Penulis: Faris Al-Furqon Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin Gelak tawa kerap kali terdengar di Gedung PPK/YPK Jalan ...

Putu Wijaya sebagai Manusia dan Teks

Penulis: Faris Al-Furqon
Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin


Gelak tawa kerap kali terdengar di Gedung PPK/YPK Jalan Naripan nomor 9, Bandung pagi itu. Ketika digelar seminar yang membahas Putu Wijaya—dan karyanya tentu saja. Para pembicara dengan santai sambil beberapa kali melempar candaan mengenai pandangan mereka tentang Putu Wijaya, baik mengenai karya-karyanya maupun kehidupan pribadinya. Seminar yang diselenggarakan Sabtu (2/19), ini merupakan rangkaian acara pameran, seminar, dan pertunjukan Teater Mandiri yang bertajuk “Putu Wijaya: Bertolak dari yang Ada”.
Seperti yang disampaikan oleh para pembicara, karya-karya putu Wijaya merupakan sebuah teror. Putu Wijaya mengguncang keseimbangan nilai dan norma yang telah mapan agar pembacanya terbebas dari segala hal yang bersifat dogmatis. Asep Salahudin dari IAILM Suryalaya selaku salah satu pembicara mengungkapkan bahwa teror yang dilakukan Putu Wijaya tidak dikemas dengan narasi-narasi besar yang bersifat global. Namun, teror tersebut dinarasikan dengan sederhana melalui realita pahit yang terjadi di masyarakat.
Teror-teror yang ditebarkan oleh Putu Wijaya juga terlihat dari pemilihan judul—untuk kumpulan cerpennya yang terdiri dari satu kata saja, seperti Ayo, Awas, Aum, Zat, dan sebagainya. Hal itu, menurut Lina Meilainawatidosen Sastra Indonesia kesayangan kitayang juga menjadi pembicara, merupakan dramatic foreshadowing (pertanda dramatik). Hal ini merupakan pertanda dramatis yang akan terjadi di kemudian cerita. Lina Meilinawati mengambil contoh salah satu cerpen berjudul Ya. Dalam cerpen itu kata Ya kemudian menjadi dramatic foreshadowing di akhir cerita. Tentunya ini bisa dikatakan sebagai teror. Kita sebagai pembaca tentu akan menebak-nebak apakah yang akan dilakukan Putu Wijaya dengan judulnya, dan ketika pertanda dramatik itu muncul di alur cerita, hal itu akan menjadi suatu efek kejut untuk para pembacanya.
Salah satu poin penting yang dikemukakan Lina Meilinawati adalah bagaimana Putu Wijaya memasukkan konsep feminine writing dalam karya-karyanya. Konsep tulisan ini membentuk pola yang tidak linear sebagaimana tulisan yang dihasilkan laki-laki. Pola yang linear ini dikemas dengan cara keterpenggalan serta kalimat dan gagasan yang terpotong dalam pola penulisannya. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan yang ditunjukkan konsep penulisan ini tidak memusatkan penuturannya seperti falogosentrisme yang konvensional.
Putu Fajar Arcana melihat Putu Wijaya dengan cara lain. Redaktur harian Kompas ini melihat bagaimana Putu Wijaya melepaskan sebagian unsur kedaerahannya agar bisa terbebas dari nilai-nilai feodal. Sebagaimana diketahui, Putu Wijaya lahir di Bali dengan nama I Gusti Ngurah Putu Wijaya. Nama awalannya itu merupakan pertanda bahwa ia berasal dari keturunan bangsawan dalam struktur masyarakat Bali, namun dalam karya-karyanya ia memutuskan hanya menggunakan nama Putu Wijaya dan melepaskan nama kebesarannya. Hal itu dilihat oleh Putu Fajar Arcana sebagai bentuk pemberontakan yang dilakukan Putu Wijaya. Hal serupa juga terlihat di novel Putri yang merupakan bentuk pemberontakan Putu Wijaya terhadap kehidupan puri. I Gusti Ngurah Wikan yang merupakan tokoh utama kisah tersebut memutuskan untuk pergi ke New York dan menentang perjodohan yang sudah diatur keluarga.
 Putu Fajar Arcana juga melihat bagaimana falsafah kehidupan menjadi pengaruh bagi Putu Wijaya dalam beberapa karyanya. Salah satunya bisa kita lihat dari falsafah kain poleng, hitam dan putih selalu berdiri berdampingan. Baik dan buruk selalu berdampingan. Inilah yang dinamakan oposisi biner. Namun terdapat juga warna abu-abu di kain poleng. Hampir semua tokoh yang diciptakan Putu Wijaya memang abu-abu. Tokoh-tokoh yang ditampilkan nyaris tidak ada yang mutlak baik atau buruk. Selalu ada kesempatan munculnya kebaikan dan keburukan dari tiap tokoh yang diciptakan.
Melihat Putu Wijaya dari ribuan karya yang dihasilkan merupakan pengalaman yang campur aduk. Secara langsung maupun tidak langsung kita disuguhi pengalaman teror terhadap tata nilai yang mapan, pemberontakan terhadap kebudayaan yang bersifat adiluhung, dan dekonstruksi terhadap nilai-nilai kebenaran yang sudah berlangsung lama. Semua pengalaman itu bisa didapatkan hanya dengan melihat Putu Wijaya sebagai manusia dan teks.

0 komentar: