Penulis: Billie Wijaya U Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin Tidak ada jalan pintas untuk menjadi ‘waras’. Sedikit berbe...

Hidup yang Monoton dan Bagaimana Putu Wijaya Bereaksi Lewat Improvisasi

Penulis: Billie Wijaya U
Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin

Tidak ada jalan pintas untuk menjadi ‘waras’. Sedikit berbeda dan melakukan improvisasi terhadap kehidupan yang monoton merupakan cara yang diajarkan oleh Putu Wijaya lewat karya-karya dan jargonnya: Bertolak dari yang Ada.
Pada tiga hari berturut-turut di awal Maret dari tanggal 1-3, Institut Nalar Jatinangor dan Second House menyelenggarakan acara khusus untuk sastrawan Putu Wijaya berupa pameran, seminar, dan pementasan di gedung kesenian YPK dengan tajuk: Bertolak Dari Yang Ada.
Melalui tulisan yang sewaktu-waktu dapat menyerempet liputan atau bisa juga secara tiba-tiba menjadi ulasan ini, saya akan merangkum beberapa pengalaman menarik ketika saya menghadiri acara tersebut pada hari kedua, yakni Sabtu, 2 Maret 2019.
Seusai memesan tiket bersama beberapa rekan, pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya adalah ‘akankah saya bisa dengan sederhana memahami pementasannya ataukah mesti keluar dengan kepala bingung?’. Saya sudah sedikit mengenal Putu Wijaya lewat beberapa cerpen dan novelnya, tentang gaya menulis dan pemikirannya barangkali saya tahu meski tidak banyak. Namun, untuk pementasannya bersama Teater Mandiri, rasanya tidak ada kenangan apapun mengenai itu.
            Ini adalah pementasan ‘serius’ pertama yang saya tonton dan barangkali beginilah reaksi-reaksi yang diingat ketika menontonnya. Pertama, saya kaget ketika akhirnya pementasan itu dimulai (imajinasi saya terkurung pada standar pementasan teater kampus), jika boleh saya katakan bahwa ‘kau bahkan bisa mengetahui suatu pementasan akan bergerak ke arah mana hanya dalam beberapa menit pertama pementasan itu berjalan’. Kedua, ketika akhirnya tahu bahwa hari itu Teater Mandiri mementaskan 4 naskah dalam satu pementasan sekaligus, saya kaget lagi, berarti jika dihitung-hitung saya kaget dua kali.
Ketika akhirnya ‘diusir’ dari gedung kesenian YPK, otak saya berputar (jangan bayangkan dia jungkir balik, ini hanya sebuah metafor) mempertanyakan apa sebenarnya yang dimaksud “Perempuan Sejati” dalam pementasan barusan.
Masing-masing naskah yang dipentaskan oleh teater Mandiri malam itu adalah “Perempuan Sejati”, “Oh”, “PEACE”, dan “Aduh”, semua naskah tersebut ditulis sendiri oleh Putu Wijaya. Secara ringkas naskah “Perempuan Sejati” yang diperankan Jais Darga bercerita tentang seorang istri yang berusaha menegakkan keadilan. “Oh” bercerita tentang keangkuhan seorang anak (dimainkan oleh Taksu Wijaya) yang telah menjadi seorang pengacara.  Sementara “Aduh” merupakan suatu perwujudan diri kita yang asik bertengkar dan membiarkan bumi pertiwi menanggung kesakitannya sendirian. Dalam hal ini Teater Mandiri benar-benar melaksanakan jargon yang menjadi tonggak berdirinya mereka: Bertolak dari yang Ada. Putu Wijaya dan Teater Mandiri berhasil melakukan improvisasi dan membuat sebuah pementasan tidak menjadi ‘cuma itu-itu saja’.
Secara subjektif, saya sangat menyukai permainan siluet yang mencomot beberapa adegan dalam naskah “PEACE”, permainan artistik dipadukan dengan lampu dan musik yang menggema menjadikan adegan tersebut sebagai bagian yang paling diingat dalam pementasan tadi. Humor yang diselipkan, meski cenderung terkesan seperti longser cukup memberikan hiburan, transisi yang mulus dalam setiap pergantian lakon serta ditambah lagi tentunya dengan ketotalan Putu Wijaya sendiri ketika bermain di atas panggung menjadi poin tambah untuk pentas ini.
Dengan jujur saya katakan, lebih mudah memahami isi kepala yang ditulisnya daripada menonton pementasannya. Kenapa? Alasannya amat sederhana, kita bisa membolak-balik halaman novel atau membaca ulang narasi dalam cerpen seandainya kita tidak memahami hal yang sedang dibicarakan pada halaman sekian.
Pada beberapa kali petualangan saya menyelami karya-karya Putu Wijaya yang sering kali dihadapkan pada suatu persoalan antara kagum dan bingung, antara memilih melanjutkan dengan ketidakmengertian yang semakin bertumpuk atau berhenti dan menyesal. Saya tahu dan paham ketika banyak yang menyebutkan karya-karya Putu Wijaya bernuansa surealis dan absurd atau secara kasar aneh bin ajaib. Menonton pementasannya memerlukan suatu pendekatan yang lain sebagaimana teater dan novel adalah dua hal yang berbeda maka membaca karya dan menonton pementasannya pun memiliki efek yang jauh berbeda.
Ketika menonton pementasannya dan belum paham sepenuhnya, pentas akan terus berlanjut tanpa menunggu loading otak kita. Lebih parahnya lagi, kita tidak bisa meminta para pemain untuk mengulang dialog seandainya telinga kita budeg dalam beberapa detik penting. Tetapi percayalah, menonton teater itu asyik.
Jika boleh saya katakan pikiran-pikiran absurd dan terkesan “berontak” dalam karya-karya Putu Wijaya tidak lain adalah sebuah bentuk improvisasi dirinya dalam menghadapi kehidupan yang terkesan monoton. Sebuah improvisasi yang dilakukan demi menjaga kewarasan dirinya sebagai seorang manusia. Untuk merangkum dan menjawab apa yang dimaksud dengan ‘Perempuan Sejati’ dalam pementasan yang menggabungkan beberapa naskah tersebut saya kira Putu Wijaya ingin menyadarkan ‘kewarasan’ khususnya generasi milenial bahwa tanah air kita tidak sedang baik-baik saja sekarang.

0 komentar: