Penulis: Limya Oktaviani Desain: Ninda dan Diana Sebenarnya, saya takut-takut untuk membahas topik ‘linguistik versus sastra’ yang s...

Mengapa Tidak Banyak Warga Sastra yang Nyastra?

Penulis: Limya Oktaviani
Desain: Ninda dan Diana

Sebenarnya, saya takut-takut untuk membahas topik ‘linguistik versus sastra’ yang sangat alot di jurusan kita tercinta ini, Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran. Bagaimana tidak? Saya acap kali dicap teman-teman, baik dari S-2 (SMP-SMA maksudnya, maaf.) hingga di kampus; baik dari dalam jurusan maupun luar jurusan, sebagai anak yang sastra banget’. Sebenarnya, saya sendiri malu mendapat cap tersebut. Bacaan saya masih kurang, pengetahuan saya tentang sastra masih seuprit, menulis juga jarang (maka dari itu Jalang sendiri sebenarnya merupakan salah satu bentuk keterpaksaan saya supaya tetap menulis, eh). Sepertinya, karena saya banyak omong dan suka sekali menulis puisi, saya sering dikatakan ‘sastra banget’.
Sebenarnya cap tersebut ada benar dan tidaknya juga. Saya memang sering kali ‘cuek’ atau bahkan terlalu cuek terhadap mata kuliah linguistik. Datang seperti ogah-ogahan, memerhatikan tidak begitu jeli, dan membuat tugas seadanya saja, tidak seniat kalau saya mengerjakan tugas mata kuliah sastra. Namun, jauh di lubuk hati saya, dari dulu saya ingin sekali mengkaji iklan dalam skripsi saya. Masuk ke ranah mana iklan tersebut sebagai topik skripsi? Linguistik.
Lalu, apa hubungannya, basa-basi di atas dengan topik yang akan saya bahas? Saya sering kali dikira akan mengambil topik sastra dalam skripsi saya dan itu membuat saya malu. Itu membuat saya resah. Bukannya teguh dengan pendirian, saya malah jadi goyah. Kemudian tersadar jika saya sendiri ‘buta’ akan sastra, tidak punya bayangan ketika ditanyai topik skripsi dalam bidang sastra. Belum lagi, saya malah mampu menjelaskan banyak hal ketika ditanya topik skripsi dalam bidang linguistik. Misalnya, iklan dapat dikaji secara fonologis atau sintaksis sehingga terdengar enak di telinga, baliho-baliho yang menarik dan bisa dikaji secara semantis, atau kesalahan berbahasa yang kerap akrab di telinga kita. Semuanya menarik untuk dijadikan skripsi. Tetapi, tunggu, apakah topik sastra tidak menarik? Tidak juga. Kita bisa mengerjakan skripsi sambil baca puisi ditengah hujan lalu minum kopi (beberapa orang pasti berkata: anak indie, dong?), baca novel dan cerpen sambil makan camilan, atau mengkaji naskah drama sambil merenungkan kehidupan. Ya, meski memang, membaca karya sastra untuk skripsiantidak bisa sesantai itu. Sebenarnya sama dengan menonton film, mantengin iklan, atau lihat-lihat baliho untuk skripsian. Sama seriusnya. Bagaimana pun, hal-hal tersebut harus dikaji dengan menggunakan teori. Itulah yang akan dipertahankan pada sidang tugas akhir nanti di hadapan dosen-dosen penguji, yang tidak selalu berbaik hati.
Perlahan-lahan, saya jadi menggali hal-hal yang menarik dari sastra dan mengalihkan diri dari hal-hal seperti iklan. Saya pun jadi semangat mencari topik (baik itu dalam ranah linguistik atau sastra). Namun permasalahannya, apakah setiap orang seperti itu? Tentu tidak. Banyak orang ingin yang praktis saja. Apalagi sempat muncul kesan bahwa linguistik memang praktis, tinggal mengumpulkan dan memindahkan data, katanya. Belum lagi stigma yang meneror mahasiswa sastra: mahasiswa ‘sastra’ lama lulusnya. Saya beri tanda kutip karena sastra di sana bukan sebagai jurusan, melainkan topik skripsi. Akhirnya, beberapa orang masih kekeuh memilih topik linguistik dengan jaminan ‘cepat lulus’ atau bahkan orang-orang yang awalnya minat pada sastra jadi goyah untuk berpindah haluan, sementara saya dan teman-teman seperjuangan sastra bersikukuh untuk menghapus stigma kalau anak sastra lama lulusnya.
Tidak hanya saya yang resah. Mulai dari kaprodi, dosen-dosen sastra, kakak tingkat, teman-teman, adik tingkat saya sesama pejuang sastra, hingga masyarakat luar pun resah dengan hal ini. Bagaimana tidak? Setiap tahunnya, 25% mahasiswa Sastra Indonesia Unpad adalah lulusan sastra dengan topik skripsi sastra. Hanya 20 dari 85 orang mahasiswa Sastra Indonesia Unpad angkatan 2014 yang memilih peminatan sastra, pun pada angkatan 2015 dan 2016, hanya 20 dari 80 orang yang memilih peminatan sastra*.
Analoginya, hanya satu dari empat teman seangkatan kita yang mengambil topik sastra. Bisa dibayangkan, ketika nama jurusan yang diambil sastra, tetapi lulusannya lebih banyak ahli linguistik. Tidak konsisten. Setiap kali berkunjung ke perpustakaan favorit saya, akan ada selalu celotehan nyeleneh yang membuat kuping dan hati saya panas, ”Nah, ini Limya, mahasiswa Linguistik Bahasa Indonesia.” Bukannya anti-linguistik, hanya saja saya agak riskan mendengarnya. Entahlah.
Sebenarnya kontroversi soal nama jurusan pun sempat mencuat, Sastra Indonesia akan diganti menjadi Bahasa dan Budaya Indonesia (seperti jurusan sebelah). Padahal, bisa saja bukan dengan penggantian nama tersebut, sastra menjadi semakin tidak eksis di masyarakat? Belum lagi masa-masa adaptasi masyarakat yang harus semakin mengernyit jika mendengar anak, keponakan, atau bahkan cucu mereka berkata, “aku ingin masuk Bahasa dan Budaya Indonesia.” Selain panjang, nama tersebut tentu akan terdengar asing. Sebab sastra, sebenarnya perlahan-lahan sudah mendapat tempat di hati masyarakat. Lagi pula, sastra sudah mencakup bahasa dan budaya, bukan? Lalu, mengapa harus diganti? Hal ini yang menimbulkan pertanyaan besar di hati saya ketika isu ini muncul.
Kembali lagi pada persoalan faktor-faktor ‘sastra’ kurang diminati untuk topik skripsi. Apakah karena lama lulus? Nyatanya tidak juga. Namun, sering kali dosen-dosen pengampu mata kuliah sastra dinilai ‘terlalu santai’. Tidak diburu-buru atau ambisius seperti dosen-dosen pengampu mata kuliah linguistik. Tetapi nyatanya, tidak hanya dosen yang memiliki pengaruh. Justru pengaruh terbesar ada pada mahasiswa itu sendiri. Apa ingin latah saja mengikuti dosen atau mengejar target lalu membicarakannya? Itu ada di tangan masing-masing mahasiswa tingkat akhir.
Lalu, apalagi persoalannya? Apakah justru karena dosen pengampu mata kuliah sastra sendiri tidak banyak ‘promosi’ soal skripsi ke mahasiswa? Tidak juga. Beberapa dosen masih ada yang melakukan penawaran topik, hanya saja penyampaiannya yang kurang ngena di mahasiswa atau bagaimana, kembali lagi pada dosen tersebut.
Topik-topik linguistik yang ditawarkan oleh dosen-dosen linguistik pun sering kali memang menggiurkan. Jangan ditanya soal karya sastra, pastilah bisa dikaji menggunakan ilmu linguistik. Tetapi, selain karya sastra itu sendiri, ada iklan yang bisa dikaji berdasarkan bentuk kata, ada kesalahan penulisan ejaan yang bisa dilihat pada baliho/spanduk yang jelas-jelas milik pemerintah, hingga dialek warga lokal berbagai daerah di Indonesia yang sangat menarik untuk diteliti. Coba dicermati, topik linguistik jadi terlihat lebih luas dan menenggelamkan topik sastra yang dapat dikatakan hanya bisa membahas karya.
Pada akhirnya, mau sastra atau linguistik, sebenarnya mahasiswa itu sendiri yang menentukan waktu lulusnya, dengan segala cobaan yang nauzubillah ada. Mau itu cepat atau lambat, mau itu mudah atau susah, sebenarnya kunci ada di tangan mahasiswa itu sendiri. Hanya saja, di mana mahasiswa tersebut meletakkan kuncinya? Bagaimana pula mahasiswa tersebut menggunakan kuncinya?
Sekian, omong-omong saya yang panjang lebar ini soal pemikiran masa depan geliat sastra di mata mahasiswa Sastra Indonesia itu sendiri. Bagaimana? Apakah suatu hari nanti, jumlah mahasiswa sastra dan linguistik bisa berimbang? Kita lihat saja.

*Data tersebut saya dapat dari hasil ngobrol-ngobrol dengan kakak tingkat angkatan 2014, 2015, dan 2016.

0 komentar: