Penulis: Ayu Fitriyani Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Desain: Ninda Annisa Kali ini saya memilih untuk mengulas cerpe...

Pundak yang Begini Sempit: Sebuah Realisasi Sosial Tokoh

Penulis: Ayu Fitriyani
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi
Desain: Ninda Annisa


Kali ini saya memilih untuk mengulas cerpen Danarto yang berjudul Pundak yang Begini Sempit dari kumpulan cerpen Berhala, karena tema yang diangkat dalam cerpen ini sangat jelas mengenai pelanggaran HAM berat pada masa Orde Baru, yaitu petrus. Lupakan sejenak cerpen-cerpen Danarto yang sulit dipahami dan absurd itu—ya cerpen ini juga membutuhkan pemahaman yang mendalam. Jadi, tidak ada yang mudah, bukan?

Tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerpen ini membuat pikiran saya menjadi tak sepolos awal. Saya menyimpulkan bahwa ada kemiripan antara tokoh yang dihadirkan dengan keadaan sosial sebenarnya. Abas sebagai sudut orang pertama sekaligus tokoh utama adalah seorang yang hobi menangkap para gali bersama teman-temannya.

Realitanya, peristiwa pembunuhan misterius yang terjadi pada tahun 1982 sampai 1985 melibatkan aparat. Sebagaimana yang sudah diketahui, bahwa petrus bermula dari adanya penghargaan yang diberikan oleh sang penguasa orba kepada Kapolda Metro Jaya atas keberhasilannya membongkar perampokan yang diduga meresahkan masyarakat. Tentu aparat negara terlibat di dalamnya.

Adanya kemiripan tokoh Tiwuk dan Bu Bibing dengan masyarakat yang tidak setuju adanya petrus. Tiwuk sebagai istri dari Abas, mengaku tidak sudi bahwa pekerjaan suaminya sebagai petrus dan Bu Bibing adalah seorang ibu dari salah satu korban petrus, yaitu Epong. Tokoh Bu Bibing digambarkan begitu takut dengan petrus, tidak ketinggalan istri Abas dan anak-anaknya yang harus menerima nasib buruknya setelah penangkapan Abas oleh Jon, teman dekatnya. Betul-betul menyedihkan.


Anak saya jangan ‘dikarungkan’, Pak. Jangan, Pak. Jangan diapa-apakan Si Epong, Pak,” rintihnya dan makin keras pelukannya di kaki saya” (Danarto, 2017:137)


Cerpen ini menyebutkan bahwa Abas sebagai tokoh utama menyembunyikan identitas petrus di hadapan keluarganya. Hal ini bisa jadi yang melatarbelakangi bahwa pelaku-pelaku petrus tidak pernah diketahui identitas aslinya, makanya disebut penembak misterius. Bu Bibing memohon kepada Abas agar anaknya tidak dikarungkan, karena dalam realitanya pun beberapa saksi keluarga korban menyatakan bahwa mayat korban dimasukkan ke dalam karung yang kemudian ditemukan di pinggir jalan atau tempat-tempat tertentu.

Goplak merupakan tokoh gali (gabungan anak liar) dan Goplak dijadikan incaran oleh Abas, Jon, dkk. untuk dibunuh, karena dianggap raja gali dan ia mendapat penghasilan dari penguasaan lahan toko. Begitu pun Srondol, ia menjadi incaran Abas dkk. karena dianggap sebagai gali kelas kambing tapi sangat sadis.

Di dalam cerpen Pundak yang Begini Sempit, Danarto menceritakan bahwa orang-orang yang dijadikan sebagai ikon korban petrus itu orang-orang yang benar-benar melakukan kejahatan—sebuah upaya satire. Berbeda dengan realitanya, banyak korban petrus 1982-1985 yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tetapi dijemput secara paksa dengan berbagai cara dan alasan. Seperti dikutip pada Tempo.co yang bertajuk Pengakuan Kentus, Target Petrus yang Selamat menyatakan bahwa korban dianggap gali karena ia hidup di jalanan, padahal dirinya tidak pernah memeras dan mencuri. Ketika korban akan melayat kawannya, teman yang lain memberitahu agar tak datang melayat, karena jika datang, dirinya akan dianggap gali.

Melalui tokoh-tokoh dalam cerpen Pundak yang Begini Sempit, Danarto begitu mempresentasikan kehidupan masa Orde Baru, terkhusus peristiwa penembakan misterius ini. Ternyata di balik megahnya pembangunan yang dilakukan masa itu, terdapat masa-masa kelam yang sudah diputuskan sebagai suatu pelanggaran Hak Asasi Manusia tingkat berat. 

0 komentar: