Penulis: Wanti Ayu Aprilian Redaktur: Nurul Intan, Riska Yasashi Desain: Diana Dewi Darwin Membaca ibu susu berarti siap mendengar...

Ibu Susu: Kisah-Kisah Jauh tentang Kejamnya Kekuasaan yang Begitu Dekat

Penulis: Wanti Ayu Aprilian
Redaktur: Nurul Intan, Riska Yasashi
Desain: Diana Dewi Darwin

Membaca ibu susu berarti siap mendengar kisah-kisah penuh tragedi dari masa dan tempat yang begitu jauh, yakni Mesir Kuno.  Rio Johan membagi Ibu Susu ke dalam tiga bagian. Pertama, "Mimpi Susu Firaun Theb" milik Firaun Theb, lalu "Susu dan Ibu Susu" milik Meth--sang istri agung, dan terakhir "Permintaan Perempuan Iksa" milik perempuan Iksa--sang ibu susu ramalan.

Ibu Susu, sebagai kisah dari masa dan tempat yang begitu jauh memperlihatkan narasi tentang proses kekuasaan bekerja--atau dalam jarak yang lebih dekat--ia memperlihatkan pengorbanan, siksaan, dan penderitaan yang dialami oleh para budak di mata kekuasaan Firaun Theb.

Rio memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara masyarakat kelas bawah dengan penguasa. Di antara jauhnya jarak yang dibangun--entah oleh siapa--ia memunculkan perlawanan yang begitu halus dari perempuan Iksa--sebagai pemilik kasta paling rendah. Rio mengantarkan kita pada kisah-kisah tersebut melalui kerajaan yang diambil sebagai latar yang entah mengapa terasa begitu akrab.

Kekuasaan, entah mengapa selalu dibarengi oleh penindasan dan kekejaman yang dilakukan oleh--mari kita sebut begini--kelas atas kepada kelas bawah. Dalam hal ini, kelas atas tentu saja diisi oleh pihak-pihak yang mendiami kerajaan, yakni Firaun Theb, Meth, Wazir, Istri-istri Firaun Theb, juga mereka yang tinggal di bawah naungan istana. Kelas bawah, tentu diisi oleh masyarakat biasa, para budak, dan perempuan Iksa--yang disebut memiliki kasta paling rendah di antara yang rendah.

Hubungan kelas atas dan kelas bawah yang tentu saja tidak akrab diperlihatkan dengan begitu jelas lewat sedikitnya--atau nyaris tidak adanya--interaksi antara kelas atas dan kelas bawah kecuali ketika berhadapan dengan permintaan perempuan Iksa. Perempuan Iksa hadir sebagai sosok rendah sekaligus berani, juga malu sekaligus mengancam, lewat narasi-narasi dan tiga permintaannya yang memukul Firaun Theb secara halus namun menyakitkan. Perempuan Iksa muncul sebagai simbol perlawanan, perlawanan kelas bawah terhadap kelas atas, dan perlawanan perempuan terhadap lelaki serta sistem yang betul-betul patriarki.

Rio Johan, selain mendekatkan kita dengan kisah-kisah yang begitu jauh juga mengenalkan kita pada diksi-diksi yang begitu asing, namun tetap dapat dinikmati dengan baik. Selain itu, ia menggambarkan perlawanan dari perempuan Iksa dengan begitu baik. Di balik penilaian buruk sekaligus rendah dan jijik dari setiap orang terhadapnya, perempuan Iksa digambarkan sebagai sosok yang cermat sekaligus puitik, permintaan-permintaannya ia sampaikan lewat diksi-diksi yang harus ditafsirkan oleh orang-orang istana dan para penyair pada masa itu, hingga mulailah datang penilaian sekaligus kekhawatiran tentang perempuan Iksa yang tidak bodoh, tidak dapat ditipu dengan mudah walau berasal dari kelas yang--kata mereka--paling rendah di antara yang rendah.

Sebagai seorang penguasa, Firaun Theb tentu akan meminta orang untuk menuliskan kisahnya, kisah-kisah heroik tentang betapa pemberani, bijaksana, dan baik dirinya. Tulisan tersebut, tentu begitu menarik sebab Rio membuka tabir yang menutupi bagaimana Firaun Theb bekerja. Sebagai penguasa, tentu ia akan begitu leluasa menitahkan hal-hal yang harus ditulis, yang harus ditambah, juga yang harus dihilangkan dalam kisahnya. Tentu, yang ditambah adalah kesan baik dalam mimpi susunya yang dilebih-lebihkan, yang dikurangi--bahkan dihilangkan--tentu tentang perempuan Iksa yang menyusui Pangeran Sem hingga sembuh dari sakitnya yang telah menahun. Firaun Theb menulis segala yang ingin ia tulis, citra baik tentang kekuasaannya yang begitu buruk. Ia memperlihatkan para penguasa memproduksi sejarah.

Hal terakhir yang paling menawan tentu saja tentang detail. Rio berhasil menghadirkan mesir kuno di kepala saya. Tentu, hal ini diperoleh dari riset-riset yang ia lakukan. Dari bacaan-bacaan mengenai Mesir Kuno, ia menghadirkan cerita yang hidup, yang begitu menyenangkan untuk dibaca. Semisal ketika ia menjabarkan cara perempuan Mesir Kuno menguji kehamilan dengan mengencingi biji-bijian, tentang ritual-ritual yang dilakukan, tentang dewa-dewi yang dikisahkan, dan tentang pengorbanan para budak serta kekejaman sang raja untuk terus melanggengkan kekuasaan.

Namun, selalu ada yang menyedihkan, dan yang paling menyedihkan tentu saja bagian ketika matinya perempuan Iksa. Ia mati dengan hukuman yang begitu menyakitkan, ia mati dengan tuduhan hendak merebut kekuasaan calon Firaun masa depan, ia mati dan membawa kita pada narasi dominan, kekalahan masyarakat kelas bawah terhadap masyarakat kelas atas. Ah, cara orang melanggengkan kekuasaan betul-betul menjijikan, ya?

0 komentar: