Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom Ilustrasi: Al Aniyah S uatu pagi sebelum berangkat kuliah, saya iseng membuka youtube untuk melihat...

Atta Halilintar dan Hal-hal yang Tidak Pernah Diungkapkan Tentangnya

Penulis: Arsyad Dena Mukhtarom
Ilustrasi: Al Aniyah
Suatu pagi sebelum berangkat kuliah, saya iseng membuka youtube untuk melihat video-video dari TED sekaligus untuk menambah semangat pagi. Namun, alih-alih menekan tab subscription, kursor laptop malah mengarah ke tab trending. Kemudian muncullah barisan video viral di layar laptop saya. Ada satu video yang membuat saya tertarik, “Gen Halilintar – Ziggy Zagga (music video) | 11 kids + parents”, ya, video tersebut berada di puncak trending youtube.
Iseng-iseng saya klik video tersebut. Serius iseng doang. Selanjutnya yang terdengar adalah suara baling-baling helikopter, diikuti kamera yang mengambil gambar dari jauh perlahan-lahan mendekati sebelas orang anak-anak yang berdiri dan menunduk dengan khidmat di gunung bersalju. Saya mencoba memperbesar volume suara laptop saya, dan tiba-tiba, sebelas anak itu mengangkat kepala mereka sambil teriak “ZIIIGY ZAAAGA”. Saya kaget.
Dalam video tersebut ada seseorang yang tidak asing bagi saya. Seseorang berambut biru, menggunakan kacamata putih, dan membawa bom asap. Siapa lagi kalau bukan Atta Halilintar. Youtuber yang baru saja mencapai dua belas juta subscriber di youtube.
Dalam ingatan saya, Atta Halilintar ini selalu mendapatkan komentar-komentar negatif dari warganet. Salah satunya adalah saat Atta membuat video prank menjadi gelandangan.

“Jadi ini muka asli Atta Halilintar.”
“Oh gitu kalo lepas make up.
“Itu ceritanya ingus nya gosong? Atau kebanyakan ngirup aibon?”
Subscribe Balik Donk Atta Halilintar ^_^”

Ya, begitulah beberapa hujatan warganet dari berbagai platform media sosial. Sampai-sampai Atta mematikan kolom komentar di video tersebut karena banyaknya ujaran negatif yang diucapkan warganet.
Saya sendiri tidak habis pikir dengan orang-orang yang menghujat Atta Halilintar. Jujur saja, saya tidak mengerti apa untungnya bagi mereka menghujat entertainer yang terkenal dengan ungkapan “ashiap”nya ini. Apakah mereka merasa menjadi satu persen elit? Apakah mereka mendapatkan pengakuan dari lingkungannya? Apakah mereka mendapatkan uang suap dari yang membayar mereka? Apa yang mereka dapatkan selain kepuasan batin?
Memang tidak dapat dimungkiri, Atta Halilintar belum bisa menjadi rolemodel dan influencer yang baik-baik amat bagi kaum muda sekarang. Namun dalam pandangan saya, Atta Halilintar ini memiliki sikap dan perilaku positif yang dapat ditiru oleh remaja-remaja di Indonesia.
Sikap kerja keras, fokus dan konsisten adalah hal utama yang menjadi sorotan sekaligus mendapatkan apresiasi dari saya. Sejak awal membentuk channel youtube danbranding identitas dirinya, Atta sudah dihujani banyak cemooh dari orang-orang. Tapi Atta seolah tidak memedulikan hal itu dan terus fokus untuk melanjutkan kariernya.
Sejak kecil pun, Atta menjadi saksi betapa sulitnya keluarga Halilintar untuk hidup. Ia pun harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan ia memegang teguh prinsipnya untuk tidak membebani kedua orangtuanya.
Kemampuan berbisnis inilah yang patut dicontoh oleh remaja-remaja sekarang. Berkat kemampuan berbisnisnya ini Atta Halilintar memiliki bisnis fashion yang menghasilkan omzet yang tidak kalah besar dari hasil adsense youtubenya. Atta Halilintar Habit namanya.Brand yang biasa dikenal dengan sebutan AHHA ini memproduksi kaos, jaket, kacamata, topi, hingga bandana.
Bahkan saat berumur 13 tahun, Atta sudah menghasilkan omzet lebih dari satu miliar. Penghasilan tersebut dihasilkan dari penjualan voucher, ponsel, hingga kaos. Sikap berani mencoba dan berani gagal adalah hal yang tidak mampu ditiru banyak orang.
Sejalan dengan kemampuan berbisnis, lelaki kelahiran 20 November 1994 ini juga memiliki kemampuan pemasaran yang baik. Personal Branding yang dilakukan Atta, yaitu membidik anak-anak dari kalangan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas karena Atta sepertinya sudah tahu bahwa pengguna media sosial di Indonesia kebanyakan adalah anak-anak berumur 13-19 tahun.
Sempat seorang teman berkata kepada saya bahwa dia sama sekali tidak memandang buruk terhadap Atta. “Aku pikir tidak ada yang salah dengan Atta, dia hebat. Cara dia menghasilkan uang tidak merugikan orang lain. Dia juga orang yang sayang keluarga. Tidak menyusahkan kedua orangtuanya, malah membuat mereka bangga.” Ujar Summa, dalam suatu seminar di Bandung.
Saya sedikit terkejut, ternyata ada seorang teman yang berpikiran positif juga terhadap Atta. Nah, sikap itulah yang seharusnya ditunjukkan oleh setiap orang. Selalu mencoba untuk mencari permata dalam kubangan lumpur. Jika yang ia lakukan salah, kritiklah tanpa perlu menghujat. Namun jika benar, apresiasilah dengan tulus. Mungkin jika hal seperti ini dilakukan—tidak hanya terhadap Atta, namun juga orang lain—kolom komentar akan lebih sejuk tanpa adanya ujaran kebencian.

Tidak terasa lagu Ziggy Zagga selesai saat saya menulis ini.

0 komentar: