Penulis: Nurul Ramdhiany Redaktur: Faris A, Azaina Ilustrasi: Diana Dewi Darwin Pagi hari libur itu, saya bangun lebih awal dari b...

Women’s march Bandung 2019: #BeraniBersuara Melawan Pelecehan Seksual dan Eksploitasi Anak

Penulis: Nurul Ramdhiany
Redaktur: Faris A, Azaina
Ilustrasi: Diana Dewi Darwin

Pagi hari libur itu, saya bangun lebih awal dari biasanya. Rencananya, saya bersama seorang kawan saya untuk pertama kalinya akan mengikuti Women’s March Bandung yang digelar pada Sabtu (27/04). Berhubung saya berangkat dari Jatinangor, tentu harus berangkat pagi-pagi sekali agar datang tepat waktu. Berdasarkan informasi di akun instagram @womensmarchbdg, acara akan dimulai pukul 07.00 WIB.

Sampai di Taman Cikapayang Dago, saya melihat lebih dari seratus orang perempuan dan laki-laki berkumpul untuk melakukan pawai ke gedung DPRD Provinsi Jawa Barat lengkap dengan papan tuntutan. Women’s March Bandung 2019 kali ini menyuarakan perlawanan  terhadap kekerasan seksual dalam mendorong kesadaran dan pemahaman publik terhadap gerak nyata bersama masyarakat dengan slogan #beranibersuara.  

Salah satu peserta Women's March Bandung menyuarakan keresahannya lewat plang di gedung DPRD Kota Bandung pada Sabtu, (27/04)

Berangkat dari kekesalan dan kekecewaan pada maraknya kasus pelecehan dan kejahatan seksual, saya memilih untuk ikut terjun ke aksi. Mirisnya, banyak kasus yang terjadi di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai serta moral, yaitu institusi pendidikan. Melihat dari kasus Agni dan Baiq Nuril, contohnya, kasus Agni (bukan nama sebenarnya) berakhir dengan sang gadis menandatangani kesepakatan non-litigasi bersama terduga pelaku pemerkosaan HS dan Rektorat Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Lalu kasus Baiq Nuril pun berakhir dengan kriminalisasi korban, yaitu Baiq Nuril. Ia didakwa melanggar Pasal 27 Ayat 1 UU ITE karena menyebarkan konten bermuatan asusilarekaman percakapan telepon antara dirinya dengan mantan Kepala Sekolah SMAN 7 Mataram, Muslim. Baiq Nuril diberi sanksi enam bulan penjara dan denda 500 juta. Korban diibaratkan seperti ‘sudah jatuh, tertimpa tangga pula’. Mereka menjadi korban kejahatan seksual sekaligus korban kriminalisasi dan diskriminasi.

Tema Women’s March Bandung 2019, yakni kekerasan seksual berbasis seksualitas dan gender dengan sub tema pengesahan RUU Penghapusan kekerasan seksual, perlawanan  kekerasan seksualitas  gender, dan juga perlawanan terhadap eksploitasi anak. KPAI mencatat di awal tahun 2018 ada sebanyak 32 kasus human trafficking/ perdagangan manusia  dan eksploitasi yang dialami oleh anak-anak di Indonesia. Dalam papan tuntutan yang dibawa peserta Women’s March diantaranya “Stop eksploitasi anak”, “Agama bukan alat perlindungan predator seksual”, “Semua gender adalah manusia”, “Anak-anak kami yang harus dilindungi bukan para predator seksual”, hingga “Sahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual”. Seperti yang kita tahu, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sempat ramai diperbicangkan karena berjalan sangat alot, melewati batas pemilu dengan pemerintahan baru, perjuangan RUU PKS  selama lebih dari empat tahun akan kembali lagi ke angka nol.

Saya mengikuti acara Women’s March hari itu dengan harapan agar pembuat kebijakan segera memperhatikan kesetaraan gender dalam tingkatan sosial yang belum tersentuh oleh hukum, serta mengingat bahwa perempuan lebih dari sekadar affirmative action.

0 komentar:

Penulis: Ayu Fitriyani Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Desain: Ninda Annisa Kali ini saya memilih untuk mengulas cerpe...

Pundak yang Begini Sempit: Sebuah Realisasi Sosial Tokoh

Penulis: Ayu Fitriyani
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi
Desain: Ninda Annisa


Kali ini saya memilih untuk mengulas cerpen Danarto yang berjudul Pundak yang Begini Sempit dari kumpulan cerpen Berhala, karena tema yang diangkat dalam cerpen ini sangat jelas mengenai pelanggaran HAM berat pada masa Orde Baru, yaitu petrus. Lupakan sejenak cerpen-cerpen Danarto yang sulit dipahami dan absurd itu—ya cerpen ini juga membutuhkan pemahaman yang mendalam. Jadi, tidak ada yang mudah, bukan?

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerpen ini membuat pikiran saya menjadi tak sepolos awal. Saya menyimpulkan bahwa ada kemiripan antara tokoh yang dihadirkan dengan keadaan sosial sebenarnya. Abas sebagai sudut orang pertama sekaligus tokoh utama adalah seorang yang hobi menangkap para gali bersama teman-temannya.

Realitanya, peristiwa pembunuhan misterius yang terjadi pada tahun 1982 sampai 1985 melibatkan aparat. Sebagaimana yang sudah diketahui, bahwa petrus bermula dari adanya penghargaan yang diberikan oleh sang penguasa orba kepada Kapolda Metro Jaya atas keberhasilannya membongkar perampokan yang diduga meresahkan masyarakat. Tentu aparat negara terlibat di dalamnya.

Adanya kemiripan tokoh Tiwuk dan Bu Bibing dengan masyarakat yang tidak setuju adanya petrus. Tiwuk sebagai istri dari Abas, mengaku tidak sudi bahwa pekerjaan suaminya sebagai petrus dan Bu Bibing adalah seorang ibu dari salah satu korban petrus, yaitu Epong. Tokoh Bu Bibing digambarkan begitu takut dengan petrus, tidak ketinggalan istri Abas dan anak-anaknya yang harus menerima nasib buruknya setelah penangkapan Abas oleh Jon, teman dekatnya. Betul-betul menyedihkan.


Anak saya jangan ‘dikarungkan’, Pak. Jangan, Pak. Jangan diapa-apakan Si Epong, Pak,” rintihnya dan makin keras pelukannya di kaki saya” (Danarto, 2017:137)


Cerpen ini menyebutkan bahwa Abas sebagai tokoh utama menyembunyikan identitas petrus di hadapan keluarganya. Hal ini bisa jadi yang melatarbelakangi bahwa pelaku-pelaku petrus tidak pernah diketahui identitas aslinya, makanya disebut penembak misterius. Bu Bibing memohon kepada Abas agar anaknya tidak dikarungkan, karena dalam realitanya pun beberapa saksi keluarga korban menyatakan bahwa mayat korban dimasukkan ke dalam karung yang kemudian ditemukan di pinggir jalan atau tempat-tempat tertentu.

Goplak merupakan tokoh gali (gabungan anak liar) dan Goplak dijadikan incaran oleh Abas, Jon, dkk. untuk dibunuh, karena dianggap raja gali dan ia mendapat penghasilan dari penguasaan lahan toko. Begitu pun Srondol, ia menjadi incaran Abas dkk. karena dianggap sebagai gali kelas kambing tapi sangat sadis.

Di dalam cerpen Pundak yang Begini Sempit, Danarto menceritakan bahwa orang-orang yang dijadikan sebagai ikon korban petrus itu orang-orang yang benar-benar melakukan kejahatan—sebuah upaya satire. Berbeda dengan realitanya, banyak korban petrus 1982-1985 yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tetapi dijemput secara paksa dengan berbagai cara dan alasan. Seperti dikutip pada Tempo.co yang bertajuk Pengakuan Kentus, Target Petrus yang Selamat menyatakan bahwa korban dianggap gali karena ia hidup di jalanan, padahal dirinya tidak pernah memeras dan mencuri. Ketika korban akan melayat kawannya, teman yang lain memberitahu agar tak datang melayat, karena jika datang, dirinya akan dianggap gali.

Melalui tokoh-tokoh dalam cerpen Pundak yang Begini Sempit, Danarto begitu mempresentasikan kehidupan masa Orde Baru, terkhusus peristiwa penembakan misterius ini. Ternyata di balik megahnya pembangunan yang dilakukan masa itu, terdapat masa-masa kelam yang sudah diputuskan sebagai suatu pelanggaran Hak Asasi Manusia tingkat berat. 

0 komentar:

Penulis: Semaul Redaktur: Limya Oktaviani Ilustrasi: Al Aniyah Seperti biasanya, Jumat ini pun langit nampak cerah. Saat itu puku...

Hujan Hari Jumat

Penulis: Semaul
Redaktur: Limya Oktaviani
Ilustrasi: Al Aniyah

Seperti biasanya, Jumat ini pun langit nampak cerah. Saat itu pukul sembilan lebih tiga puluhan, Dulatif masih asik dengan gawainya, sedangkan Jami sudah segar diguyur air mandi. Jami selalu bangun gelap-gelap hari dan mandi sebelum melaksanakan ibadah salat subuh. Dulatif pun selalu bangun gelap-gelap hari, dibangunkan Jami kala azan dikumandangkan.
Ketika keduanya masih sibuk dengan urusannya masing-masing, tak disangka langit tiba-tiba meredup dan turunlah tetes-tetes rahmat Tuhan berupa hujan, hujan yang cukup deras. Saat itu kurang lebih pukul sepuluh, Dulatif yang tadinya hendak mandi mengurungkan niatnya tersebut. Jami mengangkat handuk biru yang digantungkannya di jemuran.
“Hujan.” Jami mengucapkannya pelan seolah ucapannya tersebut tidak tertuju pada siapa pun, sedikit bernada keheranan. Tentu saja, lama tak jumpai hujan, apalagi saat Jumat siang di tempat itu. Sekalinya hujan, hanya berupa rintik-rintik saja, dan itu pun sebentar. Lepas itu, langit kembali menebar panas di jalanan.
“Barangkali hujannya akan berhenti pukul sebelas nanti, seperti yang lalu-lalu,” ucap Dul seolah membalas ucapan Jami. Keduanya kembali sibuk dengan urusannya masing-masing, Dul dengan gawainya dan Jami dengan ujung kuku-kukunya yang sedang diguntingnya.
Pukul sebelas, hujan masih saja mengguyur genting dan kanopi. Hujan tersebut seolah menjadi sangat deras sebab suaranya yang ramai kala memukul-mukul genting dan kanopi. Padahal, hujan sekarang tidak sederas hujan yang tadi. Jami beranjak dari duduknya dan mengintip hujan melalui lawang pintu. Sudah lumayan reda, pikirnya.
“Dul, ayo siap-siap.”
Dul seolah mengiyakan kata Jami untuk bersiap-siap pergi ke masjid. Dia pun mengambil peralatan mandi dan pergi ke kamar mandi. Sebelumnya, Dul berpikir untuk tidak akan pergi ke masjid karena hujan. Tidak pergi jumatan karena hujan diperbolehkan bukan? Begitu pikirnya. Meskipun dia masih agak ragu dengan sesuatu yang pernah didengarnya atau dibacanya itu. Bila harus jujur, belakangan ini Dul mengalami kemunduran iman, mungkin hanya sedikit ke belakang. Beberapa hari ini, dia jarang salat tepat waktu, dan sunnah kadang dia tinggalkan. Barangkali sedang sibuk mengurus perkara dunia, sedangkan Jami hatinya masih dipenuhi kekhawatiran, mungkin juga kebimbangan. Dia khawatir langit tak kunjung menyudahi hujan aneh ini. Situasi dipersulit dengan adanya payung mereka yang rusak, beberapa cabangnya patah.
Menjelang azan Jumat, bunyi hujan mulai mengecil dan matahari mulai nampak, namun hujan tak kunjung reda juga. Jami sudah rapi dengan setelan ibadahnya, lengkap dengan peci abu-abunya. Dulatif pun sudah segar dan wangi sabun mandi, namun setelannya masih itu-itu saja.
“Dul, ayo berangkat!”
“Masih hujan, Mi, baiknya kita tidak pergi dulu.”
“Sudah kecil. Tengok, langit pun sudah panas.”
“Tapi masih hujan, Mi. Nanti kita basah.”
Jami terdiam sejenak, mengintip sedikit ke luar, memastikan keadaan mendukung dirinya untuk pergi ke mesjid saat itu juga.
“Kau tak dengar itu, di masjid sudah ada yang mengaji. Kalau hujan pun tak menghalanginya untuk pergi ke masjid, begitu pun kita.”
“Tapi kan jarak kita ke masjid tidak sedekat jarak orang itu ke masjid, kita bisa basah duluan sesampainya di sana. Kalau kita salat dalam keadaan basah, apa tidak mengganggu jamaat yang lain?”
“Tapi hujannya sudah kecil, Dul, bahkan hanya titik-titik kecil saja.”
Dul mengintip sedikit ke luar dengan berusaha untuk tidak beranjak dari tempatnya, mencoba melihat hujan.
“Ah mana ada, hujannya dari tadi masih segitu-segitu saja.”
“Ya sudahlah kalau kau tidak mau pergi, aku akan tetap pergi.”
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam.”
Dalam hati Jami muncul sedikit kejengkelan terhadap Dul yang menolak pergi jumatan bersamanya. Sepintas dalam pikirnya, dasar kafir. Semudah itu dia mencap teman seimannya tersebut. Meski kata-kata tersebut tidak secara langsung diujarkannya, kata-kata tersebut hanya sekelebat dalam arus pikirannya yang absurd dan spontan, namun buah pikir macam itu bisa saja menjadikan situasi kian memburuk. Iblis selalu senang dengan pertikaian macam itu, bahkan mengharapkannya dan mencoba merealisasikannya. Satu percik api bisa menjadi sebuah ledakan bila disekitarnya menggenang berliter-liter minyak tanah.
Jami berjalan setapak menyusuri becek dan lubang jalanan. Di sepertiga akhir jalannya menuju masjid, tiba-tiba langit menjadi gelap dan hujan pun melebat. Jami sampai di masjid dengan setelan beribadatnya yang lumayan basah. Dia pun masuk ke dalam dan duduk mendengarkan khotbah di barisan ketiga, di antara para jemaah yang setelannya kering-kering. Dalam salat, Jami merasa agak tidak khusyu. Air hujan masih menempel di bahu dan pecinya.
Dulatif masih berada di tempatnya. Dia mulai merasa berdosa, apalagi setelah menolak ajakan Jami untuk pergi ke masjid. Dia pun segera pergi ke kamar mandi, berkumur, membasuh wajah serta kedua tangannya dengan sungguh. Lalu dilanjutkan dengan membasuh atas kepalanya, telinga, lalu kedua kakinya, sebagaimana umat Islam bersuci. Lepas bersuci, dia pun melaksanakan salat zuhur untuk mengganti ibadah jumatnya yang tertinggal. Dengan takbir yang mantap, dia memulai salatnya. Bersujud seolah dekat dengan Sang Pencipta, Sang Pemberi Kasih dan Sayang, Maha Pengampun.

0 komentar:

Penulis: Wanti Ayu Aprilian Desain: Ninda Annisa Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu ...

Arapaima dan Nasib Tokoh Utama Kesayangan Kita Semua

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Desain: Ninda Annisa
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi


Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu Arapaima--ikan predator bertubuh besar yang mampu memangsa apa saja?

Apa kamu akan termenung sambil menyaksikannya berputar-putar--seperti tokoh utama kesayangan kita semua?
atau pontang-panting saking kagetnya?
Ehm, biar kutebak, pasti yang kedua, ya?
--
Arapaima ialah sebuah novela yang ditulis oleh Ruhaeni Intan. Novela ini tidak tebal--tentu saja--hanya terdiri atas 92 halaman. Namun, isinya matang dan betul-betul menyenangkan. Membaca Arapaima sama menyenangkannya dengan makan ikan bakar malam-malam, ketika udara tengah dingin-dinginnya dan ikan yang tersaji masih hangat-hangatnya, ah!

Intan menyuguhkan teknik penceritaan yang mengalir dan begitu menyenangkan--saya tidak bisa, bila tidak mengulang kata satu ini hehe--selain itu, cerita disajikan dengan begitu hati-hati--makanya, membaca Arapaima terasa seperti memakan makanan lezat sekaligus enak dipandang mata yang--tentu saja--tidak dipersiapkan secara sembarang.

Namun, hidup selalu memiliki dua sisi, 'kan? Hal yang menyenangkan berkelindan dengan hal yang menyebalkan. Dan itu masuk akal dalam kehidupan.

Arapaima memang menyenangkan, tapi tidak dengan nasib tokoh "aku" dalam cerita. Tokoh utama kesayangan kita semua ini mengalami nasib yang menyebalkan. Diperlakukan tidak adil karena ia seorang pekerja perempuan, ditinggalkan kawannya karena dianggap berbohong saat bercerita tentang pelecehan seksual--yang dilakukan oleh kepala tokonya yang genit nan menyebalkan, juga dikuntit perasaan kesepian yang siap mencekiknya kapan saja. Muram betul nasib tokoh utama kesayangan kita semua.

Kemuraman tersebut membuat tokoh utama kesayangan kita semua ini rasanya ingin menjadi ikan saja. Tak disangka, keinginannya terwujud. Dalam bayangannya ia menjelma arapaima, dengan sisik dan sirip dan kepala ikan arapaima. Dan orang-orang disekitarnya berubah menjadi ikan, ada macam-macam ikan tentu saja. Lama kelamaan ia sadar, menjadi ikan bukanlah hal menyenangkan. Ikan harus selalu tinggal di dalam air, jika keluar ia akan menggelepar karena kehilangan air. Namun, tidak ada bedanya menjadi ikan arapaima atau menjadi manusia. Keduanya sama-sama terkutuk dan menyedihkan di hadapan manusia lain yang mengendalikan segala sesuatunya, begitulah kata Intan.

--
Arapaima memuat banyak hal; ketidakadilan yang menimpa para pekerja perempuan, sulitnya meyakinkan orang saat kita menjadi korban pelecehan seksual, rahasia-rahasia dan masalah yang tentu dimiliki setiap orang, juga sulitnya menjadi masyarakat kelas bawah--karena harus menanggung penderitaan dari kehidupan menyenangkan yang ada di atas kita--begitulah.

Yang paling nelangsa kukira ketika Intan memperlihatkan betapa mesranya manusia dengan kesendirian. Aduh, seru betul Arapaima ini, sungguh!

0 komentar:

Penulis: Shaninta H. Redaktur: Limya Oktaviani Ilustrasi: Ayu Fitriyani Aku telanjang. Panas, panas, amat panas… Teriaka...

Generasi Z

Penulis: Shaninta H.
Redaktur: Limya Oktaviani
Ilustrasi: Ayu Fitriyani



Aku telanjang.
Panas, panas, amat panas…
Teriakan, tangisan, erangan…
Riuh, sangat riuh…

AMPUN.. AMPUN..
KENAPA AKU MINTA AMPUN?

BUKAN AKU YANG SALAH, BUKAN, BUKAN AKU!!!

Tiba-tiba pendaran cahaya mendekati dan menepuk pundakku.

***

Aku melangkah terus menerus, mengikuti kemajuan industri yang semakin tak masuk akal.
Pukul 07.00
Alarmku berbunyi, menandakan bahwa aku harus pergi ke kantor, mengambil handuk, lalu mandi.
Kalau sempat.
Sering kali hanya cuci muka dan sikat gigi.
Setelah itu, aku menuju meja makan. Niatnya sih sarapan, kalau sempat. Sering kali beli burger di drive thru, makan sambil mengemudi.
Sampai kantor pukul 09:15.
Lagi-lagi aku telat bekerja, bukan salahku. Itu salah ibu kota.

Sesampainya di kantor, seperti biasa. Aku duduk berhadapan dengan PC. Isinya ya itu-itu lagi.
Paling senang jika bel kantor berbunyi, pukul 12:00, menandakan waktu istirahat dan makan siang.
Lagi-lagi kalau sempat. Sering kali aku pesan ayam crispy dari aplikasi. Bayar pake uang yang nggak keliatan. Uang internet.
Aku makan siang sembari bekerja berhadapan dengan PC. Isinya ya itu-itu lagi.

Pukul 17:00, bel kantor bunyi lagi. Senang sekali rasanya bisa pulang ke rumah dan istirahat. Apalagi sambil dipijitin istri.
Ekspetasi.
Realitanya, lembur lagi sampai pukul 23:00.

Sudah lelah, ingin cepat berbaring di ranjang. Baru sampai rumah, istri udah minta jatah. Jatah uang bulanan. Padahal tiap aku minta jatah goyang, dia nggak pernah ngasih, malah nyuruh pake lonte.

“Pak! Minta tambahlah gajimu itu. Pulang tiap hari tengah malam, tapi gajimu segitu-gitu aja. Presiden cuma nyuruh-nyuruh gajinya udah bisa beli pulau!”

Itu kata-kata langganan. Otomatis keluar dari mulutnya tiap aku pulang kerja. Kalau kujawab,

“Yaudah Mah, cukup kan buat beli make up sama belanja bulanan, apalagi yang kurang?”

Pasti semprotannya begini,

“Sekarang jaman udah canggih, Pak! Aku nggak mau make up bedakan, lipstikan terus! Aku mau sulam alis, sulam bibir, extention bulu mata, sekalian kalo perlu operasi plastik sama operasi payudara! Biar nggak kalah sama istrinya Tarno!”

Kalau sudah begitu, biasanya aku tinggal masuk kamar.

Belum lagi, kalau pagi di hari minggu. Anak balitaku hobinya ngeluh, minta mainan baru.

“Yah, gadget-ku sudah usang, aku mau gadget yang layarnya bagus, biar bisa main PABJI.

Ya, begitulah isi kepalaku.
Mikirin istri sama anak yang takut ketinggalan jaman.

Begitu…
Berulang…
Terus berulang setiap harinya, setiap bulannya, setiap tahunnya.

Sampai suatu waktu, istriku sedang di dapur. Motong daging buat bikin rendang, katanya mau dikasih ke keluarga Tarno, katanya. Katanya. Tapi aku percaya kok. Istriku nggak mungkin bikin buat Tarno seorang.
Aku peluk ia dari belakang.
Tiba-tiba tanganku menyenggolnya dan membuat tangannya terpotong pisau daging. Aku panik, mengambil pisau daging tersebut. Terlalu panik. Sampai tidak sengaja perutnya juga tertusuk pisau daging.

Tiba-tiba anakku pulang dari sekolah.

“Ayah!! Ayah bunuh Ibu!!”

Aku panik, aku sedih.
Anakku berlari, aku kejar, aku ingin memeluknya.
Aku panik, aku kejar, aku panik, aku kejar…

Akhirnya…
Aku memeluk anakku. Aku menjadi tenang.

Tapi, lagi-lagi aku panik.
Perut anakku berdarah…

Tidak! Ini arwah istriku yang membawa anakku ikut ke neraka!
Tidak!

Aku harus mengejar mereka.

0 komentar:

Penulis: Ninda Annisa Redaktur: Limya Oktaviani Ilustrasi oleh: Nurul Ramdhiany Manusia memang menyeramkan dan tidak terduga, bu...

Kata-Kata Maut

Penulis: Ninda Annisa
Redaktur: Limya Oktaviani
Ilustrasi oleh: Nurul Ramdhiany

Manusia memang menyeramkan dan tidak terduga, bukan?
Saya baru saja mendengarkan cerita seorang anak SMA, tepatnya tetangga saya, yang dimarahi ibunya karena nilai ulangannya tidak begitu bagus. Untuk mempelajari materi ulangan pun ia dipaksa belajar sampai larut malam. Pernah ibunya tidak memberi ia makan sebelum ia menyelesaikan soal-soal latihan di buku sekolahnya. Menurutnya, hal paling parah yang pernah ibunya katakan adalah ibunya malu mempunyai anak bodoh sepertinya. Ia langsung lari ke rumahku sambil menangis. Saya menatapnya iba, sambil menepuk punggungnya pelan.
Saya jadi teringat saat saya baru pindah ke rumah ini.
Sudah dua bulan sejak saya pindah ke rumah ini. Saya pindah karena merasa kesepian di rumah saya yang dulu. Padahal rumah saya sebelumnya tidak pernah membiarkan penghuninya merasa kesepian. Ya, sebelum hal itu terjadi. Siapa sangka adik saya yang polos sekali itu mempunyai pikiran untuk bunuh diri karena omongan orang lain? Iya saya mengerti, mungkin ia lelah mendengar ejekan orang lain, tetapi haruskah bunuh diri? Siapa sangka orang tua saya pun mempunyai pikiran untuk lebih baik ikut mati daripada hidup tanpa anak bungsunya itu? Saya ditinggal sendiri oleh mereka. Saya yang tiba-tiba merasa kesepian jadi sering berpikiran untuk ikut bunuh diri. Jika saya bertemu kembali dengan keluarga saya di alam sana, saya tidak perlu merasa sepi dan sedih, bukan? Tetapi saya menghapus pikiran itu karena saya merasa masih memiliki tugas di dunia ini. Mungkin saya akan mengikuti jalan mereka jika tugas saya di dunia sudah tuntas.
Rasa sepi dan sedih yang semakin mencekik itu membawa saya keluar dari rumah. Akhirnya, di sinilah saya di sebuah perumahan sederhana yang dihuni oleh keluarga-keluarga sederhana pula. Saat pertama kali pindah sebagai tetangga baru yang membutuhkan banyak bantuan untuk mehilangkan rasa kesepian, saya memutuskan untuk mendatangi rumah-rumah di blok A. Tidak lupa saya membawa bingkisan berisi kue yang saya buat khusus untuk dibagikan kepada tetangga-tetangga saya. Semoga tetangga saya bisa membantu mengusir rasa kesepian ini, harapan saya saat itu.
Perjalanan saya dari satu rumah ke rumah lainnya berjalan sangat lancar sampai ketika saya tiba di depan rumah yang letaknya hanya dipisah oleh dua rumah dari rumah saya. Saya tidak berani mengetuk pintu rumah tersebut karena saat saya baru hendak membuka pagar saja, saya dapat mendengar suara teriakan dari rumah tersebut. Saya duga di dalam rumah itu ada seorang ibu yang sedang memarahi anaknya. Setelah menguping sebentar, saya memutuskan untuk tidak mengunjungi rumah tersebut karena tidak yakin amarah ibu itu akan hilang dalam sekejap. Suara yang dikeluarkannya saja semakin tinggi. Daripada saya disambut ibu tersebut dengan raut wajah kesal habis memarahi sang anak, lebih baik saya pulang. Ya, anak itu adalah anak SMA yang sedang menangis di rumah saya saat ini.
Saya pertama kali kenal Ajeng nama anak SMA itu saat saya mengunjungi rumahnya dua hari setelah saya pindah. Saya akhirnya memutuskan untuk datang ke rumah Ajeng, karena merasa tidak baik jika saya tidak memberi bingkisan kue pada keluarga mereka juga. Kata Ajeng, ibunya berterima kasih atas bingkisan kue yang saya berikan. Maka dari itu, ibu Ajeng memberi saya semangkuk sayur sop. Sejak saat itulah kami sering saling memberi makanan dengan alasan sama-sama tidak enak jika tidak memberi makanan kembali. Saya juga menjadi dekat dengan Ajeng, karena ia yang sering disuruh ibunya mengantar makanan ke rumah saya. Kebaikan ibu Ajeng membuat saya tidak percaya kalau ada yang berkata bahwa ia sangat keras dalam mendidik anaknya. Saya sempat menduga saat itu Ajeng berbuat salah sehingga wajar dimarahi. Namun dugaan saya salah. Ajeng memang sering dimarahi. Bahkan karena hal kecil sekali pun. Saya tahu karena saya sudah menjadi teman bercerita Ajeng tentang sekolah, tugas, dan tentunya tentang omelan sang ibu.
Melihat Ajeng yang sering dimarahi membuat saya merasa kasihan. Saya bingung juga, kenapa ibu Ajeng sering memarahi anaknya begitu. Sampai-sampai ia tak segan untuk memukul anaknya dengan rotan hanya karena masalah nilai. Ibu saya saja tidak pernah memarahi adik saya walaupun nilai-nilainya tidak begitu bagus. Oleh karena itu, saya berusaha menjadi pendengar yang baik bagi Ajeng. Saya selalu bersedia mendengar keluh kesahnya setiap hari. Saya tidak mau Ajeng, yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri, mengakhiri hidupnya seperti adik saya. Adik saya yang mendengar omongan menyakitkan dari orang lain saja bisa bunuh diri seperti itu, apalagi Ajeng yang sering mendengar omongan menyakitkan dari ibunya sendiri. Saya juga merasa adik saya memutuskan untuk bunuh diri karena tidak ada yang bisa menjadi pendengar cerita untuknya.
“Sudah ya, Ajeng. Jangan menangis terus. Ibu Ajeng mungkin sedang banyak pikiran, makanya bisa berkata seperti itu.”
“Ibu keterlaluan, Mbak Lira. Masa Ibu bisa bilang begitu. Aku ‘kan anak Ibu.”
“Iya, Mbak juga tahu Ibu Ajeng keterlaluan. Sudah ya, jangan nangis. Kamu belum makan, ‘kan? Mau makan? Mbak baru masak tadi. Siapa tahu masakan Mbak bisa bikin Ajeng nggak sedih lagi.”
Ajeng yang awalnya hanya menundukkan kepala sambil menangis, akhirnya mendongakkan kepalanya untuk mengangguk. “Iya, Mbak, aku mau. Nangis ini bisa bikin lapar ya ternyata.”
Saya tersenyum mendengar jawaban Ajeng. “Mbak kira saking sedihnya, Ajeng nggak akan merasa lapar. Ternyata masih bisa merasa lapar ya.”
Ajeng tertawa kecil sambil memegangi perutnya. “Sebenarnya dari tadi perut Ajeng ini bunyi terus, minta dikasih makan. Tapi Ajeng tahan karena malu. Masa sudah nangis begitu malah bilang lapar. Untung Mbak yang bilang duluan. Makasih ya, Mbak.” Ajeng tersenyum pada saya. Saya tersenyum lebar, senang bisa membuat Ajeng berhenti menangis.
Saya beranjak dari sofa yang berada di ruang tengah dan mengajak Ajeng pergi ke dapur. “Duduk di sini, Jeng. Mbak ambilkan piring sama sendok, ya. Ajeng duduk saja,” ujar saya, kemudian dibalas Ajeng dengan anggukan kepala.
Setelah meletakkan piring di depan Ajeng, saya membuka tudung makanan di meja dan meletakkannya di kursi kosong. “Ini, sederhana saja sih Mbak masaknya, tapi enak kok, Jeng. Mbak ‘kan, jago masak.”
Ajeng mengikik. “Iya, Mbak. Nggak apa-apa, Ajeng senang.”
Saya hanya tersenyum menanggapi perkataan Ajeng. Saya menatapi Ajeng yang sedang makan, namun sebisa mungkin tidak menatapnya dengan rasa kasihan. Sebenarnya, memang merasa kasihan. Untuk anak SMA bertinggi badan melewati seratus enam puluh sentimeter, Ajeng terbilang kurus. Mungkin berat badannya di bawah lima puluh kilogram. Saya tertegun. Masa Ajeng jarang diberi makan oleh orang tuanya? Atau ia terlalu rajin belajar sampai sering lupa makan?
“Wah, sayurnya enak sekali, Mbak.”
“Pasti enak dong, Jeng. ‘Kan Mbak yang masak.”
“Iya, iya. Mbak jago masak deh!”
“He-he. Oh, iya, Jeng. Mbak lihat, kamu kurang sehat. Pucat. Mau minum vitamin? Mbak masih simpan vitamin yang suka adik Mbak minum dulu. Dulu dia langsung segar bugar lho setiap habis minum vitaminnya. Mau coba?”
“Wah, boleh, Mbak. Ajeng nggak pernah lho, minum vitamin.”
“Padahal yang rajin belajar kayak Ajeng gini mesti minum vitamin biar tetap bugar. Bentar ya, Mbak ambilkan vitaminnya.”
Ajeng menggangguk lalu menyantap kembali makanannya, sementara saya mengambil botol berisikan vitamin di laci. “Ini vitaminnya, bentuk tablet. Tapi jangan langsung Ajeng minum selesai makan, ya? Tunggu satu jam dulu.”
“Oke, Mbak.”
Setelah Ajeng selesai makan, saya berusaha mencari topik pembicaraan yang sekiranya dapat membuat Ajeng merasa bahagia dan melupakan kesedihannya. Saya berhasil, kami sudah berbicara selama hampir satu jam dengan diselingi gelak tawa. Lagi-lagi saya senang, bisa membuat Ajeng bahagia. Pembicaraan kami terhenti saat saya menerima telepon dari kawan saya. “Mbak angkat telepon dulu ya, Jeng. Vitaminnya dimakan sekarang juga boleh. Langsung tutup botolnya kalau sudah diambil vitaminnya, ya? Jangan lupa ambil minum air mineral sebelum makan vitamin. Sebentar, ya.”
Baru saja saya hendak mengangkat telepon dari kawan, saya mendengar Ibu Ajeng meneriakkan nama Ajeng di luar, sambil mengetuk beberapa kali pintu rumah saya. Saya yang saat itu berada di ruang tengah, segera menemui Ajeng. Saya mendapati raut wajah Ajeng berubah menjadi ketakutan, rupanya ia sudah mendengar suara ibunya.
“Ajeng, kamu harus segera menemui ibu kamu,” ucap saya sedikit tergesa-tergesa karena panik. “Kalau kamu lebih lama tinggal di sini, ibumu bakal lebih marah lho, Jeng. Lebih baik kamu temui ibumu sekarang. Mbak nggak mau kamu kenapa-kenapa karena ibumu,” ucap saya dengan tatapan mata yang dibuat-buat untuk meyakinkan Ajeng.
Saya bingung mau berkata apa lagi untuk meyakinkan Ajeng. Saya tidak mau Ajeng dipukuli, tetapi saya tidak mungkin membiarkannya terus berada di sini. Apalagi suara ketukan pintu yang dibuat ibu Ajeng terdengar makin keras. Saya rasa jika ibu Ajeng terus begitu selama satu jam, pintu rumah saya bisa berlubang. Maka saya dengan cepat kembali meyakinkan Ajeng. “Mbak yakin, seratus ribu persen, Ibu Ajeng nggak akan memukul Ajeng. Jangan takut. Kalau ada apa-apa, teriak saja. Nanti Mbak diam di depan rumah Ajeng. Jadi kalau Ajeng teriak, Mbak bisa dengar dan bisa langsung masuk ke rumah Ajeng. Gimana?” Saya memeluk Ajeng. Malang sekali kamu, Ajeng. Coba saja kamu bukan anak ibu kamu yang sekarang ini. Mungkin kamu akan lebih lama merasa bahagia.
Sepertinya perkataan saya yang terakhir berpengaruh kepada Ajeng karena ia tiba-tiba melepas pelukan saya dan berlari menuju pintu depan. Saya bisa mendengar omelan ibunya samar-samar dari dalam. Ketika saya pergi ke luar, tetangga-tetangga saya terlihat berbisik. Satu dari tetangga-tetangga saya bertanya apa yang terjadi, kemudian saya jawab, “Seperti biasa, Bu.” Ya, seperti biasa. Semua tetangga ‘kan sudah tahu betapa kerasnya Ibu Ajeng dalam mendidik anaknya. Mereka menduga ia bertindak demikian karena tidak puas dengan nilai yang didapatkan anaknya.
Setelah puas karena tahu penyebab keributan yang terjadi, semua masuk ke dalam rumah, termasuk saya. Saya sebenarnya mengkhawatirkan Ajeng, tetapi saya tidak berani untuk benar-benar menunggu di depan rumahnya. Maaf, Jeng. Mbak memang penakut. Tidak berani menyerahkan diri.
Saya tidak sadar tengah melamun, sebelum saya dikejutkan oleh suara sirine. Mobil polisi atau ambulans, saya tidak tahu pasti. Saya melihat keadaan di luar melalui kaca depan rumah saya. Sepertinya hampir semua penghuni rumah di blok A mengerumuni entah apa itu. Namun saya menjadi yakin yang dikerumuni itu adalah Ajeng ketika saya mendengar warga berulang kali berkata, Ajeng meninggal. Saya terkejut bukan main. Bergegaslah saya pergi ke luar rumah untuk memastikan apa yang terjadi. Sebelum saya sampai ke depan rumah Ajeng, saya mendengar tetangga-tetangga berbisik bahwa Ibu Ajeng diduga membunuh anaknya sendiri. Saya langsung lari ke dalam rumah, mengambil kunci mobil dan beberapa barang lainnya, kemudian mengunci rumah, dan mengendarai mobil saya ke arah berlawanan dari tempat kerumunan.

Manusia memang menyeramkan, bukan?

Seorang ibu telah membunuh anaknya sendiri, dengan kata-kata yang dilontarkannya.

Betul, saya juga manusia. Kau tahu jawabannya, bukan?

0 komentar: