Penulis: Nigina Auliarachmah Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan Desain: Ninda Annisa Barangkali cara terbaik untuk berdamai d...

Bertualang Bersama Sungu Lembu dan Raden Mandasia

Penulis: Nigina Auliarachmah
Redaktur: Riska Yasashi & Nurul Intan
Desain: Ninda Annisa

Barangkali cara terbaik untuk berdamai dengan rasa benci dan dendam yang sudah tersimpan seumur hidup adalah dengan memaafkan segalanya. Barangkali rasa benci memang membuat hati dan mata tertutup dan tak bisa melihat kenyataan yang sebenarnya.

Sungu Lembu mungkin menyadari itu setelah melakukan perjalanan yang panjang bersama Raden Mandasia. Alih-alih dapat memenggal kepala Watugunung untuk membalas dendam, justru dia mendapat hal yang lebih berharga dari sekadar membalas dendam.

Ah iya, saya pikir buku ini akan banyak bercerita tentang Raden Mandasia--sesuai dengan judulnya. Ternyata kurasa ini adalah kisah pengalaman Sungu Lembu dalam perjalanan panjang menuju Gerbang Agung bersama Raden Mandasia. Baik Sungu Lembu maupun Raden Mandasia, keduanya memiliki tujuan yang jelas, meskipun tidak sama dan saya rasa keduanya tidak dapat mencapai tujuan mereka di akhir perjalanan.

Saya seperti diajak oleh Sungu Lembu dan Raden Mandasia melakukan perjalanan dari sebuah dongeng menuju dongeng yang lain. Kau akan menemukan banyak sekali kisah yang bersinggungan dengan perjalanan mereka berdua, seperti kisah pembawa wahyu yang meninggalkan kaumnya hingga akhirnya dimakan ikan paus, kisah lelaki tua yang kehilangan boneka kayunya, wabah kematian hitam, bahkan kisah Oedipus kompleks versi lokal yang dimiliki masyarakat Jawa. Mungkin masih ada kisah-kisah lain dalam perjalanan Sungu Lembu dan Raden Mandasia yang tidak saya sadari. Betapa cerdasnya penulis menyatukan banyak cerita dan membuatnya menjadi satu cerita baru yang keren.

Kita juga tidak perlu khawatir cerita ini akan membuat pusing. Justru sebaliknya, kita akan seperti mendengar curhatan Sungu Lembu atas pengalamannya bersama Raden Mandasia. Dia benar-benar seorang pengumpat yang pandai, haha. Sungu Lembu selalu mengatakan kalau dia sangat tidak menyukai Raden Mandasia dan kebiasaan anehnya--mencuri daging sapi, tapi saya dapat merasakan betapa Sungu Lembu menghormati Raden Mandasia dan betapa mereka saling melengkapi. Oh jangan lupakan Watugunung sang raja. Sungu Lembu yang menyimpan dendam kepada Watugunung tentu saja akan menceritakan penyebab dendamnya itu kepada kita. Saya sempat merasa tidak suka kepada Watugunung. Tapi kita--Sungu Lembu dan saya--sama-sama tidak menyangka dengan kehidupan Watugunung yang sebenarnya, terutama pada bagian akhir cerita ini.

Membaca ini rasanya seperti kembali ke zaman kerajaan. Apalagi banyak nama tokoh dan tempat yang benar-benar membuatmu merasa ini seperti menceritakan kerajaan-kerajaan zaman dulu. Oh iya, jangan lupakan diksi yang digunakan oleh penulis, kau akan menemukan banyak diksi yang saya rasa zaman sekarang sudah tidak lazim digunakan lagi, seperti "buli-buli", "kasim", "sida-sida", dan masih banyak lagi. Tetapi ini hanyalah cerita dongeng, bukan cerita sejarah.

Tentu saja bukan hanya itu yang saya dapatkan dari buku ini. Masih banyak sekali hal menarik dalam buku ini yang tak bisa saya jelaskan dengan panjang lebar. Ada Loki Tua dengan kemampuan memasaknya yang dapat membuatmu membayangkan makanan enak sampai makanan aneh. Ada penjelasan mengenai pelayaran yang membuatmu seakan-akan benar-benar berada dalam perjalanan laut. Ada gambaran perang yang begitu julas dan mengerikan. Pokoknya petualangan dalam buku ini benar-benar membuatmu lelah sekaligus ingin mengulanginya.

Seperti Sabda Armandio bilang, buku ini adalah kabar baik. Tidak heran jika pada 2016 lalu buku ini masuk ke dalam nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa sebagai prosa terbaik.

0 komentar: