Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Ada tiga hal yang terus mengitari kepala sa...

Alkudus: Menjelma Tuhan, Mencipta Agama, dan Membangkitkan Perempuan

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa

Ada tiga hal yang terus mengitari kepala saya selama membaca Alkudusnya Asef Saeful Anwar. Pertama mengenai Tuhan, kedua mengenai agama, dan ketiga mengenai perempuan. Ketiga hal tersebut entah mengapa terasa bertalian dengan keinginan pengarang. Keinginan pengarang untuk menjelma Tuhan, menciptakan sebuah agama, dan mengkritisi tafsir kitab suci agama samawi yang seringkali memihak lelaki.

Asef menjadikan Tuhan agama Kaib sebagai narator atau juru kisah dalam Alkudus atau kitab suci khayali ini. Ketika mengabarkan firmannya dalam bentuk kisah, Tuhan agama Kaib memakai tiga kata ganti untuk merujuk dirinya, yakni Aku, Tuhan, dan Kami layaknya terjemahan kitab suci agama langit. Kisah-kisah yang difirmankan Tuhan termaktub dalam 24 bab yang ditulis serupa teknik penulisan surah dalam Alquran. Surah-surah tersebut kemudian dibagi kembali menjadi ayat-ayat yang dinomori hingga kisah tersebut selesai difirmankan. 

Kemudian, keinginan menjadi Tuhan ini pun membuat Asef merasa perlu memiliki wadah yang cocok untuk menampungnya, yakni agama. Asef menciptakan agama Kaibanagram dari agama baiksebagai media untuk mengomunikasikan keresahannya terhadap tafsir beragama yang dilakukan para pemeluk agama langit. Maka ia menyebut agama Kaib sebagai agama bumi yang menyampaikan petuah lewat kisah. Selain itu, dapat ditemukan anagram lain, seperti Dama dan Waha.

Sebagai agama khayali, Asef tidak tanggung-tanggung melengkapinya dengan sebuah kitab suci, yakni Alkudus. Alkudus sendiri terbangun atas kisah-kisah yang telah ada, kisah-kisah yang telah dikenal dalam agama samawi, atau kisah yang seringkali ditemui dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kisah-kisah yang dibuat pun memakai nabi-nabi agama Kaib terdahulu sebagai tokoh yang dapat dijadikan teladan, layaknya kitab suci.

Alkudus dan agama Kaib lahir sebagai refleksi atas kehidupan beragama yang sibuk berlomba-lomba menunjukkan diri sebagai yang paling benar hingga terkadang kebenaran malah menghilangkan hal penting lainnya, yakni kebaikan. Agama Kaib sebagai anagram dari agama baik menjelma protes atas kehidupan beragama semacam itu.

Kemudian hal paling menyenangkan ketika membaca kitab suci khayali ini adalah tafsir ulang yang dilakukan terhadap ayat-ayat yang berkenaan dengan perempuan. Cara Tuhan mengisahkan penciptaan Waha dari tanah yang sama dengan Dama, bukan dari bagian tubuh Dama. Kemudian cerita Dama dan Waha diturunkan dari surga semata-mata karena ketetapan Tuhan, bukan karena Waha menggoda Dama agar memakan buah yang dilarang. Kemudian, yang paling menonjol ialah terpilihnya rasul perempuan bernama Erelah sebagai rasul terakhir agama Kaib yang menyusun wahyu-wahyu Tuhan agar dicatat para pengikutnya hingga lahirlah Alkudus sebagai pedoman para penganut agama Kaib.

Alkudus yang diterbitkan pertama kali pada April 2017 untungnya tidakatau belummenuai respons semacam penistaan dan sebagainya. Itu berarti, para pembaca menyikapi Alkudus dengan pikiran yang jernih atau mereka yang cepat tersulut emosi tak pernah membaca buku ini hehe.

Sebagai penutup, ingin sekali saya menukil ini: (18)kini sampailah pada masamu ketika orang-orang banyak bersengketa karena sebuah cerita. (19)Ketika sesuatu di masa depan dibicarakan dan dipertentangkan padahal belum berlangsung sementara masa lalu tiada pernah menjadi cermin.

0 komentar: