Penulis:  Muhammad Imanul Rizqi S Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Apa yang akan Anda lakukan jika es...

Pulang dan Belajar Sejarah

Penulis: Muhammad Imanul Rizqi S
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa


Apa yang akan Anda lakukan jika esok adalah hari terakhir Anda di rumah? Jujur, saya juga tidak tahu hal yang harus dilakukan. Jangankan menjawab, terlintas di benak kepala saja tidak. Lantas, apa jadinya jika ada orang-orang yang mengalami peristiwa itu? Untuk menambah kegilaan pertanyaan saya tadi, mari kita ganti kata “rumah” menjadi “tanah air”. Hal inilah yang hendak disampaikan oleh Leila S. Chudori dalam novelnya yang berjudul Pulang. Novel setebal 476 halaman ini mengisahkan pelarian empat sekawan yang “terusir dan diburu” dari Indonesia. Novel ini diterbitkan pada 4 Desember 2012 dan berhasil menyabet Kusala Sastra Khatulistiwa untuk Prosa pada tahun 2013. Proses pengerjaan novel ini memakan waktu 6 tahun. Saya penasaran, apa saja yang dirangkai oleh Leila sampai harus memakan waktu yang begitu lama?

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat saya sampaikan dalam ulasan ini. Pertama, Leila mengangkat tema sejarah melalui tiga peristiwa bersejarah: Indonesia September 1965, Prancis Mei 1968, dan Indonesia 1998. Pada tahun 1965, Orde Lama runtuh dan sebagai gantinya lahirlah Orde Baru. Setengah juta kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia menjadi korban dalam pembantaian yang diorganisir oleh pendukung Orde Baru dan masyarakat yang telanjur antipati terhadap Partai Komunis Indonesia. Tiga tahun kemudian, di Prancis terjadi gelombang protes ribuan masyarakat yang diprakarsai oleh mahasiswa terhadap pemerintah De Gaulle. Protes ini didasari penahanan mahasiswa University of Paris di Nanterre. Maju ke tahun 1998, di Indonesia terjadi gelombang protes besar-besaran yang dimotori oleh mahasiswa terhadap Soeharto dan kroni-kroninya.

Melalui novel Pulang, Leila memasukkan rangkaian-rangkaian cerita yang melengkapi latar belakang waktu untuk dijadikan alur novel ini. Tidak hanya peristiwa sejarah yang Leila gambarkan melalui latar waktu di dalam novel, ia juga memasukkan latar tempat di setiap kepingan ceritanya. Leila dengan cermat menggambarkan suasana Jalan Sabang, Jakarta pada tahun 1968. Bagi saya, membaca novel Pulang tak ubahnya membaca novel sejarah. Penentuan tema ini sangat menentukan alur cerita di dalam novel.
Kedua, alur cerita di dalam novel Pulang cukup rumit untuk ukuran novel ringan pendamping kudapan di sore hari. Dalam novel ini, saya menemukan penggunaan alur maju, mundur, dan maju-mundur untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa di dalam novel. Alur maju-mundur ini muncul melalui kumpulan-kumpulan “surat” yang ditujukan anak-anak, istri, dan kerabat isi Kantor Berita Nusantara kepada Dimas Suryo dan kawan-kawan. Melalui “surat-menyurat" ini, saya diajak berimajinasi oleh Leila, membayangkan situasi empat sekawan pelarian politik di dalam novel Pulang. Bagi saya, mengikuti alur cerita di dalam novel ini sangat mengasyikkan.

Ketiga, ditilik dari tokoh-tokoh di dalam novel Pulang, unsur penokohannya sangat rumit. Novel ini memiliki Dimas Suryo, Lintang Utara, dan Segara Alam sebagai tokoh utama yang membagi novel menjadi tiga bagian besar. Dalam tiga bagian besar ini, banyak tokoh-tokoh tambahan dengan tingkat kerumitan cerita yang berbeda. Saya rasa, inilah risiko menjadi manusia dengan kesadaran sejarah yang tinggi. Hampir tiap tokoh utama dan tokoh tambahan memiliki cerita hidup yang komplit. Minimal tokoh tambahan di dalam novel memiliki jalur cerita yang dapat saya hidupkan dengan mudah di dalam imajinasi saya.

Keempat, gaya bahasa yang digunakan di dalam novel Pulang secara mengejutkan terlihat ringan. Memang di dalam banyak paragraf, ada referensi-referensi yang membutuhkan pembacaan lebih lanjut untuk dapat dipahami betul. Selain itu, saya sangat mudah memahami jalinan peristiwa yang Leila tuliskan di dalam novel ini. Gaya bahasa yang ringan tampaknya disebabkan oleh gaya berbicara tokoh-tokoh di dalam novel. Banyak saya temui dialog sehari-hari, baik percakapan antarsahabat maupun perbincangan intim antara ayah, anak, dan ibu.
Terakhir, amanat yang Leila coba sampaikan di dalam novel Pulang sangat menyentuh bagi saya. Saya adalah produk generasi 90-an yang tumbuh besar di Jakarta. Banyak kesempatan yang saya reguk dan di dalam prosesnya membuat saya mengabaikan fakta bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja. Melalui novel Pulang, Leila mengajak saya untuk memikirkan kembali kondisi Indonesia dewasa ini. Masihkah Indonesia memerangi hantu bernama Partai Komunis Indonesia? Seperti apa rasanya hidup dengan stigma orang kiri dan simpatisan Partai Komunis Indonesia di Indonesia? Bagaimana rasanya menjadi orang yang stateless? Bagaimana rasanya diburu oleh orang-orang dari negara yang sama?

Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala saya dan pertanyaan itu bermuara ke satu kalimat: hargai nasib dan pelajari sejarah. Leila juga mengajak saya untuk memahami bahwa nasib bukanlah musuh manusia; nasib adalah sahabat manusia yang benar-benar jujur. Sebagaimana Dimas dan kawan-kawan yang “terusir dari rumah”, nasiblah yang membawa mereka membentuk sejarah mereka sendiri. Melalui novel ini pula, Leila mengajak saya untuk memupuk kesadaran sejarah dan menggunakannya untuk menyusun masa depan yang lebih baik, sebagaimana Segara Alam dan kawan-kawannya bergerak melawan ketidakadilan pemerintah Soeharto. Saya menyarankan Anda semua untuk meluangkan waktu sejenak untuk berlari bersama Dimas dan kawan-kawan di dalam novel Pulang. 

0 komentar: