Penulia: Billie Wijaya U Ilustrator: Ninda Annisa Redaktur: Faris A & Azaina  Kalimat pertama dalam tulisan ini adalah kalimat t...

Beberapa Catatan untuk Pementasan “Pelacur dan Sang Presiden”

Penulia: Billie Wijaya U
Ilustrator: Ninda Annisa
Redaktur: Faris A & Azaina 

Kalimat pertama dalam tulisan ini adalah kalimat terakhir yang harus kalian baca.
Dua hari. Selasa dan Rabu. Sembilan belas dan dua puluh November, Teater Djati rampung menyelesaikan kewajiban rutinnya untuk merayakan ulang tahun. Setiap tahunnya Ia lebih memilih merayakan dengan memberi hadiah berupa tontonan yang sialnya selalu saja menarik dan cukup unik. Sudah sembilan belas tahun kini umurnya, dan ia memberi kita tontonan ciamik dengan mementaskan lakon “Pelacur dan Sang Presiden” karya Ratna Sarumpaet.
Naskah yang dibawakan kali ini sebenarnya tidak terlalu menarik secara kedalaman, untukku. Naskah yang mungkin menyadur dari novel Perempuan di Titik Nol (jika tidak ingin dikatakan menjiplak) ini masih banyak memiliki dosa di sana-sini. Pada halaman awal naskah saja terdapat penjelasan dimensi psikologis tokoh berlembar-lembar. Hal ini menurutku sakral untuk dinarasikan, karena seperti umumnya orang memandang drama, aku masih meyakini bahwa hakikat utamanya adalah dialog dan kegiatan semacam itu adalah hal sia-sia dari penulis yang malah menunjukkan keburukkan karyanya.
Pementasan Teater Djati, terutama untuk merayakan ulang tahun selalu menyuguhkan konsep yang unik dari segi tata panggung. Ketika awal masuk kuliah dan menonton pementasan berjudul “Ke” misalnya, batas panggung dibuat pecah, penonton dilibatkan sebagai penumpang kereta api yang menjadi latar tragedi pementasan dari lakon tersebut. Kemudian “Bulan dan Kerupuk” yang menyajikan dua panggung tambahan di luar panggung utama, dan kali ini “Pelacur dan Sang Presiden” memanjakan kita dengan konsep tiga panggungnya.

Dengan sejarah tersebut tidak heran jika penonton yang hadir membuat diri mereka sesak dan kegerahan sendiri ketika masuk ruangan, karena saking antusiasnya. Bahkan pada hari kedua pementasan pun animo penonton malah bertambah dengan bukti antrean yang jauh lebih panjang dibanding hari pertama. Antrean dikejutkan dengan pembawaan keranda yang abnormal, kerumunan terheran-heran dengan seseorang yang tiba-tiba salat di tengah-tengah mereka, dengan adegan-adegan yang dikonsepkan begitu, pementasan sebenarnya telah dimulai dari sejak antrean, kemudian yasin dilantunkan dengan khidmat, dan pementasan benar-benar dimulai.
                        Di antara semua elemen penopang pementasan semalam, dua aspek yang patut disorot dan dihujani pujian yang begitu mewah adalah artistik dan tentu saja musik. Dengan tata panggung yang cukup rumit, artistik memberikan dimensi yang bukan hanya mendukung pementasan secara fungsional, tapi ia memberikan efek heran yang mengagumkan. Sama seperti halnya artistik, kali ini musik berhasil membuat panggungnya sendiri tanpa mengingkari kewajibannya sebagai pengiring maupun penguat suasana. Keduanya jelas membuat penonton sadar akan kehadirannya dan seharusnya berpikir jika keduanya amat penting.

                        Sementara itu, komponen lain seperti tata rias dan cahaya kurang unjuk gigi. Terutama bagian tata cahaya yang selalu membuatku agak jengkel karena terus mengulangi kesalahan-kesalahan kecil  dari tahun ke tahun karena kurang fokus atau apapun alasannya jelas sedikit-banyak mengganggu jalannya pementasan. Pergeseran nyala-mati lampu yang kurang halus, kesalahan menyalakan atau mematikan lampu dan hal-hal kecil lain mestinya bisa diminimalisasi.
                        Hal lain yang menggangguku sebagai penonton adalah hancur leburnya irama pementasan. Pementasan yang tidak menghadirkan komedi memang sama menyebalkannya dengan cerita berhalaman-halaman tanpa narasi percintaan. Tapi, terkadang balutan komedi dalam pementasan itu sering salah kaprah. Misal dalam pementasan Djati kemarin, komedi-komedi slapstick yang dihadirkan ke dalam pentas malah membuat irama yang dibangun dari awal kacau. Cupliklah misalnya adegan-adegan yang selalu di panggung berlatar pohon warna-warni dan segala hal ajaib yang bergelantungan di atasnya, ada adegan para petugas yang konyol dan katakanlah agak bego. Sebagai catatan, adegan sebelum ini mengesankan suasana yang haru -ritme telah dibangun. Kemudian masih di dalam panggung yang sama, dengan tokoh-tokoh yang sama, mereka menyeret para pelacur dan simsalabim suasana langsung kelam, para petugas langsung galak, dan seolah-olah mereka merasa kebijaksanaannya dilacuri ketika Jamila mengatakan kebobrokan mereka. Apakah ini adalah efek dari mood swing para milenial? Hem. Begini.
Ritme adalah irama pementasan atau jika didefinisikan barangkali adalah irama yang akan mengantarkan para penonton menuju klimaks adegan. Bedanya dengan alur adalah alur bisa bergerak secara bebas –dalam hal ini luwes untuk berbelok dari alur maju kemudian menukik langsung ke kilas balik tanpa transisi, irama tidak seperti itu. Ia mesti runut disusun setitik demi setitik dengan melibatkan segala aspek terutama yang dapat mendukung suasana. Jika memang memiliki tujuan, sebenarnya boleh-boleh saja melakukan perubahan secara mendadak dalam hal ritme seperti memasukkan unsur komedi atau apapun, namun kebanyakan yang terjadi adalah mereka tidak menyadari bahwa irama pentas yang telah mereka susun runtuh, mereka menyusun lagi dan meruntuhkannya lagi secara tidak sadar, begitupun yang dilakukan oleh Teater Djati dalam pementasan “Pelacur dan Sang Presiden”, padahal unsur ini dapat menjadi sarana yang penting untuk mencapai berahi penonton.

Bayangkan seorang pemuda yang sedang menyusun balok-balok lego. Irama adalah undakan-undakan bangunan yang akan dibentuk oleh mainan persegi dengan bulatan-bulatan yang menempel di atasnya itu. Untuk mencapai klimaks pemuda itu harus menyusun beberapa undakan, namun ketika undakan urung selesai sepenuhnya tiba-tiba tiba seorang anak kecil datang menghancurkannya dan terpaksa pemuda itu harus menyusun lagi irama dari dasar. Tapi, dalam hal ini tidak ada anak kecil yang iseng, yang ada hanyalah sifat kekanak-kanakan pemuda tadi yang karena ia menyukai warna biru dan melihat undakan yang disusunnya rampung setengah tanpa melibatkan satu pun warna biru, maka dengan semangat kekanak-kanakannya ia memaksa balok biru itu masuk, dan yang terjadi kemudian adalah undakan yang telah ia susun hancur, lalu ia harus memulai lagi dari awal. Jika diilustrasikan memakai gunung, irama yang dihasilkan pementasan “Pelacur dan Sang Presiden” oleh Djati hanyalah beberapa gunung-gunung kecil, bukan sebuah gunung megah dan gagah. Parahnya lagi hanya satu yang memiliki puncak, sisanya adalah gunung-gunung kecil yang cacat.
Dengan begitu selesailah perayaan ulang tahun Djati kesembilan belas, teruslah berbenah sebab masih banyak pekerjaan rumah yang harus kalian selesaikan.
Dan terlepas dari semua cacat dan kemewahan yang Djati suguhkan dalam dua malam, kita masih bisa memilih untuk hidup sesuai kehendak kita masing-masing seperti apa yang diyakini Jamila di awal pentas. Dan tanpa menganggap penyesalan Jamila terhadap dunia yang carut-marut ini sebagai sebuah kekalahan, kita masih bisa tersenyum dan membaca sebuah ulasan pentas yang buruk, ulasan yang layak dibakar dan dijejalkan ke dalam lubang pantat seperti cerpen-cerpen peer, seolah-olah kalimat pertama dalam tulisan itu adalah kalimat terakhir yang harus kalian baca.




0 komentar: