Penulis: Alief Agustiana Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin Music Gallery kembali digelar pada Sabtu, (9/03) di Tennis ...

Terekam secara Liar: The 9th Music Gallery

Penulis: Alief Agustiana
Desain: Ninda Annisa P. D. & Diana D. Darwin

Music Gallery kembali digelar pada Sabtu, (9/03) di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Acara yang dimotori oleh FEB UI ini menjadi yang kesembilan kalinya digelar. Saya berkesempatan  untuk menyaksikan langsung acara yang bertajuk “An Undiscover Resonance” ini. Acara ini diisi oleh berbagai musisi lokal seperti Kurosuke, Elephant Kind, Daramuda, Kelompok Penerbang Roket, Rumah Sakit, Pamungkas, The Upstairs, The Changscuters,  dan masih banyak lagi. Kemeriahan acara ini ditutup oleh FUR, band asal Inggris yang bernuansa 60-an.

Terdapat dua panggung yang disiapkan The 9th Music Gallery. Pertama, Ashbury Stage yang berada di luar Tennis Indoor Senayan. Panggung ini diisi oleh Rumah Sakit, Daramuda, Kelompok Penerbang Roket, dan ditutup oleh The Changscuters. Kedua, Height Stage yang berada di dalam Tennis Indoor. Panggung ini diisi oleh Pamungkas, Kurosuke, The Trees and Wild, Elephant Kind, dan The Upstairs. Penonton dipersilakan untuk memilih musisi mana yang ingin ditonton. Keseluruhan acara ditutup oleh penampilan FUR di Height Stage.
Sajian menarik ditampilkan oleh Elephant Kind. Band pop ini memainkan seluruh lagu mareka dengan manual tanpa looper. Padahal seperti yang kita tahu, karateristik lagu-lagu mereka sangat khas dengan unsur loop. Alat-alat digital mereka seperti launch pad dan synthesizer dimainkan dengan cara-cara manual. Hal ini seakan menunjukkan kealamian dari musik mereka sebagai sebuah pertunjukan.
Sebelum Elephant Kind, Kurosuke yang merupakan side project dari vokalis Anomalyst, juga menyajikan kejutan. Di tengah-tengah penampilannya, Fathia Izzati dari Reality Club ikut naik ke panggung untuk menyanyikan lagu “Velvet”, salah satu lagu dengan Fathia Izzati sebagai pengisi vokalnya.
Penampilan eksentrik  Jimi Multazam dari The Upstairs juga sangat menghibur penonton yang tengah gelisah menunggu penampilan FUR. Karisma Jimi Multhazam dengan stage act-nya di atas panggung membuat kita teringat dengan Iggy Pop dari The Strooges. Lagu-lagu kebesaran The Upstairs seperti “Disko Darurat”, “Gadis Gengster”, dan “Terekam”, membawa nuansa yang berbeda di atas panggung. Namun salah satu lagu ikonik mereka, “Matraman”, entah karena alasan apa, tidak dibawakan.
Di stage lain terdapat penampilan dari Rumah Sakit yang merupakan band veteran seperti The Upstairs. Band yang bernuansa britpop ini membuka penampilan mereka dengan lagu yang berjudul “Pop Kinetik”. Namun penampilan mereka dirasa ada yang kosong, karena suara gitar yang minim dan lebih dominan keyboard dan synthesizer. Walaupun kekurangan suara gitar ini telah ditutupi dengan menggunakan efek chorus, hal tersebut dirasa tidak dapat memenuhi ekspetasi saya.
FUR sebagai headliner tampil dengan antusiasme tinggi dari penonton. Walaupun hanya dibantu oleh kru dari vendor, hal tersebut tidak memengaruhi performa dari penampilan mereka. FUR tetap tampil dengan maksimal. Pada saat solo gitar lagu “Angel Eyes”, para penonton menyenandungkan solo gitarnya serta merta membuat suasana tersebut seakan menonton gigs di Inggris.
Pada saat menonton FUR, ada hal yang mengganjal perasaan saya. Beberapa penonton merekam secara penuh dari awal sampai akhir penampilan. Hal ini sangatlah menggangu beberapa penonton lainnya, termasuk saya. Teman saya pun sempat menegur salah satu penonton tersebut, namun masih saja banyak yang merekam. Hakikat dalam menonton sebuah gigs adalah sing along dan menikmati sajian dari para musisi yang tampil di panggung. Merekam bukanlah tugas dari penonton. Rasanya sangat disayangkan momen-momen berharga dari pertunjukan musik telah terlewatkan hanya untuk merekam demi eksistensi di kanal Youtube pribadi.

Sesungguhnya, rekaman pertunjukan musik terbaik bukanlah apa yang terekam dari mata lensa, melainkan perbincangan hangat dengan teman-teman selepas pertunjukan berlangsung.

0 komentar: