Penulis: Faris Al-Furqon Desain: Diana D. Darwin Redaktur: Azaina Astaga ibuuuuu.. Mereka memperkosaku Belasan mereka bergili...

Dimanja x Dialogic: Bagaimana Kita Menyikapi Pelecehan Seksual di Kampus?

Penulis: Faris Al-Furqon
Desain: Diana D. Darwin
Redaktur: Azaina

Astaga ibuuuuu..
Mereka memperkosaku
Belasan mereka bergiliran
Lagi dan lagi bergantian
Ampuuuunnnn...
Aku menangis
Aku terjang
Melawan yang aku bisa
Berkali- kali ibu
Kupanggil namamu
Hingga tiada lagi rasa
Tiada suara
Tiada warna
Tiada apa

Baris demi baris puisi Denny JA berjudul “Tangis Yuyun untuk Ibunya” dibacakan dengan suara yang menggebu-gebu oleh Sogen (2017). Gema suaranya membuka diskusi kami sore itu. Forum diskusi Dimanja (Diskusi Mahasiswa Senja) yang diinisiasi oleh Departemen Ideologi Gelanggang kali ini kedatangan tamu. Mereka adalah teman-teman dari BEM Fakultas Hukum Unpad.

Dimanja berkolaborasi dengan forum diskusi Dialogic dari BEM FH Unpad kali ini. Diskusi yang bertajuk “Dengar Suaraku: Ngobrol-Ngobrol Tentang Pelecehan dan Kekerasan Seksual di Ranah Kampus” ini digelar di aula Gedung B FIB Unpad pada Kamis (4/3).

Sogen (2017) sedang membacakan puisi "Tangis Yuyun untuk Ibunya" karya Denny JA.
Mulai dari kasus Agni di UGM, hingga dugaan pelecehan seksual di UIN Bandung, satu per satu dipaparkan untuk menjelaskan bagaimana realita kehidupan kampus saat ini. Bahkan beberapa orang yang tergabung di forum Dimanja juga mengaku pernah dilecehkan secara seksual di kampus kita, ada juga yang di luar. Sungguh miris.

Kehadiran teman-teman FH sendiri cukup menambah kekayaan pembahasan kali ini. Mereka dengan komperhensif membahas hukum-hukum terkait kekerasan dan pelecehan seksual. Mulai dari peraturan yang sudah ada, sampai RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) juga dibahas. Mereka sangat menyayangkan implementasi regulasi yang sudah ada kurang maksimal dan mendukung RUU PKS yang tengah dibahas di parlemen.

Teman-teman FH juga menyoroti bagaimana peran kampus dalam pencegahan dan pemberantasan pelecehan seksual di kampus. Seharusnya, Unpad memiliki regulasi khusus dalam hal pencegahan dan penanganan kekerasan serta pelecehan seksual. Fasilitas kampus juga dirasa kurang memadai. Lampu jalan di wilayah Soshum juga banyak yang mati sehingga gelap sekali saat malam. Hal ini dinilai sangat rentan, bukan hanya terhadap pelecehan seksual, melainkan tindak kejahatan lain.

Suasana forum Dimanja x Dialogic

Suasana forum Dimanja x Dialogic

Salah satu poin menarik yang dikemukakan di forum tersebut adalah kekolektifan mahasiswa untuk memberantas kekerasan seksual di ranah kampus. Mahasiswa diharapakan mampu melakukan aksi nyata dan menunjukkan solidaritasnya terhadap mahasiswa lain yang mengalami pelecehan seksual di kampus. Nilai-nilai kolektif ini diharapkan mampu menekan pihak kampus agar lebih represif menindak pelecehan seksual di kampus.

Saya sendiri ikut berpendapat dalam forum tersebut. Saya cukup resah terhadap pemberitaan media massa tentang pelecehan seksual dan apapun itu tentang pemberitaan berbasis gender. Perempuan hanya digambarkan sebagai objek seksual dan terkesan stereotipikal. Media sendiri seakan tidak memiliki agenda apa-apa dalam pemberitaan pelecehan seksual. Mereka tidak memiliki tendensi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai perlawanan akan kekerasan dan pelecehan seksual. Media hanya sekadar menjadikan pelecehan seksual sebagai tontonan.

Untuk mengetahui latar belakang acara ini lebih lanjut, saya menghubungi Annisa Lutfhiani (2016) selaku  ketua Departemen Ideologi Gelanggang yang menyelenggarakan acara ini. Annisa mengungkapkan bahwa bergabungnya BEM FH dalam diskusi kali ini adalah terkait program baru mereka, Dialogic, yang serupa dengan Dimanja. Ia dihubungi pihak BEM FH untuk mengadakan diskusi bersama dalam rangka peluncuran Dialogic.

Saat ditanya kemungkinan berkolaborasi dengan jurusan-jurusan lain, Annisa tidak menutup kemungkinan, namun dirinya saat ini masih ingin memfokuskan Dimanja untuk warga Gelanggang. “Kemarin juga sudah ada hima lain yang mengajak kerja sama untuk bikin diskusi. Tapi tetap saja, aku ingin fokus ke peningkatan minat diskusrus warga Gelanggang,” katanya.

Annisa, yang juga mengaku pernah mengalami kekerasan seksual di kampus, kemudian berpendapat bahwa tingkat pelecehan seksual yang ada di kampus sudah dalam taraf yang  meresahkan. Annisa mengatakan, “Kasus yang terjadi sendiri mulai dari pelecehan verbal dan fisik, mengambil gambar perempuan yang sedang buang air, bahkan upaya pemerkosaan.”

Dengan diskusi ini, Annisa berharap dapat meningkatkan kesadaran mahasiswa bahwa di kampus juga tidak menutup kemungkinan terjadi pelecehan seksual. “Lewat hal ini aku ingin teman-teman yang datang tuh sadar dan mawas akan isu kekerasan seksual yang semakin marak,” tutupnya.

0 komentar: