Penulis: Ananda Bintang Redaktur: Nigina Aulia Desain: Diana Dewi Duar! Duar! Duar! suara gas air mata terlontar dari mulut polisi. M...

Kita Memang Paling Mudah Mencari Pembenaran

Penulis: Ananda Bintang
Redaktur: Nigina Aulia
Desain: Diana Dewi


Duar! Duar! Duar! suara gas air mata terlontar dari mulut polisi. Mereka menangkap siapa saja yang melawan barikade tameng. Walau demikian, ada beberapa tameng polisi yang diambil mahasiswa salah satu universitas yang masih belum memiliki rektor, tapi PLT rektornya sok-sokan melarang demo.

Semerbak gas air mata masih tercium di kamar indekos. Layar-layar di genggaman tangan, masih melulu memberitakan soal “kekerasan”. Kini televisi tidak pernah terdengar. Hanya beberapa acara yang mampu mewakili realita di lapangan.

Di media sosial, terutama instagram dan twitter, bermunculan opini-opini pembenaran. Kita mudah sekali mencari pembenaran. Apapun itu, sudah seharusnya diusut tuntas. Mengapa bisa terjadi? Kekerasan bukanlah ajang mencari pembenaran, itu sudah melawan nilai kemanusiaan.

“Hidup Mahasiswa!” Tapi setelah mati, dirimu sudah bukan mahasiswa lagi, kawan. Tetaplah berpikir rasional di tengah badai idealismemu menduduki gedung hijau itu. Jangan-jangan bukan idealisme yang menggerakanmu, tapi euforia dan ikut-ikutan saja agar seolah terlihat peduli. Substansi pun hilang, yang penting gontok-gontokan!

Poster-poster menggelikan tentang aspirasi yang mendulang likes, banjir pujian, dan insta story yang membanjiri jalanan. Sementara ketua BEM berbagai universitas berbicara lantang di depan mikrofon. Di gedung DPR, di atas mobil demonstrasi, dan di acara talkshow yang mengingatkan kembali fungsi-fungsi televisi.

Rancangan Undang-Undang masih diperdebatkan, tapi dua kematian sudah melayang. Cukupkah itu Tuan? Kemana kau selama ini? Presiden dan rakyat sama-sama pamer di media sosial. Tapi, tunggu, ada pula rakyat yang tidak sama sekali memiliki kesempatan untuk memiliki media sosial. Bahkan untuk makan pun mereka masih resah, seperti kita yang selalu khawatir bila kehilangan followers di media sosial.

Penokohan masih terjadi. Isu ditunggangi menjadi gorengan yang gurih bagi media-media mainstream dan pemerintah. Youtubers dankonon—influencer turun ke jalan mencari konten, mencari uang, dan mendulang simpati. Apa pun niatnya, setidaknya mereka berbaur dan berbagi keringat dengan massa.

Tenang kawan, kau yang duduk termangu melihat layar media sosial dan hilir mudik berwarna-warni mewartakan kekerasan, tidak murni menjadi apatis. Kau yang mengomentari temanmu yang sedang turun ke jalan, setidaknya kau peduli. Meskipun ada nada komentar berbau benci.

Pergerakan memang bisa berupa apa saja, kawan. Bisa berbentuk dan melalui cara apa pun. Bahkan ketika kauminum teh atau kopi di teras rumah sambil memaki orang-orang yang kau anggap tidak benar di media sosial, itu bisa saja menjadi pergerakan. Pergerakan batinmu yang terusik. Hanya saja kau tidak membagi keresahan itu di jalanan. Kau membagi keresahan itu di linimasa milikmu, dan itu—saya pikir—adalah sebuah pergerakan.

Alerta! Takbir! Sahut-menyahut di jalanan. Melawan tiran yang terlalu tidur pulas. Tukang rujak, tukang cilor, dan tukang-tukang lainnya memenuhi linimasa. Menertawakan kegaduhan yang terlalu serius, atau sopir ojek online yang selalu menanti “ambil aja kembaliannya”. Kebahagaiaan sekaligus penderitaan yang menari indah di jalanan.

Tak lupa anak STM yang konon ditunggangi aktivis “Antifa” dan polisi-polisi Thailand. Opini pembenarannya adalah mereka mengetahui yang mereka perjuangkan, tentang keadilan rakyat, juga tentang penolakan RUU. Namun secara aksi, kita tak bisa mengelak. Memang mereka datang untuk “menolong”, untuk melolong hujatan, untuk tawuran, bukan menyuarakan aspirasi. Tak perlu naif, dan tak perlu mencari pembenaran, Semaun pun akan mengatakan demikian. Buktinya—setahu saya—semuda-mudanya Semaun tak pernah melempar batu ke polisi.

Ah, tenanglah. Mungkin minggu depan isu ini akan tertutup oleh permainan video tik-tok yang aduhai. Semoga kita tetap merasa salah, dan maafkan karena saya pun menjadi orang yang menyumbangkan banjir informasi dengan hadirnya tulisan ini.

Sekali lagi tenang, sekarang, semua kawan saya sudah menjadi aktivis. Jadi, jika pemerintah melakukan kesalahan bodoh lagi, siap-siap menjadi bahan pergunjingan instastory kami! Kami berlipat ganda dan selalu ada  hype-nya.

Hidup kekecewaan! Tanpa kecewa, turun ke jalan hanyalah omong kosong belaka.

Panjang umur kedewasaan!

0 komentar:

Penulis: Nigina Auliarachmah Redaktur: Ashilla Rifanny & Limya Oktaviani Ilustrator: Ayu Fitriyani 1 Sebuah kehebohan terjadi ha...

Koran Tidak Terbit Hari Ini

Penulis: Nigina Auliarachmah
Redaktur: Ashilla Rifanny & Limya Oktaviani
Ilustrator: Ayu Fitriyani

1
Sebuah kehebohan terjadi hari ini. Berita di televisi terus mengumumkan bahwa koran tidak akan terbit hari ini—dan sampai waktu yang tidak diketahui. Berita di media sosial bahkan lebih heboh lagi, mengingat orang-orang sudah mulai berbondong-bondong pindah dari dunia nyata ke dunia maya itu. Bahkan, pesan berantai yang selalu diakhiri dengan kalimat “Sebarkan pesan ini ke 7 orang temanmu. Jika tidak, maka kau akan ditimpa kemalangan sampai tujuh turunan.” terus tersebar ke setiap orang dengan berita yang sama—koran tidak terbit hari ini.
Tentu saja berita-berita mengenai tidak terbitnya koran hari ini memiliki banyak versi. Televisi mengatakan bahwa itu adalah salah satu upaya untuk mengurangi penebangan pohon yang terus menghabisi hutan di negeri ini. Namun di zaman sekarang, televisi sepertinya sudah tidak dipercaya lagi oleh masyarakat. Buktinya orang-orang masih bertanya-tanya apa yang terjadi dengan koran-koran itu meskipun sudah sering televisi menayangkan berita tentang pelestarian lingkungan dan hubungannya dengan tidak terbitnya koran hari ini. Orang-orang lebih tertarik mencari informasi mengenai koran-koran itu di media sosial. Sudah kubilang, manusia sekarang lebih senang tinggal di dunia maya.
Ada lebih banyak versi berita yang beredar di dunia maya. Mungkin ini juga salah satu alasan orang-orang tidak percaya pada televisi, karena hanya memberitakan satu versi berita, sehingga mereka tidak bisa memilih versi mana yang paling menyenangkan untuk mereka percaya. Tentu saja perkara benar atau salahnya berita tersebut menjadi tidak terlalu penting, karena yang penting adalah berita yang paling tepat di hati orang-orang—baik itu membuat senang, sedih, kecewa, maupun marah.

2
Aku adalah orang yang paling terganggu ketika koran-koran itu berhenti terbit. Bagaimana tidak, setiap pagi aku akan duduk di kursi rotan di beranda rumahku dengan secangkir kopi dan sepiring gorengan hangat. Menikmati setiap tulisan yang disajikan dalam koran tersebut sebelum berangkat ke toko—aku adalah seorang pemilik toko kerajinan dari keramik di ujung jalan kota ini. Memang aku hanya senang membaca berita-berita—dan tulisan apa pun—dari lembaran kertas seperti koran. Membaca di media sosial membuat mataku sakit, dan aku termasuk orang yang tidak percaya pada ocehan televisi. Tidak pernah kulewatkan selembar pun tulisan dalam koran, meskipun itu hanya lembar iklan atau obituari orang-orang yang bahkan tidak kukenal.
“Sudahlah! Tokomu tidak akan bangkrut jika kau tidak membaca koran sehari!” ujar istriku ketika aku terus uring-uringan sambil berdiri di depan pintu. Menunggu bocah loper koran mengantarkan koran-koranku seperti biasa.
“Tapi koran-koran itu penting!” kilahku.
“Tapi perut yang perlu diisi dengan makanan yang dibeli dari uang hasil jualanmu di toko kita juga penting! Sana berangkat ke toko!”
Aku mengembuskan napas kasar. Semakin gusar dengan ocehan istriku.
“Tanpa koran, aku tidak tahu apa yang terjadi di negeri ini kemarin, dan itu membuat hari-hariku di toko terasa membosankan! Rasa bosan bisa membunuhku lebih cepat dan kau tidak punya tulang punggung lagi!” ujarku.
“Kau bisa membaca berita di gawai!” Istriku mendelik.
“Kemudian itu membuat mataku sakit dan aku harus memakai kacamata dan semakin hari penglihatanku akan semakin payah karena sinar-sinar dari gawai itu sedangkan catatan keuangan toko kita tidak bisa menghitung dirinya sendiri!”
Kali ini istriku yang menghela napas kasar. Pergi menuju kamar tidur dan menutup pintu dengan keras setelah ia mengucapkan, “Terserah kau sajalah! Asal kau tahu, kalau kau mati karena tidak bisa membaca koran, aku bisa mengurus toko itu sendiri!”
Koran tidak terbit hari ini dan hal buruk pertama yang terjadi karena tidak terbitnya koran adalah pertengkaran dengan istriku.

3
Aku adalah orang yang paling curiga ketika koran-koran itu berhenti terbit. Bagaimana tidak, setiap pagi seorang loper koran akan mengantarkan koran ke rumahku, dan aku akan membacanya dengan santai. Sungguh sangat aneh jika tiba-tiba saja koran tidak terbit dengan dalih pelestarian lingkungan. Padahal sebelumnya sama sekali tidak ada sosialisasi mengenai hal itu. Aku yakin ini adalah sebuah konspirasi. Para penguasa itu pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menguntungkan diri mereka. Bisa saja masa lalu terulang kembali. Kita kembali ke masa ketika kebenaran-kebenaran disembunyikan dan orang-orang pembela kebenaran dilenyapkan. Salah satu langkah awalnya adalah dengan tidak adanya koran hari ini.
Maka dari pagi, aku sibuk dengan gawaiku. Berselancar di media sosial untuk mencari informasi mengenai tidak terbitnya koran hari ini. Ada banyak sekali versi berita yang kubaca. Namun hanya satu versi yang kupercaya dan sudah pasti itu yang paling benar. Koran-koran yang tidak terbit adalah salah satu upaya penguasa untuk mengembalikan zaman sekarang ke zaman dulu—zaman ketika penguasa harus selalu benar dan siapa pun yang menentangnya adalah sebuah kesalahan.
Aku menyalin artikel-artikel yang menurutku benar—dan sudah pasti benar—dengan semangat. Kemudian aku kirim artikel itu melalui gawaiku ke grup keluarga, grup teman, grup hobi, grup kolega kerja, dan grup lainnya yang kumasuki. Menyebarkan kebenaran adalah salah satu hal baik yang dapat kulakukan di hari buruk tanpa koran ini.
“Kau bukannya harus segara berangkat kerja?” Tiba-tiba ibuku muncul dari dalam rumah. Menatapku heran.
“Sebentar, Bu. Menegakkan kebenaran lebih penting dari pada bekerja,” ujarku. Pandanganku tidak lepas dari gawai.
“Kebenaran apa?”
“Bahwa tidak terbitnya koran hari ini merupakan konspirasi para penguasa.”
Ibu terdengar menghela napas kasar. “Aku bosan mendengarmu berprasangka buruk pada para penguasa itu,” gumamnya.
“Ini bukan prasangka buruk, Bu. Ini kebenaran!”
“Ya terserah kau saja! Karena kalau aku mengatakan bahwa mereka tidak seburuk itu, kau akan menuduhku sebagai seorang antek penguasa,” timpalnya.
“Ibu seharusnya percaya pada anakmu ini.”
“Satu-satunya hal buruk yang kupercaya adalah jika kau tidak bekerja, kita tidak akan bisa makan. Karena sekeras apapun kau menyuarakan kebenaranmu itu, tidak akan ada orang yang menggajimu!” ujar Ibu dengan suara meninggi. Memang susah sekali menyuarakan kebenaran, meskipun itu kepada ibuku sendiri.
“Baiklah. Besok aku akan pergi bekerja. Karena hari ini aku sudah terlambat dan bosku pasti akan mengomeliku,” ujarku mencoba menenangkannya.
“Terserah! Tapi kau jangan ada di rumah karena aku muak melihatmu dan suara-suara kebenaranmu itu,” ujar ibuku datar, namun akhirnya dia menutup pintu rumah dengan keras dan menguncinya.
Koran tidak terbit hari ini karena konspirasi para penguasa itu dan hal buruk kedua yang terjadi karena tidak terbitnya koran adalah aku diusir ibuku sendiri dari rumah.

4
Aku adalah orang yang paling tidak peduli ketika koran-koran itu berhenti terbit. Untuk apa aku harus peduli dan membuang waktuku untuk memikirkan tidak terbitnya koran. Bahkan membaca koran adalah hal yang tidak pernah kulakukan. Jika bukan karena kebiasaan almarhum mertuaku yang berlangganan koran, mungkin tidak akan pernah ada loper koran yang mampir ke rumahku setiap pagi. Membuat tumpukan kertas itu semakin bertambah di sudut ruang tamu.
Televisi mengatakan bahwa tidak terbitnya koran adalah salah satu upaya untuk menjaga dan melestarikan hutan negeri ini yang semakin hari semakin berkurang. Sudah jelas aku tidak percaya pada televisi. Bukan karena salurannya sudah menjadi milik pribadi orang-orang kaya—yang hanya akan menayangkan acara untuk menaikkan citra dirinya—tapi  karena aku bahkan tidak percaya hutan itu ada. Aku belum pernah melihat hutan di negeri ini—dan tidak pernah mencoba untuk mencarinya. Apa gunanya hutan untuk hidupku. Aku membayangkan sebuah daerah dengan pepohonan yang rimbun, banyak nyamuk dan ulat yang akan membuat kulitku gatal-gatal. Lebih baik tempat seperti itu memang tidak pernah ada.
Pagi ini aku berbaring di atas dipan yang berada di beranda rumahku dan hampir tertidur karena tidak ada gangguan loper koran seperti biasanya. Betapa menyenangkannya hidup dalam ketidakpedulian. Kau tidak akan memikirkan hal-hal yang memang tidak semestinya kau pikirkan, berita-berita di koran, televisi, dan media sosial misalnya.
Namun, tiba-tiba aku tersentak dari lelapku ketika menyadari ada yang kurang pagi ini selain kedatangan si loper koran, yaitu tidak ada sepiring pisang goreng di bawah dipanku.
“Marni, mana pisang gorengku!” teriakku. Tidak ada sahutan dari dalam rumah.
“Marni!”
Tiba-tiba Marni datang dari dalam rumah dan melemparkan piring plastik kosong kepadaku. “Jangankan mengisi piring itu dengan pisang goreng, dengan nasi saja tidak bisa!” ujarnya. Aku terduduk dan menatapnya heran.
“Bukannya bapakmu mewariskan beras sekarung?” tanyaku.
“Itu dua bulan yang lalu, bodoh! Kau pikir beras-beras itu abadi!”
“Astaga Marni. Kau jangan membentak-bentak suamimu seperti itu.”
“Kau yang membuatku habis kesabaran karena ketidakpedulianmu yang keterlaluan itu!” Marni terus berteriak.
“Seharusnya kau bersyukur Marni. Aku tidak membuatmu kesal karena memikirkan koran-koran yang tidak terbit hari ini seperti suami-suami orang lain,” ujarku mencoba menenangkannya.
“Cukup! Aku muak dengan kelakuanmu! Bahkan aku kecewa mengapa aku tidak seperti istri-istri lain yang uring-uringan karena suaminya merisaukan koran yang tidak terbit hari ini!”
“Jadi kau ingin aku memikirkan mengapa koran tidak terbit hari ini?”
“Setidaknya itu membuatmu terlihat memiliki perhatian terhadap keadaan di sekitarmu!” Marni terus berteriak.
“Omong kosong! Sudahlah. Aku mau ke toko kerajinan keramik di ujung jalan saja. Pemiliknya selalu memiliki rokok untuk kuminta,” ujarku seraya berdiri dan pergi meninggalkan Marni. Bahkan aku tidak peduli jika Marni kembali merasa kecewa karena aku yang pergi lebih dulu sebelum dia mengusirku.
“Pergi sana dan jangan pernah kembali! Aku akan lebih sejahtera kalau hidup tanpamu!”
Koran tidak terbit hari ini dan aku tidak peduli, karena hal itu sama sekali tidak mempengaruhi kehidupanku. Hanya omelan Marni yang sedikit berbeda dari biasanya.

5
Tiga orang lelaki tengah duduk di bangku yang terletak di depan sebuah toko kerajinan keramik. Ketiganya tampak murung. Udara siang yang panas membuat mereka semakin tidak bergairah untuk melakukan apapun. Ketiganya tampak tenggelam dalam lamunan dan isapan rokoknya masing-masing. Sesekali mencecap kopi yang tersedia di depan ketiganya. Toko kerajinan memang tidak seperti toko sembako yang selalu ramai oleh pembeli. Maka ada banyak sekali waktu santai untuk pemiliknya. Apalagi setelah kejadian menghebohkan hari ini. Tidak ada orang yang berpikir untuk membeli kerajinan dari keramik.
“Benar-benar hari yang buruk! Membuka toko hari ini hanyalah membuang waktu!” ujar salah satu lelaki membuka percakapan. Nampaknya dia adalah pemilik toko keramik tersebut.
“Bahkan aku diusir ibuku sendiri. Itu lebih buruk daripada tokomu yang tidak mendapatkan pembeli!” timpal salah seorang dari mereka.
“Kau pikir aku tidak bertengkar dengan istriku? Dan koranku benar-benar tidak datang!” Si pemilik toko tidak mau kalah.
“Dasar konspirasi sialan! Kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan konspirasi ini. Biar bagaimana pun, koran-koran harus terbit lagi!” Lelaki yang sama menimpali lagi.
“Aku tidak peduli pada konspirasimu. Aku hanya ingin koran-koranku datang lagi.”
“Kalian semua berlebihan!” Lelaki yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kedua temannya akhirnya bersuara. Kemudian dia mengisap rokoknya dalam-dalam hingga bara di ujungnya menyala cukup lama. Detik berikutnya asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
“Kau diam saja! Kau bahkan tidak akan mengerti keadaan buruk hari ini.” Lelaki pemilik toko menyela diikuti dengan anggukan temannya.
“Ya, memang aku diam. Aku tidak uring-uringan karena koran tidak terbit dan aku tidak akan melakukan apapun untuk membuat koran-koran itu terbit.” Lelaki si pengisap rokok kembali menimpali.
“Karena kau tidak membaca koran, kau tidak akan memahami hari buruk ini.”
Lelaki pengisap rokok kembali mengisap rokoknya dalam-dalam. Dia tampak menikmati setiap embusan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya.
“Hei sadarlah. Hari ini tidak terlalu buruk. Bukankah setiap hari adalah hari-hari yang buruk? Sudahlah nikmati saja kopimu, dan untuk istri kalian yang mengomel, anggap saja itu bonus keburukan hari ini. Aku bahkan tidak peduli jika setiap hari Marni mengomel atau bahkan meminta cerai.” Lelaki pengisap rokok kembali mengisap rokoknya dalam-dalam.
Sebuah kehebohan terjadi hari ini. Berita di televisi terus mengumumkan bahwa koran tidak akan terbit hari ini—dan sampai waktu yang tidak diketahui. Berita di media sosial bahkan lebih heboh lagi, mengingat orang-orang sudah mulai berbondong-bondong pindah dari dunia nyata ke dunia maya itu. Bahkan, pesan berantai yang selalu diakhiri dengan kalimat “Sebarkan pesan ini ke 7 orang temanmu. Jika tidak, maka kau akan ditimpa kemalangan sampai tujuh turunan.” terus tersebar ke setiap orang dengan berita yang sama—koran tidak terbit hari ini.

0 komentar:

Penulis: Riska Yasashi Redaktur: Nurul Intan Desain: Yohanes J Apa sih yang pertama terpikirkan bila mendengar tentang Harry Potte...

Harry Potter: Imajinasi tentang Sihir

Penulis: Riska Yasashi
Redaktur: Nurul Intan
Desain: Yohanes J

Apa sih yang pertama terpikirkan bila mendengar tentang Harry Potter—seorang anak yang identik dengan sihir?

Film yang diadaptasi dari novel ini mempunyai delapan sekuel, menceritakan dunia sihir yang dikemas begitu apik dan terlihat sungguhan seolah memang ada dunia sihir di bagian bumi lain. 

Film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh J. K. Rowling. Novel pertama dalam sekuel ini adalah Harry Potter and the Philosopher’s Stone pada tahun 1997 di London yang kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2001. Novel terakhir dalam sekuel Harry Potter berjudul Harry Potter and the Deathly Hallows terbit pada tahun  2007 (versi Inggris) dan 2008 (versi terjemahan) yang kemudian dibagi menjadi dua bagian film berjudul Harry Potter and the Deathly Hallows Part I pada tahun 2010 dan Harry Potter and the Deathly Hallows Part II pada tahun 2011. 

Sebagai penulis, Rowling mampu membawa penikmat karyanya—termasuk saya—berimajinasi tentang dunia sihir yang berada di sekeliling Harry Potter. Di awal series, Rowling memulai tahapannya dengan memperkenalkan seorang anak yatim piatu yang mempunyai kekuatan sihir bernama Harry Potter. Ia terpaksa hidup bersama paman dan bibinya yang muggle (bukan termasuk golongan yang mempunyai kekuatan sihir). Berlanjut pada series-series berikutnya, Rowling mulai menyuguhkan petualangan-petualangan seru di dunia sihir yang sangat mendebarkan dan membuat penikmat karyanya penasaran tentang kelanjutan kisahnya dalam setiap series. Seperti saat Harry Potter—tokoh utama dalam film ini—bersama dengan dua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger, membentuk Laskar Dumbledore di Harry Potter and The Order of The Phoenix untuk bertarung menghadapi Death Eater atau Pelahap Maut demi mempertahankan sihir putih dari kelompok-kelompok sihir hitam yang akan memusnahkan sihir putih. 


Tentu Rowling membuat cerita fantasi ini dengan perencanaan yang matang dan penuh imajinasi, butuh waktu sepuluh tahun untuk Rowling menamatkan rangkaian cerita tentang Harry Potter. Saya—sebagai penikmat karyanya—sangat penuh imajinasi ketika mengulang kembali film-film Harry Potter dalam setiap series-nya. Selain imajinasi, film Harry Potter juga menuntut penikmat karyanya untuk berpikir karena antarseries-nya mengandung benang merah yang akan tamat pada akhir series film Harry Potter ini, yaitu pada Harry Potter and the Deathly Hallows Part II.

Alur cerita yang diciptakan Rowling di setiap series-nya membuat penikmat karyanya tidak habis pikir. Permainan sepak bola dibuat seimajinatif mungkin menjadi permainan Quidditch bagi dunia sihir. Harry Potter sendiri masuk ke dalam Tim Quidditch Gryffindor—sesuai dengan asramanya—di tahun pertama Harry sebagai siswa Hogwarts. Di setiap series, permainan Quidditch selalu diperlihatkan, hal ini menandakan bahwa permainan Quidditch cukup digemari para penikmat Harry Potter. Banyak alur-alur yang tidak terbayangkan sebelumnya di semua series film Harry Potter yang diciptakan Rowling ini.

Tidak hanya alur cerita saja yang membuat penasaran, latar-latar tempat dalam Harry Potter pun ikut membuat penikmatnya merasa kagum dengan imajinasi yang Rowling miliki
—mengapa tidak?—latar-latar tempat seperti saat Harry harus pergi melewati peron 9¾ untuk menaiki kereta menuju Hogwarts, yang merupakan sekolah sihir yang paling terkenal di antara sekolah sihir yang ada di dunia sihir, pasar sihir Diagon Alley untuk mencari berbagai keperluan sekolah, sampai bank untuk menyimpan uang sihir di Gringotts Wizarding Bank, semua digambarkan Rowling seolah memang benar ada tempat-tempat sihir seperti itu. Tingginya antusias fans Harry Potter, maka di beberapa tempat seperti di Jepang dan Amerika dibuat wahana The Wizarding World of Harry Potter di Universal Studios untuk memenuhi imajinasi fans Harry Potter tentang latar-latar tempat yang ada di film Harry Potter. 

Harry Potter dan dunianya mampu membuat kita berimajinasi adakah sekolah sihir dan segala macamnya secara nyata yang bisa kita singgahi dan kita tinggali seperti dalam Harry Potter ini? Kalau iya, pastinya imajinasi kita akan tersalurkan, sungguh!

0 komentar:

Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nurul Intan, Riska Yasashi Desain: Diana Dewi Darwin Membaca ibu susu berarti siap mendengar...

Ibu Susu: Kisah-Kisah Jauh tentang Kejamnya Kekuasaan yang Begitu Dekat

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nurul Intan, Riska Yasashi
Desain: Diana Dewi Darwin

Membaca ibu susu berarti siap mendengar kisah-kisah penuh tragedi dari masa dan tempat yang begitu jauh, yakni Mesir Kuno.  Rio Johan membagi Ibu Susu ke dalam tiga bagian. Pertama, "Mimpi Susu Firaun Theb" milik Firaun Theb, lalu "Susu dan Ibu Susu" milik Meth--sang istri agung, dan terakhir "Permintaan Perempuan Iksa" milik perempuan Iksa--sang ibu susu ramalan.

Ibu Susu, sebagai kisah dari masa dan tempat yang begitu jauh memperlihatkan narasi tentang proses kekuasaan bekerja--atau dalam jarak yang lebih dekat--ia memperlihatkan pengorbanan, siksaan, dan penderitaan yang dialami oleh para budak di mata kekuasaan Firaun Theb.

Rio memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara masyarakat kelas bawah dengan penguasa. Di antara jauhnya jarak yang dibangun--entah oleh siapa--ia memunculkan perlawanan yang begitu halus dari perempuan Iksa--sebagai pemilik kasta paling rendah. Rio mengantarkan kita pada kisah-kisah tersebut melalui kerajaan yang diambil sebagai latar yang entah mengapa terasa begitu akrab.

Kekuasaan, entah mengapa selalu dibarengi oleh penindasan dan kekejaman yang dilakukan oleh--mari kita sebut begini--kelas atas kepada kelas bawah. Dalam hal ini, kelas atas tentu saja diisi oleh pihak-pihak yang mendiami kerajaan, yakni Firaun Theb, Meth, Wazir, Istri-istri Firaun Theb, juga mereka yang tinggal di bawah naungan istana. Kelas bawah, tentu diisi oleh masyarakat biasa, para budak, dan perempuan Iksa--yang disebut memiliki kasta paling rendah di antara yang rendah.

Hubungan kelas atas dan kelas bawah yang tentu saja tidak akrab diperlihatkan dengan begitu jelas lewat sedikitnya--atau nyaris tidak adanya--interaksi antara kelas atas dan kelas bawah kecuali ketika berhadapan dengan permintaan perempuan Iksa. Perempuan Iksa hadir sebagai sosok rendah sekaligus berani, juga malu sekaligus mengancam, lewat narasi-narasi dan tiga permintaannya yang memukul Firaun Theb secara halus namun menyakitkan. Perempuan Iksa muncul sebagai simbol perlawanan, perlawanan kelas bawah terhadap kelas atas, dan perlawanan perempuan terhadap lelaki serta sistem yang betul-betul patriarki.

Rio Johan, selain mendekatkan kita dengan kisah-kisah yang begitu jauh juga mengenalkan kita pada diksi-diksi yang begitu asing, namun tetap dapat dinikmati dengan baik. Selain itu, ia menggambarkan perlawanan dari perempuan Iksa dengan begitu baik. Di balik penilaian buruk sekaligus rendah dan jijik dari setiap orang terhadapnya, perempuan Iksa digambarkan sebagai sosok yang cermat sekaligus puitik, permintaan-permintaannya ia sampaikan lewat diksi-diksi yang harus ditafsirkan oleh orang-orang istana dan para penyair pada masa itu, hingga mulailah datang penilaian sekaligus kekhawatiran tentang perempuan Iksa yang tidak bodoh, tidak dapat ditipu dengan mudah walau berasal dari kelas yang--kata mereka--paling rendah di antara yang rendah.

Sebagai seorang penguasa, Firaun Theb tentu akan meminta orang untuk menuliskan kisahnya, kisah-kisah heroik tentang betapa pemberani, bijaksana, dan baik dirinya. Tulisan tersebut, tentu begitu menarik sebab Rio membuka tabir yang menutupi bagaimana Firaun Theb bekerja. Sebagai penguasa, tentu ia akan begitu leluasa menitahkan hal-hal yang harus ditulis, yang harus ditambah, juga yang harus dihilangkan dalam kisahnya. Tentu, yang ditambah adalah kesan baik dalam mimpi susunya yang dilebih-lebihkan, yang dikurangi--bahkan dihilangkan--tentu tentang perempuan Iksa yang menyusui Pangeran Sem hingga sembuh dari sakitnya yang telah menahun. Firaun Theb menulis segala yang ingin ia tulis, citra baik tentang kekuasaannya yang begitu buruk. Ia memperlihatkan para penguasa memproduksi sejarah.

Hal terakhir yang paling menawan tentu saja tentang detail. Rio berhasil menghadirkan mesir kuno di kepala saya. Tentu, hal ini diperoleh dari riset-riset yang ia lakukan. Dari bacaan-bacaan mengenai Mesir Kuno, ia menghadirkan cerita yang hidup, yang begitu menyenangkan untuk dibaca. Semisal ketika ia menjabarkan cara perempuan Mesir Kuno menguji kehamilan dengan mengencingi biji-bijian, tentang ritual-ritual yang dilakukan, tentang dewa-dewi yang dikisahkan, dan tentang pengorbanan para budak serta kekejaman sang raja untuk terus melanggengkan kekuasaan.

Namun, selalu ada yang menyedihkan, dan yang paling menyedihkan tentu saja bagian ketika matinya perempuan Iksa. Ia mati dengan hukuman yang begitu menyakitkan, ia mati dengan tuduhan hendak merebut kekuasaan calon Firaun masa depan, ia mati dan membawa kita pada narasi dominan, kekalahan masyarakat kelas bawah terhadap masyarakat kelas atas. Ah, cara orang melanggengkan kekuasaan betul-betul menjijikan, ya?

0 komentar:

Penulis: Ikfi Nursyifa Arridla Redaktur: Nigina Auliarachmah Ilustrator: Nurul Ramdhiany Akhir-akhir ini, jagat media sosial di...

Riauku tersayang, Riauku yang malang

Penulis: Ikfi Nursyifa Arridla
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Ilustrator: Nurul Ramdhiany



Akhir-akhir ini, jagat media sosial diriuhkan dengan kabar kabut asap di bumi Lancang Kuning, Melayu Riau. Kualitas udara di Provinsi Riau telah dinyatakan oleh BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) berada di level tidak sehat hingga bahaya. Seluruh masyarakat mendadak memakai masker demi terjaga dari menghirup udara berbahaya—meski hal itu hanya meminimalisasi akibat. Jarak pandang pun semakin menurun. Apakah semua hal ini merupakan kasus baru? Tentu saja tidak!⁣

Saya begitu ingat ketika tahun 2014 lalu, keluarga saya di Pekanbaru mengabarkan kondisi udara yang mengejutkan. Asap begitu pekat menyelimuti kota, udara begitu sesak dan perih di mata. Saat itu, seluruh siswa sekolah diliburkan hingga hampir dua bulan lamanya. Berita yang sedang ramai diperbincangkan saat ini, bukanlah baru saja terjadi lagi di Provinsi Riau. Pada tahun-tahun sebelumnya, kabut asap masih ‘bermain’ meski tak begitu nakal mengganggu kehidupan warga.⁣

Hampir seminggu yang lalu, mama memberi kabar kualitas udara di Riau mulai memburuk dan asap mulai kembali datang. Secara berkala, saya cek kondisi udara melalui aplikasi air visual yang menunjukkan angka 300-400 bermakna sangat tidak sehat hingga berbahaya. Kian hari kualitas udara semakin memburuk hingga menembus angka 500! Sangat mengkhawatirkan. Akhirnya pada tanggal 9 September lalu, Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Riau mulai menginstruksikan kepada seluruh kepala sekolah untuk meliburkan siswanya.⁣

Saya begitu geram dan sedih mengetahui kabar buruk ini. Kemarin, saat banyak daerah di Pulau Jawa yang mengalami mati listrik seharian dan saat kualitas udara di Jakarta memasuki level ‘tidak sehat’, masyarakat Indonesia dan media massa berbondong-bondong menggiring kabar hingga masuk dalam trending topic yang paling hangat dibicarakan. Namun, hari pertama saat saya mulai mengetahui kondisi udara di Provinsi Riau, hanya ada satu-dua media daring yang memberitakan kabar ini. Padahal saat itu, saya sedang berusaha mencari kabar terkait respons pemerintah menanggapi kasus kabut asap. Namun hasilnya? Nihil. Kabar kabut asap yang terjadi di Riau (dan Kalimantan) baru hangat diperbincangkan dua hari yang lalu, itu pun diperkuat dengan aksi demo mahasiswa Riau—yang mungkin menjadi lebih menarik saat dikabarkan terdapat dua mahasiswa yang pingsan saat demo di tengah kabut asap. Kemarin, muncul pula petisi yang ditujukan kepada Presiden, Menteri Kementrian Hidup dan Kehutanan (KLHK), Menteri Pertanian, Menteri Kesehatan, dan Gubernur Riau. Petisi tersebut menuntut empat poin terkait kasus kabut asap yang terjadi di Riau.⁣

Ada hal yang membuat saya bertambah sedih. Pemberitaan kabut asap mulai tenggelam diberitakan oleh para media daring. Nampaknya, kasus KPK jauh lebih hangat, renyah, dan keren dibicarakan. Saat gubernur Riau dikabarkan justru pergi ke Thailand, presiden Indonesia pun terlihat belum banyak angkat bicara terkait solusi yang ditawarkan. Atau, apakah media yang memang begitu fokus menayangkan kesibukan pemerintah negara terkait revisi Undang-Undang KPK atau terkait KPK yang ganti pemimpin? Bagaimana kabar masyarakat yang terkena dampak darurat asap, apakah harus menunggu lebih banyak korban?⁣

Selama kurun waktu tahun 2019 (Januari-September), sebanyak 281.626 warga terkena Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) berdasarkan data yang diambil oleh Dinas Kesehatan Riau. Tentu, tak mustahil akan menambah lebih banyak korban karena Riau disebutkan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi daerah dengan kebakaran gambut terbesar pada tahun ini. Tak tanggung-tanggung, lahan gambut yang terbakar (dan dibakar) mencapai 40 ribu hektare. Ditambah sedang musim kemarau panjang, akan sangat sulit memadamkan titik api yang begitu luas. Terlebih, kebakaran hutan yang terjadi di lahan gambut memiliki karakteristik yang berbeda dari kebakaran hutan di lahan kering. Meski api dipadamkan dan tanah bagian atas sudah kering, bagian bawah lahan gambut tersebut relatif masih basah dan lembap. Jika terjadi kebakaran hutan, kobaran api tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam gambut dan menghasilkan asap yang sangat banyak (Adinugroho dkk. dalam Pinem, 2016: 142).⁣

Kabut asap terjadi tentu karena ada pembakaran lahan besar-besaran. Merujuk pada tagar yang digaungkan oleh masyarakat Riau, #RiauDibakarBukanTerbakar semestinya menjadi bahan evaluasi bagi seluruh jajaran aparatur negara. Aparatur negara memang perlu lebih ‘galak’ dengan para korporasi pemilik lahan dan lebih tegas memberlakukan hukum.⁣

Jika saja ibu pertiwi mampu menunjukkan tangisnya, kini ia tengah merintih sakit dan menangis lirih terhadap semua keserakahan manusianya. Jika saja ibu pertiwi mampu bersuara, dengan sedih ia tentu berkata, “Riauku tersayang, Riauku yang malang. Bahasa indukku berasal dari daerahmu. Tempatmu menjadi pusat perkembangan budaya dan sastra Melayu. Kota bertuah, kini berisi asap penuh melimpah. Semoga yang sesak dan pekat berganti segera menjadi sehat dan kuat.”⁣

(Sabtu, 14 September 2019)

0 komentar: