Tulisan: M. Rizaldy Yusuf Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin “ The first rule of Fight Club is: You do not talk about ...

Aturan Pertama: Jangan Bicarakan Fight Club!

Tulisan: M. Rizaldy Yusuf
Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin


The first rule of Fight Club is: You do not talk about Fight Club.” (Tyler Durden).

Iya, seharusnya artikel ini tidak pernah ditulis. Menyebutnya saja sudah dilarang. Akan tetapi, rasanya akan lebih berdosa jika film sekelas Fight Club tidak menjadi film yang wajib kamu tonton atau bahas.
Nyaris dua puluh tahun setelah rilis, Fight Club masih menyisakan bekas bagi para penontonnya. Film yang disutradarai oleh David Fincher ini menceritakan seorang pemuda depresi—diperankan oleh Edward Norton—yang hidupnya sangat monoton dan ia tidak bisa keluar dari lingkaran setan tersebut. Namun, semuanya berubah ketika Tyler Durden—diperankan oleh Mamang Brad Pitt—seolah menjadi manifestasi panutan hidupnya.
Sebuah kehidupan yang bebas, liar, dan segala aspek utopis dari diri Tyler Durden adalah representasi akurat dari kehidupan yang diinginkan sang karakter utama (atau bahkan kita sendiri?). Sebuah ‘pembangkangan’ dari kemapanan norma dan budaya yang selama ini dianut masyarakat. Sebuah pesan tersirat soal ‘keluar dari zona nyaman’—sesuatu yang mungkin belum sampai di pikiran personel Fourtwnty dua puluh tahun lalu.
Iya, pasti akan banyak yang dengan mudahnya sadar kalau Tyler Durden ingin membuat kita berani mengambil risiko. Akan tetapi, ada sesuatu yang lain di sini. Ada yang bilang too much love will kill you, lebih tepatnya di sini too much freedom will kill you. Mungkin David Fincher atau Chuck Palahniuk selaku penulis novelnya sendiri ingin berkata bahwa sesekali kita butuh kendali. Kita butuh sosok yang menyadarkan kita—yang menjadi penengah atas kedua sisi kita yang amat kontradiktif. Itulah kenapa ada tokoh Maria Singer yang diperankan oleh Mbak Helena Bonham Carter.
Kebebasan itu semakin lama akan menjadi toxic jika kita tidak punya kendali atas diri kita sendiri. Faktanya adalah: musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Apakah di antara kalian sudah banyak yang sadar bahwa kalian sedang bergulat melawan iblis yang kalian ciptakan sendiri? Mungkin, banyak iblis jahat di luar sana yang ingin menghancurkan kalian. Akan tetapi, sesungguhnya iblis terbesar yang pernah, sedang, dan akan dilawan ada dalam diri masing-masing.
Belum selesai urusan personal kita dengan iblis sialan itu, muncul hal lain yang membuat kepala mau meledak. Tidak lain dan tidak bukan adalah kenyataan bahwa alur cerita dalam kehidupan nyata tidak se-linear itu. Seperti yang Ibu Lina Meilinawati, Kaprodi Sastra Indonesia Unpad, pernah berkata bahwa hidup ini absurd, dan kita sering kali melakukan hal absurd untuk menjaga kewarasan. Rupanya, ungkapan ini juga amat relevan dengan Fight Club. Hidup itu memang tidak jelas dan kita bisa saja bertemu seseorang dalam momen yang sangat tidak disangka. Sudahlah, kita manusia bisa apa sih selain menjalani skenario Mahaagung? Kita juga tidak pernah tahu alur cerita kita besok.
Kepanjangan ya? Oke. Langsung ke poinnya!

Aturan pertama: Jangan bicarakan Fight Club, kalau dirimu tidak mau ditampar dengan realita bahwa kita semua sedang melawan diri kita sendiri.

Aturan kedua: Jangan bicarakan Fight Club, kalau dirimu menolak kesadaran tentang betapa absurdnya hidup ini, dan kita kerap menjadi bagian dari absurditas tersebut untuk menjaga kewarasan.

Aturan ketiga: Jangan bicarakan Fight Club, kalau menurutmu ini cuma film biasa yang membuat kamu lupa setelah menontonnya. Tidak, Fight Club tidak sesederhana itu.

            Intinya, jangan bicarakan Fight Club. Bahkan, lebih baik jangan hiraukan isi tulisan ini. Tutup laman ini, simpan ponselmu, matikan komputermu. Fight Club adalah suatu mahakarya yang benar-benar harus kamu nikmati, terutama jika setelah ini adalah saat pertamamu menonton filmnya.


Salam pabrik sabun!

0 komentar: