Penulis: Nigina Auliarachmah Ilustrasi: Ayu Fitriyani Sejak pagi kediaman Mamat Kijang sudah ramai didatangi orang-orang. Pasalny...

Hari Kematian

Penulis: Nigina Auliarachmah
Ilustrasi: Ayu Fitriyani


Sejak pagi kediaman Mamat Kijang sudah ramai didatangi orang-orang. Pasalnya, lelaki itu tengah sibuk membagi-bagikan sembako dan sejumlah uang dalam amplop kepada warga kampung. Semua orang merasa heran dengan kelakuan Mamat Kijang hari ini. Namun, mereka tidak terlalu memedulikan rasa heran itu, karena yang penting bagi warga perkampungan miskin itu mereka akan mendapatkan rezeki yang melimpah hari ini.

Semua orang tahu bahwa Mamat Kijang adalah orang paling kaya di kampung itu, semua orang juga tahu bahwa Mamat Kijang adalah perampok ulung yang terkenal sangat kejam. Kekayaannya didapatkan dari hasil merampok orang-orang kaya dan pejabat di kampung lain. Tidak ada yang bisa menghentikannya, bahkan polisi sudah bosan menangkap dan menjebloskannya ke penjara, hingga akhirnya aparat negara itu berpura-pura seolah Mamat Kijang tidak pernah ada di dunia. 

Antrean terus mengular hingga ke luar pagar rumah Mamat Kijang. Semua orang mendapatkan sepuluh kilo beras, telur, minyak, gula, dan beberapa makanan lainnya. Tidak lupa amplop berisi uang yang mungkin cukup untuk makan selama satu bulan. Ada kabar angin bahwa Mamat Kijang membagikan seluruh hartanya tanpa sisa. Seperti tokoh Robin Hood saja, membagikan harta hasil rampokannya kepada warga miskin. Namun bedanya, baru kali ini Mamat Kijang berperilaku menyenangkan. Biasanya dia membuat warga resah karena kehadirannya membuat kampung itu dijuluki kampung perampok, padahal hanya Mamat Kijang yang seorang perampok di sana.

“Hari kematianku akan segera tiba, oleh karena itu akan kubagikan seluruh hartaku kepada kalian agar tidak ada hal yang perlu aku pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan nanti.” Ujar Mamat Kijang ketika tengah sibuk membagi-bagikan sembako.

Seketika kampung itu makin ramai oleh berita kematian Mamat Kijang yang akan segera tiba. Menurut informasi yang beredar, Mamat Kijang akan mati dua hari lagi. Banyak orang yang diam-diam bersyukur jika itu benar-benar terjadi, karena dengan itu kampung mereka akan bersih dari julukan kampung perampok. Namun tidak sedikit pula yang diam-diam merasa sedih jika Mamat Kijang mati, nanti tidak ada lagi orang paling kaya di kampung itu, semua warga akan miskin dan kampung itu akan mendapat julukan kampung paling miskin. Sungguh tidak ada pilihan yang lebih baik antara kampung perampok atau kampung miskin, karena kemiskinan biasanya akan membuat seseorang—yang tidak kuat dengan kemiskinannya—melakukan kejahatan.

“Aku tidak menyangka kematian Mamat Kijang sangat menguntungkan kita. Selain tidak ada lagi perampok di kampung kita, kita juga mendapatkan banyak rezeki seperti ini.” Ujar seorang lelaki berkumis, sesaat setelah dia mengantre di rumah Mamat Kijang.

“Seandainya Mamat Kijang mati berkali-kali, rasanya menyenangkan, kita akan sering mendapatkan beras dan uang.” Lelaki lain menanggapi.

“Bodoh, kalau Mamat Kijang mati berkali-kali, dia tidak punya harta lagi untuk dibagi-bagikan kepada kita.”

“Ya suruh saja dia merampok lagi sebelum mati.”

“Kau yang akan mati dicincang Mamat Kijang karena berani menyuruhnya. Hahaha.”

Berbeda dengan warga kampung yang sedikit berbahagia hari ini karena tidak perlu memikirkan bagaimana caranya mengisi perut, seorang wanita tengah menangis di sudut kamarnya. Dia adalah Marni, istri dari Mamat Kijang. Usianya baru saja mencapai tiga puluh tahun dan dia belum memiliki anak—dia memutuskan untuk tidak ingin memiliki anak. Banyak lelaki ingin menjadi suami dari wanita yang sedang berada dalam puncak kematangan dan kecantikannya itu, sementara Mamat Kijang sebagai orang terkaya dan cukup berkuasa—karena dia adalah seorang perampok—dapat dengan mudah memperistri Marni. Namun hari ini cukup mengejutkan ketika Mamat Kijang memutuskan untuk menceraikan istrinya. Mereka sedang tidak dalam pertengkaran. Bahkan sebaliknya, mereka sedang sangat harmonis. Namun Mamat Kijang dengan entengnya mengatakan bahwa dia menceraikan Marni. 

“Aku tidak ingin memiliki apapun di hari kematianku, Sayang. Bahkan jika itu seorang istri sekalipun.” Ujar Mamat Kijang dengan santainya.

“Kau bodoh atau bagaimana? Belum tentu dua hari lagi kau mati!” Ujar Marni dengan suara yang sedikit bergetar.

“Aku akan mati dua hari lagi Marni. Karena itu aku menceraikanmu hari ini supaya kau terbiasa hidup tanpaku dan tidak terlalu bersedih jika hari itu tiba.”

“Aku tidak ingin menjadi janda! Jangan ceraikan aku!”

“Marni ayolah, jika kau menyayangiku, maka tolong izinkan aku melepaskan semua yang kumiliki di dunia ini. Aku tidak ingin berlama-lama membicarakan pertanggungjawaban hartaku di hadapan Tuhan nanti.”

Marni mendelik. “Tahu apa perampok sepertimu tentang pertanggungjawaban di hadapan Tuhan? Bahkan mungkin dosamu akan lebih lama dibahas.” Ujarnya sinis.

“Karena itu aku bagikan semua hartaku. Kurasa itu bisa menghapus semua dosaku. Tuhan mahabaik Marni, Dia akan mengampuni siapa pun yang percaya kepada-Nya, bahkan jika keperayaan itu hanya seberat biji sawi.”

“Kau terlalu percaya diri, Mas! Dan sejak kapan kau jadi pintar berdalil seperti ini?” Tanya Marni.

“Kematian yang mengajariku.”

Akhirnya wanita itu hanya bisa menangis di sudut kamar. Dia telah resmi diceraikan oleh Mamat Kijang. Dia tidak peduli meskipun Mamat Kijang telah memberikan rumah dan tanah kepadanya, dia hanya tidak ingin kehilangan suaminya. Jika bukan kematian yang membuat suaminya pergi, perceraian tetap telah terjadi. Biar bagaimana pun, dia mencintai Mamat Kijang, meskipun Mamat Kijang adalah seorang perampok paling kejam.

Hari berlalu dengan asap yang mengepul di dapur rumah orang-orang miskin di kampung miskin itu. Semua orang—kecuali Marni—berbahagia karena tidak ada yang kelaparan malam itu. Mamat Kijang berbahagia karena tidak memiliki sedikit pun harta yang perlu dia pertanggungjawabkan setelah kematiannya nanti. Bahkan semua pakaian—selain yang dia kenakan hari ini—sudah dia sumbangkan ke orang-orang. Dia hanya memiliki satu set kain kafan yang sudah dia siapkan sebelumnya untuk persiapan kematiannya dua hari lagi.
**

Aku terbangun ketika ayam peliharaan istriku—maksudku mantan istriku—mulai berkokok. Aku masih tinggal di rumah yang sekarang sudah menjadi milik istriku—maksudku mantan istriku, di kamar belakang yang hanya beralas tikar. Istriku—maksudku mantan istriku—tidak berbicara apapun lagi setelah aku meminta izin untuk menumpang tidur hingga hari kematianku tiba. Dua hari berlalu sejak aku membagikan semua hartaku, seharusnya hari ini adalah hari kematianku. Seperti ucapan seorang lelaki yang menyebut dirinya malaikat beberapa waktu lalu dalam mimpiku. Namun ketika kuraba pergelangan tanganku, masih ada denyut nadi di sana. Oke, mungkin malaikat itu sedang dalam perjalanan menuju rumah ini. Aku memutuskan untuk duduk menunggu.

Matahari sudah mulai naik dan malaikat itu belum juga datang. Orang-orang sudah mulai mengunjungi rumahku—maksudku rumah mantan istriku—ini. Mereka pasti hendak melayat dan mengurus jenazahku. Tapi aku bahkan belum mati juga. Aku hanya berdiam di kamar belakang, duduk menunggu malaikat itu datang.

Tiba-tiba pintu terbuka dan istriku—maksudku mantan istriku—muncul dengan tatapan dingin, kedua tangannya terlipat di dada.

“Rupanya kau belum mati juga. Di luar orang-orang sudah menunggu kehadiran mayatmu di ruang tamu.” Ujarnya.

“Suruh mereka tunggu sebentar lagi. Mungkin malaikat itu sedikit terlambat.”

Tanpa banyak bicara lagi, istriku—maksudku mantan istriku—kembali menutup pintu dan menuju ruang depan.

Hingga sore tiba, aku masih duduk menunggu kematianku datang. Namun denyut nadiku masih kurasakan di pergelangan tanganku, bahkan rasa lapar mulai menyerang perutku. Sejak pagi aku memang belum memakan apa pun karena menunggu kematianku yang belum datang juga. Rasa lapar ini menandakan bahwa aku masih hidup. Aku mulai tidak sabar dan orang-orang yang datang semakin banyak.

“Kau belum mati juga?” Ujar istriku—maksudku mantan istriku—ketika dia datang lagi untuk memastikan apakah aku sudah mati atau belum.

“Kurasa lelaki itu menipuku. Dia bukan malaikat dan sepertinya ini bukan hari kematianku!” Jawabku geram. Istriku—maksudku mantan istriku—tertawa sinis.

“Kau saja yang bodoh! Sana, urus tamu-tamumu itu, dan cepat pergi dari rumahku!” Ujar istriku—maksudku mantan istriku—kemudian pergi meninggalkan ruangan tempatku duduk menunggu kematianku ini.

Aku memukul lantai melampiaskan kekesalanku. Sialan! Aku telah ditipu dan aku sudah tidak memiliki apa pun!

0 komentar: