Penulis: Shaninta H. Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S. Desain: Ninda Annisa Selasa (19/03), Departemen Ideologi Gelan...

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk: Mati karena Cinta

Penulis: Shaninta H.
Redaktur: Faris Al-Furqon & Azaina Farah S.
Desain: Ninda Annisa

Selasa (19/03), Departemen Ideologi Gelanggang kembali mengadakan Dimanja (diskusi mahasiswa senja) di sekretariat Gelanggang. Kali ini pemantik diskusi adalah Tigin (2018). Sebelum memulai diskusi, pemantik menceritakan apa saja isi buku Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Buya Hamka, yang terbit pada tahun 1939. Tigin menghubungkan karya tersebut dengan mental issue yang baru-baru ini marak di lingkungan kampus. “Seperti kemarin baru ada yang terjadi bunuh diri itu ya,” ujar Tigin.

Tokoh utama dalam Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, Zainuddin, diceritakan meninggal karena depresi kehilangan Hayati, kasih tak sampainya. Zainuddin terlihat seperti tokoh yang sangat malang, selain karena gagalnya ia hidup bersama Hayati, ia juga mendapat banyak tekanan dari lingkungannya sejak dilahirkan. Ayahnya, yang berasal dari Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat, pernah membunuh pamannya sendiri perihal haknya yang tidak diberikan, sehingga ayahnya diusir dari Tanah Minang ke Sulawesi, Makassar, dan menikah dengan Ibunya yang bersuku asli Makassar. Di Sumatera, Zainuddin menjadi tak ada artinya, karena di sana ternyata menggunakan sistem Matrilineal, yaitu seseorang akan dianggap bangsawan ketika ibunya asli dari Sumatera dan terpandang. Begitupula sebaliknya, di Makassar ternyata menggunakan sistem Patrilineal. Jadi, di Sumatera ataupun Sulawesi, Zainuddin tidak pernah dihargai sebagai seseorang yang baik karena silsilah keluarganya. Ia juga sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya sejak kecil, sehingga kurang mendapatkan afeksi saat masa pertumbuhannya.

Rasa kesepian Zainuddin semakin menjadi-jadi, sampai akhirnya ia bertemu Hayati, anak orang terpandang di Tanah Datar. Tapi, karena adat yang mengikat, Zainuddin dipaksa untuk pergi dari kampung dan meninggalkan Hayati. Tekanan Zainuddin masih berlanjut, ketika Hayati menikah dengan Aziz, lalu ia justru bertemu Aziz dan Hayati di Jawa. Karena Aziz suka bermain judi, ia kehilangan tempat tinggal dan akhirnya tinggal di rumah Zainuddin. Betapa tertekannya Zainudin melihat Hayati tinggal di rumahnya bersama suaminya.

Pada akhirnya, Aziz justru meminta Zainuddin mendampingi Hayati, sebab Aziz hendak menceraikan wanita terpandang itu. Karena ego Zainuddin, ia meminta Hayati untuk pulang saja ke Sumatera.  Zainuddin sudah merasa sakit hati dan tidak ingin lagi bersama Hayati. Sampai akhirnya, Zainuddin mendapat kabar bahwa Hayati mengalami kecelakaan kapal, dan ia baru sadar bahwa cintanya benar-benar hanya kepada Hayati.

Lalu, siapa yang harus disalahkan?

Dalam diskusi, banyak pendapat yang berbeda-beda, ada yang merasa hal tersebut karena adat, agama, dan lain-lain. “Zainuddin itu sakit,” ujar Alfin (2018). Maksudnya, secara harfiah Zainuddin memang sudah sakit sejak lama, karena adanya tekanan-tekanan yang menimpa hidupnya, bukan sepenuhnya akibat kisahnya dengan Hayati.

Beberapa dari peserta diskusi beranggapan bahwa depresi, atau bahkan mengakhiri hidup karena cinta, itu hal sepele, tapi tak jarang pula yang menganggap bahwa setiap orang memiliki kekuatan mental berbeda-beda.

“Menurut orang sepele, karena dia belum merasakan itu.” – Kahfi (2018).
“Masalah cinta gak bisa dianggap sepele, temanku nemu kebahagiaan saat suka sama orang.” – Ema (2018).

Lalu, bagaimana cara mencegah hal-hal buruk itu terjadi pada orang-orang di sekitar kita?

Peserta diskusi setuju bahwa teman itu penting untuk menjadi tempat bercerita, seperti halnya Zainuddin yang mempunya Muluk, teman dekatnya. “Buat Alfin, mah, bukan teman yang penting kalo lagi galau. ‘Orang Tua’, ya, Fin?” ucap Jabal (2018) seraya bergurau. 

Selain hal-hal tersebut, membandingkan masalah juga memicu keinginan seseorang untuk mengakhiri hidup, sebab ia akan merasa lemah dan lebih rendah dari orang lain. Padahal, takaran kekuatan setiap orang itu berbeda-beda, contohnya saja dalam forum diskusi. Terdapat beberapa orang yang merasa sangat sakit ketika putus cinta, ada yang biasa saja menanggapinya, ada yang tidak peduli bila kehilangan teman, ada yang sangat sedih dan ketakutan, sampai tidak ingin berkegiatan, dan lain-lain. Ada pula yang terlihat biasa saja, namun dalam dirinya memiliki rasa ingin mengakhiri hidup.

Kita, sebagai mahasiswa FIB, nantinya akan membawa gelar Humaniora. Sudah seharusnya kita memiliki rasa toleransi yang tinggi, tidak boleh menghakimi, dan berusaha menjadi pendengar yang baik bagi siapapun. Seperti pendapat Annisa (2016), “Jangan sampai kita menjadi manusia yang senang berkoar-koar tentang kemanusiaan, tapi kita gak jadi selayaknya manusia.”

0 komentar: