Penulis: Luke Andaresta Desain: Yohanes Junianto Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina  Sore yang gerimis, orang-orang berkerumun...

Bila Malam Bertambah Malam: Pembawaan Komedi yang “Dipesan” Sang Penulis

Penulis: Luke Andaresta
Desain: Yohanes Junianto
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina 


Sore yang gerimis, orang-orang berkerumun di depan Aula PSBJ Unpad menunggu pertunjukan dimulai pada Rabu, (27/03). Tampaknya hujan tidak mengurangi antusiasme penonton untuk menyaksikan pementasan perdana para Tunas Djati 16 (red: sebutan bagi anggota baru Teater Djati). Beberapa panitia mengenakan kain seolah mengingatkan kembali bahwa naskah yang akan dimainkan adalah salah satu sastrawan dari Bali, Putu Wijaya, yang berjudul “Bila Malam Bertambah Malam”. Suasana Bali mencoba dihadirkan oleh mereka.
Pertunjukan dibuka oleh para penari kecak, membuat suasana menjadi sakral seketika. Saya mulai berpikir bahwa pertunjukan akan dibawakan dengan sangat serius ketika melihat pembukaan seperti itu.
(Dari kiri) Tapirala, Riri A. Sudirman, Sri Wulandari tengah memanggungkan naskah "Bila Malam Bertambah Malam" karya Putu Wijaya di PSBJ Unpad pada Rabu, (27/03).

Diawali dengan munculnya Gusti Biang, wanita tua berumur sekitar 70 tahunan, memanggil-manggil Wayan di rumahnya. Wayan, yang umurnya tidak jauh seperti Gusti Biang, dari awal kemunculannya cukup mengundang tawa para penonton. Tokoh Wayan membuat anggapan saya bahwa drama ini akan dibawakan dengan suasana yang serius mulai pudar. Muncul seorang wanita cantik dengan karakter yang baik dan periang, ialah Nyoman. Dia datang membawakan obat dan makanan untuk Gusti Biang, tetapi kehadirannya ditolak dengan keras oleh Gusti Biang karena menganggap bahwa Nyoman akan meracuni dirinya. Sampai-sampai Nyoman diperlakukan kasar dan diusir oleh Gusti Biang. Di tengah pertengkaran mereka, datanglah sosok gadis bernama Sagung Rai. Perlahan diketahui bahwa Gusti Biang lebih menyukai Sagung Rai untuk dijodohkan dengan anaknya, Ngurah, dibandingkan dengan Nyoman karena  satu hal, perbedaan kasta. Nyoman hanya seorang sudra (kasta paling bawah dalam adat Bali dan agama Hindu) dan mereka bagian dari ksatria (kasta kedua).. Sampai konflik ini, saya geleng-geleng kepala sambil bergumam dalam hati, lagi-lagi persoalan kelas sosial. Tetapi Nyoman berkata pada Sagung Rai, bahwa sebelum Ngurah pergi ke Jawa, dia menitipkan ibunya pada Nyoman. Sontak membuat Sagung Rai cemburu mendengarnya. Ngurah, laki-laki yang ia cintai, lebih percaya pada Nyoman dibandingkan dirinya.
Aksi Gelanggang Kecak membuka lakon "Bila Malam Bertambah Malam" yang digelar di PSBJ Unpad pada Rabu, (27/03).

Satu hal yang membuat saya kadang mengernyitkan dahi ketika menonton adalah hadirnya guyonan di tengah dialog yang menurut saya cukup serius. Terkadang memang memasukkan komedi dalam sebuah dialog merupakan trik yang jitu agar menyegarkan perhatian penonton, tetapi jika perpindahannya terlalu kontras, agak aneh juga. Misalnya, ketika adegan Gusti Biang dan Wayan membacakan riwayat Nyoman selama tinggal di rumah tersebut dalam sebuah buku catatan. Padahal suasana yang dibangun dari awal adalah ketegangan pengusiran Nyoman oleh Gusti Biang dari rumah, tapi hal tersebut dijeda oleh guyonan Gusti Biang dan Wayan yang menurut saya tidak sebentar. Sampai-sampai saya melihat kekikukan Nyoman yang berdiri di sayap kiri panggung menunggu mereka berdua. Selipan komedi yang hadir di tengah dialog antarpemain juga terkadang terasa membosankan. Hal tersebut dikarenakan adanya pengulangan yang dilakukan oleh pemain. Misalnya, ketika Ngurah makan tiga buah pisang. Ketiga buah itu dia makan dengan pengantar komedi yang sama. Buah pertama membuat tawa penonton kencang, tapi kedua dan ketiga malah menjadi monoton.
Sebelumya, para Tunas Djati 16 sempat bertemu dan meminta restu langsung kepada Putu Wijaya untuk menggarap naskah tersebut. Alfin, sutradara pementasan ini, mengatakan bahwa pembawaan komedi dalam pertunjukan “Bila Malam Bertambah Malam” merupakan permintaan langsung dari sang penulis, Putu Wijaya. Menurut Alfin, permintaan Putu merupakan sebuah tantangan bagi dirinya selaku sutradara untuk mengemas sebuah naskah drama yang serius dengan pembawaan komedi.
Walau bagaimana pun, melalui lakon Bila Malam Bertambah Malam, saya tahu bagaimana angkuhnya sistem kasta yang ada pada masyarakat Bali. Sisa-sisa pemikiran feodalisme dapat saya jumpai pada tokoh Gusti Biang. Usaha-usaha untuk meruntuhkan nilai-nilai lama tersebut dilakukan oleh tokoh Ngurah dan Nyoman sebagai manusia yang menyadari kebebasannya. Seperti dalam penggalan dialog Ngurah, “Masalah derajat, kasta, dan kebangsawanan, semuanya omong kosong!”.

0 komentar: