Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa Aflaz Maosul Kamillah (2017) meng...

Aflaz, Sarang Lebah, dan Nyala Literasi di Bungbulang

Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa
Aflaz Maosul Kamillah (2017) mengajak saya dan beberapa teman pergi ke kantor pos pada Senin (18/4). Bukan untuk mengirimkan surat, atau barang jualan online shop. Aflaz meminta bantuan kami untuk mengirimkan satu kuintal buku ke salah satu taman baca di Desa Mekarjaya, Bungbulang, Garut. Taman Baca Masyarakat Sarang Lebah namanya. TBM Sarang Lebah ini didirikan beberapa pegiat literasi di Bungbulang, dan Aflaz merupakan salah satunya. Aflaz mengaku melakukan hal tersebut untuk membantu memajukan tanah kelahirannya, tanah yang menjadi tempatnya tumbuh dan berkembang hingga dapat berkuliah di Sastra Indonesia, Universitas Padjadjaran.



Akan sangat disayangkan jika kontribusi yang Aflaz lakukan ini terlewatkan oleh mahasiswa-mahasiswa, khususnya mahasiswa Unpad. Oleh karena itu, saya berusaha untuk mengupas latar belakang Aflaz melakukan hal ini.

Kemarin Aflaz mengirimkan hampir lebih dari delapan dus buku ke Bungbulang, itu dalam rangka apa?
Sebenarnya  dalam rangka membangun TBM. TBM itu Taman Baca Masyarakat yang ada di Cisela, Desa Mekarjaya, Bungbulang, Garut. Itu tempat kelahiran saya. TBM ini sudah ada dari lama, tapi agak kurang lengkap koleksi bukunya. Nah, tugas saya di sini untuk mencari buku, dan alhamdulillah, kemarin dari Unpad menyumbangkan buku. Kemarin lebih kurang kita mengirim 325 judul buku, eksemplarnya lebih kurang ada 400 eksemplar. 

Apakah di Bungbulang memang kekurangan sumber bacaan?
Jangankan istilahnya buat buku, untuk kehidupan sehari-hari pun, ya kitalah pas-pasan lah. Daerahnya juga agak-agak di pelosok.

Memang kondisi di Bungbulang saat ini bagaimana, Flaz?
Sebenarnya, ya hampir sama seperti kampung-kampung pada umumnya yang sedang masa transisi. Bungbulang itu sendiri letaknya ada di Garut Selatan. Nah, Garut Selatan ini ada kemungkinan mekar dan berkembang, karena yang saya lihat di daerah sana memang sudah banyak pembangunan dan banyak juga lahan-lahan yang dibeli oleh swasta. Saya dengan TBM Sarang Lebah ini bermaksud pelan-pelan menyiapkan masyarakat daerah saya untuk masa perkembangan itu, agar orang-orang di daerah saya setidaknya memiliki kesadaran tentang apa yang mereka hadapi ke depannya dan Bungbulang siap dengan menghadapi perubahan.

Tadi Aflaz bilang mengirimkan 325 judul buku, itu ada jenis buku apa saja?
Jenisnya beragam. Umumnya  berupa majalah, atau misalnya cerita anak, ataupun misalnya di buku-buku agama juga ada. Beberapa buku jurnal juga ada. Ada buku juga pengetahuan-pengetahuan umum lain, banyak lah.

Bagaimana Aflaz mendapatkan buku-buku itu? Bisa diceritakan kronologinya?
Saya kenal dengan beberapa pengurus di Cisral (Center of Information Scientific Resource and Library) Unpad, ada Bu Sri, Bu Mul, dan Bu Yulianti. Ini sebenarnya kan ada ini ada tugas buat membuat perpustakaan kecil di asrama. Saya lihat di sana ada banyak sekali buku yang memang sudah digudangkan. Saya pikir kalau hanya untuk membuat perpustakaan di asrama saja buku ini terlalu banyak. Mengapa tidak disumbangkan ke TBM Sarang Lebah saja?
Setelah meminta izin ke pengurus Cisral kalau buku-buku itu akan disumbangkan ke pihak luar, saya akhirnya diperbolehkan untuk membawa buku-buku itu. 

Jadi TBM Sarang Lebah ini memang sudah ada dari awal ya?
Sebenarnya sudah ada sejak 2018. 

Apakah Aflaz terlibat dalam pembangunan TBM itu atau tidak?
Kalau pembangunan secara langsung tidak, tapi dulu saya punya perpustakaan sendiri juga, Perpustakaan Lorong Baca namanya. Karena saya kuliah di sini, perpustakaan jadi itu terbengkalai. Sebagian buku-bukunya saya sumbangkan. Pendiri TBM Sarang Lebah yang kebetulan juga kenalan saya kemudian mengajak saya bergabung. Saya yang sekarang tinggal di sini kemudian ditugaskan untuk menyuplai buku ke sana. Sebelum mendapatkan buku dari Cisral, saya sering mengirimkan buku saya sendiri. Saya juga mengirimkan buku-buku yang saya beli di bazaar buku, dan kalau terus seperti itu cukup berat buat saya. Jadi bisa dibilang lumayan beruntunglah dapat sumbangan buku dari Cisral.

Apa tanggapan masyarakat terhadap berdirinya TBM tersebut?
Kalau tanggapan, awal-awal pasti ada kendala. Maksudnya “Buat apa sih?”, terutama di masyarakat-masyarakat yang memang tidak mengerti. Namun kondisinya sekarang sudah ada perkembangan. Koleksi buku dan pengunjungnya juga sudah banyak. Malah tiap hari ada kegiatan. Jadi tanggapan masyarakat ya perlahan-lahan membaik.

Melihat dari kondisi sosial budaya masyarakat Bungbulang ini, menurut Aflaz buku-buku yang didonasikan  dari Cisral itu kontekstual tidak dengan keadaan Bungbulang?
Kalau berbicara konteks sosial budaya, sebenarnya agak jauh sih dengan buku yang didapat dari Cisral. Untuk saat ini setidaknya kita mampu mengatasi keterbatasan buku, itu dulu. Kalau sampai ke buku-buku yang benar-benar sesuai dengan konteks sosial dan budaya itu juga lumayan susah menurut saya. Sekarang juga yang dikirim itu banyaknya majalah, novel, dan novel pop juga ada. Maksud saya untuk tahap sekarang  tujuan jangka pendek saya adalah untuk menumbuhkan minat baca masyarakat terlebih dahulu. Setelah itu mungkin bisa kita mencari buku yang sesuai dengan konteks sosial budaya di sana dan yang terpenting menyadarkan mereka terhadap situasi yang akan mereka hadapi ke depan.

Menurut Aflaz sendiri, buku bacaan apa yang cocok untuk lingkungan masyarakat di sana?
Kalau novel pasti ya. Buku bacaan anak-anak juga menurut saya masih cocok. Buku-buku keagamaan juga cocok untuk masyarakat di sana yang cenderung agamis. Yang paling penting buku-buku yang dibutuhkan untuk menunjang keseharian mereka, seperti pertanian misalnya.

Sekarang, bagaimana rencana Aflaz selanjutnya untuk pengembangan TBM ini?
Saya tidak punya rencana yang khusus. Ke depannya saya akan tetap konsisten mengirim buku. Dari pihak Cisral juga kerja sama kami sudah terjalin dengan baik. Jika ada buku-buku yang digudangkan lagi saya siap untuk menampung dan mengirimnya. Sebenarnya tujuan jangka panjang saya adalah untuk mengirim buku ke tempat lain juga di pelosok yang kesulitan akses buku. Selain itu saya juga punya rencana untuk berlangganan koran di TBM namun masih terkendala biaya.

Ada pesan kepada para pembaca Jalang, Flaz?
Kalau saya berharap sih, teman-teman bisa bergabung dengan perjuangan kami. Setidaknya teman-teman bisa menyumbangkan buku kepada kami. Selain itu teman-teman bisa juga berdonasi ke kami yang memang sedang berusaha untuk berlangganan koran di TBM Sarang Lebah. Tetapi intinya dengan gerakan ini saya ingin menunjukkan bahwa di tempat lain ada orang-orang yang kesulitan akses akan pengetahuan, dan saya sangat berharap teman-teman bisa membantu mereka

Cukup, Flaz?
Cukup sih.

0 komentar: