Penulis: Nurul Intan Redaktur: Faris A & Azaina Desain:Ninda Anissa Suara meriah memenuhi aula gedung D Fakultas Ilmu Budaya Uni...

Bangkitkan Kepedulian pada Lingkungan Melalui Talkshow #YukMulai Gaya Hidup Minim Sampah

Penulis: Nurul Intan
Redaktur: Faris A & Azaina
Desain:Ninda Anissa


Suara meriah memenuhi aula gedung D Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran pada Kamis (17/10) siang. Antusias para pengunjung talkshow #YukMulai yang diadakan oleh Himpunan Gelanggang Sastra Indonesia begitu tinggi. Mereka bersemangat untuk mendapatkan ilmu baru dari talkshow ini karena menghadirkan dua pembicara kece yang sudah lama berkecimpung dalam kegiatan terkait isu lingkungan. Pembicara pertama yaitu Gede S. Marteda dari Bandung Cleanaction dan yang kedua adalah Saepul Handi dari Earth Hour Bandung dan Greenation Foundation.
Talkshow ini dipantik oleh pemutaran video dari komunitas Pulau Plastik episode Karmaphala. Nama Karmaphala ini berasal dari kata karma (perbuatan) dan pala (hasil), yang berarti hasil dari perbuatan. Video ini menampilkan permasalahan sampah yang berlokasi di Bali. Gede Robi, pemandu acara dalam video ini memperlihatkan permasalahan sampah di kampungnya yang ternyata sampai mengganggu aktivitas para petani di sawah. Sampah yang menumpuk dan membusuk akan mencemari perairan di sawah dan menghambat aliran air. Selanjutnya, dalam video ini Gede Robi menunjukkan cara memilah sampah organik dan nonorganik, cara mengolah sampah organik menjadi kompos dalam skala rumah tangga, hingga cara pengelolaan sampah organik dan nonorganik di kampungnya. Dari video ini disimpulkan bahwa sebetulnya kita dapat mengolah sampah kita sendiri. Sekitar 70% dari total sampah perkeluarga adalah sampah organik--yang dapat diolah lagi--dan sisanya adalah sampah nonorganik. Sampah organik ini dapat diolah menjadi berbagai macam produk yang berguna, seperti kompos, biogas, atau pelet.
Permasalahan sampah menjadi isu yang tak pernah selesai. Semakin hari semakin banyak sampah yang menumpuk. Indonesia sendiri menghasilkan sekitar 64 juta ton pertahun. Bahkan menurut Gede S. Mateda, dalam seminggu sampah kita dapat menumpuk setinggi Candi Borobudur. Data ini didukung dengan kondisi masyarakat Indonesia yang konsumtif. Isu ini bukan lagi hal yang hanya bisa direnungkan tetapi harus segera diambil tindakan. Seperti yang dikatakan dalam video dokumenter Karmaphala, kalau sampah-sampah ini tidak diolah, maka pulau Bali akan menjadi pulau plastik. Mengerikan, bukan?
 Sebetulnya, bagaimana cara meminimalisasi produksi sampah dalam hidup kita? Banyak cara dan banyak alternatif. Memang tidak 100% kita dapat menghilangkan sampah dalam hidup, tetapi kita dapat meminimalkan produksi sampah itu sendiri. Mulai dari diri sendiri, misalnya dalam lingkungan rumah. Kurangi pemakaian produk-produk yang menggunakan plastik, terutama kantung plastik yang seringkali ditawarkan oleh kasir supermarket. Seperti yang Saepul Handi katakan, permasalahan sampah kantung plastik bukan hanya dari proses penghancurannya saja yang lama, tetapi juga dari durasi pemakaiannya. Pernahkah kalian membeli sesuatu di minimarket, lalu setelah itu kantung plastiknya kalian buang begitu saja? Inilah salah satu penyebab sampah plastik semakin menumpuk. Penggunaan kantung plastik itu kurang dari lima menit.
Lalu, solusinya, apa? Kita bisa mulai dari diri sendiri. Seperti yang sudah disinggung di atas, kita bisa mulai dari hal-hal kecil dari pengurangan produk berbungkus plastik dan pengurangan kantung plastik. Jika kita berkunjung ke supermarket, bawalah kantung belanja berbahan kain. Tentu kantung ini bisa dipakai beberapa kali dan less waste, bukan? Selain itu, penggunaan tumblr dan stainless straw yang sudah lama digalakkan harus terus dipertahankan agar produksi sampah plastik semakin menurun. Untuk skala yang lebih besar, misalnya lingkungan kampus, kita bisa mengubah hal-hal kecil seperti pemilahan sampah organik dan nonorganik serta pengurangan bungkus konsumsi acara yang dibungkus plastik. Pengurangan konsumsi acara ini bisa diganti dengan alternatif makanan yang dibungkus daun pisang, seperti yang ditayangkan dalam video dokumenter Karmaphala. Pembungkusan dengan daun pisang lebih ramah lingkungan dibanding dengan plastik.

Akhir acara talkshow ini ditutup oleh Forum Discussion Group (FGD) dengan tema kepedulian lingkungan. Studi kasus yang diangkat dalam FGD ini adalah sebuah kondisi di fakultas masing-masing yang sudah mulai terlihat peningkatan produksi sampah yang dihasilkan oleh masyarakat fakultas tersebut. Sebagai mahasiswa yang mengamati dan peduli terhadap hal itu tergerak melakukan suatu perubahan untuk meminimalisasi produksi sampah tersebut, apa saja yang akan dilakukan untuk meminimalisasi produksi sampah tersebut? Bagaimana cara mengajak orang lain untuk melakukan hal itu? Jawaban dari semua kelompok FGD variatif. Beberapa di antaranya menyarankan agar ada trashmob dan program FIB (Fakultas Ilmu Bersih) yang memakai slogan Cintai FIB, bawa tumblr tiap hari. Solusi-solusi yang ditawarkan oleh peserta talkshow sangat berguna, semoga satu di antaranya dapat terwujud agar segera terlaksana suasana kampus yang peduli lingkungan.
Saya harap, selepas dari talkshow ini teman-teman bisa semakin peduli lingkungan dengan tidak lagi mengonsumsi produk berbasis plastik. #Yukmulai gunakan produk-produk yang ramah lingkungan! Semakin sedikit sampah yang dikeluarkan, semakin banyak cinta yang dikeluarkan untuk lingkungan.

0 komentar: