Penulis: Billie Wijaya Redaktur: Nigina Auliarachmah Ilustrator: Al Aniyah Setiap Oktober, dunia merayakan Pekan Buku Terlarang, se...

Para Peminjam Buku dan Kezalimannya yang nggak kepikiran

Penulis: Billie Wijaya
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Ilustrator: Al Aniyah


Setiap Oktober, dunia merayakan Pekan Buku Terlarang, sebuah acara penting untuk merayakan dan menjaga kebebasan membaca. Setiap Oktober pula, masyarakat Indonesia merayakan Bulan Bahasa yang pada mulanya berakar pada sebuah peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, yakni sumpah pemuda.
 Seperti para konspirator ulung di semenanjung mana pun, setidaknya teknik mengait-ngaitkan seperti di atas perlu dilakukan untuk membuat tulisan ini seolah-olah berhubungan. Karena itulah, kemeriahan Bulan Bahasa patutnya disambut dengan kesalihan-kesalihan di antara para pembaca buku. Tere Liye, yang bukunya pernah disangka sebagai tulisan seorang waria oleh pembacanya sendiri, pernah mengatakan bahwa jika kalian mengeluhkan harga bukunya yang terlalu mahal, kalian tidak usah membeli, cukup meminjamnya.
Kegiatan pinjam-meminjam buku ini kemudian lumrah dilakukan. Aku tidak tahu lebih dulu mana muncul, kegiatan ini atau lahirnya perpustakaan, Tapi lahirnya perpustakaan membawa dampak yang bagus. Sebagaimana bergandengannya lampu merah dan klakson, telunjuk di bibir dan kebisingan, kegiatan pinjam-meminjam buku ini dibarengi pula dengan kasus-kasus bengis yang tentunya menjadikan peminjam sebagai orang  zalim yang tidak dikenali lagi raut muka memelasnya ketika meminjam buku dan pemilik buku sebagai korban. Dari banyak kasus yang terjadi kira-kira beginilah beberapa daftar yang aku kumpulkan.

1.    Meminjam Tanpa Bilang-bilang
Ada perbedaan antara mencuri dan meminjam, bukan? Perbedaan ini akan sukar sekali dijejalkan pada para pembaca yang sering ‘meminjam’ buku tanpa bilang-bilang. Bukan karena sulitnya memberikan pemahaman ini karena mereka akan menampakkan kebodohan seperti saat seekor coro diberi materi dasar fisika kuantum namun justru karena sebaliknya, mereka pintar dan memiliki banyak alasan untuk berdalih.           
Alasan utama yang selalu dijadikan tumbal adalah bahwa ‘mubazir’ sebab tidak akan ada yang membacanya. Untuk urusan ini aku sedikit setuju karena beberapa perpustakaan sekolah sering kali bertingkah konyol dengan memasukkan buku-buku yang ’jarang dibaca’ itu ke dalam sebuah rak khusus dan menguncinya; memperlakukannya seperti barang mewah yang tak boleh tersentuh.
Namun, kebanyakan pembaca yang berkata ‘meminjam’ itu tidak pernah mengembalikan bukunya ke rak semula, inilah yang menjadi akar dosa. Kasus lain misalnya, ketika seorang kawan berkunjung ke kamar indekos dan ‘tidak sengaja’ memindahkan buku dari rak ke dalam tasnya, lalu tidak mengembalikannya lagi sebab malu dikira sebagai pencuri. Padahal yang seharusnya dilakukan adalah mengembalikan buku dan mengakui kesalahannya ditambah menyiagakan kuda-kuda sebagai upaya sigap menerima tindakan kekerasan jenis apa pun.

2.        Me-meuyeum Buku Lalu Merasa Memilikinya
James Phillips ‘meminjam’ buku Sejarah Perang Salib dari Universitas Doyton Ohio dan baru mengembalikannya setelah di-peuyeum setengah abad. Apa yang dilakukan Phillips adalah sesuatu yang mungkin sulit dilakukan oleh para peminjam buku, karena alih-alih mengembalikannya setelah puluhan tahun bersama buku itu, biasanya orang-orang seperti ini tanpa pengaruh beranggapan bahwa buku itu telah berpindah hak milik.
Kezaliman kedua adalah hal yang sering dilakukan oleh para peminjam bukuyang kebanyakan atas nama temanadalah mereka anteng-anteng saja meminjam buku satu bulan, satu tahun, dst. Sampai buku berjamur, barangkali. Kezaliman ini harus segera dihapuskan agar tidak lagi timbul akal memasukkan zat berbahaya ketika kita sedang asyik ngopi-ngopi dengan kawan.

3.        Mengoper Buku
Pemuda E meminjam buku dari tokoh D kemudian Pemuda E meminjamkannya pada C lalu C membacanya sambil menunggu rapat dengan A dan A tertarik meminjamnya. Pada suatu hari tokoh C membutuhkannya dan bertanya sudahkah Pemuda E selesai membaca, lalu dengan enteng Pemuda E menjawab ‘AmbIL aJA di Bpk SbY’.               
Jika seorang meterialis sukar sekali membaca arah pikiran Murakami ketika memutuskan menjadi novelis di tengah kesuksesannya sebagai pemilik bar, maka lebih sulit lagi menebak pikiran peminjam buku seperti ini dari sudut pandang pemilik buku. Kezaliman ini akan membuat si empunya buku gondok setengah mati.
Andai kalian berniat melakukan improvisasi menjengkelkan seperti ini, bertanggungjawablah dengan memastikannya tetap aman dan nyaman sehingga ketika sang pemilik menagih bukunya, kalian sudah siap dengan sebuah buku di tanganatau minimal bukunya sudah ada di kamar.

4.    Merasa tidak Berdosa Ketika tidak Kunjung Menyelesaikan
Seminggu setelah mendapat jawaban belum dibaca, ia bertanya lagi namun jawaban yang didapatkan perihal bukunya yang telah pinjam itu masih sama, bahkan setelah sebulan berlalu, dan tahun-tahun penuh kemunafikan terlewati, jawaban temannya tetap sama.
Kalau kalian memang nggak niat membacanya, gak perlu pinjam buku , dan kalau kalian berniat meminjamnya ya BACALAH.

0 komentar: