Penulis: Alfa Fadila Redaktur: Faris A, Azaina Ilustrasi: Diana Dewi Darwin                 Canda dan tawa terdengar riuh dari aula...

Ceria di Bulan Puasa Bersama Gelanggang Berkunjung 2

Penulis: Alfa Fadila
Redaktur: Faris A, Azaina
Ilustrasi: Diana Dewi Darwin

                Canda dan tawa terdengar riuh dari aula gedung B Fakultas Ilmu Budaya Unpad Minggu (19/05) lalu. Bagaimana tidak, rangkaian kegiatan “Gelanggang Berkunjung 2” yang diadakan oleh Departemen Sosial Kemasyarakatan Gelanggang tersebut berhasil menciptakan keseruan sehingga mengundang gelak tawa dari hadirin yang datang. Selain dihadiri oleh anak-anak yatim dari Panti Asuhan Al-Falah, Rancaekek, kegiatan ini juga dihadiri oleh para donatur yang telah membantu kelangsungan acara untuk turut memeriahkan salah satu program kerja dari Departemen Sosial Kemasyarakatan Gelanggang tersebut.
Sedikit berbeda dari sebelumnya, dalam kegiatan Gelanggang Berkunjung tahun ini, Departemen Sosial Kemasyarakatan bekerja sama dengan Vlogkamling. Vlogkamling sendiri merupakan komunitas dongeng Bandung yang aktif mengadakan pelatihan mendongeng. Selain itu, Vlogkamling juga sempat mengunjungi lokasi pengungsian bencana untuk menjadi relawan dan menghibur anak-anak di lokasi terdampak bencana.

Suasana Gelanggang Berkunjung 2

Kegiatan dimulai dengan sambutan dari ketua pelaksana “Gelanggang Berkunjung 2”, Zalsabila Firstami (2018), dilanjut oleh Angga Sekarsani (2016) selaku ketua himpunan Gelanggang, dan perwakilan dari pengurus Panti Asuhan Al-Falah Rancaekek. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penampilan marawis dari anak-anak Panti Asuhan Al-Falah. Acara kian meriah tatkala suara alat-alat musik saling beradu membentuk harmoni. Hadirin pun terlihat menikmati.
Games ceria yang dipandu oleh Aldy Findro (2016) dan Ayu Yulianti (2018) semakin mencairkan suasana. Anak-anak dari Panti Asuhan Al-Falah dan mahasiswa yang hadir melebur saat permainan berlangsung. Gelak tawa tak jarang memenuhi ruangan akibat tingkah lucu anak-anak panti asuhan yang menjadi perwakilan untuk memainkan games. Tak selesai di situ, acara dilanjutkan dengan penampilan dari Asep Supriyatna (2018) selaku perwakilan dari Gelanggang yang menyanyikan beberapa lagu. Suara Asep mengundang suara-suara lain untuk turut menyanyikan lagu bersama Asep.
Jam menunjukkan pukul 17.30 WIB tatkala MC memandu hadirin mempersiapkan diri untuk berbuka puasa. Hadirin diminta untuk duduk melingkar sembari menunggu adzan maghrib berkumandang. Tak berselang lama, adzan maghrib pun berkumandang, hadirin menyantap takjil yang telah disediakan oleh panitia. Setelah itu, hadirin dipersilakan untuk menunaikan sholat maghrib terlebih dahulu sebelum menyantap hidangan utama.
Usai menyantap hidangan utama, acara diramaikan oleh Vlogkamling yang menampilkan pertunjukan dongeng yang sangat menghibur dan tentu saja sarat akan pesan-pesan kebaikan, terlebih untuk anak-anak yang sedang belajar berpuasa. Penampil dari Vlogkamling sangat komunikatif sehingga respon hadirin pun sangat baik.

Suasana Gelanggang Berkunjung 2

Terakhir, acara ditutup dengan pemberian bingkisan, plakat, dan kenang-kenangan untuk anak-anak Panti Asuhan Al-Falah. Tak lupa pula, seluruh hadirin dari Gelanggang, Panti Asuhan Al-Falah, dan Vlogkamling mengabadikan momen kebersamaan pada hari itu agar bisa dikenang di esok hari.

0 komentar:

  Penulis: Ninda Annisa Redaktur: Faris A, Azaina Ilustrasi: Diana Dewi Darwin Selasa (15/05), siang itu, saya tidak langsun...

Mengintip Fenomena Bahasa di Kopi Darat


 
Penulis: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A, Azaina
Ilustrasi: Diana Dewi Darwin
Selasa (15/05), siang itu, saya tidak langsung pulang selepas perkuliahan karena hendak menghadiri acara Kopi Darat yang dihelat di PSBJ Unpad. Kopi Darat merupakan seminar linguistik yang dilaksanakan oleh Departemen Hubungan Internal Gelanggang dalam bentuk kuliah umum untuk membahas fenomena kebahasaan. Fenomena kebahasaan yang dibahas kali ini adalah “Bahasa Gado-Gado, Tantangan atau Ancaman?”. Bahasan ini cukup menarik, karena dapat membuat saya dan mahasiswa Sastra Indonesia lainnya hadir dalam seminar tersebut.
Seminar dibuka oleh kedua MC acara, Fuji Ulya (2017) dan Aldy Findro (2016), lalu diambil alih oleh moderator, Gina Ainunnisa (2017). Dengan apik, Gina memberikan sedikit bocoran mengenai materi hari itu, kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dari Nani Darmayanti, dosen Sastra Indonesia Unpad, dengan judul materi “Bahasa Gado-Gado, Peluang atau Ancaman?”. Judul yang dipilih Nani Darmayanti memang berbeda dengan judul acara yang diberikan oleh teman-teman panitia, namun beliau tetap menyampaikan bahwa memang ada tantangan dalam menghadapi fenomena bahasa gado-gado ini. Walaupun fenomena bahasa gado-gado yang sering disorot adalah percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama Inggris, sebenarnya fenomena tersebut dapat terjadi karena percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Penggunaan bahasa asing dapat menjadi peluang apabila dipakai untuk menyampaikan konsep tertentu yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Nani Darmayanti menyampaikan bahwa beliau berada di pihak yang melihat bahwa hubungan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa asing merupakan peluang, karena sebenarnya sembilan dari sepuluh kata dalam bahasa Indonesia saja merupakan bahasa asing. Bahasa asing berperan sangat penting dalam menyumbang jumlah lema kata ke dalam bahasa Indonesia, karena jumlah lema tersebut ternyata menunjukkan peradaban suatu bangsa. Untung saja, pusat bahasa rajin membuat padanan bahasa Indonesia dan menambahkan kata-kata baru untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehingga Indonesia tidak dianggap tidak menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi serta pengetahuan.
Ancaman dari fenomena bahasa gado-gado tidaklah datang dari kosakata bahasa asing, melainkan penuturnya. Apalagi, jika penutur bahasa Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-seharinya. Maka, tantangan dari fenomena bahasa gado-gado ini memang pantas ditunjukkan kepada kita, sebagai penutur bahasa Indonesia; mampukah penutur menempatkan penggunaan bahasa gado-gado dengan benar?
Berbeda dengan pemaparan pemateri pertama yang membahas fenomena gado-gado secara umum, pemateri kedua, Prof. Dr. Drs. Cece Sobarna, M.Hum, lebih fokus berbicara tentang percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Cece Sobarna menyebutkan bahwa fenomena tersebut merupakan dinamika bahasa yang alami karena percampuran bahasa terjadi di dalam bahasa apa pun, bahkan bahasa Inggris sekali pun. Percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ini terjadi karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multibahasa. Banyak penuturnya yang selain menguasai bahasa Indonesia, juga menguasai bahasa ibu atau daerah masing-masing
Bahasa daerah yang dibahas di dalam materi kedua ini adalah bahasa Sunda. Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini terdapat fenomena bahasa gado-gado yang penggunaannya tidak tepat, yaitu penggunaan kata “cenah” saat bertutur bahasa Indonesia. Ternyata, selain penggunaan kata “cenah”, terdapat banyak kata-kata yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat yang sudah tercampur dengan bahasa Sunda, seperti imbuhan “me-” yang diganti dengan “nye-”, contohnya mencerocos menjadi nyerocos, mencoblos menjadi nyoblos, dan lain sebagainya.
Melalui seminar ini, semoga teman-teman penutur bahasa Indonesia dapat lebih mengerti dengan konsep bahasa gado-gado dan dapat menggunakannya dengan tepat. Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.
 


0 komentar:

Penulis: Robby Bouceu Ilustrasi: Ayu Fitriyani Redaktur: Limya Oktaviani Di sinilah sekarang diriku, di puncak gradasi haru, menatap se...

Yang Tinggal

Penulis: Robby Bouceu
Ilustrasi: Ayu Fitriyani
Redaktur: Limya Oktaviani
Di sinilah sekarang diriku, di puncak gradasi haru, menatap sepasang sayap gagak berkepak mengitari tugu waktu, anjing dari es batu, batu sekeras kening, gering mencengkeram kening, sedang sejarik awan pucat itu seakan jeda yang tak ada di tengah ketenangan ini, tenang yang tegang ini, tegang yang tak mau mati ini.
Mati adalah puisi yang pernah kaumimpikan. Mati adalah mimpi kala jari tengah dunia seolah teracung membungkam setiap kata,  mematahkan setiap langkah di malam penuh bintang.
Kau pernah bermimpi dapat memetik satu bintang. Kau masih berani bermimpi dapat memetik satu bintang. Kau menolak hanya diam di pusat ketegangan.
Orang-orang tertawa di tengah kemenangan, kali-berkali meratap di tengah kejatuhan. Dari sebongkah batu, kita telah belajar: keduanya sekadar getar yang merayap di nadir yang sama. Dari kecupan api, kita mengerti: memeluk pedih tak kurang secamam meditasi dan ketakutan tak lebih dari ilusi.
Kini, di hening ini, akan kupecahkan cermin-cermin ilusi, akan kulepaskan anjing yang terkurung dalam hati. Hari-hari monokromatik, biar terus berputar ritmik. Dinding, angin,  dinding-dinding  angin biar kususuri terus sebagai  sekat-sekat  dingin.
Kita akan tetap di sini, menatap semua bersama angin, melangkah bersama cuaca, bersama udara!


 November, 2018.

0 komentar:

Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Desain: Ninda Annisa Bagaimana rasanya menjadi berbeda? Bag...

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya: Sepi, Kelam, dan Menyebalkan

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi
Desain: Ninda Annisa


Bagaimana rasanya menjadi berbeda?
Bagaimana rasanya dikuntit keinginan mati dan teka-teki yang tak pernah usai?
--
Pertanyaan di atas terasa kelam betul, ‘kan?
Begitulah kira-kira gambaran kehidupan Tsukuru yang saya tangkap ketika membaca Novel Mukarami yang satu ini. Setiap narasi yang dihadirkan Murakami terasa begitu muram dan memberikan bekas tak menyenangkan dalam diri saya. Namun, yang menyebalkan ialah saya tak bisa bila tidak lanjut membaca dan melarutkan diri pada kemuraman dan teka-teki yang disediakan.

Awalnya, Tsukuru hidup bahagia di antara kawan-kawannya yang berwarna. Tsukuru memiliki empat kawan dekat semasa sekolah, yakni Akamatsu (pinus merah), Oumi (laut biru), Shirane (akar putih), dan Kurono (Ladang Hitam). Hanya Tsukuru yang namanya tak menyiratkan warna dan ia merasa begitu sedih karena hal tersebut. Nahasnya, setelah ditinggal oleh keempat kawan dekatnya itu—karena suatu alasan yang nantinya perlahan ia tanyakan kepada keempat kawannya—Tsukuru selalu sendirian hingga akhirnya ia bertemu Haida—yang lagi-lagi namanya menyiratkan warna (ladang abu-abu).

Selepas ditinggal keempat kawan dekatnya Tsukuru menjalani keseharian dalam fase hidup-mati. Ia merasakan keinginan bunuh diri yang begitu kuat. Di sisi lain, ia mencari-cari cara mati yang tak merepotkan sembari mencari alasan keempat kawan dekatnya tiba-tiba membuangnya begitu saja. Namun, ia tak menemukan apa-apa kecuali kenyataan tak menyenangkan yang betul-betul mengherankan.

Tsukuru tampil sebagai pemuda yang aman, tampan, dan bekerja di tempat yang ia suka. Namun, siapa sangka hidupnya yang terlihat aman-aman saja menyimpan lubang hitam menganga yang siap menariknya kapan saja. Ah, karakter ‘macam Tsukuru Tazaki ini dapat kita temukan menjadi tokoh utama di buku Murakami lainnya, dengan sifat dan karakter yang sama—tentu, dengan nama yang berbeda. 

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya menyediakan konflik yang ringan, matang, dan juga kelam. Semakin banyak halaman yang kita buka, semakin besar efek kelam yang kita dapat. Mengingat Murakami ini pandai betul mempermainkan alur. Ia tahu betul bagaimana cara mengulang-alik perasaan pembaca agar mampu mencapai efek kelam yang ia sediakan. 

Pokoknya, ada perasaaan tak menyenangkan yang berkumpul dalam diri saya selepas membaca buku ini. Rasanya seperti di bawa ke ruang yang betul-betul kelam. Melihat seseorang yang tengah dalam keadaan hidup-mati menjalani keseharian. Memperhatikan bagaimana sepi dan kesepian sepakat menguntitnya setelah dibuang dari zona nyaman oleh keempat sahabatnya.

Seperti novel-novelnya yang lain, selain memberikan perasaan-perasaan tak menyenangkan, Murakami tak pernah luput memberikan adegan penuh gairah serta playlist lagu yang belum pernah saya dengarkan. Selambat apa pun alur yang Murakami berikan, rasanya selalu kelam, renyah, dan tak pernah membosankan!

0 komentar:

Penulis: Nigina Auliarachmah Ilustrator: Nurul Ramdhiany Redaktur: Limya Oktaviani Hari-hari di tahun 2118. Waktu begitu cepat berla...

Penjual Kebahagiaan

Penulis: Nigina Auliarachmah
Ilustrator: Nurul Ramdhiany
Redaktur: Limya Oktaviani

Hari-hari di tahun 2118. Waktu begitu cepat berlalu dan semua hal semakin menyusahkan. Udara semakin panas karena pohon-pohon sudah menjadi makhluk langka di dunia ini. Beruntung manusia diberi anugerah berupa akal, sehingga bisa menciptakan teknologi keren untuk membuat hari-hari sedikit lebih sejuk. Aku dengar dari dongeng-dongeng, di masa lalu angin masih bisa membuat udara sejuk, pohon-pohon ditanam dengan bebas di halaman rumah, dan sinar matahari pagi terasa hangat. Entahlah itu hanya dongeng yang diciptakan agar hidup yang menyusahkan ini sedikit lebih ringan atau memang benar-benar ada.

Hari ini tanggal merah. Dalam rangka memperingati terciptanya internet, semua rutinitas diliburkan. Aku memilih berjalan-jalan bersama anakku untuk mengisi hari kosong ini. Butuh perjuangan untuk mengajak anakku keluar rumah di hari libur, karena dia pasti akan asyik bermain bersama gawainya sepanjang hari dan tidak mau diganggu.

Berjalan-jalan di masa ini sama artinya dengan menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan, karena baru lima menit mobilku keluar dari garasi, sudah harus terjebak kemacetan yang sangat panjang. Zaman sekarang memang mobil adalah benda rongsokan yang dimiliki semua orang. Meskipun begitu, tetap saja benda itu digunakan. Hilangnya kepedulian membuat orang-orang hidup sendiri. Tidak ada lagi angkutan umum seperti zaman aku kecil dulu.

Berbeda dengan keadaan di luar mobilku yang ramai oleh suara klakson dan umpatan-umpatan orang yang tidak sabar, di dalam mobilku justru tidak ada obrolan. Hanya suara dari gawai anakku yang tengah sibuk bermain game yang terdengar. Dia tampak masih cemberut karena diajak keluar rumah.

"Jangan cemberut begitu, di luar sudah sangat menyebalkan," ujarku dingin. Anakku hanya menatapku sinis, kemudian kembali menenggelamkan diri ke dalam game.

"Sudah Ayah bilang, perjalanan ini akan menyenangkan."

"Apa yang menyenangkan di dunia ini selain tinggal di rumah sambil bermain gawai?" Kali ini anakku membuka suara, sedikit berteriak.

"Kita akan ke mall!" jawabku, tidak kalah berteriak.

"Membosankan! Zaman sekarang kita bisa membeli sesuatu lewat gawai. Untuk apa ke mall?"

"Sudahlah! Jangan protes terus! Jangan membuat udara di mobil ini seperti di luar!" Aku tidak ingin memperpanjang adu mulut dengan anakku. Hal seperti ini sudah biasa terjadi di rumahku. Baik itu dengan anakku, atau dengan istriku. Bahkan mungkin merupakan hal yang biasa terjadi di rumah-rumah lain. Pantas saja udara semakin panas, orang-orang cepat sekali merasa kepanasan dan marah-marah.

Setelah cukup lama mobilku tidak bergerak, akhirnya lalu lintas mulai berjalan lancar. Setengah jam kemudian kami sampai di tempat yang kami tuju. Sebuah pusat perbelanjaan modern di kotaku. Tempat itu terlihat sepi dari pengunjung. Ya, benar kata anakku, zaman sekarang orang-orang tinggal menekan layar gawai mereka untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan. Tidak perlu beranjak dari tempat tidur untuk membeli apapun, bahkan sarapan pagi sekalipun.

Aku dan anakku berjalan beriringan sepanjang gerai-gerai toko yang sepi. 

"Sebenarnya Ayah mau membeli apa?" tanya anakku mulai gusar.

"Ayah akan membeli benda yang tidak dijual melalui internet. Benda itu akan membuat hari ini lebih indah," ujarku.

Setelah cukup lama hanya berputar-putar, akhirnya kami sampai di depan sebuah toko sempit di ujung lorong. Seperti tidak ada apapun di dalam toko itu, namun tulisan di atas pintu membuatku yakin bahwa inilah toko yang kucari.

Tiga hari yang lalu, ketika aku sudah terlalu suntuk dengan layar komputer di kantorku, sebuah iklan tiba-tiba muncul. Seorang laki-laki tampak tersenyum sangat lebar dan menyapa seakan kami dapat saling berkomunikasi. Kemudian laki-laki itu dengan lantang menawarkan hal yang menarik perhatianku.

"Kami menjual kebahagiaan. Datanglah segera ke toko kami, persediaan kebahagiaan terbatas!" ujar laki-laki itu bersemangat. Sampai akhirnya aku memiliki kesempatan untuk datang langsung ke toko yang katanya menjual kebahagiaan ini.

"Selamat datang di toko kami." Laki-laki yang persis seperti orang yang kulihat di layar komputer menyambutku dari balik meja kasir. Aku berjalan menghampirinya.

"Apa benar Anda menjual kebahagiaan?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Benar sekali. Kebetulan hanya tersisa dua tabung kebahagiaan," ujarnya bersemangat.

"Kalau begitu saya beli semuanya."

Laki-laki itu tampak mengambil sesuatu dari lemari di belakangnya. Dua buah tabung alumunium seukuran botol minum. Kemudian disodorkannya dua tabung itu padaku. Aku melihat harga yang tertera di tabung itu, kemudian membayarnya sesuai harga.

"Selamat menikmati kebahagiaan, Tuan."

Aku dan anakku duduk di sebuah bangku yang disediakan di toko itu. Kusodorkan satu buah tabung itu kepada anakku.

"Bukalah, Nak." Dia menerima tabung dariku dengan malas.

Kubuka tutup tabung itu perlahan. Tiba-tiba ada angin yang keluar dari dalam tabung itu, sangat kencang sehingga aku tidak bisa melihat sekelilingku dengan jelas.

**
Angin yang keluar dari tabung itu berhenti dan perlahan pandanganku kembali. Namun detik berikutnya mataku terbelalak melihat pemandangan di hadapanku. Ini bukan toko tempatku duduk tadi. Tempat ini sama sekali asing bagiku. Tiba-tiba anakku memegang tanganku erat sekali.

"Ayah, kita di mana?" tanyanya. Dia juga tampak sama kagetnya.

"Entahlah," gumamku.

Di hadapan kami terhampar lapangan hijau yang luas. Kemudian di ujung sana berdiri dengan megah bangunan terbuat dari tumpukan batu. Sangat indah. Aku pernah melihat bangunan seperti ini di ensiklopedia, kalau tidak salah bangunan itu bernama candi. Tempat orang-orang yang menganut salah satu agama beribadah. Aku tidak menyangka seindah ini. Di zamanku jarang sekali menemukan tempat ibadah, agama apapun itu. Agama manusia sudah berganti.

"Selamat datang di masa lalu, Tuan. Tempat pertama yang anda kunjungi adalah candi, sebuah tempat ibadah orang-orang Hindu. Tempat ini juga menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi orang, baik itu masyarakat lokal maupun turis asing." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki penjual kebahagiaan itu. Namun tidak kutemukan sosoknya di manapun.

"Ayo kita ke sana ayah!" teriak anakku.

Ada banyak orang di tempat ini. Namun suasananya berbeda sama sekali dengan kehidupanku sehari-hari. Tidak kudengar umpatan dan caci maki. Orang-orang tampak bergembira dan saling bercengkrama dengan keluarganya. Ada yang berswafoto dengan kamera zaman dulu, ada yang tertawa sambil memperhatikan tingkah laku anak kecil yang menggemaskan, ada yang serius memperhatikan relief yang terpahat pada dinding candi. Baru kali ini aku merasakan tidak ada amarah sama sekali. Aku dan anakku begitu menikmati suasana yang menyenangkan ini.

"Pada zaman ini, hari libur adalah waktu yang tepat untuk berjalan-jalan bersama orang-orang terkasih. Ada banyak tempat yang menyenangkan untuk dijadikan destinasi liburan. Tetapi yang terpenting dari liburan adalah kebersamaan dengan orang-orang yang disayangi." Suara lelaki itu terdengar kembali. Aku tersenyum, senang sekali bisa merasakan suasana seperti ini.

Setelah cukup puas berkeliling di candi, suara lelaki itu menyuruh kami kembali membuka tabung yang sedari tadi kami pegang. Angin kencang kembali berembus membuat seluruh pandangan kabur.

**
Ketika pandanganku jelas kembali, terhampar warna hijau yang sangat luas. Pohon-pohon menjulang berjajar dengan sangat indah di bawahku. Aku tidak bisa berkedip menatap pemandangan indah di hadapanku. Betapa beruntungnya aku bisa melihat hamparan pohon sebanyak ini. Udara terasa lebih sejuk dan angin yang berembus sama sekali tidak menaikkan amarah.

"Pada zaman ini, manusia masih sadar betapa pentingnya tumbuhan. Meskipun tumbuhan terus dieksploitasi, banyak upaya yang dilakukan agar tumbuhan tetap asri. Keseimbangan ekosistem masih diatur oleh alam, bukan oleh mesin. Binatang-binatang yang hanya kautemukan dalam gambar masih banyak berkeliaran." Suara laki-laki itu terdengar lagi. Kali ini aku dan anakku sudah tidak kaget mendengarnya.

"Ke mana pohon-pohon ini nanti?" Anakku bertanya.

"Perlahan ketidakpedulian dan keserakahan manusia tumbuh lebih subur daripada pohon-pohon di dunia. Hal itulah yang membuat pohon tidak memiliki tempat lagi untuk tumbuh. Pembangunan terus dilakukan dan eksploitasi semakin menjadi-jadi." jelas suara laki-laki itu.

"Kasihan." Anakku tampak sedih.

"Padahal ketiadaan tumbuhan perlahan membunuh manusia juga. Saya tidak tahu umur panjang yang dimiliki manusia hingga sampai ke masa kalian adalah anugerah atau hukuman dari Yang Mahakuasa. Hidup tapi dalam siksaan. Hidup tanpa kebahagiaan."

Aku dan anakku terdiam mendengar pernyataan suara lelaki itu. Merenungi dan diam-diam membenarkan pernyataan itu. Kami hidup dalam siksaan. Tidak ada kebahagiaan di zaman kami. Dalam hati aku mengutuk perbuatan nenek moyang kami itu. Keserakahan mereka membuat kami menderita.

**
Langit sudah keunguan ketika aku dan anakku melihat tempat ketiga. Kali ini kami berada di tengah keramaian jalan. Banyak orang berlalu lalang dan sepanjang jalan dipenuhi oleh orang berjualan.

"Orang-orang di sini tidak merasakan panas ya, Yah. Mereka beruntung," gumam anakku. Entah sejak kapan kami sudah saling bergandengan.

"Iya. Mereka bisa bebas beraktivitas di luar. Lihat penjual dan pembeli terlihat akrab. Kok bisa ya?" ujarku sambil menunjuk pedagang kaos yang menggelar dagangannya di trotoar. Seorang pembeli tampak antusias menawar harga.

"Kali ini kalian berada di jalan utama kota ini. Jalan ini selalu ramai karena orang-orang menyukai jalanan ini." Suara laki-laki itu terdengar kembali.

"Mengapa banyak orang menyukai jalan ini? Di tempatku jalan ini biasa saja," tanyaku.

"Coba rasakan baik-baik. Banyak cinta tumbuh di tempat ini. Karena itu orang-orang yang datang ke sini selalu terlihat bahagia. Di zaman kalian, cinta sulit sekali tumbuh karena sudah hilangnya kepercayaan terhadap sesama manusia. Maka jalan ini menjadi sepi dan terbengkalai," jelas suara itu.

Aku mencoba merasakan cinta yang dimaksud suara lelaki itu. Benar saja. Itulah mengapa pedagang dan pembeli di sini saling berkomunikasi dengan baik, orang-orang berjalan kaki sambil bercengkrama dengan orang di sampingnya, beberapa ada yang makan di tempat makan pinggir jalan tanpa merasa curiga makanan itu beracun. Senyum dan tawa banyak kudapati di sini. Tempat ini menyenangkan.

"Ayah, aku ingin tinggal di tempat seperti ini," ujar anakku. Dia terlihat senang sekali. Sepanjang sore kami menikmati suasana di jalan itu dengan menelusuri trotoar, tersenyum kepada siapa saja yang berpapasan.

**
Angin terakhir yang kurasakan dari tabung di tanganku membawaku dan anakku kembali ke tempat semula. Sebuah toko di ujung lorong pusat perbelanjaan modern.

"Selamat datang kembali, Tuan." Suara yang tidak asing itu kembali menyapa. Kali ini kulihat lelaki itu di belakang meja kasir. Tersenyum.

"Itu tadi luar biasa!" ujarku.

"Iya! Aku mau lagi!" Anakku sangat antusias.

"Maaf Nak, persediaan tabung kebagiaanku sudah habis." Laki-laki itu menampakkan wajah merasa bersalah.

"Berapa lama kami harus menunggu persediaan itu ada lagi?" tanyaku.

"Entahlah Tuan. Kebahagiaan datangnya sulit diprediksi. Tapi Anda bisa membuatnya sendiri di rumah," jelas lelaki itu.

"Bagaimana caranya?"

"Dengan menghilangkan keegoisan dalam diri, saling percaya dan menghargai sesama. Kemudian yang paling penting adalah tumbuhkan kembali cinta," jelas lelaki itu. Aku dan anakku terdiam.

"Terima kasih, Pak. Sungguh hal yang Anda suguhkan kepada kami itu sangat berharga," ujarku kemudian. Kuhampiri lelaki itu, kemudian kujabat tangannya. Dia tampak tersenyum lebar.

Setelah cukup lama saling berbincang, aku dan anakku pamit untuk pulang. Ternyata hari sudah beranjak malam ketika kami keluar dari pusat perbelanjaan. Baru lima menit mobilku keluar dari parkiran, ular kemacetan sudah menjebak mobilku. Deru klakson dan umpatan orang-orang yang tidak sabar terdengar memenuhi udara malam kotaku.

Di dalam mobil, aku dan anakku bernyanyi sambil menunggu ular kemacetan meregang. Tidak peduli dengan kegaduhan di luar. Kami merasa cukup bahagia hari ini. Tanpa kami sadari, mobilku bersinar di tengah-tengah kelabunya kemacetan.

0 komentar: