Penulis: M. Dikdik R. Redaktur: Faris Al-Furqon Desain: Diana Dewi Darwin Dua aktor calon anggota Teater Djati sedang mencoba ...

Kilas Balik: Tunas-Tunas Djati yang Telah dan Akan Tumbuh Dua Hari Lagi

Penulis: M. Dikdik R.
Redaktur: Faris Al-Furqon
Desain: Diana Dewi Darwin

Dua aktor calon anggota Teater Djati sedang mencoba mematangkan sebuah adegan di aula PSBJ, Unpad (23/3).

Calon anggota Teater Djati gelombang 2018, akan mementaskan “Bila Malam Bertambah Malam” karya Putu Wijaya, pada Rabu (27/3/) di Gedung Pusat Studi Bahasa Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Unpad. Pementasan tersebut merupakan prosesi puncak dari rangkaian acara penerimaan calon anggota baru.

Sebelumnya, ada beberapa tahapan acara yang harus dijalani oleh calon anggota. Seperti pemberian materi keteateran, latihan rutin, terlibat dalam persiapan pementasan HUT Teater Djati ke-18 pada November tahun lalu, Teater Camp, bincang-bincang bersama beberapa alumnus, dan sekian tugas lainnya.

Masa penerimaan sendiri memakan waktu lebih dari 7 bulan. Dalam waktu itu proses seleksi bekerja. Calon anggota harus bersabar untuk resmi diterima sebagai anggota Djati. Ada yang akhirnya urung bergabung, tapi ada pula yang memilih bertahan.

Setelah pementasan di hari Rabu nanti selesai digelar, ketika malam benar-benar bertambah malam, saat itulah mereka sah menjadi Tunas-16, anggota baru keluarga besar Teater Djati.


Tangan-tangan yang digerakam sesuai arahan pengadeganan, menjadi suatu gerakan koreografis. PSBJ, Unpad (23/3).

Kilas Balik Bulan Maret: Menuju Sebuah Tradisi
Berdasarkan beberapa data dari arsip teater Djati yang berhasil dihimpun, kebiasaan untuk menggelar pementasan tunggal yang secara khusus dipersiapkan oleh calon anggota itu terhitung sejak Tunas-12, tepatnya pada masa penerimaan anggota baru gelombang 2014.

Kala itu, 2 Februari 2015, naskah “RT NOL RW NOL” karya Iwan Simatupang dipanggungkan. M. H. Dutama (18) bertindak sebagai sutradara. Menurut pemberitaan Tribun Jabar (4/3/15), pementasan itu sukses memukau hampir 600-an penonton. Para aktor memainkan perannya dengan apik.

Sutradara cerdik dalam melakukan perubahan nuansa dialog, serta penyusunan tangga dramatik. Naskah asli karya Iwan Simatupang berlatar tahun 1960-an, diubah menjadi tahun 1990-an. Gaya bahasa Iwan Simatupang yang terkesan kaku, dengan “kurang ajar” diobrak-abrik oleh Tama menjadi sangat cair. Keberanian yang dilakukan oleh sutradara tersebut menjadi kunci penting dalam keberhasilan pementasan waktu itu.

Sementara, bulan Maret yang kemudian seolah menjadi “musim tunas” bagi Djati, baru dimulai setahun berikutnya, pada tahun 2016. Setelah itu tiga tahun berturut-turut pementasan anggota baru diadakan di bulan ini.

Pada 2 Maret 2016, disutradarai oleh Bagus R. Setiadji, calon Tunas-13 mementaskan “Cinta Kembar” karya Manahan Hutauruk. Pementasan itu menyumbangkan karakter baru bagi perjalanan Teater Djati, karakter populer. Banyak adegan yang dibentuk dengan skema musikal yang baik. Bagus sangat memperhatikan pentingnya pertunjukan drama sebagai kerja kesenian yang rekreatif.

Majalah Pena Budaya (14/10/17) sempat menangkap gagasan Bagus tersebut, ketika mewawancarainya pada kesempatan lain. “Orang-orang tuh lagi butuh ketawa, capek serius terus. Teater itu juga adalah hiburan, bukan hanya soal pemikiran,” ujar Bagus.

Beberapa pemain sedang berlatiah. Mereka mencoba beradaptasi dengan ruang panggung PSBJ, Unpad (23/3)

Pada 17 Maret 2017, “Petang di Taman” karya Iwan Simatupang dipentaskan oleh calon Tunas-14. Gemawan Fitradi dipercaya menjadi sutradara. Mungkin, pementasan tersebut dapat dipandang sebagai keberhasilan Tunas-14 dalam mengawin-silangkan tekanan “utile” generasi Tama dan “dulce” generasi Bagus.

Gema dan  calon anggota Tunas-14 lainnya, kiranya cermat menangkap ketegangan dua tarikan itu, maka mereka pun tampil dengan pembawaan yang lebih berimbang. Misalnya, dalam pemilihan naskah. Meskipun naskah “Petang di Taman” memiliki ketebalan aspek absurditas seperti naskah “RT NOL RW NOL”, namun “Petang di Taman” tak lupa untuk lebih berguyon.

Bagi yang sempat menonton pementasan mereka, mungkin akan sulit melupakan sebuah adegan Maul yang berperan sebagai seorang tukang balon.  Dalam sebuah adegan, ia memegang balon yang beraneka warna dengan gestur khas ala Chaplin, kemudian ia sanggup memecahkan gelak ratusan penonton hanya dengan satu bisikan jenaka: “Ek-ngok!!!”.

Terakhir, 15 Maret 2018 lalu, calon Tunas-15 mementaskan “Laras” karya Dukut W. N. Sutradanya, Abimala Sagi alias Aton. Ia mampu menstimulus penggalian potensi-pontensi keaktoran dari banyak kawannya yang sama sekali belum pernah bermain teater.

Mari sedikit mengingat lagi bagaimana Gina Ainun yang memerankan Sumi. Gina orang Betawi asli yang harus berperan sebagai orang Jawa. Pementasan waktu itu adalah pengalaman pertama bagi dia. Tapi, tak sedikit yang memuji penampilannya.

Ia seperti tahu cara bagaimana menghidupan “ruh” sebuah adegan. Merancang dinamika emosi, intonasi dialog, permainan mimik, dan kecermatan penentuan motif perilaku dramatik. Potensi keaktoran itu mampu tergali dan diangkat di atas panggung, tanpa canggung.

Tentu ini bukan semata-mata hasil besutan tunggal dari sutradara. melainkan dari Gina sendiri. Ada kerja sama yang baik di antara mereka. Aton selaku sutradara kiranya cermat dalam penentuan karakter bagi aktor-aktornya. Di sisi lain, aktor dengan tanggap dan luwes segera menyesuaikan diri.
*

Beberapa calon anggota nampak menyaksikan para aktor yang sedang mencoba sebuah adegan. PSBJ, Unpad (23/3).

Tahun ini, pementasan calon anggota baru, Tunas-16, kembali digelar di bulan Maret. Jika terus seperti ini, nampaknya bukan tidak mungkin bulan Maret menjadi bagian tradisi penting bagi Teater Djati, seperti bulan November yang disepakati sebagai bulan diresmikannya Teater Djati. Bulan Maret akan menjadi bagian dari sejarah perkembangan Djati.

Tahun ini lebih istimewa lagi, karena Tunas-16 akan tumbuh bertepatan dengan Hari Teater Sedunia, 27 Maret. Hanya butuh dua jari lagi untuk menghitung hari pentas. Kira-kira, ada kejutan apa yang telah mereka persiapkan?

Mengintip Panggung PSBJ di Sabtu Malam

Seorang aktor memakai kostum yang akan digunakan saat pementasan. PSBJ, Unpad (23/3).

Sabtu malam (23/3), calon Tunas-16, mulai masuk PSBJ. Penyusunan artistik nampaknya langsung disegerakan. Pengadeganan terus coba dimatangkan. Yang juga menarik, sayup-sayup terdengar dari tim penata musik, sebuah lagu yang terus dilatih berulang-ulang, seolah sedang mengorek ingatan akan sejarah pembantaian di pasir Dewata.

Naskah “Bila Malam Bertambah Malam” memang berlatar Bali. Dari awal nuansa itu diperlihatkan lewat poster pementasan yang telah beredar. Topeng Barong, dipilih sebagai tampilan utama.

Mengintip sebuah adegan; ada yang berlangsung dengan pembawaannya yang tragis malam itu. Seorang perempuan, mencuri perhatian siapa saja yang berada di ruang PSBJ. Ia menangis, karena sebuah sebab. Ia menangis dengan begitu natural dan menyayat. Siapakah ia? Mengapa ia menangis dengan jeritan yang begitu pekak? Kesedihan dan kemarahan macam apa yang dirasakannya?

Beralih ke aktor lain. Seseorang berdialog dengan logat Bali. Tapi sayang, malam itu masih terdengar belum cukup stabil. Logat terdengar kuat pada adegan tertentu, tapi hilang dalam adegan yang lain. Mampukah ia menjaga konsentrasi, menjaga dialog yang stabil di hari pementasan nanti? Di depan ratusan mata dan telinga penonton? Pada ketegangan yang mungkin tak terduga?

Berhasilkah “ruh” budaya Bali “ditubuhkan” pada pementasan tersebut? Bagaimana mereka mengolahnya? Ada banyak yang tampak belum selesai. Ada masalah yang terus dievaluasi. Yang terpenting, mereka terus mencoba menyelesaikannya.
*

Malam itu mereka habiskan hingga pagi buta. Mereka terus berupaya. Ya, kiranya, setiap pementasan selalu menegangkan dan pasti ada masalah. Ada banyak yang dipertaruhkan. Menjadi beban yang harus ditanggung? Mungkin saja. Bagaimana pun, sisa dua hari lagi. Semua yang dimulai menuntut untuk diselesaikan.  Jika bertanya, untuk apa semua ini dilakukan? Demi sebuah nama “Teater Djati”? Atau demi memuaskan penonton? Atau hanya untuk syarat masuk Djati? Barangkali, benar. Tapi mungkin yang juga penting, adalah demi menunaikan dan menghargai apa yang sedang dan sudah diperjuangkan bersama, oleh diri sendiri, pun kawan-kawan yang lain.





0 komentar: