Penulis: Riska Yasashi Redaktur: Nurul Intan Desain: Yohanes J Apa sih yang pertama terpikirkan bila mendengar tentang Harry Potte...

Harry Potter: Imajinasi tentang Sihir

Penulis: Riska Yasashi
Redaktur: Nurul Intan
Desain: Yohanes J

Apa sih yang pertama terpikirkan bila mendengar tentang Harry Potter—seorang anak yang identik dengan sihir?

Film yang diadaptasi dari novel ini mempunyai delapan sekuel, menceritakan dunia sihir yang dikemas begitu apik dan terlihat sungguhan seolah memang ada dunia sihir di bagian bumi lain. 

Film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh J. K. Rowling. Novel pertama dalam sekuel ini adalah Harry Potter and the Philosopher’s Stone pada tahun 1997 di London yang kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2001. Novel terakhir dalam sekuel Harry Potter berjudul Harry Potter and the Deathly Hallows terbit pada tahun  2007 (versi Inggris) dan 2008 (versi terjemahan) yang kemudian dibagi menjadi dua bagian film berjudul Harry Potter and the Deathly Hallows Part I pada tahun 2010 dan Harry Potter and the Deathly Hallows Part II pada tahun 2011. 

Sebagai penulis, Rowling mampu membawa penikmat karyanya—termasuk saya—berimajinasi tentang dunia sihir yang berada di sekeliling Harry Potter. Di awal series, Rowling memulai tahapannya dengan memperkenalkan seorang anak yatim piatu yang mempunyai kekuatan sihir bernama Harry Potter. Ia terpaksa hidup bersama paman dan bibinya yang muggle (bukan termasuk golongan yang mempunyai kekuatan sihir). Berlanjut pada series-series berikutnya, Rowling mulai menyuguhkan petualangan-petualangan seru di dunia sihir yang sangat mendebarkan dan membuat penikmat karyanya penasaran tentang kelanjutan kisahnya dalam setiap series. Seperti saat Harry Potter—tokoh utama dalam film ini—bersama dengan dua sahabatnya, Ron Weasley dan Hermione Granger, membentuk Laskar Dumbledore di Harry Potter and The Order of The Phoenix untuk bertarung menghadapi Death Eater atau Pelahap Maut demi mempertahankan sihir putih dari kelompok-kelompok sihir hitam yang akan memusnahkan sihir putih. 


Tentu Rowling membuat cerita fantasi ini dengan perencanaan yang matang dan penuh imajinasi, butuh waktu sepuluh tahun untuk Rowling menamatkan rangkaian cerita tentang Harry Potter. Saya—sebagai penikmat karyanya—sangat penuh imajinasi ketika mengulang kembali film-film Harry Potter dalam setiap series-nya. Selain imajinasi, film Harry Potter juga menuntut penikmat karyanya untuk berpikir karena antarseries-nya mengandung benang merah yang akan tamat pada akhir series film Harry Potter ini, yaitu pada Harry Potter and the Deathly Hallows Part II.

Alur cerita yang diciptakan Rowling di setiap series-nya membuat penikmat karyanya tidak habis pikir. Permainan sepak bola dibuat seimajinatif mungkin menjadi permainan Quidditch bagi dunia sihir. Harry Potter sendiri masuk ke dalam Tim Quidditch Gryffindor—sesuai dengan asramanya—di tahun pertama Harry sebagai siswa Hogwarts. Di setiap series, permainan Quidditch selalu diperlihatkan, hal ini menandakan bahwa permainan Quidditch cukup digemari para penikmat Harry Potter. Banyak alur-alur yang tidak terbayangkan sebelumnya di semua series film Harry Potter yang diciptakan Rowling ini.

Tidak hanya alur cerita saja yang membuat penasaran, latar-latar tempat dalam Harry Potter pun ikut membuat penikmatnya merasa kagum dengan imajinasi yang Rowling miliki
—mengapa tidak?—latar-latar tempat seperti saat Harry harus pergi melewati peron 9¾ untuk menaiki kereta menuju Hogwarts, yang merupakan sekolah sihir yang paling terkenal di antara sekolah sihir yang ada di dunia sihir, pasar sihir Diagon Alley untuk mencari berbagai keperluan sekolah, sampai bank untuk menyimpan uang sihir di Gringotts Wizarding Bank, semua digambarkan Rowling seolah memang benar ada tempat-tempat sihir seperti itu. Tingginya antusias fans Harry Potter, maka di beberapa tempat seperti di Jepang dan Amerika dibuat wahana The Wizarding World of Harry Potter di Universal Studios untuk memenuhi imajinasi fans Harry Potter tentang latar-latar tempat yang ada di film Harry Potter. 

Harry Potter dan dunianya mampu membuat kita berimajinasi adakah sekolah sihir dan segala macamnya secara nyata yang bisa kita singgahi dan kita tinggali seperti dalam Harry Potter ini? Kalau iya, pastinya imajinasi kita akan tersalurkan, sungguh!

0 komentar: