Penulis: Robby Bouceu Ilustrasi: Al Aniyah Redaktur: Limya Oktaviani Tak ada Khidir saat hujan mengguyur atap gedung-gedung itu. Tak ...

Yang Mekar Selepas Hujan

Penulis: Robby Bouceu
Ilustrasi: Al Aniyah
Redaktur: Limya Oktaviani
Tak ada Khidir saat hujan mengguyur
atap gedung-gedung itu. Tak ada petir
saat rintik-rintik air menyeka bekas luka

Di tanganmu. Kau masih menggigil di sampingku
di bangku angkringan tua itu, sambil menatap
sekuntum anyelir layu terinjak ujung sepatumu.

“Sering, kita merasa begitu nyeri ,” bisikmu,
“Hingga kening kita membeku.” Dan, jalanan malam, seakan
sepotong kenangan, seakan duka dan gembira di lanksap yang sama.

Namun, betapa nampak letih napas bedegup di jantungmu,
sebelum tetes-tetes haru meluap dari tasik mataku, atau hanya
derum mobil sesaat menyentuh membran telingamu.

“Bawa aku melengang, Sayang, bawa aku pergi
ke bukit paling sunyi, agar bening embun pagi
dapat membasuh semua memar di hati,” lirihmu.

Aku terpaku, menatap aspal jalanan yang basah,
membayangkan sepasang kunang-kunang membangun
istana cahaya di balik rimbun rumpun kenanga,

memimpikan selubung gelap itu perlahan pecah, sebelum
bersulih elan atau hanya sepasang biji mata yang kembali menyala.


Februari, 2019.

0 komentar: