharap sih, teman-teman bisa bergabung dengan perjuangan kami. Setidaknya teman-teman bisa menyumbangkan buku kepada kami. Selain itu teman-teman bisa juga berdonasi ke kami yang memang sedang berusaha untuk berlangganan koran di TBM Sarang Lebah. Tetapi intinya dengan gerakan ini saya ingin menunjukkan bahwa di tempat lain ada orang-orang yang kesulitan akses akan pengetahuan, dan saya sangat berharap teman-teman bisa membantu mereka

Cukup, Flaz?
Cukup sih.

0 komentar:

Penulis: Robby Bouceu Redaktur: Limya Oktaviani Ilustrator: Nurul Ramdhiany Tak ada lembayung di kotamu sore ini, bungaku, tak a...

Potret Sesak Sepasang Penyair


Penulis: Robby Bouceu
Redaktur: Limya Oktaviani
Ilustrator: Nurul Ramdhiany

Tak ada lembayung di kotamu sore ini, bungaku, tak ada puisi
        Yang lahir dari rahim kupu-kupu. Adalah waktu, sekotak haru
Dan bulir-bulir letih itu yang tak henti mengisi tabung hatimu
      Lalu menjelma sesak yang tersesat, setelah berkali dinista malu
Di sudut sepi taman kotamu, yang tak tahu malu, membiarkan
      Boneka yang dipeluk bocah itu menatap rumahnya yang tinggal
Pintu terbaring  antara  puing-puing batu, di satu sudut kotamu

      Tak ada lembayung yang mekar sore ini, bungaku, tak ada puisi
Yang  lahir dari  rahim kupu-kupu. Mendung yang mengapung
      Pelan di tasik matamu adalah  mendung  yang  juga mengapung
Di tasik mataku. Angin berisik. Kau menggigil, sesaat menafsir
      Sesak yang tersesat itu, sebelum  lirih  berbisik: ‘Tak  ada  puisi
Di sini, Kasih, tak ada lagi!’ Aku terpaku, tak mampu menafsir
                  Bisikanmu, di depan puisi yang mengalir dari dua tubir matamu


Februari, 2019.


0 komentar:

Penulis: Shaninta H. Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa Selasa (19/03), Departemen Ideologi Gelan...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk: Mati karena Cinta

Penulis: Shaninta H.
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa

Selasa (19/03), Departemen Ideologi Gelanggang kembali mengadakan Dimanja (diskusi mahasiswa senja) di sekretariat Gelanggang. Kali ini pemantik diskusi adalah Tigin (2018). Sebelum memulai diskusi, pemantik menceritakan apa saja isi buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Buya Hamka, yang terbit pada tahun 1939. Tigin menghubungkan karya tersebut dengan mental issue yang baru-baru ini marak di lingkungan kampus. “Seperti kemarin baru ada yang terjadi bunuh diri itu ya,” ujar Tigin.

Tokoh utama dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Zainuddin, diceritakan meninggal karena depresi kehilangan Hayati, kasih tak sampainya. Zainuddin terlihat seperti tokoh yang sangat malang, selain karena gagalnya ia hidup bersama Hayati, ia juga mendapat banyak tekanan dari lingkungannya sejak dilahirkan. Ayahnya, yang berasal dari Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat, pernah membunuh pamannya sendiri perihal haknya yang tidak diberikan, sehingga ayahnya diusir dari Tanah Minang ke Sulawesi, Makassar, dan menikah dengan Ibunya yang bersuku asli Makassar. Di Sumatera, Zainuddin menjadi tak ada artinya, karena di sana ternyata menggunakan sistem Matrilineal, yaitu seseorang akan dianggap bangsawan ketika ibunya asli dari Sumatera dan terpandang. Begitupula sebaliknya, di Makassar ternyata menggunakan sistem Patrilineal. Jadi, di Sumatera ataupun Sulawesi, Zainuddin tidak pernah dihargai sebagai seseorang yang baik karena silsilah keluarganya. Ia juga sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya sejak kecil, sehingga kurang mendapatkan afeksi saat masa pertumbuhannya.

Rasa kesepian Zainuddin semakin menjadi-jadi, sampai akhirnya ia bertemu Hayati, anak orang terpandang di Tanah Datar. Tapi, karena adat yang mengikat, Zainuddin dipaksa untuk pergi dari kampung dan meninggalkan Hayati. Tekanan Zainuddin masih berlanjut, ketika Hayati menikah dengan Aziz, lalu ia justru bertemu Aziz dan Hayati di Jawa. Karena Aziz suka bermain judi, ia kehilangan tempat tinggal dan akhirnya tinggal di rumah Zainuddin. Betapa tertekannya Zainudin melihat Hayati tinggal di rumahnya bersama suaminya.

Pada akhirnya, Aziz justru meminta Zainuddin mendampingi Hayati, sebab Aziz hendak menceraikan wanita terpandang itu. Karena ego Zainuddin, ia meminta Hayati untuk pulang saja ke Sumatera.  Zainuddin sudah merasa sakit hati dan tidak ingin lagi bersama Hayati. Sampai akhirnya, Zainuddin mendapat kabar bahwa Hayati mengalami kecelakaan kapal, dan ia baru sadar bahwa cintanya benar-benar hanya kepada Hayati.

Lalu, siapa yang harus disalahkan?

Dalam diskusi, banyak pendapat yang berbeda-beda, ada yang merasa hal tersebut karena adat, agama, dan lain-lain. “Zainuddin itu sakit,” ujar Alfin (2018). Maksudnya, secara harfiah Zainuddin memang sudah sakit sejak lama, karena adanya tekanan-tekanan yang menimpa hidupnya, bukan sepenuhnya akibat kisahnya dengan Hayati.

Beberapa dari peserta diskusi beranggapan bahwa depresi, atau bahkan mengakhiri hidup karena cinta, itu hal sepele, tapi tak jarang pula yang menganggap bahwa setiap orang memiliki kekuatan mental berbeda-beda.

“Menurut orang sepele, karena dia belum merasakan itu.” – Kahfi (2018).
“Masalah cinta gak bisa dianggap sepele, temanku nemu kebahagiaan saat suka sama orang.” – Ema (2018).

Lalu, bagaimana cara mencegah hal-hal buruk itu terjadi pada orang-orang di sekitar kita?

Peserta diskusi setuju bahwa teman itu penting untuk menjadi tempat bercerita, seperti halnya Zainuddin yang mempunya Muluk, teman dekatnya. “Buat Alfin, mah, bukan teman yang penting kalo lagi galau. ‘Orang Tua’, ya, Fin?” ucap Jabal (2018) seraya bergurau. 

Selain hal-hal tersebut, membandingkan masalah juga memicu keinginan seseorang untuk mengakhiri hidup, sebab ia akan merasa lemah dan lebih rendah dari orang lain. Padahal, takaran kekuatan setiap orang itu berbeda-beda, contohnya saja dalam forum diskusi. Terdapat beberapa orang yang merasa sangat sakit ketika putus cinta, ada yang biasa saja menanggapinya, ada yang tidak peduli bila kehilangan teman, ada yang sangat sedih dan ketakutan, sampai tidak ingin berkegiatan, dan lain-lain. Ada pula yang terlihat biasa saja, namun dalam dirinya memiliki rasa ingin mengakhiri hidup.

Kita, sebagai mahasiswa FIB, nantinya akan membawa gelar Humaniora. Sudah seharusnya kita memiliki rasa toleransi yang tinggi, tidak boleh menghakimi, dan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi siapapun. Seperti pendapat Annisa (2016), “Jangan sampai kita menjadi manusia yang senang berkoar-koar tentang kemanusiaan, tapi kita gak jadi selayaknya manusia.”

0 komentar:

Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom Ilustrasi: Al Aniyah S uatu pagi sebelum berangkat kuliah, saya iseng membuka youtube untuk melihat...

Atta Halilintar dan Hal-hal yang Tidak Pernah Diungkapkan Tentangnya

Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom
Ilustrasi: Al Aniyah
Suatu pagi sebelum berangkat kuliah, saya iseng membuka youtube untuk melihat video-video dari TED sekaligus untuk menambah semangat pagi. Namun, alih-alih menekan tab subscription, kursor laptop malah mengarah ke tab trending. Kemudian muncullah barisan video viral di layar laptop saya. Ada satu video yang membuat saya tertarik, “Gen Halilintar – Ziggy Zagga (music video) | 11 kids + parents”, ya, video tersebut berada di puncak trending youtube.
Iseng-iseng saya klik video tersebut. Serius iseng doang. Selanjutnya yang terdengar adalah suara baling-baling helikopter, diikuti kamera yang mengambil gambar dari jauh perlahan-lahan mendekati sebelas orang anak-anak yang berdiri dan menunduk dengan khidmat di gunung bersalju. Saya mencoba memperbesar volume suara laptop saya, dan tiba-tiba, sebelas anak itu mengangkat kepala mereka sambil teriak “ZIIIGY ZAAAGA”. Saya kaget.
Dalam video tersebut ada seseorang yang tidak asing bagi saya. Seseorang berambut biru, menggunakan kacamata putih, dan membawa bom asap. Siapa lagi kalau bukan Atta Halilintar. Youtuber yang baru saja mencapai dua belas juta subscriber di youtube.
Dalam ingatan saya, Atta Halilintar ini selalu mendapatkan komentar-komentar negatif dari warganet. Salah satunya adalah saat Atta membuat video prank menjadi gelandangan.

“Jadi ini muka asli Atta Halilintar.”
“Oh gitu kalo lepas make up.
“Itu ceritanya ingus nya gosong? Atau kebanyakan ngirup aibon?”
Subscribe Balik Donk Atta Halilintar ^_^”

Ya, begitulah beberapa hujatan warganet dari berbagai platform media sosial. Sampai-sampai Atta mematikan kolom komentar di video tersebut karena banyaknya ujaran negatif yang diucapkan warganet.
Saya sendiri tidak habis pikir dengan orang-orang yang menghujat Atta Halilintar. Jujur saja, saya tidak mengerti apa untungnya bagi mereka menghujat entertainer yang terkenal dengan ungkapan “ashiap”nya ini. Apakah mereka merasa menjadi satu persen elit? Apakah mereka mendapatkan pengakuan dari lingkungannya? Apakah mereka mendapatkan uang suap dari yang membayar mereka? Apa yang mereka dapatkan selain kepuasan batin?
Memang tidak dapat dimungkiri, Atta Halilintar belum bisa menjadi rolemodel dan influencer yang baik-baik amat bagi kaum muda sekarang. Namun dalam pandangan saya, Atta Halilintar ini memiliki sikap dan perilaku positif yang dapat ditiru oleh remaja-remaja di Indonesia.
Sikap kerja keras, fokus dan konsisten adalah hal utama yang menjadi sorotan sekaligus mendapatkan apresiasi dari saya. Sejak awal membentuk channel youtube danbranding identitas dirinya, Atta sudah dihujani banyak cemooh dari orang-orang. Tapi Atta seolah tidak memedulikan hal itu dan terus fokus untuk melanjutkan kariernya.
Sejak kecil pun, Atta menjadi saksi betapa sulitnya keluarga Halilintar untuk hidup. Ia pun harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ia memegang teguh prinsipnya untuk tidak membebani kedua orangtuanya.
Kemampuan berbisnis inilah yang patut dicontoh oleh remaja-remaja sekarang. Berkat kemampuan berbisnisnya ini Atta Halilintar memiliki bisnis fashion yang menghasilkan omzet yang tidak kalah besar dari hasil adsense youtubenya. Atta Halilintar Habit namanya.Brand yang biasa dikenal dengan sebutan AHHA ini memproduksi kaos, jaket, kacamata, topi, hingga bandana.
Bahkan saat berumur 13 tahun, Atta sudah menghasilkan omzet lebih dari satu miliar. Penghasilan tersebut dihasilkan dari penjualan voucher, ponsel, hingga kaos. Sikap berani mencoba dan berani gagal adalah hal yang tidak mampu ditiru banyak orang.
Sejalan dengan kemampuan berbisnis, lelaki kelahiran 20 November 1994 ini juga memiliki kemampuan pemasaran yang baik. Personal Branding yang dilakukan Atta, yaitu membidik anak-anak dari kalangan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas karena Atta sepertinya sudah tahu bahwa pengguna media sosial di Indonesia kebanyakan adalah anak-anak berumur 13-19 tahun.
Sempat seorang teman berkata kepada saya bahwa dia sama sekali tidak memandang buruk terhadap Atta. “Aku pikir tidak ada yang salah dengan Atta, dia hebat. Cara dia menghasilkan uang tidak merugikan orang lain. Dia juga orang yang sayang keluarga. Tidak menyusahkan kedua orangtuanya, malah membuat mereka bangga.” Ujar Summa, dalam suatu seminar di Bandung.
Saya sedikit terkejut, ternyata ada seorang teman yang berpikiran positif juga terhadap Atta. Nah, sikap itulah yang seharusnya ditunjukkan oleh setiap orang. Selalu mencoba untuk mencari permata dalam kubangan lumpur. Jika yang ia lakukan salah, kritiklah tanpa perlu menghujat. Namun jika benar, apresiasilah dengan tulus. Mungkin jika hal seperti ini dilakukan—tidak hanya terhadap Atta, namun juga orang lain—kolom komentar akan lebih sejuk tanpa adanya ujaran kebencian.

Tidak terasa lagu Ziggy Zagga selesai saat saya menulis ini.

0 komentar: