Penulis: Alfa Fadhila S. Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Diana D & Ninda Annisa                 “Kesan pertam...

My Name is Red: Menyusun Teka-teki Orhan Pamuk

Penulis: Alfa Fadhila S.
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Diana D & Ninda Annisa
    

           “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.” Tagline iklan parfum tersebut pertama kali muncul di era 90-an dan gemanya masih terngiang-ngiang hingga sekarang. Slogan tersebut menjadi kalimat singkat yang ampuh dalam menyampaikan pesan kepada penonton tentang betapa pentingnya menciptakan kesan pertama yang menarik terhadap orang lain. Kesan tersebut dapat disampaikan lewat penampilan yang keren, perilaku yang menyenangkan ataupun pemikiran yang seksi. Kesan menarik semacam itu saya dapatkan saat kali pertama perkenalan saya dengan novel Orhan Pamuk, My Name Is Red.

Bayangkan, pada bab pertama saya langsung disodori narasi yang dituturkan oleh seorang mayat. Pamuk dengan narasi yang padat dan memikat menggambarkan keadaan mayat Elok Effendi, seorang miniaturis di bawah pimpinan Enishte Effendi yang tergolek di dasar sumur. Satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan oleh sang pembunuh menyeret tiga miniaturis lain (Bangau, Zaitun dan Kupu-kupu) menjadi tersangka utama. Hal pertama yang terlintas di benak saya adalah kehebatan Pamuk dalam menarik perhatian pembacanya. Teka-teki sengaja ia sodorkan di awal hingga menimbulkan berbagai pertanyaan dan membuat pembaca terperangkap dalam ketegangan dan rasa penasaran.

        Pamuk tak hanya mengajak pembacanya untuk larut dalam misteri pembunuhan, tapi juga kisah percintaan Shekure dan Hitam. Selain itu pembaca juga disuguhdebat filosofis antara benturan budaya Timur dan Barat khususnya dalam hal gaya melukis. Pada abad itu, melukis dengan gaya kaum Frank (Eropa) yang menggunakan perspektif tiga dimensi dan mampu menggambarkan objek tampak nyata serta lebih indah dari aslinya dianggap sebagai penistaan terhadap ‘ajaran’ Islam yang hanya memperbolehkan melukis  dengan teknik dua dimensi. Hal tersebut memicu munculnya pro dan kontra, sebagian miniaturis khususnya yang ditugasi membuat buku Sultan mau tak mau harus membuat lukisan dengan gaya yang diarahkan oleh Enishte, yaitu gaya Barat, namun sebagian lainnya menolak bahkan mereka rela membutakan matanya sendiri agar tak terpengaruh oleh lukisan gaya Eropa.

Selain misteri, roman, dan debat budaya dan filosofis, pembaca juga disuguhi detail-detail menarik tentang estetika seni hias buku yang dilakukan oleh para miniaturis di abad ke-16. Di samping itu, Pamuk juga menyelipkan beberapa dongeng klasik dunia. Semua elemen tersebut diramu secara puitis dan dramatis menjadi serangkaian cerita yang menarik untuk diikuti hingga akhir.

My Name Is Red merupakan novel yang kaya perspektif. Novel ini bisa dinikmati sebagai novel sejarah peradaban Islam, misteri dan juga intrik seni budaya. Pamuk juga memunculkan karakter-karakter yang sangat variatif dan semuanya mempunyai suaranya masing-masing, dengan kata lain semua karakter menjadi narator. Tak hanya tokoh-tokoh yang hidup, Pamuk juga membiarkan benda-benda mati (seperti lukisan, koin emas, warna merah) turut menyuarakan sudut pandang mereka. Meskipun sang pembunuh turut menjadi narator, identitas pembunuh tetap tak terbongkar hingga bab-bab terakhir.

Satu hal yang pasti menjadi pertanyaan pembaca adalah judul novel ini “My Name Is Red (Namaku Merah Kirmizi)”, lantas siapakah sebenarnya “Merah” yang dimaksud? Dalam sebuah bab memang dituturkan sebuah narasi dari Merah yang digambarkan sebagai warna dalam arti harfiah. Namun rasanya hal tersebut sangat tidak cukup menjelaskan sosok “Merah” yang dimaksud dalam judul novel ini. Pamuk tampaknya sengaja mengajak pembacanya untuk memutar otak, menafsirkan sendiri wujud nyata sosok “Merah” itu.

Mengasyikkan sekali saat Pamuk seolah-olah melibatkan pembaca untuk turut menulusuri sosok sebenarnya tersangka pembunuhan Elok Effendi lewat narasi masing-masing tokoh. Pamuk dan teka-tekinya yang kompleks berhasil membuat pembaca hanyut dalam petualangan imajiner yang sangat mengesankan. Rasanya saya akan kembali membaca novel ini suatu hari nanti, karena ada banyak sekali detail-detail yang menarik untuk dikaji lagi terkait peradaban seni dan budaya di Istanbul sekitar abad 16. Pesona Pamuk pada perkenalan pertama kami berhasil membuat saya tergoda, dan selanjutnya? Ah, kalian pasti tahu maksud saya.

0 komentar: