Penulis: Wanti Ayu Aprilian Desain: Ninda Annisa Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu ...

Arapaima dan Nasib Tokoh Utama Kesayangan Kita Semua

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Desain: Ninda Annisa
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi


Apa yang akan kamu lakukan jika bertemu Arapaima--ikan predator bertubuh besar yang mampu memangsa apa saja?

Apa kamu akan termenung sambil menyaksikannya berputar-putar--seperti tokoh utama kesayangan kita semua?
atau pontang-panting saking kagetnya?
Ehm, biar kutebak, pasti yang kedua, ya?
--
Arapaima ialah sebuah novela yang ditulis oleh Ruhaeni Intan. Novela ini tidak tebal--tentu saja--hanya terdiri atas 92 halaman. Namun, isinya matang dan betul-betul menyenangkan. Membaca Arapaima sama menyenangkannya dengan makan ikan bakar malam-malam, ketika udara tengah dingin-dinginnya dan ikan yang tersaji masih hangat-hangatnya, ah!

Intan menyuguhkan teknik penceritaan yang mengalir dan begitu menyenangkan--saya tidak bisa, bila tidak mengulang kata satu ini hehe--selain itu, cerita disajikan dengan begitu hati-hati--makanya, membaca Arapaima terasa seperti memakan makanan lezat sekaligus enak dipandang mata yang--tentu saja--tidak dipersiapkan secara sembarang.

Namun, hidup selalu memiliki dua sisi, 'kan? Hal yang menyenangkan berkelindan dengan hal yang menyebalkan. Dan itu masuk akal dalam kehidupan.

Arapaima memang menyenangkan, tapi tidak dengan nasib tokoh "aku" dalam cerita. Tokoh utama kesayangan kita semua ini mengalami nasib yang menyebalkan. Diperlakukan tidak adil karena ia seorang pekerja perempuan, ditinggalkan kawannya karena dianggap berbohong saat bercerita tentang pelecehan seksual--yang dilakukan oleh kepala tokonya yang genit nan menyebalkan, juga dikuntit perasaan kesepian yang siap mencekiknya kapan saja. Muram betul nasib tokoh utama kesayangan kita semua.

Kemuraman tersebut membuat tokoh utama kesayangan kita semua ini rasanya ingin menjadi ikan saja. Tak disangka, keinginannya terwujud. Dalam bayangannya ia menjelma arapaima, dengan sisik dan sirip dan kepala ikan arapaima. Dan orang-orang disekitarnya berubah menjadi ikan, ada macam-macam ikan tentu saja. Lama kelamaan ia sadar, menjadi ikan bukanlah hal menyenangkan. Ikan harus selalu tinggal di dalam air, jika keluar ia akan menggelepar karena kehilangan air. Namun, tidak ada bedanya menjadi ikan arapaima atau menjadi manusia. Keduanya sama-sama terkutuk dan menyedihkan di hadapan manusia lain yang mengendalikan segala sesuatunya, begitulah kata Intan.

--
Arapaima memuat banyak hal; ketidakadilan yang menimpa para pekerja perempuan, sulitnya meyakinkan orang saat kita menjadi korban pelecehan seksual, rahasia-rahasia dan masalah yang tentu dimiliki setiap orang, juga sulitnya menjadi masyarakat kelas bawah--karena harus menanggung penderitaan dari kehidupan menyenangkan yang ada di atas kita--begitulah.

Yang paling nelangsa kukira ketika Intan memperlihatkan betapa mesranya manusia dengan kesendirian. Aduh, seru betul Arapaima ini, sungguh!

0 komentar: