Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nigina Auliarachmah Desain: Yohanes Junianto Kabar mengenai ungkapan rasis yang dilontarkan ...

Papua, Luka, dan Kemarahan Kolektif Kita Semua


Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Desain: Yohanes Junianto

Kabar mengenai ungkapan rasis yang dilontarkan sejumlah orang dan aparat keamanan terhadap Mahasiswa Papua di Asrama Papua, Surabaya, tengah memenuhi beranda akun sosial media saya. Teriakan "Anjing! Monyet! dan Babi!" dalam video yang telah dibagikan secara berulang rasanya tidak mau hilang dan kini masih betah berteriak dalam telinga.

Di balik segala kekesalan yang ada, naiknya kasus ini ke permukaan adalah kabar baik, setidaknya bagi saya sendiri. Sebelum kasus ini ramai, Papua terasa amat jauh, tuduhan-tuduhan berupa stereotip buruk terhadap masyarakat Papua sebenarnya pernah beberapa kali saya dengar/ baca, mengenai Mahasiswa Papua yang kesulitan mencari kamar indekos karena mereka dari Papua, mengenai kabar mereka yang gemar mabuk-mabukan dan meresahkan. Namun saya benci gawatan, maka saya tutup mata juga telinga, berharap segalanya akan selesai tanpa pernah saya--atau barangkali kita--duga.

Papua dan Stereotip

Perbedaan fisik masyarakat Papua, terutama warna kulit memungkinkan stereotip bekerja dengan sempurna. Seakan-akan segala yang buruk pantas dilekatkan kepada mereka, kawan-kawan dari Papua: bodoh atau terbelakang, kasar atau perusak, suka minum-minum, dan segala citra buruk lainnya. Padahal, perilaku buruk bisa dimiliki siapa saja dan tidak terikat apa saja. Ah, sulit betul bila perasaan lebih suci telah hidup dalam hati kita. ehe. Hingga yang hadir dalam benak kita ketika membicarakan Papua hanya: kecurigaan dan kecurigaan dan kecurigaan.

Akhirnya, riaplah pandangan buruk terhadap orang Papua tanpa pernah kita duga. Pandangan-pandangan buruk tersebut tentu punya dampak yang tidak kecil sebab, ia riap, hingga akhirnya tumbuh besar dan tak dapat ditebang. Papua dalam benak kebanyakan dari kita, seragam: buruk, kasar, dan terbelakang. Padahal, yang seragam bukan masyarakat Papua, 'kan? Hehehe.

Rasisme Terhadap Papua

Stereotrip mengenai masyarakat Papua membuat sebagian besar dari kita merasa tidak sejajar dengan mereka. Citra-citra buruk yang dilekatkan pada mereka seakan-akan membuat kita berhak menyejajarkannya dengan binatang. Dengan anjing? babi? dan yang paling sering berseliweran di beranda sosial media saya akhir-akhir ini, monyet? 

Inilah yang mencuat. Mengundang kemarahan dan membuat kasus ini senantiasa hangat di mana-mana. Rasisme terhadap mereka mengundang kemarahan, kemarahan ini sifatnya kolektif, bukan hanya milik Papua, sebab--dan semoga--banyak yang merasa tersakiti atas rasisme yang terus mengakar terhadap sesama kita, sesama manusia, hingga kini. Bukankah, belum lama ini kita memperingati Kemerdekaan Indonesia? Kemerdekaan yang harusnya dirasakan juga oleh semua orang Indonesia, tanpa memandang apa-apa. Sebab, perbedaan telah kita amini sebelumnya, bhineka tunggal ika, 'kan?

Minta Maaf, Salah Sasaran, dan Kemarahan yang (Tidak) Mudah Hilang 

Ada yang tak kalah menarik dari hiruk pikuk mengenai rasisme terhadap Masyarakat Papua, ialah pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai kericuhan di Manokwari yang timbul sebagai respons atas rasisme terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya. Presiden Joko Widodo mengatakan, "... saya tahu ada ketersinggungan. Oleh sebab itu, sebagai saudara sebangsa dan setanah air, yang paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh, memaafkan itu lebih baik, sabar itu lebih baik ....".

Pernyataan Presiden mengenai "saling memaafkan" ini cukup menarik. Seolah-olah kedua belah pihak ialah subjek atau pelaku dan seolah-olah rasisme bisa musnah begitu saja lewat jalan "maaf-memaafkan". Tentu, maaf-memaafkan ini diperlukan, namun sikap tegas atas umpatan "nama-nama hewan" yang dilontarkan terhadap kawan-kawan dari Papua sangat diperlukan agar rasisme lainnya tidak berkepanjangan.

Hal menarik lain ialah pencarian yang tengah dilakukan terhadap penyebar konten media sosial (video yang menyebut orang Papua--maaf--monyet), sebab hal tersebut dianggap sebagai pemicu kerusuhan yang tengah mencuat di mana-mana, bukan rasisme yang nampak begitu nyata. Ada-ada saja kelakuan aparat di Negeri ini hehe.

***
Tentu kita lelah dengan rasisme yang (lagi-lagi) menimpa masyarakat Papua, dengan ketidakadilan yang menimpa sesama manusia. Maka, kemarahan ini menjadi kemarahan kita semua dan luka ini menjadi luka bersama-sama.

0 komentar: