Penulis: Semaul Redaktur: Limya Oktaviani Ilustrasi: Al Aniyah Seperti biasanya, Jumat ini pun langit nampak cerah. Saat itu puku...

Hujan Hari Jumat

Penulis: Semaul
Redaktur: Limya Oktaviani
Ilustrasi: Al Aniyah

Seperti biasanya, Jumat ini pun langit nampak cerah. Saat itu pukul sembilan lebih tiga puluhan, Dulatif masih asik dengan gawainya, sedangkan Jami sudah segar diguyur air mandi. Jami selalu bangun gelap-gelap hari dan mandi sebelum melaksanakan ibadah salat subuh. Dulatif pun selalu bangun gelap-gelap hari, dibangunkan Jami kala azan dikumandangkan.
Ketika keduanya masih sibuk dengan urusannya masing-masing, tak disangka langit tiba-tiba meredup dan turunlah tetes-tetes rahmat Tuhan berupa hujan, hujan yang cukup deras. Saat itu kurang lebih pukul sepuluh, Dulatif yang tadinya hendak mandi mengurungkan niatnya tersebut. Jami mengangkat handuk biru yang digantungkannya di jemuran.
“Hujan.” Jami mengucapkannya pelan seolah ucapannya tersebut tidak tertuju pada siapa pun, sedikit bernada keheranan. Tentu saja, lama tak jumpai hujan, apalagi saat Jumat siang di tempat itu. Sekalinya hujan, hanya berupa rintik-rintik saja, dan itu pun sebentar. Lepas itu, langit kembali menebar panas di jalanan.
“Barangkali hujannya akan berhenti pukul sebelas nanti, seperti yang lalu-lalu,” ucap Dul seolah membalas ucapan Jami. Keduanya kembali sibuk dengan urusannya masing-masing, Dul dengan gawainya dan Jami dengan ujung kuku-kukunya yang sedang diguntingnya.
Pukul sebelas, hujan masih saja mengguyur genting dan kanopi. Hujan tersebut seolah menjadi sangat deras sebab suaranya yang ramai kala memukul-mukul genting dan kanopi. Padahal, hujan sekarang tidak sederas hujan yang tadi. Jami beranjak dari duduknya dan mengintip hujan melalui lawang pintu. Sudah lumayan reda, pikirnya.
“Dul, ayo siap-siap.”
Dul seolah mengiyakan kata Jami untuk bersiap-siap pergi ke masjid. Dia pun mengambil peralatan mandi dan pergi ke kamar mandi. Sebelumnya, Dul berpikir untuk tidak akan pergi ke masjid karena hujan. Tidak pergi jumatan karena hujan diperbolehkan bukan? Begitu pikirnya. Meskipun dia masih agak ragu dengan sesuatu yang pernah didengarnya atau dibacanya itu. Bila harus jujur, belakangan ini Dul mengalami kemunduran iman, mungkin hanya sedikit ke belakang. Beberapa hari ini, dia jarang salat tepat waktu, dan sunnah kadang dia tinggalkan. Barangkali sedang sibuk mengurus perkara dunia, sedangkan Jami hatinya masih dipenuhi kekhawatiran, mungkin juga kebimbangan. Dia khawatir langit tak kunjung menyudahi hujan aneh ini. Situasi dipersulit dengan adanya payung mereka yang rusak, beberapa cabangnya patah.
Menjelang azan Jumat, bunyi hujan mulai mengecil dan matahari mulai nampak, namun hujan tak kunjung reda juga. Jami sudah rapi dengan setelan ibadahnya, lengkap dengan peci abu-abunya. Dulatif pun sudah segar dan wangi sabun mandi, namun setelannya masih itu-itu saja.
“Dul, ayo berangkat!”
“Masih hujan, Mi, baiknya kita tidak pergi dulu.”
“Sudah kecil. Tengok, langit pun sudah panas.”
“Tapi masih hujan, Mi. Nanti kita basah.”
Jami terdiam sejenak, mengintip sedikit ke luar, memastikan keadaan mendukung dirinya untuk pergi ke mesjid saat itu juga.
“Kau tak dengar itu, di masjid sudah ada yang mengaji. Kalau hujan pun tak menghalanginya untuk pergi ke masjid, begitu pun kita.”
“Tapi kan jarak kita ke masjid tidak sedekat jarak orang itu ke masjid, kita bisa basah duluan sesampainya di sana. Kalau kita salat dalam keadaan basah, apa tidak mengganggu jamaat yang lain?”
“Tapi hujannya sudah kecil, Dul, bahkan hanya titik-titik kecil saja.”
Dul mengintip sedikit ke luar dengan berusaha untuk tidak beranjak dari tempatnya, mencoba melihat hujan.
“Ah mana ada, hujannya dari tadi masih segitu-segitu saja.”
“Ya sudahlah kalau kau tidak mau pergi, aku akan tetap pergi.”
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam.”
Dalam hati Jami muncul sedikit kejengkelan terhadap Dul yang menolak pergi jumatan bersamanya. Sepintas dalam pikirnya, dasar kafir. Semudah itu dia mencap teman seimannya tersebut. Meski kata-kata tersebut tidak secara langsung diujarkannya, kata-kata tersebut hanya sekelebat dalam arus pikirannya yang absurd dan spontan, namun buah pikir macam itu bisa saja menjadikan situasi kian memburuk. Iblis selalu senang dengan pertikaian macam itu, bahkan mengharapkannya dan mencoba merealisasikannya. Satu percik api bisa menjadi sebuah ledakan bila disekitarnya menggenang berliter-liter minyak tanah.
Jami berjalan setapak menyusuri becek dan lubang jalanan. Di sepertiga akhir jalannya menuju masjid, tiba-tiba langit menjadi gelap dan hujan pun melebat. Jami sampai di masjid dengan setelan beribadatnya yang lumayan basah. Dia pun masuk ke dalam dan duduk mendengarkan khotbah di barisan ketiga, di antara para jemaah yang setelannya kering-kering. Dalam salat, Jami merasa agak tidak khusyu. Air hujan masih menempel di bahu dan pecinya.
Dulatif masih berada di tempatnya. Dia mulai merasa berdosa, apalagi setelah menolak ajakan Jami untuk pergi ke masjid. Dia pun segera pergi ke kamar mandi, berkumur, membasuh wajah serta kedua tangannya dengan sungguh. Lalu dilanjutkan dengan membasuh atas kepalanya, telinga, lalu kedua kakinya, sebagaimana umat Islam bersuci. Lepas bersuci, dia pun melaksanakan salat zuhur untuk mengganti ibadah jumatnya yang tertinggal. Dengan takbir yang mantap, dia memulai salatnya. Bersujud seolah dekat dengan Sang Pencipta, Sang Pemberi Kasih dan Sayang, Maha Pengampun.

0 komentar: