Penulis: Ananda Bintang Redaktur: Nigina Auliarachmah Ilustrator: Ninda Annisa Bung Artan yang baik, Bolehkah kita berteman? Sekadar...

Surat Terbuka untuk Artan dan Seluruh Ospek

Penulis: Ananda Bintang
Redaktur: Nigina Auliarachmah
Ilustrator: Ninda Annisa

Bung Artan yang baik,
Bolehkah kita berteman? Sekadar untuk mengetahui, mengapa kamu begitu ingin masuk Sastra Indonesia Universitas Padjajaran, lewat jalur diam-diam? Awalnya aku begitu bingung, mengapa begitu diamnya kamu, begitu kuatnya kamu dalam menghadapi badai kepopuleran yang sedang melanda? Bukankah kini menjadi tidak populer adalah suatu hal yang tidak mungkin? Aku ingin belajar dari dirimu, Bung Artan yang baik. Menjadi orang yang tidak populer, biasa saja, pasif, dan tidak terlalu peka terhadap lingkungan sekitar. Hal itu patut kupelajari, jika suatu waktu, aku berada dalam keadaan terdesak, dan satu-satunya jalan keluar ialah; menjadi pasif dan diam.
Terkadang jika kita terlalu peka terhadap sekitar, hanya perasaan sakit hati yang kita dapatkan. Perasaan kesendirian. Perasaan tidak berguna. Hadirnya Artan yang begitu pasif menghadapi notifikasi grup line sastra yang begitu aktif, aku jadi belajar satu hal; terkadang menjadi diam adalah salah satu pilihan hidup seseorang. Toh, kita tidak bisa memaksakan kehendak individu atas dirinya sendiri. Masalahnya adalah ketika kehendak individu itu bertubrukan dengan kehendak “lingkungan” yang memaksa individu tersebut melakukan suatu kegiatan—dalam hal ini Mabim.
Mabimseperti yang kau tahu, Bung—adalah sebuah ritual yang dilakukan setiap jurusan, setiap tahun. Mabim atau ospek jurusan adalah sebuah acaraentahlah itu formal atau tidakyang di dalamnya terkadang mengandung “kekerasan”, bentakan, harus botak, dan segala hal “unik” lainnya yang sebenarnya tidak diperlukan untuk “mengenalkan” lingkungan kampus.
Aku bersyukur, Bung. Ternyata selama proses ospek, mulai dari ospek universitas sampai jurusan, sejauh ini belum ada yang bersifat demikian; membentak, harus botak, dan bentuk perploncoan lainnya. Walaupun demikian, ada beberapa desas-desus yang kudengar dari berbagai kawan fakultas maupun jurusan, praktik-praktik perpeloncoan yang begitu menggetarkan hatiku, Bung.
Mereka sering sekali dibentak, tindakan fisik menjadi wajar, padahal tidak selaras dengan ilmu pengetahuan yang akan mereka pelajari. Hal ini membuat aku kecewa berat Bung Artan. Bagaimana tidak, ternyata di kampus yang sudah besar namanya dan konon mahasiswanya menjadi insan abdi masyarakat, malah ditindas oleh mahasiswa yang sudah masuk lebih dulu—sebut saja senior. Padahal aku yakin, secara intelektual, ada beberapa dari mereka yang masuk duluan, lebih rendah kadarnya dibanding mahasiswa yang mereka tindas. Apa buktinya? Buktinya, mereka masih saja menerapkan nilai-nilai penindasan secara tidak langsung, Bung.
Dari desas-desus itu aku selalu berpikir bahwa ospek jurusanku lebih mending ketimbang teman-teman lintas jurusan yang berkeluh kesah padaku. Bagaimana tidak, ospek jurusanku begitu terbuka. Aku dan teman-teman angkatan tidak segan-segan untuk memprotes, menyampaikan aspirasi tentang apapun, bahkan berdiskusi dengan senior mengenai peraturan yang akan diterapkan. Andai kamu ada di sisi kami, Artan, pasti kamu akan merasakan euforia yang begitu panas sekaligus perdebatan yang mengasyikan (Walaupun katanya debat itu debat kusir. Yaiyalah debat kusir, kalau mau debat yang benar-benar objektif, seharusnya mereka tidak langsung menodong kami untuk berpendapat, berbeda dengan mereka yang konon sudah menyiapkan mabim ini dari beberapa bulan yang lalu)
Walaupun aku sangat mengapresiasi mabim Sastra Indonesia, Bung Artan. Entah mengapa, aku merasa ada kesan menyudutkan satu pihak (terutama kami, para mahasiswa baru). Walau sifat perdebatannya terbuka, entah itu termasuk “rangkaian acara mabim”. Tapi ya, kupikir dalam perdebatan dua pihak, memang wajar terjadi saling mencari pembenaran. Namun, kupikir itu termasuk rangkaian mabim. Kita memang dipancing untuk berpendapat, dan para senior siap-siap mencatat orang-orang yang sering berpendapat dalam forum itu. Mungkin, Bung, mereka akan tertawa juga setelah membaca keluh kesahku di sini.
Aku juga heran Bung Artan, ketika terdapat cukup banyak perbedaan antara presensi di mabim dan presensi resmi di dekanat. Mereka bilang tidak tahu. Ah, tapi terlalu naif jika mereka tidak tahu. Lagi-lagi, pikiran sinis aku muncul, bahwa semua ini memang memancing kita untuk berpendapat dan aku mengapresiasi hal itu. Walaupun memang kalau dilihat-lihat, masalah yang dijadikan perdebatan terbilang kecil. Justru masalah yang “fiksi” ini kadang menghalangi dan membuat kita lupa dengan masalah yang sebenarnya kita hadapi.
Masalah Papua, masalah KPK, masalah asap Riau, dan undang-undang sialan yang tak pernah dibahas atau disorot dalam acara mabim yang konon pro aktif dalam menyampaikan aspirasi. Karena toh benar, kita sudah tidak SMA lagi, pembahasan keresahan kita seharusnya tidak hanya selalu dalam internal saja (Terkait kehadiran, organisasi, dan lain-lain) tapi seharusnya membahas isu-isu yang sedang hangat dalam kacamata ilmu kebidangan kita. Semisal, Papua dalam novel-novel sastra Indonesia, sehingga aku pikir, ketika melaksanakan mabim, kita bisa sekaligus menjadi insan abdi masyarakat yang selalu dinyanyikan ketika wisuda ataupun penerimaan mahasiswa baru. Kupikir itu akan lebih menarik, ketimbang membahas masalah kuota 98% maupun hal-hal lainnya. Toh kata Seno Gumira pun “Ketika jurnalisme dibungkam, Sastra harus bicara”, betul Bung Artan?
Ah sial Bung, aku terlalu melantur dalam berbicara. Semoga keresahan hatiku ini dapat dimengerti olehmu dan kawan-kawan sejawat lain yang membaca. Aku juga memegang kata-kata senior “Di mabim ini tidak ada perpeloncoan, tidak ada kekerasan”. Semoga dalam bentuk apapun, tidak akan pernah ada. Pun juga pada jurusan dan fakultas lain. Karena terkadang ketika mereka mengeluhkan ospek mereka, di hati yang paling dalam, aku ingin membantu melawan. Melawan apa pun yang memang bentuk lain dari penindasan. Tapi aku kadang malu, aku berani bicara, karena toh memang di mabim-ku, begitu terbuka. Tapi walaupun demikian, setidaknya aku masih diberi mulut untuk bicara “interupsi” dan tangan untuk mengacungkan kepalanku.
Bung Artan, aku punya pesan. Jika memang kamu akan mengikuti mabim lagi tahun depan, atau pindah jurusan, berikut saranku agar setidaknya perlawananmu atas hal-hal yang memang dirasa kurang mengenakan hati tidak sia-sia dan tetap ada:
1.      Kerahkan massa, terutama di angkatan. Tidak mungkin kamu melawan sendirian. Pun jika kamu mau melawan sendirian, kurasa lebih baik menulis di media massa agar kamu memiliki massa.
2.      Jika sudah memiliki massa, kumpulkan, dan ajak diskusi. Apa yang mau dilawan, kapan waktu yang tepat untuk “interupsi”?
3.      Jika memang untuk melawan tidak memungkinkan. Lawan dengan sistem baru di tahun depan. Buktikan bahwa sistemmu dalam mengenalkan masa bimbingan pada mahasiswa baru lebih efektif dan “nyaman” ketimbang ospek yang pernah kamu alami tahun lalu. Lupakan balas dendam, karena toh sejarah musti dicetak. Lagipula yang dulu “mengerjai” bukan mahasiswa baru yang tidak tahu apa-apa, melainkan mahasiswa yang masuk duluan. Jadi mengapa harus membalas dendam pada mahasiswa baru yang tidak berdosa?
4.      Tulis sebanyak-banyaknya keluh kesah yang sekiranya perlu.
Kupikir itu saja saran dan suratku untukmu, Bung Artan. Jika kamu menjadi panitia ospek tahun depan, semoga tulus mendidik mahasiswa baru untuk mengenalkan lingkungan kampus. Bukan sekadar mencari sertifikat, titel, relasi, dan semua omong kosong lainnya.

0 komentar: