Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nigina Auliarachmah & Ashilla Rifanny Ilustrator: Ayu Fitriyani Kalau kita berselancar di pe...

Jangan Bunuh Diri, Nanti Kamu Diberitakan Seperti Ini

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nigina Auliarachmah & Ashilla Rifanny
Ilustrator: Ayu Fitriyani

Kalau kita berselancar di peramban yang digadang-gadang sebagai tempat mencari informasi paling mudah di dunia dan akhirat yakni Google, kemudian mengetik frase “bunuh diri” di kolom pencarian, kita akan disuguhi berbagai hal, semisal: “apa itu bunuh diri”, “cara mengenali orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri”, dan yang paling banyak—tentu saja pemberitaan mengenai berbagai kasus bunuh diri. Nah, ini nih yang pengin saya bahas.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan memberitakan kasus bunuh diri di media massa. Wajar-wajar saja jika media massa sebagai penyebar berita dan pesan kepada masyarakat luas—seperti definisinya dalam KBBI—memberitakan kasus bunuh diri yang tengah pun telah terjadi. Namun, pemberitaan yang dilakukan oleh berbagai media massa ini kerap kali membuat saya geram. Bagaimana tidak, media massa dengan entengnya melempar penghakiman mengenai alasan seseorang melakukan tindak bunuh diri seenteng melempar candaan di tongkrongan. Haduh!
Beberapa media massa memberitakan kasus bunuh diri dengan penyederhanaan yang tak masuk akal, yakni penyebab tunggal. Seakan-akan hanya karena satu masalah saja, seseorang dengan mudahnya memutuskan penyelesaian masalah tersebut dengan bunuh diri. Cara berpikir seseorang tak pernah sesederhana itu, ‘kan?
Biar mudah dan meyakinkan, mari kita lihat contoh pemberitaan kasus bunuh diri yang penuh penghakiman di beberapa media massa berikut ini:
1.   Pria Gunungkidul ini Tewas Gantung Diri, Diduga Karena Masalah Ekonomi (detik.com/14 Maret 2019)
2.    Hubungan Asmara Tak Direstui, Pria di Cilincing Gantung Diri (Tempo.co/13 Feberuari 2019)
3.  Mahasiswa Unpad Tewas Gantung Diri, Dipicu Cekcok dengan Pacarnya (Detik.com/10 Maret 2019)
4.    Diduga Stress Skripsi, Mahasiswa Unpad Gantung Diri di Indekos (Detik.com/24 Desember 2018)
Lihat, betapa menyebalkan pemberitaan yang dilakukan beberapa media massa mengenai penyebab seseorang melakukan tindak bunuh diri. padahal tidak ada seorang pun yang betul-betul mengetahui alasan seseorang bunuh diri—tentu, selain dirinya sendiri.
Pemberitaan kasus bunuh diri dengan penyebab tunggal ini diperparah oleh penyampaian cara atau metode bunuh diri yang dilakukan. Hal ini, tentu tidak pantas diberitakan karena pemberitaan secara mendetail memungkinkan orang lain melakukan tindakan serupa.
Selain itu, media massa kerap memberitakan suatu kasus bunuh diri berulang kali—dengan sudut pandang berbeda. Hal tersebut tentu bukan hal yang patut dibanggakan, mengingat kasus bunuh diri akan menyisakan trauma yang begitu mendalam—terlebih bagi orang-orang terkasih pun bagi orang-orang yang berusaha bertahan hidup sekuat tenaga. Itulah mengapa pemberitaan bunuh diri tak boleh dilakukan serampangan.
Pemberitaan bunuh diri yang bermasalah tentu akan menimbulkan masalah lainnya. Kemudian, bagaimana seharusnya kasus bunuh diri diberitakan telah dirangkum di situs http://reportingonsuicide.org/recommendations/#dodonts. Situs tersebut memuat hal-hal yang boleh dan  yang tidak boleh dilakukan dalam memberitakan suatu kasus bunuh diri.
Ah, ya. Terkadang kita terlalu fokus pada larangan atau hal yang mesti dihindari ketika kita hendak melakukan sesuatu. Sampai-sampai kita lupa hal yang tak kalah penting selain memberitahu larangan, yakni memberitahu sesuatu yang seharusnya ada. Dalam hal ini--pemberitaan bunuh diri--saya kira yang paling penting dan tentu saja harus ada ialah pemberian informasi semisal: bunuh diri merupakan tindakan yang merugi, juga pemberian informasi mengenai bantuan konseling yang dapat dihubungi bila tengah depresi.
Mari tetap hidup karena bunuh diri bukan pilihan. Ingat, kamu betul-betul berharga!

0 komentar: