Penulis: Shaninta H. & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin Diiringi hujan yang nampaknya enggan un...

Kenapa Harus Dilan?

Penulis: Shaninta H. & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin

Diiringi hujan yang nampaknya enggan untuk selesai, satu lingkaran yang terbentuk di bawah atap Gelanggang menawarkan sebuah diskusi dari salah satu program kerja departemen Ideologi Gelanggang. Bertajuk “Diskusi Mahasiswa Senja: Dilan dan Kepopulerannya”. Diskusi yang diadakan pada Selasa (2/19) ini, merupakan yang perdana di kabinet Gerilya. Dengan pemantik Arin Nurdini (2017), diskusi dimulai pukul 16.00 WIB.


Para hadirin  membahas karya dari Pidi Baiq, yaitu Dilan. Arin (2017) selaku pemantik diskusi membahas tentang tokoh Dilan dan kepopulerannya. Ia mengatakan bahwa sudah membaca Novel tersebut saat berada dibangku SMA. “Aku baca Dilan waktu SMA, pada masa itu memang sedang bucin-bucinnya.”
Dengan kisah yang sederhana, konfliknya pun mengalir seperti kehidupan sehari-hari, juga tingkah laku tokoh Dilan yang berbeda dari remaja lainnya yang membuat para remaja menyukai sosok Dilan. “Siapa sih yang kepikiran ngasih kado TTS yang udah diisi,” tutur Arin.



Ditulis oleh Pidi Baiq serta diterbitkan pada tahun 2015 silam menggunakan latar dan dimensi tahun 1990-an, Dilan berhasil mencuri perhatian masyarakat Indonesia dengan kisah sederhananya. Menceritakan seorang siswa SMA dengan gayanya yang khas sebagai panglima tempur dan karakternya yang nyentrik, namun pada akhirnya dapat menaklukkan seorang perempuan populer bernama Milea, dengan cara-caranya yang unik. Selain penggunaan bahasanya yang tidak sulit dicerna, novel Dilan juga disebut-sebut dapat mendobrak ekspektasi para pembaca dengan kisah romansa yang digemari oleh masyarakat Indonesia, sehingga tidak heran jika novel Dilan menjadi begitu populer di kalangan remaja. Motor antik dan gombalan khas Dilan juga menjadi hype di kalangan kaum lelaki.
Euforia yang terbangun dari novel Dilan, sama dengan novel terdahulu yang sejenisnya, seperti Lupus, Catatan si Boy, Balada si Roy, dan Ali Anak Jalanan. Hal ini dikarenakan Dilan dan beberapa novel tersebut memiliki banyak kesamaan, terutama dalam pemilihan temanya yang juga menyinggung permasalahan remaja. Kelima novel tersebut, sama-sama menunjukkan sikap egosentris tokoh utama dalam mencapai tujuannya. Pada novel Dilan, sikap itu ditunjukkan oleh Dilan dalam ambisinya untuk mendapatkan Milea. Selain euforia yang muncul dari Dilan yang memang sama dengan beberapa novel pop pendahulunya, formulasi struktur yang ditawarkan Dilan juga sangat generik. Sangat populer istilahnya. Jadi, selamat datang di khasanah sastra populer Indonesia, Dilan.
Salah satu hal menarik dari novel Dilan adalah berlatar tahun 90-an atau yang diketahui bahwa saat itu merupakan masa Orde Baru. Dilan, sebagai panglima tempur pasti seringkali melakukan kenakalan yang membahayakan. Namun Dilan akhirnya mendapatkan keringanan hukuman karena ayahnya merupakan seorang ABRI. Dari sini, kita dapat melihat salah satu contoh praktik nepotisme. Selain itu, masalah feminisme juga menjadi sorotan dalam cerita Dilan, menurut Nisa (2016). Seorang feminis yang membaca Dilan pasti akan merasa kesal, karena dalam cerita ini, perempuanlah yang menjadi objeknya. Salah satu contohnya adalah dialog Dilan yang sangat diingat oleh orang-orang, “Dan jangan rindu, berat, biar aku saja, kamu gak akan kuat.” Sangat seksis bukan? Di sana, digambarkan bahwa perempuan seakan-akan tidak dapat menanggung suatu hal yang berat. Ungkapan-ungkapan demikian seakan mengukuhkan nilai-nilai patriarki, dan saya tidak yakin bahwa penulis sadar akan hal itu.
Novel Dilan yang sekarang telah diadaptasi menjadi film, berhasil meraih 2 juta penonton dalam 2 hari penayangannya. Ini membuktikan bahwa rakyat Indonesia lebih mengenal Dilan dari filmnya dibanding dari novelnya, karena pada dasarnya, masyarakat Indonesia memang kurang menyukai kegiatan membaca. Kepopuleran film Dilan ini juga dipengaruhi oleh pemilihan aktor dan aktris oleh pihak produser, seperti Iqbal Diafakhri Ramadhan yang memerankan tokoh Dilan dan Vanessa Prescillia yang memerankan tokoh Milea.
Salah satu kontroversi yang timbul di tengah euforia film Dilan ini adalah dengan dibangunnya Taman Dilan di Bandung oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Banyak yang mengatakan bahwa Taman Dilan bukan merupakan hal yang penting untuk dijadikan salah satu ikon Kota Bandung. Kontroversi lainnya adalah mengenai gaya dan sifat Dilan yang telah divisualisasikan secara nyata di filmnya, sehingga membuat beberapa penonton, terutama di kalangan remaja, menirukan gaya selengean dan sifat fakboi-nya tersebut.
Dilan sendiri masih memiliki sisi baik, yaitu menerapkan prinsip talkless, do more atau mementingkan aksi dibanding bicara. Seperti saat Dilan meninggalkan teman-temannya yang saat itu ingin tawuran, demi Milea yang melarangnya  untuk ikut. Selain itu, cerita yang sederhana, konflik yang mengalir, dan tokoh yang unik. Pidi Baiq mengemas kisah Dilan seindah mungkin, agar menjadi suatu karya yang ringan, mudah dipahami pembaca, dan tentunya meningkatkan keinginan membaca pada remaja-remaja di era modern ini. Di luar tujuan komersilnya, jika dibandingkan dengan sastra kanon pun, Novel Dilan memiliki pembahasan yang cukup luas dan dapat ditelaah lebih dalam.
Maka sebagai sebuah karya, Dilan tetaplah patut diapresiasi. Seperti pendapat Ridho (2016), “Sastra populer dan sastra kanon hanyalah masalah waktu. Keduanya dapat dibaca tergantung dengan suasana hati.”

Jadi, memangnya kenapa kalau Dilan?

0 komentar: