Penulis: Ahmad Maula Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa Pekan lalu, tepatnya pada tanggal 15-17 d...

Mengingat Gelanggang Berkeringat

Penulis: Ahmad Maula
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa

Pekan lalu, tepatnya pada tanggal 15-17 dan 21 Maret 2019, mahasiswa Sastra Indonesia dibanjiri keringat. Keringat yang melanda para mahasiswa tersebut bukanlah sembarang keringat, melainkan keringat sportifitas akibat acara “Gelanggang Berkeringat”. Gelanggang Berkeringat merupakan rangkaian pertandingan olahraga yang diadakan oleh Departemen Minat dan Bakat Gelanggang (Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad) di setiap tahunnya.
            Gelanggang Berkeringat tahun ini kembali menyediakan beberapa cabang olahraga, seperti futsal, basket, dan badminton. Dalam acara ini juga terdapat lomba memasak nasi goreng. Seperti halnya sebuah acara, Gelanggang Berkeringat juga dibuka dengan salam, kemudian dilanjut dengan sambutan dari Ketua Pelaksana Gelanggang Berkeringat, Jenny Nabila,  dan tentu saja dari Kepala Departemen Minat dan Bakat, Ridho Saputra. Gelanggang berkeringat kali ini dimeriahkan oleh mahasiswa Sastra Indonesia angkatan 2018 sampai angkatan 2015.

Naufan (2015) tengah berusaha melewati Fikri (2018) pada pertandingan final futsal putra yang berlangsung di Balai Santika pada Jumat, (15/03).
Hari pertama Gelanggang Berkeringat dilaksanakan pada Kamis tanggal 15 Maret 2019, yaitu pertandingan futsal yang diadakan di lapangan futsal Gedung Bale Santika. Pertandingan diawali dengan tim putra mahasiswa angkatan 2016 melawan angkatan 2018. Pertandingan pertama pun dimenangkan oleh angkatan 2018, yang kemudian berhasil melaju ke babak final melawan angkatan 2015 dan akhirnya menjadi juara di pertandingan futsal putra dengan perolehan skor 8-2. Sementara itu, pertandingan final futsal putri dimenangkan oleh angkatan 2016 dengan skor akhir 7-3. Sepanjang pertandingan, keringat perjuangan masam yang berbuah manis, pun keringat masam yang seterusnya tetap masam, bercampur aduk dengan sorak-sorai penonton yang berjuang di garis belakang pertempuran.
            Keesokan harinya, di Lapangan Sastra (Lapsas), yaitu tempat diadakannya pertandingan basket, tim putra angkatan 2018 lagi-lagi menduduki tahta sang juara pertandingan dengan mengalahkan angkatan 2015 di partai puncak. Tim putri angkatan 2016 pun demikian, berhasil menjadi ratu pertandingan setelah bertempur melawan angkatan 2017 dengan skor 12-4 pada pertandingan final. Sebelumnya, pertandingan basket sempat tertunda beberapa kali karena kondisi cuaca yang tidak mendukung, sebut saja hujan.
            Di hari ketiga, Minggu tanggal 17 Maret, berlangsung pertandingan Badminton di Gor Lippo, Caringin. Untuk kategori ganda putra berhasil dimenangkan oleh angkatan 2016 dengan perolehan skor 20-18 di babak ketiga melawan angkatan 2017. Kategori ganda putri juga dimenangkan oleh angkatan 2016. Sedangkan untuk kategori ganda campuran, angkatan 2017 berhasil mengalahkan angkatan 2016. Pertandingan badminton kali ini, angkatan 2015 tidak ikut andil dalam meramaikan pertandingan.
Para peserta memasak nasi goreng di hari terakhir Gelanggang Berkeringat di Blue Stage pada Kamis (21/3).
Hari terakhir Gelanggang Berkeringat 2019, yaitu pada Kamis tanggal 21 Maret, merupakan saat perlombaan nasi goreng berlangsung. Angkatan 2015 kembali tidak mengirimkan tim pejuang untuk berpartisipasi dalam lomba. Di perlombaan nasi goreng ini lebih banyak makanan juga minuman, agak sedikit mendekati party. Semua kenyang, semua bahagia. Hasil pertandingan menyatakan angkatan 2016 sebagai juara satu lomba nasi goreng, disusul oleh angkatan 2018 dan angkatan 2017. Di hari terakhir Gelanggang Berkeringat kali ini pun diumumkan juara umum dari keempat pertandingan yang telah diselenggarakan, dan angkatan 2016 lah yang menjadi juaranya. Selamat! uwuwuwuwu.
(Dari kiri) Ridho (2016), Elda (2016), Bastian (2016), Jenny (2017), dan Lagam (2015) memamerkan hadiah lomba yang diberikan pada hari terakhir Gelanggang Berkeringat di Blue Stage, Kamis (21/03).
Ketua Pelaksana Gelanggang Berkeringat 2019, Jenny, mengungkapkan bahwa tujuan diselenggarakannya kegiatan ini untuk meningkatkan taraf kebahagiaan orang-orang, terutama mahasiswa se-Sastra Indonesia Unpad. Selain itu, juga guna melakukan upaya seleksi untuk pertandingan-pertandingan ke depannya. Ridho, selaku suhu Departemen Minat dan Bakat Gelanggang, dalam sambutannya di pembuka acara berharap kegiatan ini dapat menjalin solidaritas antar-angkatan Sastra Indonesia.
            Meskipun setiap alur rangkaian dalam Gelanggang Berkeringat ini tidak terlalu sesuai dengan Segitiga Freytag, dan tentu saja tidak perlu demikian karena ini bukanlah sebuah cerita film maupun drama, namun pengalaman dan memori yang terlahir di dalamnya menjadi sesuatu yang bisa diceritakan dalam obrolan santai kala nongkrong atau sejenisnya. Semoga Gelanggang Berkeringat ke depannya lebih ramai dan tidak lupa juga dengan keringatnya. Sampai jumpa tahun depan!

0 komentar: