Penulis: Luke Andaresta Redaktur: Nigina Auliarachmah Desain: Diana Dewi Darwin Ketika berusia tujuh tahun, Bapak mengajak saya men...

Demonstrasi dan Ingatan Tentang Ibu

Penulis: Luke Andaresta
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Desain: Diana Dewi Darwin

Ketika berusia tujuh tahun, Bapak mengajak saya menjemput Ibu yang sedang melakukan mogok kerja di depan pabrik. Saya pernah mendengar alasan Ibu dan teman-teman buruhnya melakukan mogok kerja adalah menuntut pesangon bagi pekerja karena pabrik akan bangkrut. Malam itu sekira pukul dua pagi, dengan jaket yang cukup tebal, saya duduk di depan motor menyusuri dinginnya malam dengan perasaan ingin lekas bertemu Ibu. Kondisi Ibu ketika itu sedang hamil adik pertama saya dengan usia kandungan tujuh bulan. Mungkin karena hal itu, Bapak merasa harus menjemput Ibu pulang. Dalam aksi-aksi sebelumnya, Bapak tidak pernah membatasi Ibu untuk urusan jam pulang. Bapak selalu mendukung segala yang Ibu yakini pantas untuk diperjuangkan. Sebagai anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, saya hanya berpikir bahwa Ibu lebih sering tidak ada di rumah tanpa berpikir lebih jauh apa yang sedang dikejar Ibu sebenarnya. Saya hanya tahu sebatas bahwa Ibu sedang berdemo.

Saya menunggu dalam jarak beberapa ratus meter dari gerbang pabrik di atas motor. Bapak berjalan menuju pabrik untuk menemui Ibu.  Tak lama Ibu keluar bersama Bapak. Wajah Ibu terlihat sangat kelelahan. Akhirnya kami pulang menuju rumah.

Saya diam-diam sempat menyimpan kekesalan terhadap Ibu karena ia lebih sering tidak ada di rumah kecuali hari libur kerja. Begitu pun Bapak yang dari pagi sampai sore menghabiskan waktunya untuk bekerja di pabrik tidak jauh dari rumah. Ketika keduanya bekerja, saya lebih sering berada di rumah nenek atau sesekali di rumah tetangga hanya agar tidak merasa kesepian. Ibu lebih sering kebagian lembur dan mengharuskan dia untuk pulang malam. Belum lagi kalau Ibu harus ikut berdemo seperti itu. Saya betul-betul harus berusaha menjadi anak yang bisa mandiri ketika kondisi seperti itu.

Itu bukan kali pertama Ibu harus berdemo. Sebelumnya, saya diperlihatkan semacam kaset CD yang di dalamnya ada video Ibu ketika sedang aksi di sekitaran Bundaran HI bersama teman-teman serikat buruhnya.  Dengan rambut sebahu dan kepala yang diikat dengan sehelai kain, Ibu terlihat begitu berani bersuara.  Hal itu begitu melekat dalam memori saya hingga hari ini. Apa yang dilakukan Ibu begitu berbeda dengan Ibu-ibu teman saya di sekitar rumah. Ibu secara tidak langsung membentuk sebuah kolektif memori sekaligus pertanyaan dalam ingatan saya tentang satu hal: demonstrasi.

Beberapa hari yang lalu, saya memutuskan turun ke jalan bersama teman-teman untuk menolak pasal-pasal ngawur dalam beberapa RUU yang menjadi topik pembahasan bagi sebagian besar masyarakat. Tentunya kita semua sudah tahu kan RUU apa saja yang dituntut? Mengingat sudah banyak juga informasi yang bersliweran di media sosial. Melihat masifnya aksi demonstrasi yang terjadi, saya merasa bahwa saya tidak bisa diam saja di rumah. Saya harus ikut menyuarakan penolakan saya terhadap beberapa RUU tersebut. Saya dan beberapa teman berangkat dari Jatinangor menuju Gedung Sate Bandung sekira pukul 11 siang. Massa akan berkumpul sekira pukul 12 siang. Kami menaiki kendaraan umum menuju titik aksi.

Setelah sampai di sana, perhatian saya justru terlempar pada barisan polisi dan dua barakuda yang berjejer rapi di belakang gerbang Gedung Sate. Sementara, massa masih duduk-duduk santai sembari mengisi perut di sekitar Gasibu. Ada yang sedang duduk melingkar menyusun koordinasi aksi hari itu, ada juga yang sibuk membuat poster berisi tuntutan, dan ada yang sedang mencoba beberapa lagu dan yel-yel yang akan dinyanyikan ketika aksi nanti. Inilah aksi turun ke jalan pertama saya setelah sebelumnya hanya sering ngomel dalam bentuk tulisan atau di media sosial.

Massa akhirnya bergerak menuju gedung DPRD Provinsi Jawa Barat yang tak jauh dari titik berkumpul. Sambil meneriakkan yel-yel dan mengangkat poster tuntutan tinggi-tinggi. Massa perlahan mulai memadati area depan gedung dewan itu. Pasukan aparat polisi tentunya berdiri mematung di depan gerbang dan menatap kami seperti sekelompok lawan yang patut diwaspadai kedatangannya. Salah satu orator meminta kami duduk dan membuat lingkaran kecil di tengah yang dimaksudkan menjadi panggung bebas untuk siapa pun yang ingin berorasi dan memuntahkan kekesalannya terhadap rezim. Mulai dari mahasiswa, seniman, sampai ibu rumah tangga berteriak sekuat tenaga agar suara mereka mampu menembus gedung yang berdiri kokoh tersebut.

Menjelang sore massa semakin banyak berdatangan. Beberapa kelompok mahasiswa dan organisasi masyarakat datang hingga jalan benar-benar dipadati manusia. Saya dan beberapa kawan mulai mundur perlahan karena merasa mulai kelelahan. Saya melihat dari kejauhan massa mulai berdiri dan ada beberapa lemparan batu yang diarahkan ke arah gedung DPRD. Nampaknya suasana mulai tidak kondusif. Tak lama suara tembakan diledakkan ke udara. Sontak membuat beberapa orang berhamburan mundur menjauhi gedung. Bentrok antara massa dan aparat pun dimulai.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat dan langit perlahan kehilangan warnanya. Saya dan kawan-kawan semakin memundurkan langkah dengan berlari ketakutan menghindari semprotan gas air mata yang dilayangkan kepada massa aksi. Beberapa kali suara petasan terdengar membuat suasana semakin ricuh. Ada kelompok massa yang tetap berani maju ke depan untuk melawan tapi tak sedikit juga yang lari mundur menyelamatkan diri. Korban mulai terlihat berjatuhan. Beberapa terlihat lemas tak berdaya akibat semprotan gas air mata. Semua saling bantu, menjadi tim medis untuk menolong mereka yang terluka.

Saya menangis sejadi-jadinya. Inikah kualitas komunikasi kami—sebagai rakyat—dengan pemerintah? Dengan cara kekerasan? Dari awal kedatangan, massa hanya dibiarkan berteriak tanpa ada satu pun pihak yang keluar dari dalam gedung DPRD untuk menemui kami. Tidak ada dialog, tidak ada perundingan. Polisi berdiri begitu lama nyatanya memang hanya tinggal menunggu perintah kapan waktunya harus menyerang kami. Saya sedih dan takut melihat semua kekacauan itu.

Azan maghrib berkumandang, tak lama disusul dengan ledakan petasan yang semakin dekat dengan kerumunan massa di sekitar Lapangan Gasibu. Orang-orang berlarian sampai ke ruas-ruas jalan untuk menghindari ledakan tersebut. Saya dan beberapa kawan semakin menjauhi titik aksi sampai kami betul-betul menemukan tempat yang aman. Tak lama sekelompok pelajar datang dan terlihat sangat kelelahan. Mereka mengatakan bahwa aparat polisi mengejar massa sampai ke beberapa titik. Gas air mata semakin sering disemprotkan bahkan sampai mengenai orang-orang yang sedang berkendara di jalan. Bandung malam itu betul-betul panas.

Tak lama kemudian rilis pers mengenai daftar korban dalam aksi 30 September. 243 orang mengalami luka-luka, bahkan 17 orang di antaranya dirawat di rumah sakit. Banyak orang harus menebus keselamatannya untuk mengupayakan restorasi yang tidak pernah ditunjukkan. Pemerintah, melalui aparatnya hanya menyiapkan cara-cara kekerasan yang sangat menyakitkan. Jelasnya tuntutan aksi massa harusnya bisa mempermudah upaya penyelesaian demi terwujudnya keadilan. Nyatanya, kami hanya pulang dengan rasa kekecewaan dan kesedihan. Perjuangan ini akan masih sangat panjang.

Saya teringat Ibu saya kembali. Saya saat ini betul-betul sadar mengapa Ibu ketika itu harus berdemo berulang kali sampai mengorbankan waktu di rumah.
Ibu, saya bangga padamu.

0 komentar: