Penulis: Robby Bouceu Ilustrasi: Ayu Fitriyani Redaktur: Limya Oktaviani Di sinilah sekarang diriku, di puncak gradasi haru, menatap se...

Yang Tinggal

Penulis: Robby Bouceu
Ilustrasi: Ayu Fitriyani
Redaktur: Limya Oktaviani
Di sinilah sekarang diriku, di puncak gradasi haru, menatap sepasang sayap gagak berkepak mengitari tugu waktu, anjing dari es batu, batu sekeras kening, gering mencengkeram kening, sedang sejarik awan pucat itu seakan jeda yang tak ada di tengah ketenangan ini, tenang yang tegang ini, tegang yang tak mau mati ini.
Mati adalah puisi yang pernah kaumimpikan. Mati adalah mimpi kala jari tengah dunia seolah teracung membungkam setiap kata,  mematahkan setiap langkah di malam penuh bintang.
Kau pernah bermimpi dapat memetik satu bintang. Kau masih berani bermimpi dapat memetik satu bintang. Kau menolak hanya diam di pusat ketegangan.
Orang-orang tertawa di tengah kemenangan, kali-berkali meratap di tengah kejatuhan. Dari sebongkah batu, kita telah belajar: keduanya sekadar getar yang merayap di nadir yang sama. Dari kecupan api, kita mengerti: memeluk pedih tak kurang secamam meditasi dan ketakutan tak lebih dari ilusi.
Kini, di hening ini, akan kupecahkan cermin-cermin ilusi, akan kulepaskan anjing yang terkurung dalam hati. Hari-hari monokromatik, biar terus berputar ritmik. Dinding, angin,  dinding-dinding  angin biar kususuri terus sebagai  sekat-sekat  dingin.
Kita akan tetap di sini, menatap semua bersama angin, melangkah bersama cuaca, bersama udara!


 November, 2018.

0 komentar: