Penulis: Nigina Auliarachmah Ilustrator: Nurul Ramdhiany Redaktur: Limya Oktaviani Hari-hari di tahun 2118. Waktu begitu cepat berla...

Penjual Kebahagiaan

Penulis: Nigina Auliarachmah
Ilustrator: Nurul Ramdhiany
Redaktur: Limya Oktaviani

Hari-hari di tahun 2118. Waktu begitu cepat berlalu dan semua hal semakin menyusahkan. Udara semakin panas karena pohon-pohon sudah menjadi makhluk langka di dunia ini. Beruntung manusia diberi anugerah berupa akal, sehingga bisa menciptakan teknologi keren untuk membuat hari-hari sedikit lebih sejuk. Aku dengar dari dongeng-dongeng, di masa lalu angin masih bisa membuat udara sejuk, pohon-pohon ditanam dengan bebas di halaman rumah, dan sinar matahari pagi terasa hangat. Entahlah itu hanya dongeng yang diciptakan agar hidup yang menyusahkan ini sedikit lebih ringan atau memang benar-benar ada.

Hari ini tanggal merah. Dalam rangka memperingati terciptanya internet, semua rutinitas diliburkan. Aku memilih berjalan-jalan bersama anakku untuk mengisi hari kosong ini. Butuh perjuangan untuk mengajak anakku keluar rumah di hari libur, karena dia pasti akan asyik bermain bersama gawainya sepanjang hari dan tidak mau diganggu.

Berjalan-jalan di masa ini sama artinya dengan menghabiskan sebagian besar waktu di jalanan, karena baru lima menit mobilku keluar dari garasi, sudah harus terjebak kemacetan yang sangat panjang. Zaman sekarang memang mobil adalah benda rongsokan yang dimiliki semua orang. Meskipun begitu, tetap saja benda itu digunakan. Hilangnya kepedulian membuat orang-orang hidup sendiri. Tidak ada lagi angkutan umum seperti zaman aku kecil dulu.

Berbeda dengan keadaan di luar mobilku yang ramai oleh suara klakson dan umpatan-umpatan orang yang tidak sabar, di dalam mobilku justru tidak ada obrolan. Hanya suara dari gawai anakku yang tengah sibuk bermain game yang terdengar. Dia tampak masih cemberut karena diajak keluar rumah.

"Jangan cemberut begitu, di luar sudah sangat menyebalkan," ujarku dingin. Anakku hanya menatapku sinis, kemudian kembali menenggelamkan diri ke dalam game.

"Sudah Ayah bilang, perjalanan ini akan menyenangkan."

"Apa yang menyenangkan di dunia ini selain tinggal di rumah sambil bermain gawai?" Kali ini anakku membuka suara, sedikit berteriak.

"Kita akan ke mall!" jawabku, tidak kalah berteriak.

"Membosankan! Zaman sekarang kita bisa membeli sesuatu lewat gawai. Untuk apa ke mall?"

"Sudahlah! Jangan protes terus! Jangan membuat udara di mobil ini seperti di luar!" Aku tidak ingin memperpanjang adu mulut dengan anakku. Hal seperti ini sudah biasa terjadi di rumahku. Baik itu dengan anakku, atau dengan istriku. Bahkan mungkin merupakan hal yang biasa terjadi di rumah-rumah lain. Pantas saja udara semakin panas, orang-orang cepat sekali merasa kepanasan dan marah-marah.

Setelah cukup lama mobilku tidak bergerak, akhirnya lalu lintas mulai berjalan lancar. Setengah jam kemudian kami sampai di tempat yang kami tuju. Sebuah pusat perbelanjaan modern di kotaku. Tempat itu terlihat sepi dari pengunjung. Ya, benar kata anakku, zaman sekarang orang-orang tinggal menekan layar gawai mereka untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan. Tidak perlu beranjak dari tempat tidur untuk membeli apapun, bahkan sarapan pagi sekalipun.

Aku dan anakku berjalan beriringan sepanjang gerai-gerai toko yang sepi. 

"Sebenarnya Ayah mau membeli apa?" tanya anakku mulai gusar.

"Ayah akan membeli benda yang tidak dijual melalui internet. Benda itu akan membuat hari ini lebih indah," ujarku.

Setelah cukup lama hanya berputar-putar, akhirnya kami sampai di depan sebuah toko sempit di ujung lorong. Seperti tidak ada apapun di dalam toko itu, namun tulisan di atas pintu membuatku yakin bahwa inilah toko yang kucari.

Tiga hari yang lalu, ketika aku sudah terlalu suntuk dengan layar komputer di kantorku, sebuah iklan tiba-tiba muncul. Seorang laki-laki tampak tersenyum sangat lebar dan menyapa seakan kami dapat saling berkomunikasi. Kemudian laki-laki itu dengan lantang menawarkan hal yang menarik perhatianku.

"Kami menjual kebahagiaan. Datanglah segera ke toko kami, persediaan kebahagiaan terbatas!" ujar laki-laki itu bersemangat. Sampai akhirnya aku memiliki kesempatan untuk datang langsung ke toko yang katanya menjual kebahagiaan ini.

"Selamat datang di toko kami." Laki-laki yang persis seperti orang yang kulihat di layar komputer menyambutku dari balik meja kasir. Aku berjalan menghampirinya.

"Apa benar Anda menjual kebahagiaan?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Benar sekali. Kebetulan hanya tersisa dua tabung kebahagiaan," ujarnya bersemangat.

"Kalau begitu saya beli semuanya."

Laki-laki itu tampak mengambil sesuatu dari lemari di belakangnya. Dua buah tabung alumunium seukuran botol minum. Kemudian disodorkannya dua tabung itu padaku. Aku melihat harga yang tertera di tabung itu, kemudian membayarnya sesuai harga.

"Selamat menikmati kebahagiaan, Tuan."

Aku dan anakku duduk di sebuah bangku yang disediakan di toko itu. Kusodorkan satu buah tabung itu kepada anakku.

"Bukalah, Nak." Dia menerima tabung dariku dengan malas.

Kubuka tutup tabung itu perlahan. Tiba-tiba ada angin yang keluar dari dalam tabung itu, sangat kencang sehingga aku tidak bisa melihat sekelilingku dengan jelas.

**
Angin yang keluar dari tabung itu berhenti dan perlahan pandanganku kembali. Namun detik berikutnya mataku terbelalak melihat pemandangan di hadapanku. Ini bukan toko tempatku duduk tadi. Tempat ini sama sekali asing bagiku. Tiba-tiba anakku memegang tanganku erat sekali.

"Ayah, kita di mana?" tanyanya. Dia juga tampak sama kagetnya.

"Entahlah," gumamku.

Di hadapan kami terhampar lapangan hijau yang luas. Kemudian di ujung sana berdiri dengan megah bangunan terbuat dari tumpukan batu. Sangat indah. Aku pernah melihat bangunan seperti ini di ensiklopedia, kalau tidak salah bangunan itu bernama candi. Tempat orang-orang yang menganut salah satu agama beribadah. Aku tidak menyangka seindah ini. Di zamanku jarang sekali menemukan tempat ibadah, agama apapun itu. Agama manusia sudah berganti.

"Selamat datang di masa lalu, Tuan. Tempat pertama yang anda kunjungi adalah candi, sebuah tempat ibadah orang-orang Hindu. Tempat ini juga menjadi tempat wisata yang ramai dikunjungi orang, baik itu masyarakat lokal maupun turis asing." Tiba-tiba terdengar suara laki-laki penjual kebahagiaan itu. Namun tidak kutemukan sosoknya di manapun.

"Ayo kita ke sana ayah!" teriak anakku.

Ada banyak orang di tempat ini. Namun suasananya berbeda sama sekali dengan kehidupanku sehari-hari. Tidak kudengar umpatan dan caci maki. Orang-orang tampak bergembira dan saling bercengkrama dengan keluarganya. Ada yang berswafoto dengan kamera zaman dulu, ada yang tertawa sambil memperhatikan tingkah laku anak kecil yang menggemaskan, ada yang serius memperhatikan relief yang terpahat pada dinding candi. Baru kali ini aku merasakan tidak ada amarah sama sekali. Aku dan anakku begitu menikmati suasana yang menyenangkan ini.

"Pada zaman ini, hari libur adalah waktu yang tepat untuk berjalan-jalan bersama orang-orang terkasih. Ada banyak tempat yang menyenangkan untuk dijadikan destinasi liburan. Tetapi yang terpenting dari liburan adalah kebersamaan dengan orang-orang yang disayangi." Suara lelaki itu terdengar kembali. Aku tersenyum, senang sekali bisa merasakan suasana seperti ini.

Setelah cukup puas berkeliling di candi, suara lelaki itu menyuruh kami kembali membuka tabung yang sedari tadi kami pegang. Angin kencang kembali berembus membuat seluruh pandangan kabur.

**
Ketika pandanganku jelas kembali, terhampar warna hijau yang sangat luas. Pohon-pohon menjulang berjajar dengan sangat indah di bawahku. Aku tidak bisa berkedip menatap pemandangan indah di hadapanku. Betapa beruntungnya aku bisa melihat hamparan pohon sebanyak ini. Udara terasa lebih sejuk dan angin yang berembus sama sekali tidak menaikkan amarah.

"Pada zaman ini, manusia masih sadar betapa pentingnya tumbuhan. Meskipun tumbuhan terus dieksploitasi, banyak upaya yang dilakukan agar tumbuhan tetap asri. Keseimbangan ekosistem masih diatur oleh alam, bukan oleh mesin. Binatang-binatang yang hanya kautemukan dalam gambar masih banyak berkeliaran." Suara laki-laki itu terdengar lagi. Kali ini aku dan anakku sudah tidak kaget mendengarnya.

"Ke mana pohon-pohon ini nanti?" Anakku bertanya.

"Perlahan ketidakpedulian dan keserakahan manusia tumbuh lebih subur daripada pohon-pohon di dunia. Hal itulah yang membuat pohon tidak memiliki tempat lagi untuk tumbuh. Pembangunan terus dilakukan dan eksploitasi semakin menjadi-jadi." jelas suara laki-laki itu.

"Kasihan." Anakku tampak sedih.

"Padahal ketiadaan tumbuhan perlahan membunuh manusia juga. Saya tidak tahu umur panjang yang dimiliki manusia hingga sampai ke masa kalian adalah anugerah atau hukuman dari Yang Mahakuasa. Hidup tapi dalam siksaan. Hidup tanpa kebahagiaan."

Aku dan anakku terdiam mendengar pernyataan suara lelaki itu. Merenungi dan diam-diam membenarkan pernyataan itu. Kami hidup dalam siksaan. Tidak ada kebahagiaan di zaman kami. Dalam hati aku mengutuk perbuatan nenek moyang kami itu. Keserakahan mereka membuat kami menderita.

**
Langit sudah keunguan ketika aku dan anakku melihat tempat ketiga. Kali ini kami berada di tengah keramaian jalan. Banyak orang berlalu lalang dan sepanjang jalan dipenuhi oleh orang berjualan.

"Orang-orang di sini tidak merasakan panas ya, Yah. Mereka beruntung," gumam anakku. Entah sejak kapan kami sudah saling bergandengan.

"Iya. Mereka bisa bebas beraktivitas di luar. Lihat penjual dan pembeli terlihat akrab. Kok bisa ya?" ujarku sambil menunjuk pedagang kaos yang menggelar dagangannya di trotoar. Seorang pembeli tampak antusias menawar harga.

"Kali ini kalian berada di jalan utama kota ini. Jalan ini selalu ramai karena orang-orang menyukai jalanan ini." Suara laki-laki itu terdengar kembali.

"Mengapa banyak orang menyukai jalan ini? Di tempatku jalan ini biasa saja," tanyaku.

"Coba rasakan baik-baik. Banyak cinta tumbuh di tempat ini. Karena itu orang-orang yang datang ke sini selalu terlihat bahagia. Di zaman kalian, cinta sulit sekali tumbuh karena sudah hilangnya kepercayaan terhadap sesama manusia. Maka jalan ini menjadi sepi dan terbengkalai," jelas suara itu.

Aku mencoba merasakan cinta yang dimaksud suara lelaki itu. Benar saja. Itulah mengapa pedagang dan pembeli di sini saling berkomunikasi dengan baik, orang-orang berjalan kaki sambil bercengkrama dengan orang di sampingnya, beberapa ada yang makan di tempat makan pinggir jalan tanpa merasa curiga makanan itu beracun. Senyum dan tawa banyak kudapati di sini. Tempat ini menyenangkan.

"Ayah, aku ingin tinggal di tempat seperti ini," ujar anakku. Dia terlihat senang sekali. Sepanjang sore kami menikmati suasana di jalan itu dengan menelusuri trotoar, tersenyum kepada siapa saja yang berpapasan.

**
Angin terakhir yang kurasakan dari tabung di tanganku membawaku dan anakku kembali ke tempat semula. Sebuah toko di ujung lorong pusat perbelanjaan modern.

"Selamat datang kembali, Tuan." Suara yang tidak asing itu kembali menyapa. Kali ini kulihat lelaki itu di belakang meja kasir. Tersenyum.

"Itu tadi luar biasa!" ujarku.

"Iya! Aku mau lagi!" Anakku sangat antusias.

"Maaf Nak, persediaan tabung kebagiaanku sudah habis." Laki-laki itu menampakkan wajah merasa bersalah.

"Berapa lama kami harus menunggu persediaan itu ada lagi?" tanyaku.

"Entahlah Tuan. Kebahagiaan datangnya sulit diprediksi. Tapi Anda bisa membuatnya sendiri di rumah," jelas lelaki itu.

"Bagaimana caranya?"

"Dengan menghilangkan keegoisan dalam diri, saling percaya dan menghargai sesama. Kemudian yang paling penting adalah tumbuhkan kembali cinta," jelas lelaki itu. Aku dan anakku terdiam.

"Terima kasih, Pak. Sungguh hal yang Anda suguhkan kepada kami itu sangat berharga," ujarku kemudian. Kuhampiri lelaki itu, kemudian kujabat tangannya. Dia tampak tersenyum lebar.

Setelah cukup lama saling berbincang, aku dan anakku pamit untuk pulang. Ternyata hari sudah beranjak malam ketika kami keluar dari pusat perbelanjaan. Baru lima menit mobilku keluar dari parkiran, ular kemacetan sudah menjebak mobilku. Deru klakson dan umpatan orang-orang yang tidak sabar terdengar memenuhi udara malam kotaku.

Di dalam mobil, aku dan anakku bernyanyi sambil menunggu ular kemacetan meregang. Tidak peduli dengan kegaduhan di luar. Kami merasa cukup bahagia hari ini. Tanpa kami sadari, mobilku bersinar di tengah-tengah kelabunya kemacetan.

0 komentar: