Penulis: Luke Andaresta Redaktur: Nigina Auliarachmah Desain: Diana Dewi Darwin Sekitar tiga tahun lalu, tepatnya ketika saya ba...

Sebuah Harapan untuk Karnaval Sastra 2019


Penulis: Luke Andaresta
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Desain: Diana Dewi Darwin


Sekitar tiga tahun lalu, tepatnya ketika saya baru dua bulan menjadi maba (red: mahasiswa baru), saya melihat sebuah poster acara terpasang di mading Gelanggang yang begitu dingin. Sebagai maba yang masih penuh antusias, saya tertarik untuk membaca informasi yang tertera dalam poster tersebut. Poster tersebut memuat informasi mengenai malam seni dan sastra Karnaval Sastra yang akan dimeriahkan oleh beberapa penampilan band kampus, pertunjukan teater Djati, dan satu band indie dari Bandung yang tampaknya menjadi guest star untuk acara tersebut. Tentu saja saya begitu tertarik untuk datang, dong.

Sabtu, 29 Oktober 2016, di Blue Stage FIB Unpad, pada sore yang gerimis, acara puncak tersebut digelar. Sambil berpayungan, saya duduk menonton bersama teman. Namun, ada juga yang membiarkan dirinya perlahan-lahan dibasahi air hujan. Barangkali mereka ingin mempraktikkan senja, hujan, dan cerita itu seperti apa. Musik pun tetap mengalun. Beberapa stan yang menjual buku dan makanan pun turut meramaikan acara tersebut. Dekorasi panggung yang cukup apik dengan lampu warna-warni membuat penampilan Arkananta, Musik Gelanggang, Align, Simfoni Tengah Malam, dan Olegun & The Gobs makin meriah. Para penonton tidak segan untuk maju ke depan panggung dan berjoget bersama sembari menikmati penampilan mereka. 

Selain itu, ada juga pengumuman pemenang lomba yang sudah diadakan dari jauh hari, sebelum acara puncak. Lomba terdiri dari penciptaan puisi, esai, dan naskah drama dengan hadiah uang tunai. Acara ditutup oleh penampilan Mr. Sonjaya yang menyanyikan beberapa lagu dengan penuh kesejukan. Berkat acara Karnaval Sastra, lagu-lagu Mr. Sonjaya malah menjadi favorit di playlist saya. Sebagai penonton dan penikmat acara, tanpa mengetahui jatuh bangun para panitia menyusun acara tersebut, saya sangat puas. 

Acara seperti itu pula yang sedang dirancang oleh teman-teman panitia Karnaval Sastra 2019. Sebanyak kurang lebih enam puluh orang, yang terdiri dari tiga angkatan, sedang berjibaku membuat acara yang dari namanya saja sudah terbayang meriah, menjadi acara yang memang benar-benar memberikan kesan. Sejak bulan Februari mereka mempromosikan acara ini melalui media sosial. Saat ini, Karnaval Sastra sudah Sampai pada tahap mengumumkan jenis perlombaan yang diadakan tahun ini. Dilihat dari akun Instagram @karnavalsastra, untuk tahun ini karnaval sastra hanya mengadakan lomba daring. Lomba daring ini terdiri atas cipta puisi, cerpen, naskah drama, dan esai yang mengusung tema, “memori: membangkitkan yang sudah lama terpendam”. Pendaftarannya dilaksanakan dari tanggal 1 juli-31 Agustus 2019, ditujukan untuk pelajar SMA dan mahasiswa/ umum.*

Selain itu, akan ada juga acara bedah buku yang diselenggarakan oleh teman-teman dari Departemen Ideologi Gelanggang, berdiskusi perihal karya sastra yang tentunya akan mendatangkan penulis-penulis Sastra Indonesia yang kewren. Oh ya, selain acara nyastra yang memang menjadi poin utamanya, ada juga acara-acara seperti; pelatihan kerajinan tangan, pelatihan kamera analog, bazar(makanan, pakaian, hingga pernak-pernik), kelas rias wajah, dan di akhir tentunya akan ada acara puncak yang akan menutup rangkaian dengan warbyazah. Semua hal yang saya sebutkan di atas tengah dipersiapkan oleh para panitia dengan sebaik-baiknya.

Sebagai warga Gelanggang, tentu saya memiliki harapan besar untuk acara yang satu ini. Sastra hadir bukan ditujukan hanya untuk mereka yang memang studi di prodi kesastraan, tapi milik semua yang percaya pada sastra itu sendiri. Sudah banyak kasus mereka yang menulis sastra berasal dari latar belakang pendidikan yang bukan sastra, bahkan terkadang mereka lebih giat membaca dan menulis ketimbang kami yang memang belajar sastra ini, hehe. Maka dari itu, menurut saya, acara Karnaval Sastra ini seharusnya mampu membuat siapa pun yang mencintai sastra bisa turut serta untuk merayakannya. Tentunya, seluruh mahasiswa dan dosen Sastra Indonesia Unpad harus mampu menjadi pemantiknya--dalam hal ini--sebagai pihak penyelenggara. Hasilnya, sastra bukan hanya menjadi sesuatu yang cukup didiskusikan di dalam kelas saja, tapi mampu mengudara sampai kepada siapa pun yang memang tertari--bahkan mencintai sastra.

Saya juga berharap acara Karnaval Sastra mampu menjadi salah satu angin segar dari keringnya acara kesastraan khususnya Sastra Indonesia di kampus. Selama hampir tiga tahun lebih berkuliah,  hampir tidak ada acara yang memang benar-benar merayakan sastra, selain diskusi-diskusi kecil yang memang diadakan oleh teman-teman di fakultas. Tidak ada salahnya kan sekali-kali kita membicarakannya dengan lingkaran yang lebih besar, uwuwuwu. Beberapa acara di fakultas memang memakai kata ‘sastra’ atau ‘budaya’ dalam penamaannya, tapi nyatanya belum mampu menghadirkan kedua hal tersebut dalam realisasinya. Sering kali berujung pada lebih banyak porsi musik-musikan dan  tak lupa dengan acara rumah hantu—yang sampai saat ini masih saya herankan mengapa ada hal itu. Tidak ada diskusi kesastraan yang paling mutakhi--yang sedang dibicarakan oleh banyak orang.

Lebih penting dari semua itu, saya berharap melalui acara ini, teman-teman Sastra Indonesia lebih terpacu untuk belajar tentang sastra. Tak bisa dipungkiri bahwa perkembangan sastra hingga hari ini cukup pesat. Acara-acara yang berbau literasi pun cukup masif digelar di beberapa kota di Indonesia. Orang-orang dari berbagai macam latar belakang sosial membaca dan mendiskusikan sastra. Saya harap salah satunya akan digelar di FIB Unpad bulan Oktober nanti.

Ohiya, saya ingin mengucapkan semangat untuk seluruh panitia Karnaval Sastra 2019. Semoga usaha dan hasil kerja keras kalian membuahkan sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi kita semua. Semangat ya, mylofs!

--
*Karena adanya perubahan teknis mengenai informasi lomba, maka bagian ini disesuaikan dari sebelumnya:
"Saat ini, Karnaval Sastra sudah Sampai pada tahap mengumumkan jenis perlombaan yang diadakan tahun ini. Dilihat dari akun Instagram @karnavalsastra, untuk tahun ini lomba dibagi menjadi dua kategori; lomba daring dan luring. Lomba daring terdiri dari cipta puisi, cerpen, naskah drama, dan esai, sedangkan kategori luring ada lomba mendongeng dan musikalisasi puisi. Lomba daring mengusung tema, “memori: membangkitkan yang sudah lama terpendam”. Pendaftarannya dilaksanakan dari tanggal 1 juli-31 Agustus 2019 yang ditujukan untuk pelajar SMA dan mahasiswa/umum, sedangkan untuk lomba luring, mendongeng dilaksanakan pada 17 September 2019 dan musikalisasi puisi pada 19 September 2019."

0 komentar: