Penulis: Nova Femi Berliana Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Pertama kali membaca judul novel ini membu...

Kambing dan Hujan: Menelisik Konflik dari Hati ke Hati

Penulis: Nova Femi Berliana
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa
Pertama kali membaca judul novel ini membuat saya begitu penasaran. Meskipun sebenarnya novel ini pernah direkomendasikan sebagai bahan tugas semester lalu, tetapi saya memilih novel lain dan memutuskan untuk melahap Kambing dan Hujan karya Mahfud Ikhwan sebagai hidangan liburan semester.

Novel karya Mahfud Ikhwan ini lumayan tebal, jadi saya membacanya dalam jangka waktu yang lumayan lama karena sangat menikmati proses membacanya—enggak deng bercanda, hehe. Alasan tepatnya karena saya orangnya cepat bosan kalau baca buku terlalu lama, haha. Lambat laun novel ini berhasil saya selesaikan dan membuat saya ingin mengulas novel yang menarik ini. Meskipun banyak ketakutan dan keraguan akan hasilnya. Beruntungnya, seseorang berhasil meyakinkan saya untuk berani memulai dan percaya tidak ada yang mustahil di dunia ini. Oke saya mulai…

Novel ini diawali dengan pertemuan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara; yang satu merajuk dan yang satu berusaha membujuk. Di awal cerita, novel ini memang terlihat seperti sebuah kisah percintaan pada umumnya, namun di luar dugaan, novel ini menceritakan hal yang lebih besar dari sekadar soal cinta anak remaja.

Miftahul Abrar yang akrab dipanggil Mif, seorang pemuda yang berasal dari Centong Utara, bertemu dengan Nurul Fauzia atau sering disapa Fauzia, gadis yang berasal dari Centong Selatan di dalam sebuah bus kota menuju Surabaya. Mereka saling berbincang dan bertukar alamat surel. Hingga akhirnya mereka semakin dekat dan surel jadi cara mereka berkomunikasi sekaligus melipat jarak keduanya semakin dekat. Singkat cerita, di antara Mif dan Fauzia ada rasa yang tumbuh di hati masing-masing yang mengantar keduanya menjalin kasih. Beberapa surel dan pertemuan kemudian, hubungan mereka sampai pada titik keseriusan dan keduanya sama-sama berniat untuk menikah. Keinginan ini yang membuat Mif dan Fauzia harus melewati rintangan untuk bisa menyatukan perbedaan latar belakang keluarga mereka demi mendapatkan restu sebagai kunci utamanya.

Pak Kandar dan Pak Fauzan yang tak lain adalah ayah dari Mif dan Fauzia menjadi rintangan paling terjal untuk perjalanan cinta mereka. Bagaimana tidak, kedua keluarga ini memeluk agama yang sama namun perbedaan pemahamanlah yang menjadi masalahnya. Fauzia sebagai anak dari Pak Fauzan, tokoh penting orang selatan yang menjadi basis NU dan Mif anak dari Pak Kandar yang menjadi tokoh pembaharu wilayah Centong Utara sebagai pemimpin Muhammadiyah, menjadi tantangan besar untuk Mif dan Fauzia.

Lewat Mif dan Fauzia, Mahfud membeberkan bagaimana kehidupan Centong yang punya dua kubu berbeda antara Utara dan Selatan. Is dan Moek menjadi tokoh utama yang terlibat dalam persoalan Muhammadiyah dan NU lewat kehidupan sosio-kultur masyarakat desa di Centong. Is dan Moek adalah ayah dari Mif dan Fauzia panggilan mereka saat masa remaja, dua sahabat kecil ini hampir mengerjakan semua kegiatan sehari-harinya bersama; sekolah, mengaji dan mengembala kambing, juga banyak bercerita soal masa depan mereka berdua. Hingga saat beranjak dewasa, mereka berubah menjadi dua orang yang harus menghadapi konflik rumit yang memecah hubungan persahahabatan mereka sekaligus umat di Centong. 

Mahfud begitu dalam mengisahkan kehidupan Centong lewat dongeng seorang ayah terhadap anak gadisnya dengan penuh kasih sayang. Dongeng hangat seorang ayah ini menjadi cerita bersambung pada anak gadisnya sampai pada penemuan Fauzia tentang teka-teki masa lalu ayahnya yang membuatnya bertekad: cintanya harus berakhir di pelaminan  bersama Mif. Persoalan religiusitas antara Muhammadiyah dan NU ini diceritakan begitu apik dan bergejolak juga ditulis dengan kehati-hatian penulis untuk tidak terkesan memihak salah satunya.

Singkatnya, novel Kambing dan Hujan adalah sebuah kisah yang memberi harapan besar bagi pembacanya. Persahabatan Is dan Moek yang menjadi daya tarik tersendiri membuat keduanya terlihat lebih romantis dari cinta Mif dan Fauzia. Terlebih konflik terakhir menuju ending membuat saya jantungan sekaligus kesal dan ingin ikut terlibat di dalamnya. Pada akhirnya kekesalan luruh karena semua kekusutan relasi antartokoh selesai oleh satu kata: cinta. 

Huh, Kambing dan Hujan memang benar-benar membuat saya kenyang.

0 komentar: