Penulis: M. Rizaldy Yusuf Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi Desain: Ninda Annisa “ Is it just me, or is it getting crazier ...

“Joker” (2019): Sebuah Studi Karakter dan Respons Masyarakat tentang Penyakit Mental

Penulis: M. Rizaldy Yusuf
Redaktur: Nurul Intan & Riska Yasashi
Desain: Ninda Annisa

Is it just me, or is it getting crazier out there?” (Arthur Fleck/Joker).

Ada satu hal yang saya pikirkan setelah menyaksikan film ini. Bahkan mungkin pikiran itu sudah terlintas di pikiran saya selagi filmnya masih berlangsung. Saya pikir: sepertinya saya akan menulis jauh lebih banyak dan mendalam mengenai film ini dan bukan hanya sebatas ulasan singkat.  Saya berusaha membahasnya secara lebih serius meskipun saya belum bisa membayangkan hasilnya akan sesuai harapan.

Sebelum saya membahas film ini lebih jauh, rasanya saya perlu membuat semacam daftar ‘peringatan’ bagi yang belum dan memiliki niat untuk menonton film ini. Saya juga berusaha menghadirkan tulisan yang mengandung spoiler sehingga merusak pengalaman menonton Anda. Tetapi, mungkin setidaknya Anda bisa memperhatikan hal-hal berikut;
1. Sudah jelas, bahwa ini bukan film untuk anak-anak. Jadi, tolong jangan bawa rekan atau keluarga Anda yang berusia di bawah 18 tahun.
2. Ini adalah film dengan genre psychological thriller, bukan film dengan adegan laga penuh ledakan atau efek visual buatan yang menggelegar dan warna-warni. Tentunya juga tidak banyak diselipkan lelucon receh tiap sepuluh menit sekali.
3. Beberapa adegan yang hadir dalam film ini mungkin akan membuat penontonnya tidak nyaman. Tidak disarankan bagi penonton dengan kondisi psikis tertentu.

Film “Joker” (2019) yang disutradarai oleh Todd Phillips dan ditulis oleh Scott Silver ini bercerita tentang Arthur Fleck—diperankan oleh Joaquin Phoenix—yang mengalami semacam penyakit mental dan kehidupan yang ia jalani di tengah lingkungan masyarakat yang keras hingga akhirnya bertransformasi menjadi sosok “Joker”, sang badut kriminal, atau biasa juga dijuluki “The Clown Prince of Crime”.

Alih-alih menjadi film yang komikal dan menyoroti kegilaan tokoh Joker sebagai antitesis dari kehadiran Batman, “Joker” (2019) bagi saya justru menjadi salah satu film adaptasi komik dengan pendekatan paling realis sepanjang masa. Jika sebelumnya Warner Bros. dan DC Comics hadir dengan “Man of Steel” dan “Batman v Superman”—sekalipun karakternya jauh dari kata realis, tetapi memberikan representasi dunia dan lingkungan masyarakat yang amat nyata: kontroversi macam apa yang akan hadir di tengah masyarakat ketika ada sosok Mesias dengan kekuatan setengah dewa turun dari langit?—kini hadir dengan gambaran situasi sosial yang sangat relevan di masa sekarang sekalipun peristiwa di filmnya terjadi pada tahun 1980-an. “Joker” (2019) merupakan pertanyaan bagi penontonnya, tentang bagaimana masyarakat menyikapi seseorang dengan penyakit mental yang sebenarnya tetap berusaha hidup normal di lingkungannya sendiri?

Saking nyatanya film ini, kadang saya merasa seperti sedang tidak menyaksikan sebuah cerita fiksi. Seakan-akan ini adalah film dokumenter atau biografi dari Arthur Fleck, seorang yang menderita penyakit mental dan reaksi lingkungan sosial atas eksistensinya. Film ini menampar penontonnya dengan amat kuat untuk menciptakan kesadaran bahwa penyakit mental adalah sesuatu yang nyata.  Tetapi, perlu diingat juga bahwa tulisan ini bukan tentang “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”. Seharusnya cara berpikirnya tidak sedangkal itu. Namun, tidak akan saya bahas sekarang, mungkin di kesempatan mendatang.

Penyakit mental sejatinya juga sama seperti penyakit lain. Ia membutuhkan penanganan yang serius secara medis maupun nonmedis. Dalam hal ini, tepatnya dukungan berupa respons positif untuk membantu kondisi psikis penderitanya lebih stabil. Masyarakat modern seharusnya tidak lagi abai akan isu semacam ini. Gangguan mental tidak selamanya terlihat secara kasat mata. Beberapa orang bahkan senantiasa menyembunyikannya dari orang lain. Dengan mudahnya akses informasi, masyarakat pada umumnya harus bisa lebih peka untuk melihat siapa saja yang sebenarnya butuh bantuan atas kondisi mentalnya.
Penderita penyakit mental juga tidak sepatutnya menerima perlakuan diskriminatif. Hal tersebut bisa berupa pemberian stigma negatif bahwa “gangguan mental itu berarti gila” atau bahkan hingga kekerasan fisik sekalipun. Perilaku semacam itu tidak hanya menyakiti fisik seseorang tetapi juga memiliki kemungkinan yang besar untuk menambahkan trauma psikis.

Akhir kata, bagi saya pribadi, film “Joker” (2019) memberikan perspektif baru mengenai penderita penyakit mental dan masyarakat yang ‘menyertainya’. Sejatinya, tokoh Arthur Fleck dalam film ini bukan sosok yang benar-benar ‘putih’ atau ‘hitam’. Ia berada di ambang keduanya. Arthur Fleck (awalnya) hanya seseorang yang berusaha bertahan hidup dan berusaha menjalani kehidupan yang normal. Begitu pun dengan masyarakat yang senantiasa memberikan respons negatif terhadap eksistensi Arthur. Kita selaku masyarakat seharusnya bisa menjadi lingkungan yang ramah bagi orang-orang seperti Arthur. Kita yang kondisi mentalnya cenderung baik bisa tetap hidup berdampingan tanpa menindas orang-orang yang memiliki penyakit mental. Kita semua bisa menjadi pahlawan, selagi kita masih bisa peka bahwa masih banyak orang-orang seperti Arthur Fleck yang masih belum terlambat untuk diselamatkan.

--
Dengan tulisan ini, saya senantiasa mengucapkan SELAMAT HARI KESEHATAN MENTAL DUNIA. Mari saling menyelamatkan satu sama lain.

(Kamis, 10 Oktober 2019)

0 komentar: