Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Desain: Ninda Annisa Bagaimana rasanya menjadi berbeda? Bagai...

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya: Sepi, Kelam, dan Menyebalkan

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi
Desain: Ninda Annisa


Bagaimana rasanya menjadi berbeda?
Bagaimana rasanya dikuntit keinginan mati dan teka-teki yang tak pernah usai?
--
Pertanyaan di atas terasa kelam betul, ‘kan?
Begitulah kira-kira gambaran kehidupan Tsukuru yang saya tangkap ketika membaca Novel Mukarami yang satu ini. Setiap narasi yang dihadirkan Murakami terasa begitu muram dan memberikan bekas tak menyenangkan dalam diri saya. Namun, yang menyebalkan ialah saya tak bisa bila tidak lanjut membaca dan melarutkan diri pada kemuraman dan teka-teki yang disediakan.

Awalnya, Tsukuru hidup bahagia di antara kawan-kawannya yang berwarna. Tsukuru memiliki empat kawan dekat semasa sekolah, yakni Akamatsu (pinus merah), Oumi (laut biru), Shirane (akar putih), dan Kurono (Ladang Hitam). Hanya Tsukuru yang namanya tak menyiratkan warna dan ia merasa begitu sedih karena hal tersebut. Nahasnya, setelah ditinggal oleh keempat kawan dekatnya itu—karena suatu alasan yang nantinya perlahan ia tanyakan kepada keempat kawannya—Tsukuru selalu sendirian hingga akhirnya ia bertemu Haida—yang lagi-lagi namanya menyiratkan warna (ladang abu-abu).

Selepas ditinggal keempat kawan dekatnya Tsukuru menjalani keseharian dalam fase hidup-mati. Ia merasakan keinginan bunuh diri yang begitu kuat. Di sisi lain, ia mencari-cari cara mati yang tak merepotkan sembari mencari alasan keempat kawan dekatnya tiba-tiba membuangnya begitu saja. Namun, ia tak menemukan apa-apa kecuali kenyataan tak menyenangkan yang betul-betul mengherankan.

Tsukuru tampil sebagai pemuda yang aman, tampan, dan bekerja di tempat yang ia suka. Namun, siapa sangka hidupnya yang terlihat aman-aman saja menyimpan lubang hitam menganga yang siap menariknya kapan saja. Ah, karakter ‘macam Tsukuru Tazaki ini dapat kita temukan menjadi tokoh utama di buku Murakami lainnya, dengan sifat dan karakter yang sama—tentu, dengan nama yang berbeda. 

Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya menyediakan konflik yang ringan, matang, dan juga kelam. Semakin banyak halaman yang kita buka, semakin besar efek kelam yang kita dapat. Mengingat Murakami ini pandai betul mempermainkan alur. Ia tahu betul bagaimana cara mengulang-alik perasaan pembaca agar mampu mencapai efek kelam yang ia sediakan. 

Pokoknya, ada perasaaan tak menyenangkan yang berkumpul dalam diri saya selepas membaca buku ini. Rasanya seperti di bawa ke ruang yang betul-betul kelam. Melihat seseorang yang tengah dalam keadaan hidup-mati menjalani keseharian. Memperhatikan bagaimana sepi dan kesepian sepakat menguntitnya setelah dibuang dari zona nyaman oleh keempat sahabatnya.

Seperti novel-novelnya yang lain, selain memberikan perasaan-perasaan tak menyenangkan, Murakami tak pernah luput memberikan adegan penuh gairah serta playlist lagu yang belum pernah saya dengarkan. Selambat apa pun alur yang Murakami berikan, rasanya selalu kelam, renyah, dan tak pernah membosankan!

0 komentar: