Penulis: Limya Oktaviani Desain: Diana Dewi Darwin Redaktur: Faris Al & Azaina Hari itu, Sabtu (30/3) pagi dibuka dengan seber...

Haru, Canda, dan Tawa di Panti Wreda Tresna Budhi Pertiwi

Penulis: Limya Oktaviani
Desain: Diana Dewi Darwin
Redaktur: Faris Al & Azaina


Hari itu, Sabtu (30/3) pagi dibuka dengan seberkas sinar hangat dari matahari. Takluput didampingi oleh sejuknya udara yang berembus. Pukul tujuh pagi, beberapa mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran terlihat sudah berkumpul di seberang ATM Center Unpad. Mereka berkumpul untuk berkunjung ke Panti Wreda Tresna Budhi Pertiwi, sebuah panti yang sudah tujuh puluh satu tahun berdiri, setia merawat perempuan-perempuan lanjut usia di Bandung.

Akhirnya, sekitar pukul sembilan kurang lima belas menit, tibalah kami di Panti Wreda Tresna Budhi Pertiwi. Udara masih sejuk, keadaan di sekitar panti terlihat begitu asri dan rindang. Pekarangannya pun bersih. Sebelum memasuki panti, para relawan dan panitia melakukan briefing terlebih dahulu.
Lalu, para panitia dan relawan yang ikut serta masuk ke dalam panti, karena acara akan segera dimulai. Panitia dan relawan pergi ke depan kamar untuk menjemput para Oma yang langsung menyambut dengan ramah. Pukul sembilan tepat, lonceng dibunyikan, pertanda acara akan dimulai. Para Oma pun berbondong-bondong masuk ke aula. Saya sendiri menemani seorang Oma, biasa dipanggil ‘Mak Wati’. Mak Wati berkata, lonceng berbunyi berarti ada tamu. Temannya menimpali, tidak hanya ketika sedang ada tamu saja lonceng dibunyikan, tetapi sebagai penanda waktu makan juga.

Oma-Oma pun berkumpul di aula, saya sendiri awalnya duduk di samping Mak Wati, namun berpindah tempat duduk ketika para tamu diharuskan untuk duduk di bangku-bangku sebelah kanan. Acara dibuka oleh Rudiana Sapta Prayoga (2017) dan Audrey Natassja Prameswari (2018) sebagai pembawa acara. Tak lupa, sambutan dari Angga Sekarsany (2016), selaku ketua himpunan Gelanggang dan Nova Femi Berliana (2016) selaku ketua pelaksana. Setelah itu, Oma-Oma menyanyikan Mars Panti dengan penuh hikmat.

Acara selanjutnya ada permainan kecil-kecilan, yakni senam otak yang dipandu oleh Hayatun Nufus Rusydi (2018), salah satu anggota departemen Sosial Kemasyarakatan. Nufus mengajak para Oma untuk sama-sama memegang anggota badannya, mulai dari kepala, hidung, telinga, hingga lutut. Para Oma terlihat antusias dan mengikuti permainan dengan baik.

Saya sendiri diminta untuk membacakan puisi Rendra (1992) yang berjudul, “Hai, Ma!”. Puisi tersebut berisi tentang keluh kesah anak yang teramat sayang pada ibunya. Selain membaca puisi tersebut, saya juga diminta untuk membacakan puisi karya Oma Wahyu, judulnya “Matahariku”. Puisi indah tersebut menganalogikan Ibu dengan matahari, serta ditulis oleh Oma Wahyu pada tahun 2010.
Oma Eti membacakan puisi "Anakku" pada Gelanggang Berkunjung di Panti Wreda Tresna Budhi Pertiwi, Bandung pada Sabtu, (30/3)


Setelah pembacaan puisi selesai, ada pula penampilan yang disuguhkan oleh para Oma. Pertama, Oma Etjin yang menyanyikan lagu Bubuy Bulan. Kedua, Oma Eti membacakan puisi “Anakku” yang juga ditulis oleh Oma Wahyu. Selain membaca puisi, Oma Eti juga berpantun, membuat kami terkagum-kagum karena pantun yang dihafal oleh Oma Eti banyak sekali.

Kemudian, Asep Supriyatna (2018) ditemani Nurlita Findiawati (2016), menyanyikan lagu Oleh-Oleh dari Rita Sugiarto serta lagu Terajana dan Begadang oleh Rhoma Irama. Lagu terakhir, Boneka India, dibawakan Lita dan Asep bersama dengan Oma Eti. Para Oma yang lainnya terlihat ikut bersenandung ketika lagu-lagu dinyanyikan. Beberapa malah ada yang ikut menggerak-gerakkan badannya meski hanya sambil duduk. Penampilan terakhir dilakukan oleh Asep dengan menyanyikan lagu Bunda dari Melly Goeslaw. Saat Asep menyanyikan lagu tersebut, mendadak Aula Panti dipenuhi tangis haru.

Setelah itu, ada permainan joget balon yang dipandu oleh Syavira Pradita (2016). Terlihat beberapa relawan dan panitia antusias mengikuti permainan ini. Tiga orang Oma takmau kalah dengan yang masih muda, mereka berpasangan dengan para relawan untuk bermain joget balon. Terbukti, mereka tetap bertahan hingga akhir. Acara di aula berakhir dengan penyerahan bingkisan kepada pihak panti dan foto bersama.

Setelah acara di aula selesai, tibalah saatnya sesi “Satu Jam Bersama Oma”. Sesi ini diadakan agar para relawan, panitia, dan Oma-Oma yang ada bisa berbagi dalam obrolan yang menyenangkan. Di akhir sesi tersebut, masing-masing Oma diberikan sebuah hadiah kecil berupa sapu tangan cantik dari Gelanggang.
Mak Wati (68) tengah berbincang dengan Yana, di Panti Wreda Budhi Pertiwi pada Sabtu, (30/3).

Cerita-cerita yang dibincangkan pun beragam. Asep mengatakan bahwa ia berbincang dengan seorang Oma yang sudah delapan puluh tahun, di masa tuanya hanya hidup sendiri dan tidak mempunyai anak-cucu. Sedangkan Avi (2017), salah satu panitia, berbincang dengan seorang Oma tentang kehidupan sehari-hari. Yana (2017), yang juga salah satu panitia, mendapat pesan dari seorang Oma untuk membahagiakan orang tua.

Saya sendiri mendapatkan pengalaman menarik yang berharga ketika berpamitan dengan Oma Eti. Oma Eti berkata bahwa pembacaan puisi saya bagus. Saya sangat terharu, Oma Eti tidak kalah bagusnya membaca puisi dibanding saya. Saya pun mengambil gambar bersama Oma Eti dan memeluk Oma Eti sebelum akhirnya benar-benar berpamitan.

Nova Femi, selaku ketua pelaksana, mengatakan bahwa tujuan dari pelaksanaan Gelanggang Berkunjung ini adalah berbagi kebahagiaan lewat cara yang paling sederhana: mengunjungi dan peduli. Ia pun menceritakan suka-dukanya selama menjalankan program Gelanggang kali ini. Awalnya, Gelanggang Berkunjung pertama direncanakan untuk berbagi kepada anak jalanan, namun kendalanya cukup banyak, sehingga terpilihlah keputusan untuk ke Panti Wreda. Adapun Panti Wreda Tresna Budhi Pertiwi yang bertempat di Jalan Sancang ini terpilih karena panti ini sederhana, tidak memungut biaya alias gratis. “Oma-Oma yang ada di sini kebanyakan berasal dari keluarga yang tidak mampu. Panti ini merupakan panti sosial swasta di Bandung yang pemasukannya mengandalkan sumbangan dari masyarakat dan para donatur,”  kata Nova (31/03).

Menurut Nova lagi, mahasiswa bisa berbagi tidak hanya lewat materi. Namun juga lewat cerita-cerita. Dengan menjenguk Oma-Oma di panti tersebut, mereka sudah sangat antusias. Nova juga ingin mahasiswa bisa berbaur dengan lingkungan sekitar tanpa ada batasan, dimulai dari lansia-lansia yang ada di panti ini.

Hal senada pun dikatakan Oma Wahyu. Oma Wahyu memberi kesan bahwa dikunjungi merupakan pengalaman yang tak terhingga nilainya, sangat berharga, serta dapat mencukupkan rasa rindu yang terhadap anak-anak atau cucu-cucu yang mereka punya. Ia pun berpesan bahwa mahasiswa-mahasiswa harus tetap semangat berkuliah dan berjuang demi membahagiakan orang tua.

Lebih lanjut, terkait perannya sebagai ketua pelaksana, Nova mengatakan bahwa ada rasa bahagia tersendiri bisa mengajak anak-anak soskem untuk mengurus acara ini. Lanjutnya, melakukan kegiatan sosial selalu memberi kesan baik dua kali lipat baginya. Kendala yang ia rasakan hanyalah sedikit sulit mencari tempat yang tepat untuk dikunjungi. Nova berharap, semoga kunjungan yang dilakukan selanjutnya bisa lebih baik dan lebih banyak teman-teman Gelanggang yang ikut berpartisipasi.


Langit biru hari itu mengundang haru, namun angin sejuk yang menerpa menemani tawa-canda mengudara. Setiap orang pada hari itu punya rindu yang panjang, harapan yang mengangkasa, kebahagiaan yang sederhana, atau kenangan yang tak ingin mereka lupa. Salam hangat dari Panti Wreda Tresna Budhi Pertiwi, pada hari itu.

0 komentar: