Penulis: TIm Redaksi Jalang Ilustrator: Nurul Fauziah Kabar baik bagi warga Gelanggang, ketua himpunan yang baru, Arsyad Dena Muk...

Ssst... Gelanggang Lesu, Salah Siapa?


Penulis: TIm Redaksi Jalang
Ilustrator: Nurul Fauziah


Kabar baik bagi warga Gelanggang, ketua himpunan yang baru, Arsyad Dena Mukhtarom telah terpilih dan para kepala yang akan membantunya untuk satu tahun ke depan rampung pula diumumkan. Beberapa nama memang telah diprediksi berada dalam jajaran kabinet namun tidak sedikit nama yang berada di luar jangkauan hitung kami masuk ke lingkaran istana Gelanggang. Nama-nama yang kini terpampang dan akan tercatat sejarah tentunya dipilih menggunakan hak prerogatif Arsyad sebagai ketua. Namun demi kabar esok yang baik, hari ini kami akan bertanya dan akan terus mempertanyakan kompetensi para petinggi yang telah ditunjuk untuk menduduki kursi mewah tersebut.
Apakah mereka yang ditunjuk menjadi kepala departemen atau bahkan Arsyad sendiri benar-benar layak mengemban jabatan itu? Kami mencoba mengulik rekam jejak dan kompetensi mereka di sini, siapa yang benar-benar layak dan siapa yang sebenarnya hanya cocok untuk jadi rakyat biasa.

1.      Penunjukan Fuji Ulya Sebagai Kepala Bidang

Penunjukkan Fuji sebagai kepala bidang Eksternal menjadi nama yang tak tercatat dalam radar kami. Meski kapasitasnya dalam dunia organisasi tidak dapat dipandang remeh, pengalamannya dalam khazanah pergelanggangan masih perlu diuji, apalagi pada hari ini dia ditunjuk memegang jabatan yang cukup krusial sebagai kepala bidang. Sinergi antardepartemen yang kurang terjalin harmonis yang diakibatkan terutama tidak maksimalnya kinerja Kepala Bidang Eksternal pada periode sebelumnya mesti dibenahi. Jika Fuji mengabaikan kekeliruan yang diperbuat kabinet kemarin, tentunya pengakuan dosa yang bersangkutan akan sia-sia belaka.

2.      Keraguan Warga Gelanggang Terhadap Kadep Hubeks

Rancangan besar yang dicanangkan sang ketua jelas-jelas membutuhkan usaha yang bukan sekadar keras tapi tentu mesti berhitung. Sebuah program besar yang akan menjadi tanggung jawab departemen ini, yakni kunjungan ke perusahaan akan menjadi sia-sia andai tidak diramu dengan baik. Summa sebagai kepala departemen memang telah memiliki pengalaman setahun dalam departemen ini, namun reuni akbar yang dijadikan ajang untuk menggaet ikatan baik dengan alumni ketika ia menjadi staf jelas-jelas tidak bisa dibilang berhasil. Maka dari itu, beberapa orang meragukan Summa untuk bisa membenahi kinerja departemen yang bersangkutan, dan sejalan dengan hal tersebut tim kami memiliki nama ideal yang memiliki kapabilitas kuat dan tentunya lebih layak menjadi kepala departemen hubungan eksternal –dengan mengesampingkan jabatan yang sedang ia pegang.

3.      Departemen Kelisanan

Puisi. Puisi. Puisi. Departemennya kami ganti aja ya jadi Departemen Puisi. Ehe. Rutinitas yang dijalankan departemen ini pada periode kemarin hanya sekadar mewarisi program departemen yang mencetuskannya, kelebihannya barangkali hanya di bagian mimbar puisi yang sangat aktif digalakan, meski belum sempurna. Azmi Fawwaz yang tercatat sebagai staf departemen ideologi pada periode sebelumnya, kini memegang dapuk kepemimpinan. Departemen Ideologi pada hari ini bisa saja berjalan istimewa dengan program-program baru yang meski belum jelas –karena belum dicoba- menampakkan kesuksesan apapun, agaknya akan sedikit meningkatkan minat literasi. Akan tetapi, catatan kepala departemen yang tidak menunjukan hasil baik, membuat kami tidak berharap banyak padanya.
Kemungkinan di masa ini mereka akan kembali mengulang rutinitas yang sama. Meskipun kami setuju bahwa mimbar puisi berhasil menjaga eksistensi Gelanggang, tapi hanya itukah yang bisa mereka lakukan. Seandainya eksistensi dan identitas gelanggang adalah hal yang benar-benar ingin mereka jaga, adakah mungkin hanya mimbar puisi yang bahkan sering kali bentuknya hanya sekadar panggung bebas tanpa arah yang jelas bisa diandalkan. Jika benar seperti itu identitas macam apa yang sebenarnya sedang mereka jaga?
Kami pikir propaganda dan identitas Gelanggang tidak bisa dibentuk hanya dengan acara-acara macam itu, mereka harus berpikir dan menuliskan isi kepala mereka dalam sebuah tulisan seperti apa yang telah Chairil lakukan yang menghasilkan surat kepercayaan. Jika memang dia sering menulis yang berarti tercatat kalau tempurung kepalanya pernah dipakai, kami tidak mungkin meragukannya, tapi kolom pencarian google tidak menampilkan risalah apapun mengenai tulisannya. Kami belum melihat pemikiran sang kepala dalam bentuk aksara terlepas dari caption instagram, ya, bahkan hanya sekadar tulisan pendek berupa catatan kaki pun tidak ada. Jika memang dia sering menulis dan argumen kami mengenai dirinya adalah keliru, maka bolehlah kawannya bagi-bagi tulisan yang bersangkutan pada kami.

4.      Biro Anyar yang Terancam Ambyar

Berubahnya departemen PSDMO menjadi KPSDM mengharuskan Gelanggang membuat sebuah biro untuk menjaga stabilitas dan mood organisasi. Biro Pengembangan Internal Organisasi akhirnya dipilih untuk mensejahterakan kedalaman gelanggang. Kekurangan pada periode kemarin yang banyak dicatat dalam lembar pertanggungjawaban tiap departemen adalah tidak ada rasa saling bantu antardepartemen bahkan antara kadep dan anggotanya semakin mengesankan bahwa PSDMO kepengurusan kemarin kurang memberikan perhatian dan kasih sayang –karena terlalu banyak hajat- menjadi cikal-bakal lahirnya departemen ini. Natasha Nuzula yang ditunjuk sebagai kepala biro, kami ragukan tampil apik karena selain bentuk dari departemen yang belum jelas, ia tercatat banyak mengambil jatah di proker luar dalam waktu yang berbarengan. Meski riwayat organisasi terbilang mentereng, namun ini adalah kali pertama ia memegang pucuk jabatan. Bukan mengancam, akan tetapi jika nafsunya untuk mengambil jatah organisasi tidak dapat diredam dan organisasi kehilangan satu-satunya kasih sayang, bukan tidak mungkin para pengurus terancam ambyar.

5.      Kepala KPSDM yang Agak Membingungkan

Bergantinya status PSDMO setelah memutuskan hubungan dengan organisasi sehingga terbentuk KPSDM membawa warna baru dalam kabinet hari ini. Sira yang diprediksi bakal menduduki posisi ketua nyatanya hanya diletakan sebagai pendamping Fahira Salsabila. Seandainya Sira yang menjadi kepala, setidaknya Arsyad bisa memaksimalkan kinerja Fahira di departemen lain, karena potensinya memang tidak cukup hanya sebagai wakil. Sementara itu, Sira mungkin memiliki sedikit cacat saat menjadi penanggung jawab mabim kemarin, namun kredibilitasnya dalam hal ini tidak perlu ditanya lagi. Lagipula satu-satunya catatan apik yang dimiliki Fahira yang mungkin mengantarkannya menjadi kepala KPSDM tahun ini adalah ketika ia sukses menjalankan tugasnya sebagai ketua divisi acara mabim, dan seharusnya Arsyad tahu jika otak dari semua itu adalah Sira Kamila.

6.      Pemilihan Kadep Mikat yang Asal-asalan

Tidak ada angin, tidak hujan, Felisitas Dhwani tiba-tiba mendapat jabatan. Penunjukan dia sebagai Kepala Departemen Minat dan Bakat tidak jelas juntrungannya dan kami ingin bertanya, kamu dapat bisikan dari mana, Syad? Dhwani menjadi nama yang membuat kaget di bursa jabatan musim dingin ini. Andai nama lain seperti Adam, Najela (wakil), atau Aflaz yang tahu kondisi permikatan di gelanggang kami taruh dalam dua bulatan awal target kadep mikat, nama Dhwani justru tercatat lima kilometer jauh dari sasaran. Pasalnya, jelas-jelas tidak ada satu prasasti pun yang menuliskan bahwa dirinya pernah mengikuti organisasi dan terlebih dunia mikat seperti apa yang pernah dilakoninya. Situasi ini membuat kondisi permikatan yang pada awalnya saja susah, jadi semakin payah.

Beberapa Catatan untuk Dewan Pewakilan Angkatan (DPA)

Dalam konsep demokrasi, dewan perwakilan biasanya identik dengan istilah legislatif. Artinya, dewan perwakilan ialah lembaga yang bertugas untuk membentuk suatu kebijakan yang membawa aspirasi masyarakat. Begitu pula dengan Dewan Perwakilan Angkatan (DPA) Gelanggang, yang secara etimologis mengemban tugas untuk membawa aspirasi dari setiap angkatan yang ada--untuk kemudian sebisa mungkin dijalankan dalam bentuk kebijakan oleh Ketua Himpunan Galanggang.
DPA Gelanggang sebenarnya baru terbentuk sekitar satu tahun yang lalu, dengan Lagam Alfaruqi yang juga mantan Ketua Himpunan Gelanggang periode 2017-2018 sebagai ketuanya. Satu tahun tentu saja adalah usia yang sangat muda untuk sebuah lembaga yang mempunyai fungsi yang kompleks. Karenanya, dalam kemudaannya tersebut, DPA masih memiliki banyak persoalan.

1.      Landasan Hukum dan Konstitusi

Sebuah organisasi atau lembaga atau badan tidak ujug-ujug ada, tetapi mempunyai dasar filosofi dan tujuan mengapa ia mesti hadir. Landasan hukum bagi sebuah organisasi atau lembaga atau badan menjadi sangat penting adanya. Landasan hukum berperan sebagai penopang keajegan dan keabsahan organisasi. Adapun landasan konstitusi ialah petunjuk jalan/arah dan pegangan dalam menjalankan organisasi, yang biasanya berisi himpunan petunjuk hidup (perintah-perintah dan larangan-larangan).
Sampai sejauh ini, belum ada transparansi data atau berkas yang menjadi acuan atau dasar berdirinya DPA Gelanggang. Hal ini tentu saja menjadi sangat riskan untuk masa depan DPA sendiri, yang dikhawatirkan akan terjadinya berbagai penyimpangan, dan lebih jauh lagi, “impoten” dalam fungsi dan wewenang.

2.      Regulasi Pengangkatan Ketua DPA

M. Hanif Wahyu K. telah resmi terpilih sebagai ketua DPA Gelanggang untuk periode 2019-2020. Tidak ada yang memprediksi bahwa Hanif yang juga Ketua Angkatan Sastra Indonesia 2018 ini akan menduduki kursi ketua DPA--karena memang tidak terdengar pemberitaan bahwa Gelanggang akan melaksanakan pemilihan ketua DPA sebelumnya. Hal ini terasa sangat berbeda dengan pemberitaan Media dan Informasi Gelanggang (dan PPU Gelanggang selaku penyelenggara pemilihan) yang begitu menggembar-gemborkan pemilihan ketua himpunan periode 2019-2020.
Terpilihnya Hanif sebagai ketua DPA juga meninggalkan cerita yang kurang enak didengar. Menurut sumber yang menolak disebutkan namanya, terpilihnya Hanif sebagai ketua DPA terjadi dalam acara Sidang Awal Tahun (SAT) tanggal 07 Desember yang lalu. Pemilihan tersebut tidak dilaksanakan oleh lembaga resmi sebagaimana mestinya (misalnya PPU Gelanggang), melainkan oleh forum SAT itu sendiri. Karenanya, tentu saja kita akan dengan mudah bertanya, “Dalam kapasitas apa SAT melakukan pemilihan dan pengangkatan ketua DPA?”
Pada mulanya, forum mengajukan empat nama sebagai calon ketua DPA. Keempat nama tersebut yaitu Aldy Sipayung (Angkatan 2016), Luke Andaresta (Angkatan 2016), Ayu Almas (Angkatan 2017), dan M. Hanif Wahyu K. (Angkatan 2018).
Dari keempat nama yang dipilih forum secara serampangan tersebut ternyata tidak ada sama sekali yang bersedia menjadi ketua DPA, sehingga forum memutuskan untuk melakukan voting. Dari hasil voting yang tidak diketahui detail angkanya, nama M. Hanif Wahyu K. kemudian keluar sebagai pemenang.
Pemilihan ketua DPA yang terkesan memaksa dan manasuka tersebut tentu saja memberi energi yang kurang baik untuk semua orang, baik itu kepada M. Hanif Wahyu K. selaku ketua terpilih maupun kepada warga Gelanggang secara umum. Sebab, bagaimana mungkin proses yang buruk dapat memberikan hasil kerja yang baik?

3.      Staf DPA

DPA tentu saja tidak bisa dijalankan seorang diri. Namun sayangnya, sampai sejauh ini belum ada kabar bagaimana DPA akan membentuk dan mengisi pos-pos yang telah tersedia di dalamnya--komisi-komisi yang mengemban tugas-tugasnya tersendiri. Kemudian, apakah orang-orang yang nanti dipercayai mengisi pos-pos strategis tersebut akan benar-benar memiliki kapasitas untuk mengawasi kinerja Gelanggang untuk setahun ke depan? Semoga saja tidak mengecewakan (seperti susunan kabinet Gelanggang periode 2019-2020 yang telah diumumkan beberapa saat lalu itu).


Terlepas dari hilangnya semangat membangun Gelanggang pada hari ini, Jalang telah menghimpun nama-nama ideal yang dilihat secara objektif berdasar pada statusnya sebagai angkatan aktif dan kemampuannya di masing-masing bidang dengan pertimbangan seandainya mereka tidak menempati jabatan apapun serta mengesampingkan variabel-variabel lain, berikut adalah nama-namanya.
Fomasi Ideal Kabinet Hari Ini Versi Majalah Gelanggang
Desain Oleh: Irfan Ferdiansyah

Lesunya Gelanggang

Pemilihan kepala-kepala kabinet yang bahkan lebih asal dari pembuatan karya-karya fiksi di tugas KBIT Pak Tatang ini kami yakin bukan sepenuhnya salah Arsyad sebagai pemegang tampuk kepemimpinan di Gelanggang. Kami yakin, sebelum nama-nama yang kami ragukan ini muncul, Arsyad sudah memiliki susunan kabinet ideal seperti yang sudah kami susun di atas. Hanya saja, permasalahannya dimulai ketika nama-nama yang dianggap Arsyad ideal itu, tidak bersedia untuk bergabung ke lingkaran istana. Penasaran dengan alasan di balik penolakan itu, kami pun mendatangi beberapa orang tersebut, sesuai dengan tugas verifikasi kami sebagai wartawan-wartawanan.
Salah satu orang yang kami temui, sebut saja Zoo Tycoon –beliau menolak disebutkan namanya- mengatakan bahwa banyak nama potensial yang menolak bergabung menjadi kepala departemen. “Mereka kayaknya capek deh. Terutama dari yang sudah gabung sama kepengurusan Gelanggang kemarin,” jelas Zoo. Zoo sendiri menolak dijadikan salah satu ketua departemen. Dirinya kapok setelah tergabung dengan mega proyek Karnaval Sastra pada kepengurusan kemarin. Katanya proyek ambisius itu menguras tenaganya dan membuatnya emoh untuk tergabung dalam kepengurusan periode ini.
Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Kuriboh, yang juga menolak disebutkan namanya. Orang yang biasa disapa Boh ini juga menolak dengan tegas tawaran menjadi salah satu kepala departemen. Boh yang juga tergabung dalam Kabinet Gerilya kemarin mengibaratkan DPO Gelanggang seperti kerja kantoran. Semua dilakukan demi menunaikan kewajiban, bukan untuk berkarya atau mendapatkan ilmu baru. “Kondisi seperti itu mah tidak memungkinkan untuk berkembang,” jelasnya. Kondisi itu membuatnya jera bergabung kembali ke lingkar istana. 
Dari beberapa orang yang kami datangi, jelas bisa diambil satu asumsi besar: Banyak orang kapok dan enggan bergabung ke Gelanggang setelah berkaca dari periode kemarin. Pola kerja yang rigid, membosankan, bagi sebagian orang kerap membuat anggota-anggotanya tertekan. Dan kami juga dicurhati permasalahan yang sama oleh orang-orang yang kami datangi, yaitu Karsas.
Kondisi kelam ini seakan membuat Gelanggang jadi hidup segan mati tak mau. Dengan tertatih-tatih, Arsyad membangun kabinet ini. Semua prasyarat yang didesain Arsyad sebagai kriteria ketua departemen, raib seketika. Syarat yang tersisa hanya satu, yang penting mau. Kondisi itulah yang diwariskan Kabinet Gerilya ke Arsyad.
Kondisi ini kami namai dengan frase “lesunya Gelanggang”. Ketika hampir semua orang di angkatan 17 yang notabene memegang tanggung jawab lebih di Gelanggang periode ini telah kehilangan motivasi di Gelanggang, sesungguhnya itu adalah momen kiamat kecil untuk Gelanggang. Satu-satunya yang bisa dilakukan Arsyad dan jajarannya adalah memperbaiki Gelanggang dari dalam. Kabinet baru perlu menemukan kembali keriaan yang setahun ini hilang di Gelanggang. 
Menurut hemat kami, proker kabinet ini sebenarnya hanya satu, yaitu bagaimana mewariskan iklim berorganinasi yang nyaman dan menyenangkan kepada angkatan 18, karena seperti kata Zoo Tycoon, “Kabinet hari ini jangan hanya berjalan untuk hidup dan bertahan dalam satu periode. Mesti ada pemikiran bahwa apa yang kalian lakukan sekarang selalu berdampak pada kepengurusan selanjutnya. Gelanggang bukan hanya milik hari ini, tapi hari esok. Semua yang akan dilakukan mesti dipikirkan matang-matang”. Jadi, untuk Arsyad dan teman-teman, mampukah kalian menjawab tantangan besar ini? Kami tunggu kerja kalian.


5 komentar:

  1. Setelah membaca ini otakku pun dipenuhi ratusan ribu tanda tanya diatas emoji 🤔

    Hampir seluruhnya membuat saya setuju dan ikut bertanya-tanya. Tapi semoga saja kabinet tahun ini berjalan dengan baik dan lancar. Baik DPA maupun DPO.

    Terima kasih untuk tulisannya, jalang!

    BalasHapus
  2. Tulisan ini cukup bagus. Tapi bisa minta deskripsi yang menjelaskan kenapa formasi ideal menurut jalang lebih layak? Karena jika sebelumnya sempat disebut ada kadep yang tidak layak karena tidak pernah bergabung dalam dpo. Apakah semuanya benar-benar terlibat dalam departemen yang dicatutkan di bawah namanya? Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Tapi suka deh sama blak-blakannya. Terima kasih, jalang.

    BalasHapus
  4. Hampir dari keseluruhan isi tulisan saya sependapat. Tapi, tulisan mengenai departemen ideologi yang kalian sebut hanya mewarisi program kerja dari departemen sebelumnya perlu saya ralat. Dikepengurusan kemarin ada beberapa program kerja yang memang saya kembangkan dari program kerja sebelumnya dan ada pula program kerja baru yang masuk dalam KAK dan program kerja yang dibuat secara spontan berdasarkan kebutuhan. Proker-proker tersebut tentu perlu dihitung pula. Mungkin besok-besok riset lebih jauh lagi, ya?
    Kekurangan lainnya memang kami tidak mempublish tulisan, tapi apa kalian tau kalau saya sudah berdialog untuk membagi ranah kepenulisan agar dipegang khusus oleh jalang? Maka dari itu kami sebetulnya mengharapkan kehadiran teman-teman Jalang saat dimanja, lho. Sayang dari sekian banyak kegiatan dimanja, hanya beberapa kali teman-teman Jalang hadir. Ya ndapapa, namanya juga manusia, ya.
    Terlepas dari itu semua, terima kasih sudah menulis sekaligus mengingatkan. Teruskan! ❤

    BalasHapus
  5. Apakah dengan menyebut "warga Gelanggang secara umum" sembarangan, penulis tidak merasa melakukan tindakan manasuka juga?

    BalasHapus