Penulis: Ninda Annisa Redaktur: Faris A, Azaina Ilustrasi: Diana Dewi Darwin Selasa (15/05), siang itu, saya tidak langsun...

Mengintip Fenomena Bahasa di Kopi Darat


 
Penulis: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A, Azaina
Ilustrasi: Diana Dewi Darwin
Selasa (15/05), siang itu, saya tidak langsung pulang selepas perkuliahan karena hendak menghadiri acara Kopi Darat yang dihelat di PSBJ Unpad. Kopi Darat merupakan seminar linguistik yang dilaksanakan oleh Departemen Hubungan Internal Gelanggang dalam bentuk kuliah umum untuk membahas fenomena kebahasaan. Fenomena kebahasaan yang dibahas kali ini adalah “Bahasa Gado-Gado, Tantangan atau Ancaman?”. Bahasan ini cukup menarik, karena dapat membuat saya dan mahasiswa Sastra Indonesia lainnya hadir dalam seminar tersebut.
Seminar dibuka oleh kedua MC acara, Fuji Ulya (2017) dan Aldy Findro (2016), lalu diambil alih oleh moderator, Gina Ainunnisa (2017). Dengan apik, Gina memberikan sedikit bocoran mengenai materi hari itu, kemudian dilanjut dengan pemaparan materi dari Nani Darmayanti, dosen Sastra Indonesia Unpad, dengan judul materi “Bahasa Gado-Gado, Peluang atau Ancaman?”. Judul yang dipilih Nani Darmayanti memang berbeda dengan judul acara yang diberikan oleh teman-teman panitia, namun beliau tetap menyampaikan bahwa memang ada tantangan dalam menghadapi fenomena bahasa gado-gado ini. Walaupun fenomena bahasa gado-gado yang sering disorot adalah percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing, terutama Inggris, sebenarnya fenomena tersebut dapat terjadi karena percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
Penggunaan bahasa asing dapat menjadi peluang apabila dipakai untuk menyampaikan konsep tertentu yang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Nani Darmayanti menyampaikan bahwa beliau berada di pihak yang melihat bahwa hubungan kosakata bahasa Indonesia dan bahasa asing merupakan peluang, karena sebenarnya sembilan dari sepuluh kata dalam bahasa Indonesia saja merupakan bahasa asing. Bahasa asing berperan sangat penting dalam menyumbang jumlah lema kata ke dalam bahasa Indonesia, karena jumlah lema tersebut ternyata menunjukkan peradaban suatu bangsa. Untung saja, pusat bahasa rajin membuat padanan bahasa Indonesia dan menambahkan kata-kata baru untuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehingga Indonesia tidak dianggap tidak menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi serta pengetahuan.
Ancaman dari fenomena bahasa gado-gado tidaklah datang dari kosakata bahasa asing, melainkan penuturnya. Apalagi, jika penutur bahasa Indonesia lebih bangga menggunakan bahasa asing dalam kehidupan sehari-seharinya. Maka, tantangan dari fenomena bahasa gado-gado ini memang pantas ditunjukkan kepada kita, sebagai penutur bahasa Indonesia; mampukah penutur menempatkan penggunaan bahasa gado-gado dengan benar?
Berbeda dengan pemaparan pemateri pertama yang membahas fenomena gado-gado secara umum, pemateri kedua, Prof. Dr. Drs. Cece Sobarna, M.Hum, lebih fokus berbicara tentang percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Cece Sobarna menyebutkan bahwa fenomena tersebut merupakan dinamika bahasa yang alami karena percampuran bahasa terjadi di dalam bahasa apa pun, bahkan bahasa Inggris sekali pun. Percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa daerah ini terjadi karena masyarakat Indonesia merupakan masyarakat multibahasa. Banyak penuturnya yang selain menguasai bahasa Indonesia, juga menguasai bahasa ibu atau daerah masing-masing
Bahasa daerah yang dibahas di dalam materi kedua ini adalah bahasa Sunda. Seperti yang kita ketahui, akhir-akhir ini terdapat fenomena bahasa gado-gado yang penggunaannya tidak tepat, yaitu penggunaan kata “cenah” saat bertutur bahasa Indonesia. Ternyata, selain penggunaan kata “cenah”, terdapat banyak kata-kata yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat yang sudah tercampur dengan bahasa Sunda, seperti imbuhan “me-” yang diganti dengan “nye-”, contohnya mencerocos menjadi nyerocos, mencoblos menjadi nyoblos, dan lain sebagainya.
Melalui seminar ini, semoga teman-teman penutur bahasa Indonesia dapat lebih mengerti dengan konsep bahasa gado-gado dan dapat menggunakannya dengan tepat. Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.
 


0 komentar: